LOGINSelama ini, Abigail selalu mengira Justin, kakak angkatnya, adalah pria kaku, dingin, dan konservatif yang sangat membatasi diri dari pergaulan bebas. Namun, ilusi itu hancur berkeping-keping saat Abby tanpa sengaja menemukan benda terlarang di dalam tas pria itu! Belum sempat Abby mencerna sisi gelap dari kehidupan kakak angkatnya, pria yang selama ini selalu menjaga jarak dan bersikap dingin padanya itu tiba-tiba meruntuhkan batas persaudaraan mereka lewat sentuhan yang melumpuhkan akal sehat Abby. "Mulai detik ini, kau tidak butuh laki-laki lain di hidupmu, Abigail."
View MoreTangan besar itu menyentuh pipi Abby dengan lembut, ibu jarinya mengusap pelan sebelum menyelipkan anak rambut yang jatuh ke belakang telinga gadis itu.
Pandangan Justin tak lagi sedingin es, matanya memancarkan kehangatan dan intensitas yang membuat napas Abby tertahan. "Kenapa kamu selalu menghindariku, Abby?" suara Justin terdengar begitu berat dan serak, memecah keheningan di antara mereka. Abby menelan ludah, menatap sepasang mata gelap di depannya dengan gugup. "Aku nggak menghindar, Kak..." cicitnya pelan. "Berhenti memanggilku seperti itu kalau kita sedang berdua," sela Justin lembut namun penuh penekanan. Pria itu melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga hembusan napasnya terasa menggelitik kulit wajah Abby. "Kamu tahu, kan? Aku tidak ingin menjadi kakakmu lagi." Jantung Abby berdebar liar, seakan mau melompat keluar dari tulang rusuknya. Ia tidak bisa berkata-kata saat wajah Justin mencondong semakin dekat. Tatapan pria itu turun ke bibirnya. "Mulai sekarang, jangan pernah menatap siapa pun selain aku, Abby," bisik Justin pelan. Jarak mereka tersisa beberapa sentimeter lagi. Mata Abby terpejam dengan sendirinya, menanti sentuhan itu ketika… "Hei, By! Bangun! Udah credit title tuh!" Sebuah guncangan keras di bahu menyentak kesadaran Abby secara paksa. Matanya terbuka lebar, napasnya sedikit terengah. Wajah hangat Justin dan suasana romantis itu seketika menguap tak bersisa, digantikan oleh cengiran jahil Riko dan kerlip cahaya dari layar proyektor raksasa di depan kelas. Gelak tawa tertahan terdengar dari deretan kursi di sekitarnya. Beberapa teman sekelas menatapnya dengan tatapan geli. Wajah Abby seketika memanas. Ia buru-buru mengusap sudut bibirnya, memastikan tidak ada jejak memalukan di sana, dan membenarkan posisi duduknya. Sialan. Ia ketiduran di tengah pemutaran film klasik berdurasi tiga jam untuk mata kuliah Apresiasi Film, dan parahnya lagi, ia malah memimpikan kakak angkatnya yang aslinya bersikap seperti balok es itu. "Kamu ini ada-ada aja, By. Film sebagus itu malah dipakai buat tidur sampai senyum-senyum sendiri," goda Riko sambil menyandang ranselnya saat lampu kelas akhirnya dinyalakan sepenuhnya. "Kita semua mau lanjut nongkrong nih di kafe depan kampus. Kamu ikut, nggak? Sekalian nanti aku antar pulang, mendung banget di luar." Abby menggeleng pelan, segera membereskan buku-bukunya dan menyampirkan tote bag ke bahu. "Nggak usah, Rik. Makasih banyak ya tawarannya. Aku mau mampir ke toko fotokopi dulu, agak lama soalnya. Kalian duluan aja." "Yakin nih nggak mau bareng? Halte bus lumayan jauh, lho," tawar Riko sekali lagi saat mereka berjalan keluar kelas. "Yakin. Hati-hati ya, kalian!" Begitu punggung Riko dan teman-temannya menghilang di ujung koridor, bahu Abby langsung merosot. Hembusan napas lega meluncur bebas dari bibirnya. Berbohong soal toko fotokopi jauh lebih masuk akal daripada harus mengambil risiko nongkrong dan diantar pulang oleh seorang teman laki-laki, lalu berakhir menghadapi tatapan mematikan dari sosok asli pria yang baru saja mampir di mimpinya. Sambil melangkahkan kaki menuju halte, pikiran Abby kembali pada realitas hidupnya. Saat pemilihan universitas beberapa bulan yang lalu, Abby sengaja memilih kampus di kota ini. Universitas dengan jurusan bisnis terbaik, karena Abby begitu ingin memiliki hal kecil yang bisa ia banggakan untuk keluarganya. Keluarga kaya raya yang mengadopsinya sepuluh tahun yang lalu, saat ia dan saudara angkatnya, Mia, masih sama-sama berusia sepuluh tahun. Awalnya, Abby dibawa masuk sebagai 'teman' bermain untuk Mia yang mengidap penyakit parah dan kesepian saat harus menunda sekolahnya. Namun seiring berjalannya waktu, perannya bergeser. Orang tua angkatnya memang tidak pernah memukul atau terang-terangan menghinanya, tapi sikap mereka jelas menunjukkan jika Abby berhutang budi pada mereka. Mereka sudah membawanya keluar dari panti dan menampungnya di sini, jadi ia harus berguna untuk Mia dan keluarga ini. Begitulah pemikiran yang tertanam kuat di kepala Abby. Ia merasa posisinya tak lebih dari sekadar pelayan yang tak perlu dibayar, apalagi dikuliahkan. Ia pun menunda kuliahnya selama dua tahun karena harus menjaga Mia. Sekarang, Abby bisa berkuliah murni karena ia berhasil mendapatkan beasiswa penuh. Namun , untuk menekan pengeluaran untuknya, orang tua angkat Abby memaksanya tinggal satu atap dengan Justin, putra sulung keluarga itu. Mereka beralasan agar ada yang mengawasi gadis itu di kota asing. Tapi Abby tahu alasan sebenarnya: mereka enggan mengeluarkan uang sepeser pun untuk menyewakan tempat tinggal bagi anak angkat sepertinya. Namun, membiarkan Abby menyewa tempat kumuh yang seadanya juga akan berakibat buruk pada nama baik keluarga mereka. Jadi, menumpang di apartemen Justin adalah jalan tengah terbaik. Abby sendiri menekan egonya dalam-dalam. Baginya, meminta disewakan kos atau apartemen sendiri terasa terlalu muluk dan tak tahu diri. Lagipula, Abby merasa bersyukur setidaknya ia punya tempat tinggal yang layak, dan ia bisa membalas budi dengan menjadi tenaga bersih-bersih gratis di sana. Justin sendiri sejak awal terlihat terpaksa menerimanya. Wajar saja, mereka berdua tak pernah benar-benar dekat. Saat Abby masuk ke keluarga itu, Justin berusia sebelas tahun. Hanya berselang beberapa bulan kemudian, pria itu dikirim masuk ke sekolah asrama sejak SMP. Bertahun-tahun, Justin hanya pulang saat liburan panjang atau kadang akhir pekan. Ketidakhadiran Justin di rumah semasa remaja itu juga yang membuat Abby sering menerka-nerka karakternya. Tumbuh di lingkungan asrama yang penuh kedisiplinan, pantas saja jika Justin bersikap kaku. Sikap dingin pria itu semakin menjadi-jadi setelah insiden di minggu pertama kepindahan Abby ke apartemennya. Saat itu, ia pulang larut malam setelah mengerjakan tugas kelompok dan diantar oleh seorang teman pria hingga ke lobby, dan Justin kebetulan sedang melewati area yang sama. Abby pikir itu bukan masalah besar, sampai ia membuka pintu apartemen dan menemukan Justin duduk dalam kegelapan ruang tamu, hanya diterangi cahaya televisi. Pria itu menatap Abby dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan sorot mata sedingin es, rahangnya mengeras tajam, sebelum akhirnya berdiri dan membanting pintu kamarnya tanpa sepatah kata pun. Sejak malam itu, Justin yang pada dasarnya sudah dingin, berubah menjadi balok es yang tak tersentuh. Pria itu memang selalu menasihati Mia dengan nada tegas agar tidak terlalu dekat dengan laki-laki dan melarang keras adiknya pulang malam. Di apartemen ini pun, Justin tidak pernah membawa teman perempuan atau sekadar berbicara mesra di telepon. Ia membenci pergaulan bebas dan menerapkan aturan ketat soal batasan dengan lawan jenis, yang kini juga berlaku bagi Abby, yang suka atau tidak suka, telah menjadi tanggung jawabnya di kota ini. Abby menghela napas pelan saat bus perlahan berhenti di depannya. Ia menyandarkan kepala ke jendela yang mulai dipenuhi rintik hujan, menelan kembali rasa lelahnya. Begitu tiba di apartemen, suasana sepi menyambutnya. Sepatu kets Justin tergeletak di rak, menandakan pria itu ada di dalam. Melihat keberadaan Justin, mentalitas bertahan hidup yang tertanam kuat dalam diri Abby langsung mengambil alih. Perasaan berutang budi dan ketakutan akan dibuang membuatnya selalu merasa harus membuktikan diri bahwa ia berguna. Tanpa membuang waktu, Abby meletakkan tasnya dan langsung bergerak membereskan apartemen. Ia menyapu, mengepel ruang tamu, merapikan bantal sofa, dan mencuci piring kotor. Setelah area luar beres, langkah Abby terhenti di depan kamar Justin yang pintunya sedikit terbuka. Mengintip sejenak dan memastikan kamar itu kosong, Abby menyelinap masuk untuk mengambil keranjang pakaian kotor. Saat ia menunduk memungut kaus dari lantai, matanya menangkap tas ransel hitam milik Justin yang terguling di dekat meja belajar. Beberapa buku tampak mendesak keluar dari resleting yang tak tertutup sempurna. Niat hati hanya ingin memberdirikan tas itu, tangan Abby meraup tali atasnya. Namun, keseimbangan tas itu hilang. Bruk. Resleting yang longgar itu terbuka sepenuhnya, memuntahkan seluruh isinya ke atas karpet. Buku catatan, pena, charger laptop, headphone, dan koin-koin berhamburan. "Astaga, ceroboh banget sih," rutuk Abby panik, suaranya nyaris berbisik. Jantungnya berdebar kencang. Jika Justin melihat ini, pria itu pasti akan semakin membencinya karena dianggap lancang membongkar barang pribadi. Dengan gerakan serabutan, Abby berlutut dan menjejalkan barang-barang itu kembali ke dalam ransel. Tangannya meraih charger, lalu buku, hingga jari-jarinya menyentuh sebuah kotak kecil berbentuk persegi yang terlempar ke dekat kaki meja. Abby menarik kotak itu, berniat memasukkannya tanpa melihat. Namun, pandangannya tanpa sengaja menangkap logo dan tulisan yang tercetak jelas di kemasannya. Gerakan tangan Abby membeku di udara. Darahnya seakan berhenti mengalir. Matanya membulat sempurna, menatap benda di telapak tangannya dengan ketidakpercayaan yang luar biasa. Itu kan… benda pengaman yang dipakai pria? Kemasannya masih baru, segel plastiknya utuh. Kotak itu terasa begitu asing sekaligus menampar kewarasannya. Otak Abby mengalami korsleting. Semua asumsi yang ia bangun tentang Justin hancur berkeping-keping dalam hitungan detik. Justin, pria sedingin es, kaku, dan konservatif yang memusuhinya hanya karena diantar pulang teman laki-laki. Pria yang menceramahi adiknya soal menjaga diri, ternyata membawa-bawa sekotak pengaman di dalam ransel kampusnya? Abby masih berlutut di atas karpet, mematung dengan mulut sedikit terbuka, sibuk memproses temuan absurd di tangannya. Abby begitu tenggelam dalam keterkejutannya, sampai-sampai ia sama sekali tidak menyadari suara putaran kenop pintu dari arah belakangnya. Ceklek. Pintu kamar mandi yang menyatu dengan kamar tidur itu tiba-tiba terbuka.Abby menahan napasnya. Dengan gerakan panik yang tak bisa disembunyikan, jemari gadis itu buru-buru menekan tombol daya di sisi ponselnya. Layar yang semula terang benderang itu seketika mati, berubah menjadi gelap gulita tepat sebelum Justin sempat menunduk dan membaca nama pengirim pesan di sana."Siapa?" tanya Justin. Alis tebal pria itu tertaut, sepasang mata kelamnya menyipit tajam, mengunci mata Abby yang bergerak gelisah ke sana kemari."Celine... Celine lagi, Kak," kilah Abby dengan suara bergetar. Gadis itu buru-buru membuang muka, menghindari tatapan mengintimidasi dari pria dominan yang masih mengurungnya di tembok tersebut. "Dia ada nanyain soal tugas kelompok besok."Abby menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga dengan gerakan yang sangat gugup. Ia tahu kebohongannya terdengar luar biasa berantakan. Jantungnya masih berdegup liar akibat ciuman mereka barusan, dan sekarang ia harus berbohong menutupi pesan dari mantan kekasih pria ini? Abby merasa ia bisa gila jika
"Kak Justin!" pekik Abby tertahan, matanya membelalak lebar. Tangannya secara otomatis terangkat menutupi separuh wajahnya yang kini terasa seperti direbus di atas air mendidih.Dibalik ekspresi tenangnya, Justin begitu menyukai bagaimana gadis ini selalu kehilangan akal sehatnya hanya dengan satu kalimat darinya."Kenapa kau harus malu, hm?" lanjut Justin, terus memojokkan Abby. "Aku hanya menyatakan fakta yang terjadi di antara kita. Atau... jangan-jangan kau menghindari tatapanku karena kau takut? Kau takut jika kau terus melihatku, kau tidak akan bisa menahan tanganmu untuk kembali menyentuhku?""Tidak! Bukan begitu!" bantah Abby kelabakan. Ia menurunkan tangannya, menatap Justin dengan protes dan dada yang naik turun. "Aku cuma... aku cuma belum terbiasa, Kak! Semuanya terjadi terlalu cepat bagiku dan Kakak terus saja menggodaku!"Mendengar kepolosan dan kejujuran yang meluncur dari bibir bergetar itu, kilat di dasar mata kelam Justin seketika berubah. "Belum terbiasa?" ulang Ju
[Abigail, apa kita bisa ketemu?]Abby menatap layar ponselnya yang menyala di tengah kesunyian ruang tengah apartemen. Barisan kalimat singkat yang baru saja masuk itu terasa seperti sebuah beban berat yang tiba-tiba dijatuhkan ke atas pangkuannya.Gadis itu menggigit bibir bawahnya, perasaannya seketika campur aduk. Ia tahu persis bagaimana reaksi Justin terakhir kali ia memaksanya bertemu dengan Valerie. Dan entah kenapa, insting Abby mengatakan dengan sangat kuat bahwa kali ini pun, niat Valerie mengajaknya bertemu pastilah untuk menjadikannya jembatan agar wanita itu bisa bertemu dengan Justin kembali.Rasa bersalah kembali mencubit dada Abby. Valerie sudah mengorbankan dirinya terkena pukulan demi melindunginya, jadi mengabaikan pesan wanita itu terasa sangat jahat. Namun di sisi lain, menuruti permintaan Valerie dan memancing kemarahan Justin lagi juga bukanlah pilihan yang bijak."Ada apa?""Astaga!"Abby mendongak dengan cepat dan mendapati Justin tahu-tahu sudah berdiri tid
"Nggak datang dari Riko?" ulang Abby dengan suara bergetar, kedua tangannya saling meremas di atas pangkuan. Hawa dingin seketika merayap naik ke tengkuknya. “Terus… siapa?”Justin menyandarkan punggungnya ke kursi makan. Tatapannya menajam, mengunci raut wajah Abby yang kini memucat pasi."Temanku baru saja mengirimkan hasil pelacakan IP address dari akun anonim yang pertama kali membagikan nomormu ke grup itu," terang Justin. "Alamat IP itu terdaftar dari jaringan router internal asrama putri kampus kita."=Malam itu, suasana di lorong asrama putri terasa jauh lebih sepi dari biasanya. Rintik hujan yang turun sejak sore membuat sebagian besar mahasiswi memilih untuk meringkuk di dalam kamar mereka masing-masing.Di dalam kamarnya yang tertutup rapat, Valerie duduk menyandar santai di atas ranjang. Mata bulatnya menatap lurus ke arah sebuah foto profil di layar, foto Justin.Ibu jari Valerie bergerak pelan, mengusap layar yang menampilkan wajah tampan mantan kekasihnya itu.Lamunan


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews