登入Sore Semua ( ╹▽╹ ) Terima Kasih Kak Pungki atas hadiah Koinnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima Kasih Kak Zainol Abidin, Kak Gunarso Priambudi, Kak Dany Danie atas dukungan Gem-nya (◍•ᴗ•◍) Karena Jumlah Gem telah memenuhi target, maka ada satu bab bonus malam ini(≧▽≦) Selamat membaca (◠‿・)—☆
'Hanya dia yang memanggilku seperti itu.'Di antara seluruh penghuni Alam Abadi, cara Kakek Nightmare menyebut "Kaisar Iblis" berbeda dari yang lain. Para jenderal, menteri, bahkan tamu dari aliran-aliran besar menggunakan "Yang Mulia" atau "Paduka Kaisar" dalam setiap kalimat. Formal, terukur, penuh jarak yang pantas.Tapi Kakek Nightmare tidak. Ia menyebut "Kaisar Iblis" dengan cara yang terasa seperti seseorang yang memanggil teman lama di pasar. Kasual, sedikit tidak sopan, dan sangat khas. Cara yang tidak pernah ada orang lain di Alam Kultivasi yang berani meniru karena tahu betul itu hak eksklusif si tua bangka yang tidak tahu malu.Bahkan Solus, murid pertama yang ia percaya lebih dari siapapun, selalu memanggilnya "Master" dengan penuh hormat.Hanya Kakek Nightmare yang bisa demikian. Dan Ryan tidak pernah menegurnya. Ada yang lebih mudah daripada mengubah kebiasaan orang yang sudah terlalu tua untuk berubah.Ryan menarik napas pelan. Ada sesuatu di sudut dadanya yang hanga
Di Kamar Privat 7, Cassandra berdiri dari kursinya. Matanya melebar, menatap lantai utama di bawah.'Dua triliun. Dua triliun GDP.'Bahkan untuk Keluarga Lim, jumlah seperti itu bukan angka yang bisa dikeluarkan begitu saja kapan pun mereka mau.Rasa gentar yang sudah beberapa kali ia coba tekan kini naik kembali ke permukaan.Ia menoleh ke arah Alaric. "Alaric, sepertinya kita perlu mempertimbangkan ulang rencana itu. Mungkin lebih bijak kalau kita tidak bergerak dulu.""Tidak perlu khawatir."Alaric menyangga dagunya dengan satu tangan. Matanya masih tertuju ke lantai di bawah, dengan ekspresi seseorang yang sedang melihat sesuatu yang menarik, bukan sesuatu yang mengancam.Ia tersenyum tipis."Hanya dua triliun. Apakah itu banyak?"Tangannya turun dari dagu."Justru semakin seperti ini, semakin aku ingin menghabisinya."**Di Kamar Privat 8, Kanda Guntur menyipitkan mata.Jarinya yang tadi mengetuk-ngetuk sandaran kursi berhenti seketika."Siapa sebenarnya orang ini?" Ia bergumam,
Keheningan yang menyusul tawaran itu hanya bertahan dua detik.Setelahnya, seisi ruangan meledak."Dua triliun? Ada yang masih berani bersaing?""Itu dia! Anak muda yang tadi menawar empat miliar!""Yang tadi kelihatan tidak punya uang itu?"Bisik-bisik berubah menjadi tawa tertahan, lalu suara-suara yang semakin keras dan tidak lagi peduli sopan santun.Logika semua orang bergerak ke arah yang sama. Orang yang tadi tidak berani melanjutkan tawaran untuk herbal penurun berat badan seharga sepuluh miliar GDP, mana mungkin sekarang sungguh-sungguh punya dua triliun?Ini pasti asal angkat tangan. Asal terlontar dari mulut. Lelucon murahan di tengah lelang paling bergengsi se-Kepulauan Selatan.Aldo dan Dara yang duduk mengapit Ryan sama-sama membeku.Mulut Aldo agak terbuka. Sementara Dara menatap wajah Ryan dari samping, kedua alisnya naik tinggi, jelas tidak percaya pada apa yang baru saja dia dengar.Dari Kamar Privat 3 di lantai tiga, suara Yuki Castiella mengalir keluar lewat pen
Di bawah, pembawa lelang telah membuka kain merah itu.Botol kecil berisi tanaman hitam pekat kini terpampang jelas di hadapan semua orang."Apa itu? Tanaman mati?""Kenapa hitam begitu? Jangan-jangan beracun?""Harganya pasti tidak masuk akal."Bisik-bisik kebingungan menjalar cepat di antara para tamu. Beberapa orang memicingkan mata, mencoba memastikan benda itu bukan sekadar ranting gosong.Pembawa lelang mengangkat satu tangan, meminta perhatian, lalu bicara dengan senyum yang jelas sudah ia latih sebelumnya."Barang ini disebut Krisan Arwah. Manfaatnya luar biasa bagi para Praktisi Mistik, terutama untuk meningkatkan Energi Mental."Ia berhenti sejenak, sengaja membiarkan kata-katanya meresap ke seluruh ruangan."Harga pembuka dua puluh miliar GDP. Penambahan minimum satu miliar GDP setiap penawaran.""Dua puluh miliar?" Seseorang tertawa keras dari deretan tengah. "Untuk tanaman hitam yang kelihatannya sudah busuk?"Beberapa orang ikut terkekeh. Pembawa lelang tidak terpancing
Seisi ruangan masih menatap ke arah Kamar Privat 3 ketika suara itu kembali terdengar. Kali ini nadanya lebih ringan, bahkan terdengar agak sungkan."Tuan Hartono, maafkan aku. Yuki kebetulan juga menyukai barang itu. Kamu tidak keberatan, bukan?"Yuki Castiella.Ryan langsung mengenali pemilik suara itu. Ia menggeleng pelan. "Tentu saja tidak."Pembawa lelang di atas panggung segera menyambar momen itu. "Tamu terhormat di Kamar Privat 3 menawarkan sepuluh miliar GDP! Apakah ada yang lebih tinggi?"Sambil berseru, matanya diam-diam melirik ke arah Ryan. Bukan cuma dia. Hampir semua mata di ruangan itu menanti hal yang sama, berharap pria itu melanjutkan penawarannya.Tapi Ryan tidak bergerak sedikit pun.Beberapa tamu yang sedari tadi memperhatikannya mulai berbisik satu sama lain."Memangnya dia tidak punya cukup uang?"Seseorang tertawa kecil di kursi sebelah. "Kemungkinan besar begitu. Dua penawaran pertamanya tadi mungkin cuma asal-asalan.""Bisa jadi." Yang lain mengangguk. Sudu
Mira membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Wajahnya yang pucat bertambah pucat. Ia mundur satu langkah, lalu dua langkah, dan tepat saat ia memutuskan untuk memilih kalimat yang paling tajam sebagai pamit, ia melihat sosok familiar berjalan mendekat dari arah kanan.Cassandra Lim.Mira memandang Ryan sekali lagi dengan tatapan penuh amarah yang tidak bisa ia salurkan malam ini. "Kamu tunggu saja. Kamu pasti mati." Ia berbalik dan pergi.Cassandra duduk di kursi yang baru saja ditinggalkan Mira, tanpa diundang, dengan cara yang terasa seperti ia memang punya hak atas tempat itu. Ia menyilangkan kaki, menatap ke arah panggung yang masih kosong, dan membuka percakapan tanpa menoleh."Tuan Hartono. Tidur nyenyak semalam?""Lumayan." Ryan tidak menatapnya."Oh." Cassandra mengucapkannya dengan nada seseorang yang merasa orang lain sedang berpura-pura. "Baiklah, aku tidak akan banyak bicara. Ini kesempatan terakhirmu.""Berlutut dan minta maaf kepadaku, semua urusan di antara kita selesai
Komisioner Harwick merasakan bulu-bulu di seluruh tubuhnya berdiri. "Hentikan dia! Sekarang!" Keempat yang lain bergerak serentak. Lima serangan dari lima arah berbeda, masing-masing dilancarkan dengan tenaga penuh, semua mengarah ke titik yang sama. "Terlambat." Dua kata dari Leluhur Mortis.
"Hm, hm." Blacky berdehem dua kali. Ekornya yang tadi berdiri gagah turun setengah. "Sebenarnya, kalau dipikir-pikir, jauh lebih terhormat kalau kalian maju satu per satu. Nanti orang mengira Leluhur tidak memberi kalian kesempatan yang adil." Komisioner Harwick menggeleng tanpa ekspresi. "Tidak
Elena tidak sempat berteriak. Lalu cahaya merah meledak dari seluruh badan Lamborghini. Bukan ledakan api. Bukan kilat. Lebih seperti matahari kecil yang menyala dalam satu tarikan napas, melapisi seluruh permukaan mobil dari bumper depan sampai bagasi belakang dalam lapisan merah yang menyilauk
Langit di atas jalan pegunungan itu sudah gelap penuh awan. Bukan gelap biasa. Hitam kelabu yang menggantung terlalu rendah, seperti langit-langit ruangan yang sedang runtuh perlahan. Sebilah cahaya emas membelah awan dari arah barat, terlalu cepat untuk diikuti mata, meninggalkan jalur tipis yang







