Share

72. Pesan-Pesan Personal

Author: ReyNotes
last update Last Updated: 2025-08-30 20:59:27

Grey masih terdengar bercerita penuh antusias pada sang kakek, menyebut “Daddy Geo” hanya sekadar formalitas… bukan dengan hangat.

Atrick menoleh sekilas pada putranya yang duduk di kursi sebelah. Sehabis rapat tadi padahal wajah Geo terlihat senang.

“Geo, lihat sendiri kan? Anak-anak mulai terbuka. Jangan cemburu kalau mereka lebih nyaman denganku dulu. Itu wajar.”

Geo menunduk, jemarinya mengepal.

“Tapi, Dad… aku ingin mereka bicara begitu padaku. Aku ingin mereka lihat aku… bukan hanya mendengar namaku dari orang lain.”

Atrick menepuk bahu putranya, memberi ketenangan.

“Semua butuh waktu, Geo. Kamu sudah kehilangan banyak momen bersama mereka. Jangan harap bisa langsung menggantinya dalam semalam. Yang penting, mereka sudah tahu kamu ada.”

Geo hanya menghela napas panjang. Perasaan cemburu bercampur haru membuat hatinya tak tenang.

Malam itu, ketika Bianca mengantar si kembar naik ke ranjang, tiba-tiba Grey meminta izin.

“Mommy, aku boleh telepon Daddy Geo sebentar? Aku mau kasih t
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Jennifer Karisoh
up lagi dong
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • KETIKA SANG BILIONER BANGUN DARI KOMA   75. Rindu Bekerja

    Sudah hampir seminggu, Bianca tidak bekerja. Waktunya memang jadi lebih luang untuk mengerjakan berbagai keperluan pribadi dan anak-anak. Tetapi, akhirnya ia bosan dan rindu bekerja.Bianca sudah terbiasa melewati harinya dengan tumpukan data, grafik, dan deretan angka yang ia sukai.Pagi yang seharusnya diisi dengan membuka laptop dan mengecek email, kini hanya berlalu dengan rutinitas sederhana: mengantar Blue dan Grey ke sekolah, lalu kembali ke rumah yang terasa terlalu sepi.Ia duduk di ruang kerja kecilnya, menatap meja yang biasanya penuh catatan. Kini hanya ada satu laptop tertutup dan secangkir kopi yang sudah dingin. Tangannya refleks ingin menyalakan laptop itu, namun teringat lagi pesan singkat dari Mr. X beberapa hari lalu:"Anda bisa cuti, nikmati waktu bersama keluarga. Tugas berikutnya akan segera dikirimkan."Awalnya Bianca merasa lega mendapat jeda. Tapi semakin lama, justru kekosongan itu membuatnya gelisah.“Rasanya aneh…” gumamnya pelan. Ia meraih laci dan mengelu

  • KETIKA SANG BILIONER BANGUN DARI KOMA   74.

    Selama makan siang itu, Bianca tampak beberapa kali menunduk, sibuk dengan ponselnya. Sesekali ia tersenyum tipis, tapi juga terlihat gusar.Geo yang duduk berhadapan, sempat melirik—ia tahu betul Bianca bukan tipe yang sibuk main ponsel saat bersama anak-anak. Ada sesuatu yang berbeda.Pesan dari Rafael membuat Bianca sibuk. Guru bahasa Inggris Blue dan Grey itu memang sedang seminar di luar kota hingga tidak menghadiri acara pertandingan barusan.“Selamat untuk Blue dan Grey! Mommy mereka pasti bangga sekali. Aku juga turut bangga.”Tak lama kemudian, sebuah pesan susulan datang.“Aku lihat foto-foto lomba dari grup sekolah. Itu… siapa pria yang duduk bersama kalian? Kutebak dia adalah ayah Blue dan Grey... karena mirip.”Bianca terdiam. Napasnya tercekat sejenak. Jemarinya berhenti di atas keyboard, tak langsung membalas.Matanya sekilas melirik ke arah Geo yang tengah menunduk, memperhatikan Grey menjelaskan sesuatu dengan penuh semangat.Perasaan campur aduk memenuhi dadanya, ant

  • KETIKA SANG BILIONER BANGUN DARI KOMA   73. Mendampingi Lomba

    Karena hari ini libur, Bianca yang mengantar Blue dan Grey ke sekolah. Lalu, ia berbelanja banyak kebutuhan rumah tangga.Selesai berbelanja, Bianca mampir ke rumah Billy.“Bil-Bil, Kak Windy, ini aku bawain sayuran dan buah-buahan.” Bianca langsung menata buah dan sayur di dalam kulkas atau meja makan.“Waaah... terima kasih adik cantik.” Windy terlihat senang dan langsung mengambil beberapa anggur untuk dimakan.“Kamu kok nggak kerja, Bi?” Billy tampak heran karena biasanya Bianca sangat sibuk di depan laptop.“Sudah selesai semua projeknya. Mr. X bilang beberapa hari ini aku bisa libur.”“Bagus. Akhirnya kamu bisa istirahat sejenak.”Sambil duduk dan makan buah, Bianca menceritakan tentang apa yang Geo berikan pada Blue dan Grey. Juga bagaimana reaksi putra-putranya tersebut.Billy dan Windy saling melirik. Bianca bercerita dengan ekspresi sedih, sesekali bahkan menghela napas panjang.“Kamu takut Geo mengambil Blue dan Grey, ya?”Bianca mengangguk. “Atau malah, Blue dan Grey yang

  • KETIKA SANG BILIONER BANGUN DARI KOMA   72. Pesan-Pesan Personal

    Grey masih terdengar bercerita penuh antusias pada sang kakek, menyebut “Daddy Geo” hanya sekadar formalitas… bukan dengan hangat.Atrick menoleh sekilas pada putranya yang duduk di kursi sebelah. Sehabis rapat tadi padahal wajah Geo terlihat senang.“Geo, lihat sendiri kan? Anak-anak mulai terbuka. Jangan cemburu kalau mereka lebih nyaman denganku dulu. Itu wajar.”Geo menunduk, jemarinya mengepal.“Tapi, Dad… aku ingin mereka bicara begitu padaku. Aku ingin mereka lihat aku… bukan hanya mendengar namaku dari orang lain.”Atrick menepuk bahu putranya, memberi ketenangan.“Semua butuh waktu, Geo. Kamu sudah kehilangan banyak momen bersama mereka. Jangan harap bisa langsung menggantinya dalam semalam. Yang penting, mereka sudah tahu kamu ada.”Geo hanya menghela napas panjang. Perasaan cemburu bercampur haru membuat hatinya tak tenang.Malam itu, ketika Bianca mengantar si kembar naik ke ranjang, tiba-tiba Grey meminta izin.“Mommy, aku boleh telepon Daddy Geo sebentar? Aku mau kasih t

  • KETIKA SANG BILIONER BANGUN DARI KOMA   71. Dia Lagi!

    Grey sudah duduk di lantai ruang keluarga, membuka kotak STEM kit dengan mata berbinar. Tangannya sibuk menyusun bagian-bagian kecil, meski belum tahu caranya.“Mommy, ini bisa jadi robot betulan, kan? Aku mau tunjukkin sama Mister Rafael kalau aku bisa bikin robot yang bisa jalan!” serunya penuh semangat.Bianca menatapnya, senyum kecil tersungging meski hatinya masih penuh dilema.“Pelan-pelan, Sayang. Jangan sampai ada bagian yang hilang.”Di sisi lain, Blue duduk di sofa, memeluk lututnya, menatap buku-buku bergambar tanpa menyentuhnya. Wajahnya datar, tatapannya tajam.“Blue.” Bianca mengusap sayang kepala putranya. “Kenapa, sayang?”“Mommy, aku nggak mau mainan dari orang asing,” ucapnya pelan tapi tegas.Bianca terdiam.“Blue…” Bianca menghela napas panjang. “Daddy Geo bukan orang asing. Dia... daddymu.”“Kalau ini dari orang itu—dia tidak perlu kasih apa-apa.” Nada suara Blue dingin, seperti ada tembok yang sengaja ia bangun. “Kalau dia mau jadi Daddy, kenapa baru sekarang? Ak

  • KETIKA SANG BILIONER BANGUN DARI KOMA   70. Paket untuk Si Kembar

    Hingga pagi hari, Geo belum mendapat balasan dari Bianca. Ia lalu mengeluh pada sang daddy saat bertemu di ruang makan.“Mommy masih di kamar?”“Tidak. Masih jogging di taman.”“Daddy nggak nemenin?”“Pagi-pagi, daddy sudah treadmil.” Atrick mengamati putranya yang sudah rapi berpakaian kerja.Geo minum segelas air mineral sambil menatap ponselnya. Kepalanya menggeleng samar kala meletakkan benda komunikasi itu.“Semalam aku mengirim pesan untuk menanyakan jadwal pertemuan dengan Blue dan Grey. Sampai detik ini tidak dibalas, padahal Bianca sudah membaca pesanku.”Atrick mengangkat sedikit kedua alisnya. “Jadi, itu yang membuat wajahnya merengut di pagi hari yang cerah ini?”“Daddy… aku tidak pernah merasa sesulit ini,” ujar Geo sambil menghela napas panjang. “Biasanya, kalau aku ingin sesuatu, aku bisa mendapatkannya dengan cepat.”Atrick meletakkan cangkir tehnya, lalu menepuk bahu putranya.“Geo, dengarkan baik-baik. Bianca sudah melalui banyak hal seorang diri. Ia membesarkan anak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status