Share

92. Sang Tiupan Raja

last update publish date: 2026-06-03 19:50:48

Mentari mulai condong ke barat ketika William dan Amelia keluar dari vila pribadi mereka di Nuku’alofa. Angin laut mengalun lembut, menyapu dedaunan kelapa yang bergoyang perlahan. Setelah seharian menjelajahi kota, dari Royal Palace hingga Talamahu Market hari mereka belum berakhir.

William melihat jam tangannya. Sembari berkata,

“Kalau kita berangkat sekarang, kita bisa tiba di Mapu a Vaea sebelum matahari terbenam.”

Amelia tersenyum sambil merapikan rambutnya.

“Aku selalu suka tempat-tempat
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • KISAH PANAS PERJALANAN BULAN MADU WILLIAM DAN AMELIA    170. Kehangatan Huatulco

    Setelah menikmati keindahan Puntarenas selama beberapa hari. Kapal pesiar mini William melanjutkan perjalanan menuju Huatulco, Meksiko di sana mereka menginap di vila pribadi eksklusif.Pagi itu, laut di sekitar Huatulco tampak tenang, berkilau diterpa matahari yang baru naik. Kapal pesiar mini milik William merapat perlahan di perairan yang jernih, seolah menyambut kedatangan mereka dengan pelukan hangat. Dari geladak, Amelia memandangi garis pantai yang hijau dan biru berpadu dengan hutan tropis yang memeluk teluk-teluk kecil, sementara perahu nelayan berayun santai.“Rasanya kita seperti sedang membuka halaman buku baru,” ujar Amelia pelan, matanya berbinar.William tersenyum, menyelipkan tangannya ke genggaman Amelia. “Bab yang kita tulis bersama.”Mereka dijemput staf vila dengan senyum ramah dan dibawa menuju vila pribadi eksklusif yang tersembunyi di balik rimbun pepohonan. Vila itu terbuka ke arah laut, dengan teras luas, kolam kecil, dan angin sepoi-sepoi yang membawa aroma g

  • KISAH PANAS PERJALANAN BULAN MADU WILLIAM DAN AMELIA    169. Indahnya Negeri Di Atas Awan

    Pagi itu dimulai lebih awal dari biasanya. Kabut tipis masih menyelimuti vila ketika William membuka tirai jendela, memperlihatkan siluet pepohonan tropis yang perlahan diterpa cahaya matahari. Udara terasa lebih sejuk, seolah memberi isyarat bahwa hari ini akan berbeda, lebih hening, dan tentunya lebih dekat dengan alam.Amelia masih setengah terlelap di ranjang, berselimut tipis. William mendekat dan duduk di tepi ranjang.“Bangun, Sayang,” katanya lembut. “Hari ini kita ke Monteverde.”Mata Amelia perlahan terbuka. Begitu mendengar nama itu, senyum tipis langsung muncul di wajahnya. “Cloud Forest?”William mengangguk. “Negeri di atas awan.”Amelia duduk, merapikan rambutnya. “Aku sudah membayangkannya sejak semalam. Aku ingin melihat kabut di antara pepohonan.”Setelah sarapan ringan di vila, keduanya berangkat dengan mobil menuju Monteverde Cloud Forest. Perjalanan terasa tenang. Jalanan menanjak perlahan, hutan semakin rapat, dan udara semakin dingin. Amelia menurunkan sedikit ka

  • KISAH PANAS PERJALANAN BULAN MADU WILLIAM DAN AMELIA    168. Air Terjun Yang Berlapis-lapis

    Pagi berikutnya di Puntarenas menyambut William dan Amelia dengan udara segar dan cahaya matahari yang menembus dedaunan. Dari balkon vila, suara burung tropis terdengar bersahut-sahutan, seolah mengiringi hari baru yang menjanjikan petualangan. Amelia berdiri sambil menyeruput teh hangat, memandang hijau pepohonan yang tampak berkilau setelah embun pagi.“Udara hari ini terasa berbeda,” ucapnya lembut.William menghampiri istrinya nya, meletakkan tangannya di pinggang Amelia. “Hari yang pas untuk menjelajah alam. Montezuma Waterfalls menunggu kita.”Mata Amelia berbinar. “Air terjun berlapis-lapis itu, kan? Aku sudah lama ingin melihatnya.”Mereka bersiap dengan pakaian ringan, sepatu trekking, dan ransel kecil berisi air minum serta camilan. Setelah sarapan singkat, mobil membawa keduanya menuju Montezuma. Perjalanan melewati jalanan berkelok dengan pemandangan hutan tropis yang lebat. Sesekali, Amelia menempelkan wajahnya ke jendela.“Lihat pepohonannya,” katanya kagum. “Seperti lu

  • KISAH PANAS PERJALANAN BULAN MADU WILLIAM DAN AMELIA    167. Mulai Eksplor Puntarenas

    Setelah pagi yang tenang dan sarapan hangat di vila, William dan Amelia bersiap untuk menjelajah sisi lain Puntarenas yang lebih bersejarah dan penuh warna. Meja sarapan masih menyisakan aroma kopi Costa Rica yang khas. Amelia menyesap tegukan terakhir, lalu tersenyum puas.“Rasanya hari ini cerah sekali,” ucapnya sambil menoleh ke arah jendela.William mengangguk. “Cocok untuk jalan santai. Kita ke Kota Tua Puntarenas dan mercusuar, ya?”Amelia berdiri, merapikan rambutnya. “Aku siap. Aku penasaran dengan mural-mural warna-warni yang katanya cantik.”Perjalanan menuju Kota Tua tidak lama. Mobil melambat saat memasuki kawasan yang lebih klasik, bangunan-bangunan tua dengan detail kolonial, jalanan yang terasa lebih akrab, dan suasana yang seolah mengundang orang untuk berjalan pelan. Begitu turun, William langsung menggenggam tangan Amelia.“Tempat seperti ini rasanya ingin dinikmati sambil berjalan,” serunya.Amelia tersenyum. “Aku setuju.”Mereka memulai langkah menuju gereja koloni

  • KISAH PANAS PERJALANAN BULAN MADU WILLIAM DAN AMELIA    166. Menikmati Waktu Bersama

    Malam telah benar-benar turun ketika William dan Amelia kembali ke vila. Udara terasa lebih sejuk setelah hujan ringan sore tadi, meninggalkan aroma tanah dan dedaunan yang lembab. Lampu-lampu taman menyala lembut, menciptakan bayangan hangat di dinding vila. Begitu pintu kamar mereka tertutup, dunia luar seakan menghilang, menyisakan ruang yang hanya milik mereka berdua.Amelia berdiri sejenak di dekat jendela besar kamar, memandang ke luar. Cahaya bulan menembus sela-sela awan, menyinari pepohonan yang bergoyang pelan. Dia menarik napas panjang, lalu tersenyum tipis.“Tempat ini membuatku merasa sangat tenang,” ucapnya tanpa menoleh.William mendekat, berdiri di belakang istrinya. “Aku juga merasakannya. Seolah semua yang kita lalui hari ini perlahan menyatu di sini.”Amelia menoleh, menatap wajah William yang terlihat lebih lembut di bawah cahaya lampu temaram. “Hari ini panjang, tapi rasanya, penuh.”William mengangguk. “Penuh dengan hal-hal yang berarti.”Mereka duduk berdampinga

  • KISAH PANAS PERJALANAN BULAN MADU WILLIAM DAN AMELIA    165. Kehangatan Berdua

    Pagi di Puntarenas datang dengan lembut. Cahaya matahari menyelinap masuk melalui celah tirai vila, membangunkan William dan Amelia dengan cara yang tenang. Udara segar bercampur aroma dedaunan tropis terasa masuk saat Amelia membuka jendela kamar. Dari kejauhan terdengar kicau burung, seperti undangan alam untuk memulai hari baru.“Pagi ini terasa berbeda,” ucap Amelia sambil menarik napas panjang.William yang masih duduk di tepi ranjang tersenyum. “Berbeda dalam arti yang baik?”“Ya. Lebih hijau. Juga lebih hidup,” jawab Amelia sambil menoleh pada suaminya.Setelah bersiap, mereka menikmati sarapan ringan di vila. Ada buah segar, roti hangat, dan kopi khas Costa Rica yang harum. Sambil makan, William menatap peta kecil yang diletakkan di meja.“Hari ini kita ke Curu Wildlife Refuge,” ucapnya. “Sebuah hutan tropis, dekat laut. Trekking ringan.”Mata Amelia berbinar. “Aku suka tempat seperti itu. Alam yang masih asli.”Tak lama kemudian, mereka berangkat dengan mobil menuju Curu. Per

  • KISAH PANAS PERJALANAN BULAN MADU WILLIAM DAN AMELIA    7. Ucapan Selamat dan Doa Untuk Kedua Mempelai

    Acara pernikahan William dan Amelia masih berlangsung dengan begitu meriah dan megah. Tenda-tenda berwarna putih dengan hiasan bunga-bunga yang beraneka ragam menambah keindahan suasana. Cahaya lampu yang berpendar lembut menambah suasana menjadi semakin hangat dan romantis.Setelah acara makan yan

  • KISAH PANAS PERJALANAN BULAN MADU WILLIAM DAN AMELIA    6. Penyesalan Para Mantan

    Alex, teman kuliah Amelia, duduk di sebuah bangku dalam ruangan ballroom hotel bintang lima itu. Dia sedang menatap Amelia yang sedang duduk di pelaminan bersama William. Dengan gaun pengantin putih yang memukau, Amelia tampak seperti malaikat yang turun dari surga.“Amelia … kamu sungguh sangat ca

  • KISAH PANAS PERJALANAN BULAN MADU WILLIAM DAN AMELIA    5. Dendam Julius

    Di tengah hingar bingar pesta,Julius duduk di sudut sebuah meja makan, menatap gelas anggurnya yang berisi setengah penuh. Di sekelilingnya, suara tawa dan canda tawa bergema, namun Julius merasa seolah-olah dia berada di dunia yang berbeda. Pesta pernikahan William dan Amelia sedang berlangsung

  • KISAH PANAS PERJALANAN BULAN MADU WILLIAM DAN AMELIA    4. Jamuan Makan Yang Sungguh Lezat

    Acara makan pun tiba,Pesta pernikahan William dan Amelia adalah perayaan yang meriah dan hangat, dihiasi dengan berbagai hidangan mewah yang mencerminkan kekayaan dan variasi kuliner Indonesia dan hidangan western. Tidak ada satupun tamu yang tidak terpesona dengan pemandangan meja yang dipenuhi d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status