LOGIN“Maksudnya?”
“Apa salahnya kau bercerita sedikit tentang hidupmu selama ini? Bukankah tadi aku juga begitu? Kalau tidak, mungkin kau bisa bercerita tentang kekasihmu.”“Kekasih? Saya bahkan belum pernah memiliki kekasih, Tuan.”Kama terbahak sampai terbatuk.“Kenapa? Ada yang lucu?” Sutra menautkan kedua alisnya.Kama menggeleng. “Aku hanya kaget saja. Gadis seusiamu belum memiliki kekasih? Apa aku harus percaya?”Sutra mengerutkan dahinya. “Bahkan, saya tidak peduli jika Tuan tidak percaya. Karena memang itu kenyataannya.”Hening. Sesaat suasana senyap. Baik Kama dan Sutra keduanya seolah sedang bergelung dengan pikiran masing-masing.“Tuan.”“Ya.”“Mau saya bikinkan minu?”“Kopi.”Sutra mengangguk setelahnya berdiri menghampiri kompor. Selama menunggu air mendidih, keduanya saling diam. Kama tampak sibuk memainkan ponselnya.“Kau ingin ikut aku besok pagi?” tanySutra tampak menatap lukisan seharga dua ratus milyar. Matanya begitu lekat menatap inci demi inci lukisan yang dilukis oleh mendiang Reynard sebelum dirinya meninggal dunia. Sebuah lukisan pemandangan lengkap dengan seorang wanita muda yang tengah menggendong seorang bayi kecil dalam dekapannya. Warja senja yang kontras begitu memukau penglihatan Sutra. Wanita itu seperti tengah merasa de ja vu. Namun, ia tak mengingat sama sekali. Mungkin hanya sekadar mimpi yang terlupakan. Pikirnya. “Nyonya sarapan sudah siap.” Mina mengagetkan Sutra. “Mina, kenapa kau yang masak? Di rumah ini sudah ada koki yang khusus untuk memasak. Tugasmu hanya melayani apa yang aku inginkan, bukan?” Mina tersenyum menanggapinya. “Tuan Deodola menginginkan mulai saat ini aku yang masak untukmu dan dia, Nyonya.” Sutra menganjur napas pelan. “Terserah kau saja. Aku hanya tak ingin kau terlalu lelah bekerja.” “Tidak, Nyonya. Aku bahkan sangat senang karena bisa membuatkanmu makanan.” “Baiklah, ja
“Ada apa ini?” Kama datang saat mendengar suara gaduh dari lorong galeri, ada suara Sutra terdengar agak meninggi. Sutra beringsut mendekat. “Dia menyepelekanku, Kama. Dia kira aku tidak bisa membeli lukisan itu.” Ia menunjuk lukisan pemandangan dan seorang ibu muda yang tengah menggendong seorang bayi mungil di tengah senja. “Kau menyukainya?” Sutra mengangguk. “Tuan Deodola, maaf, aku salah—“ “Katakan berapa harganya, istriku akan membelinya.” Kama memotong kata-kata pemandu tersebut, tatapannya dingin tapi pria itu masih mencoba untuk menghalau kemarahannya. “Apa, istri?” Wajah pemandu itu berubah pasi, tampak keringat sebiji jagung mengitari area dahinya. “Kau tidak dengar? Berapa harga lukisan itu?” Kama kembali menyergah. “Du-Dua ratus milyar, Tuan,” jawabnya dengan nada bergetar. “Aku ingin kau membungkusnya dengan rapi, kirim ke alamat istriku. Hari ini harus sudah berada di rumahnya,” ujar Kama tanpa berkedip. Tatapannya masih tampak menghunus kepada pe
“Tunggu!” Terdengar seorang wanita menegur mereka berdua, hingga keduanya saling bersitatap, kemudian menoleh ke asal suara. Sutra tampak menautkan kedua alisnya, melihat sosok wanita yang sudah tak muda lagi berdiri dengan dandanan alakadarnya. Wanita dengan tatapan rambut dicepol tersebut berjalan tergesa menuju Sutra, kedua kelopak matanya meremang akibat digenangi air mata yang mengancam luruh. Baru saja wanita itu hendak memegang kedua pipi Sutra, tiba-tiba Kama menepisnya. “Kau siapa?” tanya Kama dengan wajah penuh curiga. Wanita tua itu menoleh ke arah Kama sepintas, lalu pandangannya kembali tertuju pada Sutra. “Nona, kau tidak mengingatku?” tanyanya dengan suara bergetar. Sutra melempar tatapannya ke arah Kama, sejurus kemudian dia kembali melihat ke arah perempuan baya tersebut. “Maaf, aku tidak mengenalmu. Kau siapa?” tanya Sutra lembut. Wanita itu tiba-tiba menutup mulutnya dengan kedua jari tangannya. Air matanya pun benar-benar keluar tanpa perm
Lima belas tahun lalu keluarga Hans begitu manis. Ia terlahir di tengah keluarga yang begitu menyayanginya. Namun, tepat di ulang tahun Griselda—ibu dari Hans—tengah berulang tahun, tiba-tiba rumah mereka di jarah oleh sekelompok orang tak dikenal, memakai topeng hitam, lengkap dengan sarung tangan. Griselda tewas saat itu juga, tiga butir peluru mengeruk tepat di bagian dada kakan serta kirinya. Ayah Hans, Bram, sempat dirawat di rumah sakit. Namun, nyawanya tak bertahan lama, Bram hanya bertahan selama satu pekan, sebelum pada akhirnya menghembuskan napas terakhirnya karena tak sengaja mendengar jika Gruselda telah meninggal dunia. Dunia Hans benar-benar runtuh, ia bahkan tak lagi memiliki pegangan untuk sekadar menjadi penopang dalam hidupnya. Hingga akhirnya keluarga Deodola datang, memberi secercah harapan kepadanya. Keluarga itu memberikan sebuah pilihan, agar ia mau menjadi adik dari Kama Deodola. Namun, Hans menolak, rasanya tidak mungkin ia berbaur dengan keluarga y
Sebuah mobil hitam panjang memasuki area mansion keluarga Deodola. Semenjak Sutra tinggal di rumah yanh dibeli oleh Kama, pria itu jarang sekali pulang ke mansion atau pun apartemen pribadinya. Ia lebih suka menghabiskan waktu bersama kedua buah hatinya dan juga Sutra. “Maaf, Tuan Ruddy, Tuan Muda sedang tidak di mansion.” Salah satu pelayan mansion tersebut berujar dengan sedikit merundukkan kepalanya. “Nyonya Amira?” Pelayan itu tidak lantas menjawab. Sebab ia pun tak paham ke mana sang majikan itu pergi. “Nyonya juga sudah lumayan lama tidak pulang ke mansion,” jawab pelayan itu pada akhirnya. “Apa kau ada pesan? Biar kusampaikan pada Tuan Muda jika dia pulang nanti.” Tuan Ruddy menganjur napas panjang. Bukan tanpa alasan dia ingin menemui Kama, lelaki paruh baya itu ingin memohon kepadanya agar mau mencabut segala tuntutan yang pernah dilayangkan kepada putrinya—Nerezza. Tuan Ruddy tidak sanggup melihat sang putri jika harus lama mendekam di balik jeruji besi. “Aku
“Dia keracunan makanan.” Dokter Sasmita bicara dengan Kama. “Kemungkinan disebabkan dari makanan yang sempat dihinggapi lalat atau pun jenis khewan kotor lainnya. Bisa juga karena makanan yang sudah busuk,” lanjut dokter Sasita menjelaskan. Kama saat ini tengah berada di ruang lain dalam bangunan yang ia peruntukkan menyekap Selena dan juga Zatulini. Sedangkan dokter Sasmita sendiri adalah salah satu dokter kepercayaan keluarga Deodola. Perempuan paruh baya itu tahu, jika wanita yang saat ini terkulai lemas di atas kasur tersebut sedang mendapatkan hukuman. —dan dia tak mau tahu itu semua, wanita yang berprofesi sebagai dokter tersebut labih sayang nyawanya ketimbang harus bersusah payah membujuk Kama agar melepaskan tawanannya. Terlebih dirinya selama ini makan dari keluarga Deodola. “Kau memberi makan apa padanya, Tuan?” Dokter Sasmita membali bersuara. “B-bagaimana jika dia—“ “Aku bahkan tidak peduli seandainya perempuan sampah itu tewas dengan mengenaskan!” Kama segera







