Home / Fantasi / Kaisar, Jangan Meminta Lebih / Bab Bonus – Ide Dua Kekuatan Itu Datangnya dari Sini

Share

Bab Bonus – Ide Dua Kekuatan Itu Datangnya dari Sini

Author: Luna Maji
last update Last Updated: 2025-11-10 18:26:27

Oke, izinkan aku sedikit curhat, karena mungkin di antara kalian ada yang mikir:

“KENAPA CAILIN PUNYA API VERMILION DAN ES BULAN, GILA, GAK NGOTAK NIH AUTHOR!”

Jawaban singkatnya: iya, gila. Tapi gila dengan alasan. 😌

Aku tuh dulu suka banget sama konsep dual core power, dan yang pertama kali ngenalin itu ke otak aku ya ... Tang San, Soul Land.

Kalian tahu kan? Dua martial soul, dua sistem energi, dua takdir yang harus ditanggung satu tubuh.

Aku suka karena dia bukan sekadar kuat — tapi dia punya beban “dua dunia” di dirinya, kayak nggak pernah bisa jadi satu orang penuh.

Nah, dari situ aku mikir: gimana kalau ide kayak gitu dibawa ke dunia Vermilion?

Tapi jangan salin konsepnya mentah. Aku pengen versiku tuh lebih emosional, bukan cuma teknikal.

Jadi, jadilah Cailin, gadis yang dibuang ibu tirinya ke hutan yang aslinya adalah pewaris klan bulan, tapi tiba-tiba dapat energi Vermilion gara-gara satu kaisar sok pahlawan ngasih darahnya tanpa mikir dulu.

Boom. Dua energi yang seharusnya saling bertentangan malah stuck di satu tubuh, karena mereka punya satu hal yang sama — keterikatan jiwa.

Kalau Tang San itu “dua garis keturunan”, Cailin ini “dua nasib yang bentrok.”

Yang satu karena lahir (bulan), satu lagi karena cinta (vermilion).

Dan itu jauh lebih tragis, tapi juga lebih ... romantis? (iya, aku tahu aku suka yang pain-pain manis gitu 🤭. Ngaku deh, kalian juga suka kan?).

Tapi serius, aku suka banget konsep kayak gini. Dua kekuatan yang seharusnya nggak nyatu, tapi malah menciptakan keseimbangan baru.

Karena itu tuh inti dunia Vermilion — Yin dan Yang, vermilion dan bulan, api dan es, kaisar dan pewaris, dua ekstrem yang akhirnya nemuin harmoni.

Jadi kalau kalian baca scene-scene Cailin lagi belajar kontrol energinya dan suka kesulitan ngatur api nya, terus keceplosan keluar energi bulannya, itu semua emang dirancang biar keliatan kayak Tang San versi cewek, tapi lebih berantakan emosinya, lebih manusiawi, dan lebih ... penuh luka.

Aku nggak mau dia cuma jadi tokoh kuat. Aku mau dia jadi simbol dua hal yang nggak bisa hidup tanpa saling nyakitin dulu.

Ya, sakit dulu baru seimbang. Itu falsafah Vermilion banget.

Jadi ya, konsep dua kekuatan Cailin itu basically hasil aku kebanyakan nonton Douluo Dalu, terus overthinking, terus mikir:

“Hmm ... gimana kalau gadis bulan dikasih darah murni vermilion? What worst that could happen?”

Jawabannya? Kaisar jatuh cinta, kerajaan nyaris perang, dan dunia terbakar cantik.

Worth it. 🔥🌙

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    193 - Obat

    Ren menarik tudung jubahnya lebih dalam saat melangkah memasuki kedai kecil di Kota Bawah.Tempat itu pengap, dipenuhi bau alkohol murah dan sup tulang yang terlalu lama direbus. Orang-orang duduk rapat, berbicara setengah berbisik—bukan karena takut, tapi karena sudah terbiasa. Kota ini selalu hidup dari gosip.Ren duduk di meja sudut. Ia mengenakan jubah kain kasar berwarna cokelat kusam.Ia menggenggam gelas tanah liatnya erat-erat. Ia kabur dari istana satu jam yang lalu, menyelinap lewat saluran pembuangan lama yang kering. Tatapan kasihan para pelayan masih menempel di kulitnya. Nada datar Lian terngiang di kepalanya. Dan untuk pertama kalinya, Ren merasa asing di istana yang dulu ia lindungi dengan nyawanya.Di sini, tidak ada yang mengenalnya. Di sini, ia h

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    192 - Pedang Kayu

    Kabut pagi masih menyelimuti lapangan latihan Pasukan Bayangan. Udara dingin menusuk tulang, tapi keringat sudah membasahi seluruh tubuh Ren. Pedang kayu di tangannya terasa asing—terlalu ringan, terlalu mati. Tidak ada getaran Qi. Tidak ada dengung api yang biasanya menyatu dengan napasnya.Trak! Trak!Suara benturan kayu menggema.Ren mencengkeram pedang kayu latihan dengan tangan gemetar. Di hadapannya, Yun—salah satu letnan Pasukan Bayangan—memegang pedang serupa, wajahnya ragu-ragu.“Serang aku dengan serius, Yun!” bentak Ren. “Jangan menahannya!”“Tapi, Tuan…”“LAKUKAN!”

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    191 - Abu dan Pasir

    Aroma teh herbal menguar di udara, namun tidak mampu meredakan ketegangan di wajah Cailin dan Shangkara.Di ruang kerja Guru Fen yang sunyi, Guru Fen duduk bersila dengan cangkir teh ditangannya. Matanya menatap permukaan teh di cangkirnya, seolah melihat sesuatu yang jauh lebih dalam daripada yang bisa dilihat mata biasa. Cailin duduk di hadapannya.Shangkara berdiri menghadap jendela, kedua tangannya terlipat di balik punggungnya. Wajahnya tenang, tapi rahangnya mengeras.“Katakan dengan jujur, Guru,” suara Shangkara memecah keheningan. “Jangan berikan harapan palsu. Apakah Api Ren … benar-benar tamat?”Guru Fen menoleh perlahan. Kerutan di wajah tuanya tampak lebih dalam dari biasanya.&ldquo

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    190 - Pembayaran

    Ren membuka mata.Hal pertama yang ia rasakan adalah rasa sakit. Bukan rasa sakit tajam akibat tusukan pedang, melainkan rasa sakit yang menyelimuti seluruh tubuhnya, seolah setiap tulang dan ototnya telah digilas menjadi bubuk.Ia menatap langit-langit kamar yang familier. Serta aroma obat-obatan herbal yang kuat.Ini Balai Pengobatan Istana.Ren mencoba bangun, tapi tubuhnya terasa berat. Dengan napas terengah, ia memaksakan diri untuk duduk bersandar pada kepala ranjang.Ia menatap tangannya. Telapak tangan yang biasanya hangat oleh aliran Qi Vermilion kini terasa dingin dan pucat.Ren mengerutkan kening.Ia mencoba memanggil apinya

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    189 - Kemenangan

    Matahari masih belum sepenuhnya terbit ketika kereta kuda spiritual berat mendarat di lapangan dekat Kuil Tua.Shangkara melangkah keluar lebih dulu. Udara pagi yang dingin dan berdebu menyambutnya, tapi tidak lebih dingin dari ekspresinya. Wajahnya tak terbaca, namun di balik punggungnya, tangan kanannya mengepal begitu kencang hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangan.Mata vermilionnya menyapu pemandangan kehancuran di sekitar. Pilar-pilar batu yang patah, serta kubah kuil yang ambruk. Dan di tengahnya, aktivitas tim penyelamat yang sunyi dan efisien.Di sudut reruntuhan, dua Pasukan Bayangan sedang merantai tubuh wanita yang pingsan dan babak belur. Ravia.“Yang Mulia,” lapor salah satu Bayangan. “Target diamankan.”

  • Kaisar, Jangan Meminta Lebih    188 - Sunyi

    Ren terbatuk darah, lututnya goyah. Pasir Ravia melilit pinggang dan kakinya, meremas tulang rusuknya dengan tekanan yang semakin kuat.Ravia berdiri di dekat kolam, satu tangannya terangkat tinggi, siap memberikan serangan terakhir untuk meremukkan Ren.“Sudah cukup main-mainnya,” desis Ravia, matanya menyala ungu. “Kau akan mati di sini, dan kekasihmu akan menjadi tintaku selamanya.”Ren menggeram, mencoba memanggil apinya, tapi tubuhnya sudah mencapai batas. Ia menggertakkan gigi, berusaha menahan lilitan pasir Ravia yang semakin mengerat di tubuhnya. Napasnya pendek, pandangannya mulai kabur.“Terlambat, Ren! Lian sudah masuk! Sekarang, takdir akan menulis ulang namaku di langit!”Namun

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status