Share

92. Sang Tiupan Raja

last update Tanggal publikasi: 2026-06-03 19:50:48

Mentari mulai condong ke barat ketika William dan Amelia keluar dari vila pribadi mereka di Nuku’alofa. Angin laut mengalun lembut, menyapu dedaunan kelapa yang bergoyang perlahan. Setelah seharian menjelajahi kota, dari Royal Palace hingga Talamahu Market hari mereka belum berakhir.

William melihat jam tangannya. Sembari berkata,

“Kalau kita berangkat sekarang, kita bisa tiba di Mapu a Vaea sebelum matahari terbenam.”

Amelia tersenyum sambil merapikan rambutnya.

“Aku selalu suka tempat-tempat
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • KISAH PANAS PERJALANAN BULAN MADU WILLIAM DAN AMELIA    200. Perjalanan Cinta Yang Berakhir Bahagia

    Suasana di mansion William dan Amelia di kawasan Century City terasa sedikit berbeda pagi itu. Udara masih sejuk ketika Amelia terbangun lebih awal dari biasanya. Cahaya matahari lembut menyelinap melalui tirai tipis kamar utama.Amelia memegang perutnya yang kini sudah besar sempurna. Usia kandungannya genap sembilan bulan hari ini.Amelia menarik napas perlahan.“William,” panggilnya pelan.William yang masih setengah terlelap membuka mata. “Ya, Sayang?”Amelia meringis kecil. “Sepertinya, aku mulai ...”William langsung bangun, duduk tegak. “Kontraksi?”Amelia mengangguk pelan, mencoba tersenyum meski wajahnya menegang. “Iya. Tidak terlalu sakit, tapi terasa berbeda.”William langsung menggenggam tangan istrinya. “Sejak kapan?”“Baru saja. Tapi rasanya teratur.”Belum selesai mereka berbicara, gelombang kontraksi kedua datang. Amelia memejamkan mata.William berdiri, panik namun berusaha tetap tenang. “Oke. Kita ke rumah sakit sekarang.”Amelia mengangguk. “Panggilkan pengasuh unt

  • KISAH PANAS PERJALANAN BULAN MADU WILLIAM DAN AMELIA    199. Hari Yang Menyenangkan

    Akhir pekan di kawasan Century City selalu terasa hidup namun tetap elegan. Langit biru bersih membentang di atas gedung-gedung tinggi dan pusat perbelanjaan mewah yang menjadi destinasi favorit keluarga-keluarga muda.Pagi itu William menggenggam tangan Amelia saat mereka berjalan memasuki pusat perbelanjaan bersama Warren dan Wiley. Kedua bocah kembar berusia tiga tahun itu berjalan di depan sambil berceloteh riang.“Daddy, kita beli sepatu baru kan?” tanya Warren penuh semangat.“Sepatu baru dan es krim!” Wiley menambahkan.William tertawa mendengar permintaan putra-putranya. “Sepatu dulu. Es krimnya nanti ya.”Amelia yang kini hamil empat bulan dengan perut yang mulai membulat tersenyum lembut. Dia mengenakan gaun hamil elegan dan anggun.“Kalian janji ya, tidak lari-lari,” katanya lembut.“Kami janji, Mommy!” jawab keduanya serentak, meski langkah kecil mereka tetap bersemangat.William menoleh pada istrinya. “Kamu capek, Darling?”“Tidak kok. Aku malah senang jalan-jalan begini.

  • KISAH PANAS PERJALANAN BULAN MADU WILLIAM DAN AMELIA    198. Menanti Kehadiran Adik Bayi Perempuan

    Empat bulan telah berlalu sejak kepulangan William dan Amelia dari San Francisco. Musim di Los Angeles berganti perlahan, dan kehidupan di mansion kawasan Century City berjalan semakin hangat.Pagi itu, cahaya matahari masuk lembut melalui jendela besar kamar utama. Amelia berdiri di depan cermin dengan gaun rumah berwarna krem yang longgar. Baby bump-nya kini terlihat jelas, bulat dan anggun.William keluar dari kamar mandi, menyeka rambutnya dengan handuk.“Kamu makin cantik setiap hari,” ucap sang suami sambil menatap pantulan istrinya di cermin.Amelia tersenyum lembut. “Bukannya aku makin bulat?”“Kamu tetap cantik dan menawan bagiku, Sayang,” tutur suaminya jujur.William lalu mendekat dan berlutut sedikit di hadapan istrinya, lalu menempelkan telapak tangannya di perut Amelia.“Halo, putri kecilku,” bisiknya hangat. “Hari ini kita akan lihat kamar barumu.”Amelia menatap suaminya dengan mata berbinar. “Aku masih tidak percaya kita akan punya anak perempuan.”William berdiri dan

  • KISAH PANAS PERJALANAN BULAN MADU WILLIAM DAN AMELIA    197. Hari Terakhir Liburan

    Pagi di San Francisco kembali menyapa dengan kabut tipis yang menggantung rendah di antara atap-atap rumah dan garis laut yang berkilau jauh di kejauhan. Dari balkon vila, cahaya matahari perlahan menembus kabut, menciptakan gradasi keemasan yang lembut.Amelia masih berdiri di sana, kini dengan secangkir kopi hangat. William keluar membawa dua croissant yang tadi diantarkan staf vila.“Kamu menikmati kota ini seperti sedang membaca puisi,” ujar William pelan.Amelia tersenyum tanpa menoleh. “Karena setiap sudutnya terasa seperti bait yang indah.”William berdiri di samping istrinya. “Hari ini masih panjang. Kita mau ke mana lagi?”Amelia menatapnya. “Aku ingin menikmati pagi tanpa terburu-buru. Tidak ada jadwal ketat. Hanya ada kita berdua.”William mengangguk. “Deal, Darling.”Pagi Santai di vila.Mereka sarapan di balkon, angin pagi menyentuh wajah dengan lembut. Tidak ada percakapan berat, hanya tawa dan candaan ringan.“Kamu terlihat lebih rileks dibandingkan saat di Los Angeles,

  • KISAH PANAS PERJALANAN BULAN MADU WILLIAM DAN AMELIA    196. Kehangatan William

    Malam itu, setelah seharian menjelajahi taman, dan pantai, William sudah menyiapkan kejutan kecil untuk Amelia.Mobil hitam yang mereka sewa berhenti di depan sebuah restoran fine dining peraih bintang Michelin di pusat San Francisco. Lampu-lampu hangat memancar lembut dari balik jendela besar, suasananya sungguh intimed dan elegan.Amelia menoleh pada William, lalu berkata, “Kita makan di sini?”William tersenyum tipis. “Kita sedang liburan berdua. Aku ingin semuanya terlihat istimewa, Sayang.”“Seistimewa apa?” goda Amelia sambil tersenyum.“Seistimewa kamu.”Amelia tertawa pelan. “Kalimatmu makin berbahaya sejak kita jauh dari anak-anak.”“Memang itu tujuanku, Darling!”William membukakan pintu mobil dan mengulurkan tangannya pada istrinya. “Malam ini semua tentang kita, hanya ada William dan Amelia.”Interior restoran begitu elegan. Meja-meja berjarak, lilin kecil menyala, musik piano mengalun pelan. Pelayan mengantar mereka ke meja dekat jendela dengan pemandangan lampu kota.Am

  • KISAH PANAS PERJALANAN BULAN MADU WILLIAM DAN AMELIA    195. Terima Kasih Karena Selalu Ada Untukku

    Pagi di San Francisco terasa berbeda dari Los Angeles. Udara lebih sejuk, sedikit berhembus asin dari lautan, dan sinar matahari menembus jendela vila pribadi tempat William dan Amelia menginap.Amelia terbangun lebih dulu. Dia berdiri di balkon, mengenakan gaun musim panas berwarna krem yang lembut tertiup angin. Rambutnya terurai, wajahnya tampak tenang.William keluar dari kamar mandi, masih dengan kemeja santai yang belum dikancingkan sepenuhnya. Dia berhenti sejenak, memandangi istrinya.“Kamu tahu, Sayang. Aku rasa aku jatuh cinta lagi pagi ini,” ucap William pelan.Amelia menoleh dan tersenyum. “Lagi?”“Setiap hari tepatnya,” jawabnya mendekat. “Dan hari ini, melihat dirimu membuatku semakin yakin.”Amelia tertawa ringan. “Atau mungkin karena kamu sedang tidak dikejar rapat dan laporan keuangan.”William merangkul pinggang istrinya dari belakang. “Itu juga. Tapi terutama karena aku bisa punya pagi seperti ini bersamamu.”Mereka pun sarapan ringan di teras vila sebelum berangkat

  • KISAH PANAS PERJALANAN BULAN MADU WILLIAM DAN AMELIA    7. Ucapan Selamat dan Doa Untuk Kedua Mempelai

    Acara pernikahan William dan Amelia masih berlangsung dengan begitu meriah dan megah. Tenda-tenda berwarna putih dengan hiasan bunga-bunga yang beraneka ragam menambah keindahan suasana. Cahaya lampu yang berpendar lembut menambah suasana menjadi semakin hangat dan romantis.Setelah acara makan yan

  • KISAH PANAS PERJALANAN BULAN MADU WILLIAM DAN AMELIA    6. Penyesalan Para Mantan

    Alex, teman kuliah Amelia, duduk di sebuah bangku dalam ruangan ballroom hotel bintang lima itu. Dia sedang menatap Amelia yang sedang duduk di pelaminan bersama William. Dengan gaun pengantin putih yang memukau, Amelia tampak seperti malaikat yang turun dari surga.“Amelia … kamu sungguh sangat ca

  • KISAH PANAS PERJALANAN BULAN MADU WILLIAM DAN AMELIA    5. Dendam Julius

    Di tengah hingar bingar pesta,Julius duduk di sudut sebuah meja makan, menatap gelas anggurnya yang berisi setengah penuh. Di sekelilingnya, suara tawa dan canda tawa bergema, namun Julius merasa seolah-olah dia berada di dunia yang berbeda. Pesta pernikahan William dan Amelia sedang berlangsung

  • KISAH PANAS PERJALANAN BULAN MADU WILLIAM DAN AMELIA    4. Jamuan Makan Yang Sungguh Lezat

    Acara makan pun tiba,Pesta pernikahan William dan Amelia adalah perayaan yang meriah dan hangat, dihiasi dengan berbagai hidangan mewah yang mencerminkan kekayaan dan variasi kuliner Indonesia dan hidangan western. Tidak ada satupun tamu yang tidak terpesona dengan pemandangan meja yang dipenuhi d

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status