LOGIN"Menikah denganku adalah neraka, kau akan tahu itu nanti." "Kalau begitu, kita akan menikmati neraka itu bersama." Bagi Farendra, Nayara Renjani Danuwira hanyalah pintu masuk untuk membalaskan dendam kepada keluarga Danuwira yang licik. Sementara bagi Nayara, Farendra Sutanto adalah pria bengis tak berperasaan yang telah menghancurkan seluruh hidupnya. Di bawah dominasi sang suami, Nayara menolak tunduk menjadi domba penurut. Gadis itu menelan semua kekejaman dengan dagu terangkat dan mata menatap tegas. Antara dendam yang membakar logika dan cinta yang perlahan tumbuh, Nayara dan Farendra harus berjuang untuk hidup di sisi yang paling menyiksa; yang satu berjuang lepas dari neraka, sementara yang lain terlambat sadar bahwa ia telah kehilangan surganya.
View More“Suka dengan semua ini, Naya?" Suara berat itu membuat Nayara muak setengah mati. Menatap mata tajam pria di sampingnya, Nayara berusaha keras menyembunyikan getar samar yang merayap di hatinya.
"Enyah kau," bisik Nayara pelan penuh penekanan. Gadis itu bergerak hendak menjauh, namun dengan cepat bahunya ditarik kembali oleh suaminya, Farendra Sutanto. "We're married now, Nayara. Officially, saya ini suami kamu. Sangat tidak pantas seorang istri bersikap kasar di hari pertama pernikahan mereka." Nayara mengembuskan napas dalam. Sungguh, jika saja mereka tidak berada di depan ratusan tamu yang menghadiri pesta pernikahan ini, ia sudah pasti sudah lari sejauh mungkin. Tania sialan! umpatnya dalam hati. Andai saja Tania, kakak kandungnya yang sinting itu tidak kabur bersama pacarnya tiga hari sebelum pernikahan, Nayara tidak mungkin akan ‘ditumbalkan’ sebagai istri pengganti hari ini. "Senyum yang manis, Naya," Faren berbisik dengan wajah tenang tanpa cela. "Setidaknya berakting lah dengan baik, dari tadi wajahmu tegang sekali." Nayara melirik tajam lantas memaksakan senyum tipis tatkala beberapa tamu mendekat ke arah mereka berdua. Suasana pesta kian ramai, seolah tamu tidak pernah berhenti datang meski waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Nayara mendengus lelah. Di usianya yang baru dua puluh tahun, gadis itu harusnya masih menikmati masa kuliah atau kehidupan muda yang bebas. Namun, di sinilah ia sekarang. "Terima saja nasib burukmu, Naya. Menikah denganku adalah neraka. Kau akan tahu itu nanti." Faren menggenggam tangan Nayara kencang, menekan buku-buku jarinya hingga gadis itu memekik kesakitan. Nayara menahan napas, berusaha menarik tangannya dari genggaman sang pria. "Aku penasaran sekali, kira-kira neraka seperti apa yang sudah kau siapkan untukku, Tuan Farendra,” jawab Nayara kemudian. “Ah, ternyata kau sudah tidak sabar sekali, ya.” “Benar, aku sudah sangat tidak sabar.” Nayara tersenyum manis, seolah sindiran yang ia lontarkan hanya angin lalu. Faren terkekeh rendah, sebuah tawa dingin yang membuat tengkuk Nayara meremang. Pria itu kembali menyusupkan jemarinya di antara jemari Nayara, meremasnya kuat hingga gadis itu tak bisa berkutik. “Mari kita lihat sampai di mana kau bisa bertahan dengan sisa-sisa harga dirimu yang tidak seberapa itu, Nayara Renjani Danuwira.” "Kasihan sekali kau, harus menjadi kambing hitam atas keserakahan keluargamu." Faren berjalan santai di sisi ranjang kamar pengantin mereka. Sebuah kamar hotel bernuansa merah marun yang megah. Nayara menatap Faren dari balik kaca meja rias yang sedikit berantakan. "Aku memang sangat mengasihani diriku sendiri karena harus menjalani pernikahan sialan ini dengan pria sok terhormat sepertimu.” Faren menghentikan langkahnya lalu menatap Nayara tajam. "Keluargamu lah yang tidak punya kehormatan," ucap Faren dingin, kembali melangkah mendekat kearah Nayara yang masih belum paham pria seperti apa yang sedang ada di hadapannya. " Mereka 'menjual' anaknya padaku demi sebuah tanda tangan kontrak investasi murahan. Sayang sekali, dalam hal ini kau lah yang harus menjadi korbannya." Kalimat itu menghujam Nayara telak. Dadanya panas karena emosi yang mulai membakar naik. Bukan karena Faren menyinggung kedua orang tuanya, melainkan karena ucapan pria itu tepat menyentil sisa harga diri yang ia punya. “Tutup mulutmu, sialan!” Sebelum Nayara sempat berdiri dan mengambil langkah, Faren sudah lebih dulu membungkuk dan mencengkeram kuat dagu gadis itu, memaksanya mendongak menatap mata tajam yang penuh intimidasi. "Jangan coba-coba memancing emosiku," bisik Faren memperingatkan dengan suara rendah berbahaya. "Kau tidak tahu pria macam apa yang sedang kau hadapi. Rumah ini sangat jauh berbeda dari rumah Danuwira yang memanjakanmu selama ini. Di sini, kau tidak punya suara sama sekali. Kesempatan pun tidak." Nayara mengepalkan tangannya di atas pangkuan dengan pandangan nanar. Dalam hati kecilnya terselip rasa takut yang mendalam saat melihat aura kelam Faren dari jarak sedekat ini. Namun, ia menolak untuk menunjukkan rasa takut itu sedikit pun. "kalau begitu mari kita lihat, Tuan Farendra," balas Nayara dengan suara yang sedikit bergetar, mencoba mempertahankan sisa keberaniannya. Faren tidak membalas. Ia menatap wajah tegang Nayara dengan tatapan meremehkan, lalu melepaskan cengkeramannya begitu saja hingga kepala Nayara terhentak ke belakang. "Bersihkan dirimu sekarang. Aura ketakutanmu membuatku ingin muntah," ucap Faren datar seraya berbalik memunggungi Nayara. Dagu gadis itu terasa panas dan kebas. Dengan tenggorokan tercekat tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Nayara bangkit dan bergegas berjalan ke kamar mandi. Klak! Begitu pintu kamar mandi terkunci rapat, ketegangan yang ia tahan sejak tadi akhirnya runtuh. Nayara bersandar di balik pintu dengan dada naik turun mengendalikan napasnya yang patah-patah. Tidak ada tangisan, namun hatinya dipenuhi dendam pada keluarganya yang tega menumbalkannya ke dalam sangkar berbahaya ini. Dengan tubuh yang segar dibalut piyama hitam, Nayara melangkah ke kamar mereka yang terlihat lenggang. Faren tidak terlihat dimana-mana, dalam hati gadis itu bersyukur karena mengira akan terbebas dari intimidasi sang suami. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Pintu terbuka, Faren masuk masih dengan kemeja putih yang digulung hingga siku dan celana bahan hitam yang masih tampak rapi. Entah habis dari mana pria itu, Nayara memilih tidak ambil pusing. Nayara hampir merebahkan dirinya ditempat tidur ketika suara bariton pria itu terdengar mendominasi. "Siapa yang menyuruhmu tidur di sana?" Faren menarik kasar tangan Nayara hingga membuat gadis itu hampir terjungkal andai ia tak pandai menguasai diri. "Apa maksudmu?" Nayara menepis tangan Faren kasar, mencoba meredam rasa kagetnya setelah ditarik kasar sedemikian rupa. "Kubilang, siapa yang menyuruhmu tidur di sana? Aku tidak berminat berbagi tempat tidur dengan orang asing." Faren menunjuk lantai dingin di sisi ranjang. "Tidur di lantai,” perintah Faren dingin. Nayara terpaku dengan wajah pias. Tubuhnya yang lelah membuat pertahanannya makin ringkih. "Tidak bisakah kau berbaik hati malam ini saja?" gadis itu mencoba bernegosiasi, “kalau kau tidak ingin aku tidur di ranjang ini, kau bisa menyuruhku untuk tidur di—“ "Tidur di lantai, Nayara!" Kalimat itu final, dan Faren tidak ingin menerima bantahan apa pun. Nayara menelan ludahnya yang terasa pahit. Gadis itu sekali lagi menatap mata kelam Faren yang menyala tanpa empati sedikit pun padanya. Menyadari tak ada gunanya mendebat sang pria dalam kondisinya saat ini, Nayara akhirnya mengalah. Dengan tangan yang sedikit gemetar, gadis itu beringsut hendak mengambil sebuah bantal di atas kasur. "No pillow." Suara Faren menginterupsi gerakannya. Nayara memejamkan mata rapat-rapat sembari meremas pinggiran sprei sebelum akhirnya menarik tangannya kembali. Untuk malam ini, ia menelan bulat-bulat hinaan dan perlakuan kasar yang Faren lakukan padanya. Gadis itu memejam, merasakan inci demi inci tubuhnya yang mulai kedinginan. Hatinya bergemuruh. Rasa sakit, sedih dan marah mulai bercampur menjadi satu. Entahlah, Nayara tidak tahu persis harus lebih menyalahkan siapa atas nasibnya. Ayah ibunya, Tania, ataukah Farendra? Di kamar mandi, Faren tidak langsung menuju ke shower untuk membersihkan diri. Dalam diam, pria itu menatap pantulan wajahnya di cermin. Usianya sudah tiga puluh tahun, tapi hal itu malah membuat fitur wajahnya semakin tegas dan matang. Dengan alis tebal dan mata tajam bak elang, semakin menambah kesan dingin yang terpancar dari setiap tatapan yang ia berikan. Menikahi Nayara tidak pernah ada dalam kamus hidupnya. Awalnya, keluarga Danuwira sudah sepakat untuk menyerahkan Tania,—kakak kandung Nayara—kepadanya. Namun, entah takdir apa yang membawanya pada titik ini, ia malah harus menikahi Nayara Renjani Danuwira, gadis tidak bersalah yang mau tidak mau harus ikut dalam rencana balas dendamnya. Gadis itu mungkin tidak akan bisa tidur nyenyak di lantai kamar hotel mereka yang dingin malam ini. Biarlah, pikir Faren. Anggap saja itu bentuk hukuman karena sudah berani menguji batas kesabarannya di hari pertama pernikahan mereka. Setelah membersihkan diri, Faren beranjak menuju kamar mereka yang sepi. Kepalanya menoleh ke arah Nayara yang telah berbaring meringkuk dengan mata memejam erat. Entah benar terlelap atau hanya pura-pura, Faren tidak ambil pusing. Pria itu beringsut ke atas kasur dan merebahkan dirinya yang lelah. "Besok, kau akan tahu apa arti sesungguhnya dari menjadi istri seorang Farendra Sutanto, Nayara Renjani Danuwira!” bisik Faren pelan sembari memejamkan mata.“Selamat pagi, Nayara Danuwira. Kuharap tidurmu nyenyak semalam.” Pagi-pagi sekali, Faren membuka pintu kamar mandi dengan wajah menyeringai remeh. Begitu melihat keadaan Nayara dengan mata sembab dan berantakan, hatinya puas setengah mati. Gadis itu melengos dan melewati tubuh besar Faren dengan tatapan dingin. Kebenciannya kian membuncah seiring dengan sikap Faren yang semakin kejam dari hari ke hari..“Bagaimana? Kau suka dengan interior kamar mandi itu?” Belum puas, Faren kembali mencoba memprovokasi Nayara.Gadis yang sedang mengumpulkan serpihan iPadnya yang hancur itu masih setia dengan keheningan. Keping demi keping ia kumpulkan dengan hati yang perih, mengingat dari iPad inilah sumber semua penghasilannya selama ini. Rasa takut dan khawatir yang selama ini menggerogoti hatinya mendadak luruh bersamaan dengan hancurnya barang kesayangan yang selama ini ia jaga setengah mati.Dengan kasar, Faren menendang bahu Nayara yang masih jongkok membelakanginya. “Kau tuli?! Apa tidur s
"Mau Naya antar ke bandara, Ma?" tawar Nayara halus tatkala mendampingi sang mertua berdiri di ambang pintu utama.Mama Sofia tersenyum hangat, lalu mengelus pipi Nayara dengan penuh kasih sayang. "Tidak perlu, Sayang. Kamu diam saja di rumah dan beristirahat.""Baik, Mama. Hati-hati di jalan."Mama Sofia melambaikan tangan dari balik kaca seiring laju mobil yang perlahan meluncur pergi. Nayara terus mengumbar senyum manis sampai mobil itu benar-benar menghilang di balik gerbang. Begitu bayangan mobil tak lagi terlihat, senyum ramah di wajah Nayara menguap seketika.Gadis itu memutar tubuhnya, setengah berlari menaiki tangga menuju lantai dua."Semua barang di kamar bawah sudah saya pindahkan ke sini, Nyonya," ucap Bi Sumi yang tiba-tiba muncul dari koridor sembari membawa tas punggung Nayara yang hanya berisi sebuah buku sketsa. "Terima kasih, Bi," jawab Nayara cepat. "Oh ya, jangan panggil saya ‘Nyonya'. Panggil saja Naya.""Tapi, Nyo—""Naya, Bi," potong Nayara tegas namun
"Pertunjukan yang sangat menarik."Suara berat dan dingin itu membuat jantung Nayara mencelos. Di ambang pintu kamar yang terbuka separuh, Faren berdiri bersedekap dada. Pria itu mengenakan kemeja hitam dengan jas rapi, bersiap untuk berangkat kerja. Faren sudah berada di sana sejak awal. Mendengar setiap kalimat makian, setiap keputusasaan yang berubah menjadi amarah, dan fakta bahwa penyitaan ponselnya kemarin sama sekali tidak menghentikan Nayara untuk terhubung dengan dunia luar.Gadis itu menutup draft desain yang belum sempat dikirim, lalu dengan cepat menguasai diri. Benda pipih yang menjadi tumpuan terakhirnya itu diletakkan di atas dada dengan posisi bersedekap waspada. Dalam hati Nayara agak khawatir kalau saja Faren akan menyita iPadnya juga. “Apa yang membawamu ke tempat yang pengap lagi sempit ini, wahai tuan rumah yang sangat berkuasa?” sindir Nayara pelan, berusaha menyembunyikan rasa cemas yang mulai merayap.“Ah, aku hanya sedikit mengkhawatirkanmu,” jawab Fare
"Bukankah sudah kubilang jangan pernah menyentuh lantai dua?!" Suara Faren menggelegar hebat hingga memantul di langit-langit rumah. Pria itu baru saja memasuki ruang tengah sekembalinya dari gedung pusat perkantoran untuk menemui seseorang bernama Sebastian.Di ujung lorong lantai dua, Nayara tampak santai memegang sapu di ambang pintu sebuah kamar. Kamar terbesar di ujung lorong dengan pencahayaan paling terang karena berhadapan langsung dengan arah matahari terbit."Oh, kau sudah pulang?" Nayara menoleh dan tersenyum tipis. Tindakan itu seolah menegaskan bahwa teriakan Faren barusan sama sekali tidak memengaruhi mentalnya.Napas Faren menderu cepat. "Nayara Renjani Danuwira, bukankah sudah ku peringatkan kau—" "Kupikir area pribadimu hanya kamar di tengah sana," potong Nayara santai. "Lagipula, bukankah ujung lorong ini lumayan jauh dari kamar pribadimu? Aku janji tidak akan pernah mengusik ketenanganmu.”"Faren kehabisan kata-kata. Amarahnya pasca bertemu Sebastian belum b






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.