Home / Urban / Kalung Ajaib Pemuda Desa / 140 Dia Beruntung

Share

140 Dia Beruntung

Author: Heartwriter
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-09 12:46:49

"Ada formasi yang tersimpan di dalam ini," bisik suara itu. "Bukan formasi jahat—bukan senjata, bukan jebakan. Ini formasi penyembuh. Dibuat oleh praktisi pengobatan kuno yang menyembunyikan kemampuannya di dalam benda yang tampak biasa agar tidak dicuri atau disalahgunakan. Tapi karena tersembunyi, tidak ada yang bisa menggunakannya. Kamu bisa membukanya—dengan menyentuh titik yang tepat dan mengalirkan sedikit energi liontin."

"Untuk menyembuhkan apa?" bisik Wandra.

"Kerusakan sel yang tidak
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   287 Format Pertandingan

    "Lebih baik dia fokus saja di kontes level ketiga bersama keluarga Wicaksana. Walaupun di sana pun aku ragu dia bisa menang."Wandra menelan sepotong daging dan meminumnya dengan air putih. Wajahnya sama sekali tidak berubah mendengar semua itu.Saat itulah pintu ruangan VIP terbuka dan Winona masuk bersama ayahnya, Wahyu Wicaksana. Mereka baru saja tiba setelah mendapatkan undangan dari Mentira untuk bergabung dalam jamuan perpisahan sebelum keberangkatan.Winona langsung mengedarkan pandangannya mencari Wandra dan menemukannya duduk sendirian di ujung meja dengan piring yang sudah hampir kosong. Ekspresi di wajah Winona langsung berubah saat dia mendengar sisa-sisa percakapan yang masih bergema di ruangan, percakapan yang jelas-jelas meremehkan Wandra.Winona menoleh ke ayahnya dan berbisik. "Ayah, mereka terus meremehkan Wandra. Kita harus memberitahu mereka tentang kemampuan Wandra yang sebenarnya."Wahyu yang juga merasa tidak nyaman mengangguk dan hendak berbicara. Tapi Wandra y

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   286 Wandra Direndahkan

    Siang ini, Mentira tiba di rumah kos Wandra dengan sebuah mobil van besar yang diparkir di depan pagar. Dia mengenakan pakaian kasual, celana hitam dan blus biru muda, tapi wajahnya menunjukkan campuran antara kecemasan dan tekad yang tidak biasa terlihat pada gadis yang biasanya selalu angkuh itu."Wandra, kita perlu bicara," Mentira berkata begitu Wandra membuka pintu.Wandra mengajaknya masuk ke ruang tamu. Mereka duduk berhadapan dan Mentira langsung memulai pembicaraannya tanpa basa-basi."Kakekku terus-menerus menyuruhku untuk mempercayai kamu sepenuhnya dalam kontes nanti. Dia bilang kamu sangat mampu untuk mengangkat keluarga Wongso menjadi nomor satu di wilayah Selatan." Mentira menghela napas. "Tapi jujur, Wandra, aku sama sekali tidak mengerti mengapa kakekku sangat mempercayaimu. Kamu cuma berada di alam pemurnian tubuh level satu. Kontes level pertama itu diikuti oleh kultivator-kultivator terkuat dari kota Dekon dan kota Candi. Bagaimana mungkin kamu bisa bersaing dengan

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   285 Aura Alam Inti Emas

    Aura yang meledak dari tubuhnya sangat berbeda dari yang sebelumnya. Kalau aura alam kebangkitan level dua belas tadi terasa seperti badai, maka aura alam inti emas terasa seperti alam semesta yang mengembang. Tekanannya tidak lagi menekan secara fisik, tapi menekan secara esensial, menekan jiwa, menekan kesadaran, menekan keberadaan itu sendiri.Lantai di bawah kaki Kakek Tua retak dan ambles. Dinding-dinding ruangan yang sudah retak kini runtuh sepenuhnya. Langit-langit terbelah. Seluruh lantai tiga gedung itu mulai runtuh ke bawah.Wandra merasakan tekanan itu. Dan untuk pertama kalinya sejak dia keluar dari guanya, dia merasakan sesuatu yang mendekati tantangan.'Alam inti emas level satu,' batin Wandra. 'Ini memang jauh lebih kuat dari alam kebangkitan. Kualitas energinya berbeda secara fundamental.'Kakek Tua tidak membuang waktu. Begitu auranya terlepas sepenuhnya, dia menyerang dengan seluruh kekuatan alam inti emas level satu. Pukulannya tidak lagi membawa energi biasa. Pukul

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   284 Kakek Tua

    Ketua berhenti sejenak untuk menarik napas yang menyakitkan. "Dan satu hal lagi yang harus kau ketahui. Paviliun Pembunuh bukan hanya ada di negara Kertagama. Kami memiliki cabang di negara Singaraja dan negara Baladewa. Cabang-cabang itu jauh lebih kuat dari kami. Kalau kau berani membunuh kami, para petinggi dari cabang Singaraja dan Baladewa akan datang mengejarmu. Dan kultivator mereka jauh lebih kuat dari siapa pun di negara ini."Wandra mendengarkan semua ancaman itu tanpa mengubah ekspresinya. Kemudian dia bersandar di kursinya dan berkata dengan nada yang sangat santai, "Panggil Kakek Tua kalian. Sekarang."Ketiga petinggi itu terdiam. Mereka tidak menyangka Wandra akan merespons ancaman mereka dengan permintaan untuk menghadirkan ancaman itu secara langsung."Apa kau gila?" ketua bergumam. "Kau mau kami memanggil Kakek Tua ke sini? Dia akan membunuhmu!""Aku yang memutuskan siapa yang membunuh siapa," Wandra berkata. "Sekarang panggil dia. Atau aku akan mematahkan sisa tulang

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   283 Ceritakan Semuanya

    Wandra melangkah masuk ke dalam ruangan rapat dengan langkah yang tenang. Matanya menyapu seluruh ruangan, membaca setiap detail, setiap posisi, setiap potensi ancaman.Ketua Paviliun Pembunuh yang pertama kali bereaksi. Dia mengangkat tangannya dan menekan sebuah tombol tersembunyi di bawah meja. Alarm diam menyebar ke seluruh gedung, dan dalam hitungan detik, pintu-pintu di sepanjang lorong terbuka. Belasan orang berpakaian hitam berlari menuju ruang rapat dari berbagai arah.Wandra bahkan tidak menoleh. Dia berdiri memunggungi pintu saat para petugas keamanan tingkat tinggi itu menyerbu masuk. Mereka semua adalah kultivator, tingkatnya bervariasi dari alam kondensasi roh sampai alam jiwa baru lahir.Satu gerakan tangan Wandra.Hanya satu.Gelombang energi menyebar dari tubuhnya ke segala arah. Setiap orang yang berdiri di lorong dan di ambang pintu langsung terlempar ke belakang. Tubuh-tubuh mereka menghantam dinding dan lantai dengan suara berdebum yang beruntun. Tulang-tulang pat

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   282 Markas Paviliun Pembunuh

    Wandra tidak berkata apa pun. Dia tidak memberikan ancaman. Dia tidak memberikan peringatan. Dia bergerak.Gosal yang sudah bersiap untuk pertarungan bahkan tidak sempat memasang kuda-kuda. Wandra sudah berada di depannya sebelum otaknya sempat memproses bahwa Wandra sudah bergerak. Pukulan pertama menghantam dada Gosal dengan kekuatan yang membuat pria sebesar itu terlempar ke belakang dan membentur pagar.Gosal mencoba bangkit tapi Wandra sudah berada di atasnya. Pukulan kedua menghancurkan bahu kanannya. Pukulan ketiga menghancurkan bahu kirinya. Gosal berteriak kesakitan dan berusaha menendang Wandra, tapi Wandra menangkap kakinya dan mematahkannya.Wandra tidak memberi Gosal waktu untuk bernapas. Tidak memberi waktu untuk memohon. Tidak memberi waktu untuk apa pun. Pukulan demi pukulan mendarat di tubuh Gosal dengan kecepatan dan kekuatan yang membuat kultivator alam kebangkitan level lima itu merasakan setiap tulang di tubuhnya patah satu per satu.Detik-detik terakhir Gosal dih

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   62 Gairah Liar di Gudang

    Di ruang penyimpanan jenazah yang dingin dan lembab, cahaya redup dari lampu neon samar-samar menerangi rak-rak baja yang berisi laci-laci mayat. Udara terasa berat, bercampur bau formalin dan kematian, tapi itu tak lagi penting bagi Wandra dan Lidya.Kalung liontin perak di leher Wandra, yang baru

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   61 Kehilangan Kendali di Ruangan Kosong

    Wandra melangkah maju, berdiri di samping bed. Ia menatap pasien itu—pemuda yang terbaring sekarat, dengan keluarga yang menangis di sekelilingnya.Ia menyentuh liontin di dadanya—dengan lembut, seperti meminta izin. Liontin langsung bereaksi—kehangatan yang familiar mengalir dari liontin ke seluru

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   60 Ruang Gawat Darurat

    Wandra terbangun dengan perlahan. Tubuhnya terasa sangat lelah—lebih lelah dari yang pernah ia rasakan sebelumnya.Ia membuka matanya dan butuh beberapa saat untuk menyadari di mana ia berada. Kamar asing. Tempat tidur yang besar. Dan di sampingnya...Desy terbaring di sisi kirinya, masih tertidur

  • Kalung Ajaib Pemuda Desa   59 Menggilir Dua Wanita

    Wandra mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Desy, tapi genggaman itu mengerat. Dan kemudian, Nissa memegang tangan satunya lagi.Ia terkepung."Wan," bisik Desy sambil melangkah lebih dekat, wajahnya sangat dekat dengan wajah Wandra, "aku tidak tahu kenapa, tapi aku merasakan sesuatu yang sa

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status