เข้าสู่ระบบLampu-lampu Kota Los Angeles berkilauan seperti lautan bintang saat mobil hitam panjang berhenti di depan gedung gala amal malam itu.Karpet merah terbentang.Kamera media berkilat.Para tamu berdatangan dengan gaun dan jas terbaik mereka.William turun lebih dulu, lalu dengan hati-hati membukakan pintu untuk istrinya.Amelia melangkah keluar perlahan.Gaun hamil biru mudanya jatuh lembut membalut tubuhnya. Baby bump-nya terlihat jelas, membuat banyak orang tersenyum hangat.William langsung menggenggam tangan istrinya.“Pegangan sama aku terus ya,” bisiknya.Amelia tersenyum.“Aku bukan kaca yang bisa retak seketika, Willy.”William menatap perut istrinya.“Kamu membawa dua harta karunku, Sayang.”Mereka berjalan masuk bersama. Flash kamera menyala.Seorang reporter mendekat.“Mr. William! Selamat atas pemulihan perusahaan Anda. Dan selamat atas kehamilan istri Anda!”William tersenyum profesional.“Terima kasih. Malam ini kami di sini untuk berbagi, bukan untuk urusan bisnis.”Ameli
Beberapa waktu telah berlalu.Mentari pagi Los Angeles menyinari balkon mansion William dengan cahaya keemasan yang lembut.Amelia berdiri di depan cermin besar kamar utama mereka. Perempuan cantik itu mengenakan gaun hamil warna biru yang longgar. Tangannya refleks mengusap perutnya yang kini mulai membulat.Baby bump itu sudah sangat terlihat jelas.Amelia tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca.“Willy, Sayang.”William yang sedang mengancingkan kemeja di belakangnya langsung menoleh.“Ada apa, Sayangku?”Amelia memutar tubuhnya pelan.“Lihat.”William mendekat, lalu berhenti tepat di hadapannya.Matanya turun ke perut Amelia. Untuk sesaat, pria tampan tersebut terdiam. Kemudian bibirnya bergetar.“Kedua bayi kita benar-benar tumbuh dengan baik.”Amelia mengangguk pelan.“Aku merasa mereka bergerak tadi pagi. Seperti sentuhan kecil sebuah dari dalam perutku.”William langsung berlutut di hadapan istrinya. Dia lalu menempelkan telinganya ke perut Amelia.“Halo jagoan kecil, Daddy. Apa
Cahaya matahari Los Angeles pagi itu menyelinap lembut melalui tirai kaca ruang kerja William.Namun suasana hati pria itu jauh dari terang. Tapi seperti sedang terbalut kabut tebal.William duduk menatap layar laptop dengan mata sembab, secangkir kopi yang sudah dingin berada di sampingnya. Di belakangnya, Owen berdiri sambil membawa tablet, wajahnya terlihat sangat tegang.“Bos William …”William mengangkat kepala.“Apakah ada kabar terbaru?”Owen menarik napas. Lalu berkata,“Investor dari Singapura akhirnya setuju masuk. Mereka akan menyuntikkan dana besar, tapi ada satu permintaan dari klien tersebut. Anda harus tetap jadi pemegang kendali utama.”William terdiam beberapa detik.Lalu perlahan dia berdiri.“Benarkah?”Owen mengangguk mantap.“Kontrak awal sudah dikirim. Mereka percaya pada visi Anda.”William menutup mata.Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, dia menghembuskan napas panjang, lega.“Terima kasih, Tuhan,” ucapnya penuh haru.William lalu menoleh ke arah O
Hari yang mengejutkan.Berita itu datang seperti petir di siang bolong.Julius berdiri di depan jendela hotelnya di Los Angeles, ponsel masih menempel di telinganya. Di layar laptop terbuka sebuah foto buram, Amelia sedang keluar dari mansion bersama William, tangannya secara refleks melindungi perutnya, wajahnya pucat namun terpancar penuh aura bahagia.Martin menunggu di belakang, tak berani bicara.“Yakin?” Suara Julius terdengar parau.“Iya, Tuan,” jawab sumbernya di ujung telepon. “Dokter keluarga datang pagi itu. Staf mansion bilang, Nyonya Amelia hamil sekitar dua bulan.”Telepon ditutup.Julius tetap berdiri mematung.Tangannya perlahan mengepal.“Amelia sedang hamil.”Kata-kata itu bergaung merdu di kepalanya seperti gema panjang.Martin memberanikan diri mendekat.“Bos …”Julius tertawa pelan. Bukan tawa bahagia, melainkan tawa kosong yang nyaris menyerupai isak tangis yang menyayat.“Amelia hamil, Martin.”Martin mengangguk pelan.“Itu artinya Nona Amelia benar-benar sudah
Udara pagi di Los Angeles terasa dingin meski matahari sudah tinggi.Di kawasan Century City, William duduk di ruang rapat berlapis kaca di lantai dua puluh, dikelilingi layar presentasi, grafik keuangan, dan wajah-wajah serius para eksekutif.Sudah tiga hari berturut-turut William berpindah dari satu meeting ke meeting lain.Calon investor dari San Francisco lalu ke perusahaan modal ventura dari New York, kemudian ke dana swasta dari Singapura. Semua didatanginya dan diyakinkannya.Namun hasilnya belum juga stabil.William berdiri di depan layar.“Kami masih memiliki fondasi kuat,” katanya dengan suara tegas meski matanya terasa lelah.“Produk kami tetap bertumbuh. Klien juga tetap loyal. Yang kami butuhkan hanya partner yang percaya pada visi jangka panjang.”Seorang pria paruh baya di ujung meja menyilangkan tangan.“Mr. William, media menyebut cabang LA Anda sedang goyah. Beberapa investor besar menarik dana. Itu bukan sinyal yang baik.”William menarik napas.“Media hanya melih
Keesokan harinya.Pagi di Los Angeles terasa berbeda hari itu.Langit masih cerah, burung camar masih beterbangan jauh di atas gedung-gedung tinggi kawasan Century City, tapi di dalam ruang kerja William, udara terasa berat.William duduk di balik meja besar dari kayu walnut, menatap layar laptopnya tanpa berkedip.Grafik keuangan di layar menunjukkan garis menurun tajam.Ponselnya bergetar.Dia mengangkatnya.“Halo?”Suara dari seberang terdengar formal dan dingin.“Mr. William, ini dari pihak Northbridge Capital. Kami ingin mengkonfirmasi bahwa mulai hari ini, kami menarik seluruh dana investasi dari cabang LA.”William menegang.“Apa?”Nada suaranya tetap dijaga profesional, tapi dadanya langsung terasa sesak.“Maaf? Kenapa Anda melakukan itu tanpa aba-aba terlebih dahulu?”“Keputusan ini sudah final, Mr. William. Kami akan mengirimkan dokumen resmi siang ini.”William berdiri dari kursinya.“Tunggu. Kerjasama kita bahkan baru tiga bulan berjalan. Tidak ada peringatan sebelumnya.”
“William! Tunggu sebentar, Mommy akan memperbaiki dasimu,” tutur Nyonya Martha Danielson kepada putra tunggalnya. Saat ini mereka sedang berada di ruang tunggu hotel tempat William dan Amelia akan mengikat janji suci pernikahan mereka.“Iya, Mommy.” jawab William Danielson, lalu membiarkan sang ibu
Acara makan pun tiba,Pesta pernikahan William dan Amelia adalah perayaan yang meriah dan hangat, dihiasi dengan berbagai hidangan mewah yang mencerminkan kekayaan dan variasi kuliner Indonesia dan hidangan western. Tidak ada satupun tamu yang tidak terpesona dengan pemandangan meja yang dipenuhi d
Acara terus berlanjut,“Hadirin dan tamu undangan sekalian. Kini tiba saatnya kedua mempelai akan melakukan pemotongan kue pernikahan,” seru sang MC dengan sangat antusias.Acara potong kue di pernikahan antara William Danielson dan Amelia Joanna Lewis, tiba juga. Semua mata tertuju pada kue yang d
William dan Amelia, dua jiwa yang telah lama saling mencintai, kini telah berdiri di altar pernikahan, di depan para tamu undangan yang memenuhi ballroom hotel bintang lima yang sungguh mewah. Wajah mereka berdua sungguh memancarkan kebahagiaan yang tak terhingga, seolah-olah keduanya sudah tidak s







