MasukUnit Hantu menyelinap masuk ke sebuah rumah kayu terdekat. Mereka membuka pintu perlahan. Gerakan mereka nyaris tanpa suara.Di dalam, seorang wanita tua kurus dengan punggung membungkuk tersentak kaget. Ia mundur ketakutan.“Jangan bunuh aku … aku tidak punya apa-apa lagi …” cicitnya.Ren mengangkat tangan, memberi isyarat agar timnya tidak agresif. Guan melangkah maju perlahan, menurunkan tudung kepalanya.Begitu Guan melangkah, wanita itu tersentak. Tubuhnya membeku.Ia menatap Guan.Bukan wajahnya.Auranya.“Kau …” suara wanita itu bergetar.
Udara di ruang takhta Istana Kesultanan Saharath itu terasa panas dan kering, seperti hati penguasanya.Sultan Saharath duduk di takhtanya, membaca gulungan surat dari Vermilion. Wajahnya mengerut saat matanya menyusuri baris demi baris tuntutan Shangkara.“Herbal tanpa pajak? Menolak putriku?” Sultan mendesis, suaranya bergetar menahan murka. “Bocah ingusan itu menganggapku pedagang pasar yang bisa ditawar?!”Ia melempar gulungan itu ke lantai.“Dia pikir karena pernikahan gagal, dia memegang kendali? Naif.”Penasihat Agung yang berdiri di sampingnya membungkuk dalam. “Apa perintah Anda, Sultan? Apakah kita kirim armada perang?”
Suasana di aula besar itu hening, hanya diisi oleh suara Cailin yang tenang namun tegas. Di hadapan para tetua yang duduk melingkar, Cailin berdiri di samping papan diagram besar. Beberapa sampel herbal kering dan botol obat tertata rapi di meja.“Program ini bukan sekadar penyaluran penawar,” kata Cailin tenang. Suaranya tidak keras, tapi jelas. “Ini adalah Program Pemurnian Nasional.”Ia menunjuk diagram pertama.“Obat didistribusikan ke pusat kesehatan desa yang akan dibentuk ulang dan diawasi langsung oleh tabib terlatih.”Diagram kedua dibuka.“Kedua, kita akan menghentikan siklus ketergantungan. Rakyat harus tahu apa yang mereka konsumsi. Bahaya opium. Cara kerja ketergantungan.
Di hutan terlarang di belakang Istana Vermilion, tempat dahulu Cailin dan Shangkara latihan secara sembunyi-sembunyi. Kini tempat itu digunakan Ren dan Lian untuk latihan.Ren berdiri di tengah lapangan kecil dekat danau, memegang sebilah pedang kayu latihan. Napasnya teratur, matanya terpejam.Di belakangnya, duduk di atas batu besar, Lian mengamatinya dengan tatapan polos namun penuh perhatian.“Siap?” tanya Ren tanpa menoleh.“Siap,” jawab Lian.Gadis itu bangkit, berjalan mendekat, lalu meletakkan satu jari telunjuknya di punggung Ren, tepat di antara tulang belikat.Seketika, mata Ren terbuka.Ia merasakann
Istana Vermilion kembali sunyi.Aula Utama telah dibersihkan. Pecahan kaca disapu. Kain ritual upacara pernikahan sudah diturunkan. Para tamu diantar pulang dengan pengawalan, masing-masing membawa kisah berbeda tentang apa yang mereka saksikan.Di ruang rapat kecil yang terhubung langsung dengan kamar Kaisar, Shangkara duduk bersama Cailin, Ren, Yun dan Lian. Di sudut ruangan, tumpukan peti kayu berlambang Kesultanan Saharath sudah terbuka.“Laporan situasi,” perintah Shangkara, suaranya serak namun tenang.Yun berdiri. “Laporan akhir, Yang Mulia. Tidak ada korban jiwa. Beberapa tetua dan bangsawan luka ringan akibat kepanikan. Aula aman. Utusan Saharath masih berada di paviliun tamu, di bawah pengawasan ketat, menunggu izin resmi untuk kembali.”
“Dasar Putri Bodoh!”Teriakan Rashid memecah keterkejutan di aula. Sosok yang menyamar sebagai pelayan itu melompat dengan kecepatan mengerikan, belati di tangannya berkilat mengincar leher Ravia.Ravia, yang masih di bawah pengaruh ramuan, hanya berkedip bingung melihat Rashid yang menerjang ke arahnya.Sebelum siapa pun sempat bereaksi, seorang Pasukan Bayangan yang menyamar menjadi pelayan dan berdiri paling dekat dengan Rashid sudah melompat maju. Hendak menjegal Rashid.Rashid mendesis marah.Ia melempar segenggam bubuk ke lantai.Asap kehijauan meledak rendah. Membuat mata perih dan napas sesak. Beberapa tamu berteriak panik. Rashid memanfaatkan kekacauan itu, menyelinap di antara tubuh-tubuh yang mundur.Kekaucauan pecah. Para tetua dan bangsawan menjerit dan berlarian menabrak meja. Utusan saharath mengeluarkan senjatanya tapi tidak tahu pihak mana yang harus dilawan.“Jangan biarkan dia lolos!” teriak seorang Bayangan.Rashid menebas liar, melukai bahu satu Pasukan Bayangan,