เข้าสู่ระบบAbby langsung membeku. Darahnya seakan berhenti mengalir detik itu juga.
Jika kakak angkatnya yang selalu bersikap dingin itu sudah memanggilnya dengan nama lengkap, itu hanya berarti satu hal: Justin sedang marah besar.
Riko, yang langsung menyadari perubahan raut wajah Abby menjadi pucat pasi, dengan cepat melangkah maju. Ia berdiri tegap di hadapan Abby, menyembunyikan gadis itu di balik punggungnya seolah sedang melindunginya dari sebuah ancaman.
"Maaf, Anda siapa?" tegur Riko dengan nada sedikit menantang, matanya menatap tajam ke arah pria asing yang baru saja merusak momennya. "Ada urusan apa Anda mencari Abby?"
Justin sama sekali tidak membalas tatapan Riko, apalagi repot-repot menjawab pertanyaannya. Pria itu mengabaikan eksistensi Riko sepenuhnya.
Sorot mata kelamnya yang berkilat marah langsung menembus bahu Riko, terkunci lurus pada gadis yang gemetar di belakang sana.
"Abigail," desis Justin. "Segera ke sini sebelum aku sendiri yang menyeretmu."
Mendengar ancaman itu, pertahanan Abby runtuh sepenuhnya. Tanpa sadar ia menepis pelan tangan Riko yang berusaha menahannya, lalu buru-buru melangkah dari balik punggung pria itu dan berjalan ke sisi Justin.
Abby menundukkan kepalanya dalam-dalam, meremas ujung jaketnya dengan ketakutan.
Melihat hal itu, Riko semakin dilanda kebingungan yang luar biasa.
"By? Kamu kenal dia?" tanya Riko menoleh menatap Abby. "Apa hubungan kalian sebenarnya? Kalau dia mengancam atau mengganggumu, bilang saja padaku."
"Ri..." Abby menelan ludah dengan susah payah, sama sekali tidak berani menatap wajah kedua pria itu. "Riko... ini... kakakku. Kak Justin."
Mata Riko terbelalak kaget. Raut wajahnya yang tadinya defensif seketika berubah, digantikan oleh kepanikan dan rasa canggung yang teramat sangat.
"Astaga! K-kakaknya Abby?" Riko buru-buru mengubah posturnya menjadi jauh lebih sopan, bahkan sedikit membungkuk hormat ke arah Justin. "Saya benar-benar minta maaf, Kak. Saya sama sekali tidak tahu. Kenalkan, saya Riko... saya pacarnya Abby."
Pernyataan terakhir Riko sukses membuat tubuh Abby menegang kaku seperti batu. Otaknya berteriak panik.
Pacar?!
Namun, alih-alih membuka suara untuk membantah, Abby memilih bungkam. Mulutnya tertutup rapat. Jauh di lubuk hatinya, dadanya justru berdebar sangat kencang, menanti dengan cemas.
Ia sangat ingin tahu bagaimana reaksi Justin mendengar pengakuan Riko. Apakah pria itu akan terkejut? Marah? Atau justru lega karena tak perlu lagi mengurusi adik angkatnya yang merepotkan ini?
Tapi Justin tidak mengatakan apa-apa. Pria itu hanya berbalik dan dengan gerakan cepat menyambar pergelangan tangan Abby.
Cengkeramannya begitu kuat, tak terbantahkan. Tanpa menoleh lagi pada Riko yang berusaha memanggil nama Abby, Justin menarik paksa gadis itu untuk mengikutinya menuju mobil yang terparkir tak jauh dari sana.
Sepanjang perjalanan di dalam mobil, keheningan yang mencekik menguasai udara. Justin mengemudi dengan rahang yang mengeras kaku, pandangannya lurus ke depan.
Abby hanya bisa duduk salah tingkah sambil meremas lututnya sendiri, tak berani mengeluarkan suara napas sekalipun.
Begitu mereka tiba di apartemen, Abby berjalan mengekor di belakang Justin dengan langkah terseret.
BRAK!
Bantingan pintu apartemen yang ditutup dengan bantingan membuat bahu Abby melonjak kaget. Gadis itu berdiri terpaku di dekat rak sepatu, benar-benar mati kutu, tidak tahu harus berbuat apa atau harus lari ke mana.
Justin membalikkan badannya. Hembusan napas pria itu terdengar berat dan memburu. Dengan langkah panjang dan lebar, ia langsung mendekat ke arah Abby.
Melihat aura kelam yang menguar dari tubuh Justin, insting Abby memaksanya untuk mundur.
Ia melangkah mundur perlahan secara refleks, namun Justin terus maju, menyudutkannya tanpa ampun hingga punggung Abby menabrak dinginnya tembok koridor apartemen.
"Apa yang kau lakukan dengan seorang pria di depan kelab di jam segini?" desis Justin pelan, namun getarannya terasa sangat mengancam di tengah sunyinya apartemen.
"A... aku... aku hanya bertemu teman-temanku, Kak," jawab Abby terbata-bata, mati-matian menahan getaran di suaranya. "Aku sama sekali tidak melakukan hal aneh..."
"Bertemu teman-temanmu? Di tempat sampah penuh alkohol seperti itu?" potong Justin sinis, mengangkat salah satu tangannya dan menempelkannya ke tembok di samping kepala Abby. "Jangan berbohong padaku, Abigail."
"Aku nggak bohong, kak. Aku nggak tahu kalau mereka mengajakku ke kelab… Aku hanya mengiyakan ajakan temanku tanpa bertanya tujuan lebih dulu…"
"Oh, begitu? Dan kau berharap aku memercayai alasan konyol itu?" Justin mendengus kasar, sorot matanya menguliti Abby hidup-hidup.
"Kalau aku tidak datang mencarimu ke sana, apa yang akan kau lakukan bersamanya, hah? Mau ikut ke tempat tinggal laki-laki itu? Menyerahkan dirimu padanya?"
Abby langsung mengangkat kepalanya kaget. Matanya membulat sempurna mendengar rentetan tuduhan tersebut.
"Kak, kakak salah paham!" seru Abby. "Riko nggak seburuk itu, dia orang yang sangat baik! Kami tidak punya niat kotor seperti yang Kakak pikirkan!"
"Orang yang sangat baik?" geram Justin, wajahnya mencondong semakin dekat hingga jarak mereka hanya tersisa sekian inci.
"Lalu apa yang kulihat tadi? Aku jelas-jelas melihat laki-laki itu menunduk dan hampir menciummu di pinggir jalan. Dan kau? Kau hanya diam saja memejamkan mata bersiap menerimanya."
"I-itu karena... dia bilang dia menyukaiku… Dan aku..."
"Dan kau apa? Kau mau begitu saja disentuh hanya karena dia bilang kalau dia suka padamu?"
Abby meremas kerah jaketnya dengan kedua tangan yang gemetar. Dadanya naik turun dengan cepat, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya untuk menanggapi pria di hadapannya.
"A-aku bukan perempuan perempuan seperti itu…," balas Abby dengan suara bergetar, memaksakan diri menatap mata gelap Justin yang menakutkan. "Lagipula... lagipula Kakak kan bawa pacar Kakak ke sini siang tadi."
Justin terdiam. Rahangnya terlihat menegang.
"Valerie... dia pacar Kakak, kan?" lanjut Abby pelan, suaranya kian melemah, menyembunyikan rasa perih yang tiba-tiba meremas dadanya. “Aku membiarkan Kakak berduaan dengannya. Kenapa... kenapa Kakak malah marah padaku hanya karena aku bertemu temanku di luar?"
Justin mematung. Sorot matanya yang tadinya dipenuhi kilat amarah perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih sulit diartikan.
Matanya menatap lurus ke dalam mata Abby yang berkaca-kaca, sebelum perlahan turun menatap bibir gadis itu yang bergetar pucat.
"Benar," ucap Justin sangat pelan. Suaranya serak dan sedingin es, mengalun membelai telinga Abby. “Kenapa?”
Abby mengerjap, raut wajahnya dipenuhi kebingungan. Sebenarnya apa maksud Justin?
“Apa maksud…” tapi sebelum Abby menyelesaikan perkataannya, Justin sudah membungkam bibir Abby dengan bibirnya sendiri.
Abby menahan napasnya. Dengan gerakan panik yang tak bisa disembunyikan, jemari gadis itu buru-buru menekan tombol daya di sisi ponselnya. Layar yang semula terang benderang itu seketika mati, berubah menjadi gelap gulita tepat sebelum Justin sempat menunduk dan membaca nama pengirim pesan di sana."Siapa?" tanya Justin. Alis tebal pria itu tertaut, sepasang mata kelamnya menyipit tajam, mengunci mata Abby yang bergerak gelisah ke sana kemari."Celine... Celine lagi, Kak," kilah Abby dengan suara bergetar. Gadis itu buru-buru membuang muka, menghindari tatapan mengintimidasi dari pria dominan yang masih mengurungnya di tembok tersebut. "Dia ada nanyain soal tugas kelompok besok."Abby menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga dengan gerakan yang sangat gugup. Ia tahu kebohongannya terdengar luar biasa berantakan. Jantungnya masih berdegup liar akibat ciuman mereka barusan, dan sekarang ia harus berbohong menutupi pesan dari mantan kekasih pria ini? Abby merasa ia bisa gila jika
"Kak Justin!" pekik Abby tertahan, matanya membelalak lebar. Tangannya secara otomatis terangkat menutupi separuh wajahnya yang kini terasa seperti direbus di atas air mendidih.Dibalik ekspresi tenangnya, Justin begitu menyukai bagaimana gadis ini selalu kehilangan akal sehatnya hanya dengan satu kalimat darinya."Kenapa kau harus malu, hm?" lanjut Justin, terus memojokkan Abby. "Aku hanya menyatakan fakta yang terjadi di antara kita. Atau... jangan-jangan kau menghindari tatapanku karena kau takut? Kau takut jika kau terus melihatku, kau tidak akan bisa menahan tanganmu untuk kembali menyentuhku?""Tidak! Bukan begitu!" bantah Abby kelabakan. Ia menurunkan tangannya, menatap Justin dengan protes dan dada yang naik turun. "Aku cuma... aku cuma belum terbiasa, Kak! Semuanya terjadi terlalu cepat bagiku dan Kakak terus saja menggodaku!"Mendengar kepolosan dan kejujuran yang meluncur dari bibir bergetar itu, kilat di dasar mata kelam Justin seketika berubah. "Belum terbiasa?" ulang Ju
[Abigail, apa kita bisa ketemu?]Abby menatap layar ponselnya yang menyala di tengah kesunyian ruang tengah apartemen. Barisan kalimat singkat yang baru saja masuk itu terasa seperti sebuah beban berat yang tiba-tiba dijatuhkan ke atas pangkuannya.Gadis itu menggigit bibir bawahnya, perasaannya seketika campur aduk. Ia tahu persis bagaimana reaksi Justin terakhir kali ia memaksanya bertemu dengan Valerie. Dan entah kenapa, insting Abby mengatakan dengan sangat kuat bahwa kali ini pun, niat Valerie mengajaknya bertemu pastilah untuk menjadikannya jembatan agar wanita itu bisa bertemu dengan Justin kembali.Rasa bersalah kembali mencubit dada Abby. Valerie sudah mengorbankan dirinya terkena pukulan demi melindunginya, jadi mengabaikan pesan wanita itu terasa sangat jahat. Namun di sisi lain, menuruti permintaan Valerie dan memancing kemarahan Justin lagi juga bukanlah pilihan yang bijak."Ada apa?""Astaga!"Abby mendongak dengan cepat dan mendapati Justin tahu-tahu sudah berdiri tid
"Nggak datang dari Riko?" ulang Abby dengan suara bergetar, kedua tangannya saling meremas di atas pangkuan. Hawa dingin seketika merayap naik ke tengkuknya. “Terus… siapa?”Justin menyandarkan punggungnya ke kursi makan. Tatapannya menajam, mengunci raut wajah Abby yang kini memucat pasi."Temanku baru saja mengirimkan hasil pelacakan IP address dari akun anonim yang pertama kali membagikan nomormu ke grup itu," terang Justin. "Alamat IP itu terdaftar dari jaringan router internal asrama putri kampus kita."=Malam itu, suasana di lorong asrama putri terasa jauh lebih sepi dari biasanya. Rintik hujan yang turun sejak sore membuat sebagian besar mahasiswi memilih untuk meringkuk di dalam kamar mereka masing-masing.Di dalam kamarnya yang tertutup rapat, Valerie duduk menyandar santai di atas ranjang. Mata bulatnya menatap lurus ke arah sebuah foto profil di layar, foto Justin.Ibu jari Valerie bergerak pelan, mengusap layar yang menampilkan wajah tampan mantan kekasihnya itu.Lamunan
"Kak!" pekik Abby tertahan, matanya membelalak panik. Ia tahu persis, pria gila di depannya ini benar-benar bisa mewujudkan ancaman itu tanpa peduli waktu dan tempat."Maka turuti aku. Buka mulutmu sekarang," desak Justin lagi, kali ini dengan senyum miring kemenangan.Dengan wajah yang memerah padam hingga ke ujung telinga dan jantung yang berdetak cepat, Abby akhirnya menyerah. Gadis itu perlahan membuka mulutnya, menerima suapan dari tangan kakak angkatnya itu."Gadis pintar," puji Justin dengan suara serak yang terdengar puas.Abby mengunyah makanannya dengan kepala tertunduk, berusaha keras menghindari tatapan tajam Justin yang terus mengunci setiap pergerakannya. Namun, ujian untuk kewarasan Abby ternyata belum berakhir.Begitu Abby selesai menelan makanannya, Justin tiba-tiba menggunakan garpu yang baru saja menyentuh bibir Abby itu untuk menusuk sepotong pancake dari piring lain. Tanpa mengambil alat makan yang baru, pria itu langsung memasukkan potongan pancake tersebut ke d
Justin menatap Abby dengan sorot mata yang seketika berubah tajam dan tidak setuju. Tatapan mata Justin memperingatkan gadis itu untuk tidak membantahnya. Aura pria itu begitu kuat hingga membuat Abby terdiam kaku, perlahan-lahan menarik tangannya kembali ke pangkuan dengan nyali menciut.Puas melihat kepatuhan adik angkatnya, Justin mengalihkan pandangannya kembali ke arah meja."Mau apa?" tanya Justin lagi, mengulangi pertanyaannya dengan nada yang lebih rendah dan menuntut jawaban yang jelas."Mm..m.." Abby menggigit bibir bawahnya, menatap ragu ke deretan makanan itu. Ia perlahan mengangkat jari telunjuknya. "...ini."Justin mengikuti arah telunjuk gadis itu. Tanpa banyak bicara, pria itu mengambilkan beberapa potong dimsum dan menuangkan sedikit bubur ke piring lain, sebelum akhirnya menggeser piring yang sudah terisi penuh itu ke hadapan Abby."Makanlah sampai habis," titah Justin, lalu menarik kursinya sendiri dan duduk tepat di hadapan gadis itu.Abby mengangguk pelan. Ia men







