LOGINDavid Lewis mati di usia 39 sebagai pecundang. Dia bangkrut, sendirian, dikhianati ibu tiri dan kakak tiri yang merebut warisan miliaran dolar keluarganya. Tapi dia terbangun kembali di tubuhnya yang berusia 21 tahun. Wajah lebih tampan. Tubuh sempurna. Dan ukuran... yang membuat setiap wanita tidak bisa berpaling. Dengan pengetahuan 18 tahun ke depan dan mental yang sudah ditempa penderitaan, David punya rencana yang sempurna. Dia tidak hanya akan merebut warisannya. Dia akan menghancurkan mereka yang mengkhianatinya dengan cara yang paling intim. Membuat mereka terobsesi, bergantung, mengemis untuk tubuhnya. Dan ketika mereka sudah menjadi budaknya... permainan yang sebenarnya baru dimulai.
View MoreHangat.
Nyaman. Inikah rasanya di surga? David membuka matanya perlahan. Namun, ketika pandangannya masih belum sepenuhnya fokus dan kesadarannya masih setengah melayang, suara melengking tiba-tiba menusuk telinganya. "DAVID! Sudah jam berapa ini dan kau masih tidur?! Kau benar-benar bajingan pemalas!" Itu suara Amanda, kakak tirinya. David segera membuka matanya lebar-lebar dan menyapu sekelilingnya. Langit-langit putih bersih. Lampu kristal kecil menggantung di tengah. Dinding berwarna krem. Jendela besar dengan tirai yang terbuka sedikit, cahaya matahari pagi masuk menerangi ruangan. Meja belajar di sudut dengan tumpukan buku yang rapi. Komputer yang sudah lama tidak dia lihat. Lemari pakaian dengan cermin besar. “David, sialan! Bangun kau!” suara Amanda sekali lagi terdengar melengking. Jantung David terasa berhenti sejenak. Ini kamarnya di mansion Lewis. Suara Amanda juga terdengar sangat nyata. Tapi... bagaimana bisa? Bukankah seharusnya dia sudah mati?! David mengingat dengan jelas apa yang terjadi sebelumnya. Setelah Richard Lewis, ayahnya, meninggal saat David berusia 24 tahun, ia diusir tanpa warisan sepeser pun oleh ibu tiri dan kakak tirinya, Miranda dan Amanda. Padahal sebagai anak kandung tunggal, seharusnya seluruh kekayaan keluarga Lewis jatuh ke tangannya. Namun Miranda dan Amanda telah lebih dulu meracuni pikiran Richard, membuat pria tua itu percaya bahwa David tidak kompeten dan tak layak meneruskan perusahaan keluarga. Hasilnya, Miranda memperoleh 80% aset, Amanda 20%. David? Nol, sama sekali tidak ada. Sejak hari itu, hidupnya jatuh ke titik terendah. Ia bekerja serabutan sebagai buruh kasar, mencuci piring, membersihkan toilet, mengangkat barang di gudang. Semua demi bertahan hidup. David hidup sangat hemat, menabung setiap sen yang ia dapatkan. Tiga belas tahun kemudian, tabungannya cukup untuk membuka sebuah restoran kecil. Namun harapan itu kembali hancur. Dua tahun berjalan, restoran tersebut bangkrut. Semua tabungan, semua kerja keras selama 15 tahun, lenyap begitu saja. Malam itu, David duduk di bebatuan taman pinggir sungai, menenggak bir murah dari sisa uang terakhirnya. Ingatan tentang semua usaha kerasnya, bahkan tentang pembacaan warisan kembali menghantam pikirannya, membuat semua terasa makin mencekik. Setelah mabuk berat, David memutuskan untuk pulang. Namun, ketika baru melangkah, kakinya tergelincir. Tubuhnya jatuh tak seimbang, dan kepalanya menghantam batu besar dengan keras. Itulah bagaimana David seharusnya mati. BRAK! Sebelum David sempat bangkit dari tidurnya, pintu kamar sudah dibanting terbuka dengan kasar. “Sialan, kau benar-benar masih tidur?!” bentak Amanda lagi. David segera bangun, matanya langsung menangkap sosok Amanda yang berdiri di ambang pintu dengan tatapan tajam. Wanita itu memakai gaun rumahan ketat yang membungkus tubuh moleknya dengan sempurna. Bagian depannya menonjol sempurna di balik belahan baju yang agak rendah. Paha mulusnya tampak berkilau, seperti baru saja digosok dengan lulur mandi mahal. David melempar pandangannya pada kaca lemari yang ada di hadapannya. Matanya terbelalak lebar. Ia tahu jelas bahwa itu adalah wajahnya ketika masih berusia 21 tahun. Tiga tahun sebelum ayahnya meninggal, satu tahun setelah Miranda dan Amanda masuk ke kehidupan mereka. Tapi, tunggu... Garis wajahnya tampak lebih tegas, otot lengannya terbentuk sempurna seolah telah menerima latihan keras bertahun-tahun dan diet ketat. Dia kembali ke masa lalu dan mendapatkan tubuh seperti atlet profesional?! Bagaimana mungkin?! “Kenapa kau malah melamun, bodoh!” seru Amanda lagi, ia melangkah masuk dan langsung berdiri di hadapan David. Kaki jenjangnya hendak menendang tulang kering David, tapi urung begitu menyadari sesuatu yang besar yang menyembul dari balik celana pendek David. “Kau …” lirih Amanda, tapi tatapannya tak lepas dari batang David yang sedikit bangun. David yang menyadari arah tatapan Amanda langsung melirik ke arah yang sama. Dan betapa terkejutnya dirinya menyadari bahwa itu jauh lebih besar dari yang dia ingat. Apakah ini juga ikutan upgrade? “Kau … kau cepat turun, ayah dan ibu sudah menunggu,” lanjut Amanda dengan suara terbata, tapi pandangannya tidak bisa lepas dari milik David. David seketika tersenyum kecil. Jalang ini... Sebagai pria yang berusia 39 tahun, David cukup mengenal sorot mata seperti itu. Itu adalah tatapan dari wanita yang menginginkan lebih dari sekadar perhatian. David sekarang memahami semuanya. Dia kembali ke masa lalu dan mendapatkan tubuh sempurna. Apakah ini hadiah dari Dewa atas semua penderitaan yang dia alami? Dia diberikan kesempatan kedua? Entahlah, tapi dia tahu apa yang harus dia lakukan. “Kenapa kau melihat milikku seperti itu? Kau menginginkannya?” ujar David, tersenyum puas. Amanda terperanjat kaget. Dulu, David selalu menunduk. Selalu sopan pada ibu tiri dan kakak tirinya. Selalu memilih diam demi kedamaian semu. Namun itu David yang dulu. Setelah semua yang David lalui di kehidupannya sebelumnya, ia tak akan seperti itu lagi. “A–apa maksudmu?!” elak Amanda, tapi wajahnya jelas memerah malu, sorot matanya tampak ‘haus’. David bangkit, dengan sengaja memamerkan batang yang keras dan besar itu terpampang jelas menonjol di balik celana pendeknya. Ia melangkah mendekati Amanda, masih dengan senyum puasnya. Sementara itu, Amanda tampak lebih gelisah. Pandangannya tidak bisa fokus antara pergerakan David, dengan apa yang menonjol di bawah sana. “K–kau mau apa, sialan?!” gertak Amanda sambil mundur perlahan, ia menelan ludahnya dengan susah payah.David melihat semuanya. Setiap ekspresi di wajah Vanessa. Setiap perubahan warna di pipinya. Cara matanya tidak bisa berpaling dari batangnya.Senyum puas melebar di wajahnya.Tangannya bergerak. Menyentuh wajah Vanessa, lembut, jari-jarinya menelusuri garis rahangnya. Lalu naik ke pipi, mengusap dengan gerakan yang hampir... penuh kasih sayang.Kontras yang aneh dengan situasi yang sangat tidak romantis ini.Lalu suaranya keluar. Lembut tapi tegas."Lakukan sekarang dan buat aku puas."Jeda sebentar. Jari-jarinya masih mengusap pipi Vanessa."Hanya setelahnya kau layak untuk terus berada di sisiku."Vanessa menatap mata David. Mata hitam yang tenang. Percaya diri. Dominan.Dia mengangguk perlahan. Tidak bisa berbicara. Tidak percaya dia akan melakukan ini.Tangannya bergerak, gemetar, menyentuh batang besar itu untuk pertama kali.Hangat, seperti batang besi yang baru dipanaskan.Keras, sangat keras. Tidak ada bagian yang lembut. Semuanya padat, berotot, kuat, dan besar. Astaga, bah
Vanessa diam terpaku. Matanya menatap kosong ke depan. Mulutnya sedikit terbuka tapi tidak ada kata-kata yang keluar.Otaknya masih mencoba memproses apa yang baru saja David katakan.Giliranku? Pemanasan? Kemampuanku?Detik berlalu. Lima detik, sepuluh detik, Vanessa masih diam.David merasakan kesabarannya menipis. Dia menoleh sebentar, menatap Vanessa dengan ekspresi yang mulai kehilangan kesabaran, "Kau tidak mau melakukannya?"Suaranya datar, dingin, tapi ada ancaman tersembunyi di sana.Vanessa tersentak. Dia menoleh, menatap David dengan mata yang masih berkabut.Lalu otaknya mulai bekerja.Giliranku... pemanasan...Tunggu.Apakah dia... apakah dia meminta aku melakukan... itu?Blowjob?!Wajah Vanessa langsung memerah. Campuran antara malu, terkejut, dan... marah.Apakah dia serius?!Bagaimana mungkin dia memintaku menghisap batangnya yang kecil itu?!Vanessa pernah melihat sekilas tonjolan di celana David beberapa kali. Tidak besar, biasa saja, mungkin bahkan di bawah rata-rat
Vanessa menatap tangan itu, lalu menatap wajah David.David bahkan tidak menoleh. Matanya masih fokus di jalan. Ekspresinya masih tenang. Santai. Seolah tangannya di paha Vanessa adalah hal yang paling natural di dunia.Sejak kapan David seberani ini?Vanessa merasakan panas merayap di pipinya. Bukan karena sentuhan itu, tapi karena keberanian David melakukannya tanpa izin. Tanpa bertanya. Tanpa gugup.Seolah dia... berhak melakukannya.Kesal muncul kembali di dada Vanessa, tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya melipat kedua tangannya lebih erat di dada, menatap ke depan dengan ekspresi yang berusaha terlihat acuh.Biarkan saja. Hanya sentuhan. Dia yakin David tidak akan berani melakukan sesuatu yang lebih dari ini.Tentu saja David menginginkan hubungan intim. Tapi pada akhirnya, dia akan pasif. Gugup, canggung, dan Vanessa yang akan mengendalikan semuanya. Seperti biasa.Detik berlalu.Tangan David masih di sana. Hangat. Berat.Lalu... bergerak.Perlahan. Sangat perlahan.Jar
Kelas berakhir.Dosen berkepala botak itu menutup bukunya dengan suara keras yang membuat beberapa mahasiswa tersentak. Dia mengucapkan beberapa kata penutup tentang tugas minggu depan, lalu keluar dari ruangan dengan langkah tenang.David bangkit dari kursinya. Mengambil tas kulit cokelat gelapnya, melemparkannya ke bahu dengan gerakan santai.Dia melangkah keluar dengan postur tegak, kepala terangkat, kepercayaan diri terpancar dari setiap langkahnya.Tatapan mengikutinya. Puluhan pasang mata. Kagum. Penasaran. Beberapa bahkan penuh hasrat yang tidak tersembunyi."Dia benar-benar berbeda sekarang.""Aku ingin mendekatinya tapi... aku takut ditolak.""Scarlett berani banget tadi. Aku iri.""Seandainya aku yang duluan..."Bisikan-bisikan itu terdengar jelas, tapi David tidak peduli, tidak menoleh, tidak merespons. Hanya terus berjalan seperti semua perhatian itu tidak ada.Lorong kampus ramai dengan mahasiswa yang berlalu-lalang. Beberapa menoleh ketika David lewat, beberapa berbisik,






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.