Share

Bab 133

Penulis: Jw Hasya
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-17 22:32:15
Duar.

Satu tembakan tepat mengenai pundak sebelah kiri Nyonya Amira. Sengaja, Kama menembak tidak tepat di bagian jantungnya karena dia masih ingin melihat pembunuh mendiang Diana tersebut menderita. Ya, dia akan menyiksa Nyonya Amira hingga titik darah penghabisan.

“Bagaimana rasanya?” tanya Kama sambil meniup ujung pistolnya, senyumnya tersungging saat melihat Nyonya Amira tampak mengerang kesakitan.

Nyonya Amira tidak menjawab, rasa sakit akibat gigitan dari timah panas yang menghujam pundaknya, membuat keringat dingin sebesar biji jagung menyembul di permukaan wajahnya.

“Ini belum seberapa, setelah hari ini, kau akan mendapat siksaan yang lebih dari ini, Amira. Kau harus tahu bagaimana tersiksanya ibuku saat meregang nyawa. Kau harus merasakan bagaimana menjadi aku yang selalu merasa ketakutan akan sebuah kehilangan. Kau harus merasakan semua penderitaan itu. Trauma yang kau ciptakan untukku, untuk gadis kecil yang kau bilang putri Reynard. Kau harus merasakan semuanya!
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (8)
goodnovel comment avatar
fatmawati
ngapain kamu masih ingat sama bibi Lini padahal udah jelas kalo dia bukan ibumu
goodnovel comment avatar
Vaizaholshop
selamat bersenang senang Amira, skrng wktunya kamu merasakan apa yg kama dan ibunya dulu rasakan
goodnovel comment avatar
Lisa Anggraini
sutra masih inget aja ke Zatulini.. padahal Dia udah jahat
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Kama Sutra   Bab 171

    Liuk gemulai tubuh tiga wanita cantik yang mengenakan pakaian model one piece berwana merah begitu indah memukau. Suara dentuman musik disko dari pemainan seorang disk joki laki-laki berambut gimbal. Wangi apkohol serta aroma asap nikotin menguar pekat menyeruak menggoda indera penciuman para pengunjung. Tarian lampu warna-warni menambah gemerlap dunia malam yang tersaji glamour serta liar pada sebuah diskotik terbesar di Kota S yang bernama Konoha Clubbers Party tersebut. Hans tampak duduk di deretan kursi paling depan, menyulut sebatang rokok, dengan ditemani gelas sloki dan sebotol wishky Scotch. Tatapannya masih begitu jernih, meskipun dirinya memesan minuman beralkohol, tapi pria tersebut tak segut untuk mencicipinya. Tiba-tiba dari arah belakang, sebuah tangan dengan jemari yanh lentik meraba pundaknya. “Kau butuh teman, Tuan?” Hans mengibaskan tangan tersebut tanpa menoleh. “Jangan ganggu aku!” katanya dengan nada dingin. Pemilik tangan itu kemudian berjalan dan berdiri

  • Kama Sutra   Bab 170

    Hantaman demi hantaman melayang tepat mendarat di pelipia pria bertubuh tambun tersebut. Darah mengalir segar di ujung ekor matanya. Tubuhny bergetar hebat, kala melihat kilat kemarahan yang tak lagi terbendung di pelupuk mata Hans. Dengan begitu brutalnya, pria tampan itu terus saja menghajar pria bernama Jhoni. “Katakan keparat! Siapa yang telah menyuruhmu untuk melakukan semua itu kepada Sutra!” Pria itu mencengkeram rambut Jhoni yang sudah menipis dan ditumbuhi sedikit uban. Jhoni tak lagi bisa menjawab, tubuhnya terlalu lemas dan tak berdaya. Hans terlalu bersemangat menghajarnya tadi. Bagaimana tidak? Wanita yang hampir diperkosa itu adalah Sutra, wanita yang diam-diam selalu ia emogakan—meskipun pada kenyataannya itu hanya isapan jempol belaka. Karena begitu murkanya, Hans mencekik pria itu hingga kedua kakinya tampak berjinjing, wajahnya merah dengan semburat urat kasar menutupi wajahnyabyang telah mengeriput. Lidahnya terjulur, andai saja Hans tak mengingat jika s

  • Kama Sutra   Bab 169

    Melihat Sutra dengan keadaan yang tak biasa, Kama pun segera mengambil ponselnya dalam tuxedo hitamnya. Lalu, pria itu menekan nomor Hans. “Hans, tangkap Jhoni, beri dia pelajaran hingga mau mengakui siapa yang telah menyuruhnya untuk berbuat tak senonoh terhadap Sutra!” Suara pria itu terdengar begitu dingin. Bukan hanya suaranya, tapi tatapannya pun begitu tampak sedang menahan amarah. “Jhoni? Apa yang telah pria tua itu lakukan terhadap Sutra, Tuan?” Suara Hans terdengar menekan. “Dia hampir memperkosanya.” Klik. Tiba-tiba penggilannya terputus. Kemungkinan besar Hans telah berjalan di tengah keramaian pesta ulang tahun tersebut, lalu mencari pria tua yang bernama Jhoni untuk segera ia beri pelajaran. “Sutra, sadarlah! Kau kenapa?” Kama terus memukul-mukul pipi Sutra dengan pelan. Berharap wanita itu akan sadar dengan tingkah anehnya. “Sst ….” Sutra meletakkan telunjuknya di atas bibir Kama sambil terkekeh. “Jangan berisik, di luar sedang banyak orang.” Tiba-tib

  • Kama Sutra   Bab 168

    Sutra mengganti gaunnya dengan piyama sebelumnya. Wanita itu tentu tidak ingin membuat reoutasi Kama hancur begitu saja. Namun, ia pun tak ingin membiarkan masalah ancaman Jhois begitu saja. Setelah selesai pesta ulang tahun itu, ibu dari Nala dan Nathan tersebut akan bicara dengan Kama. Kenapa Jhois bisa tahu segala tentang hubungan tersebut. Di ruang bawah, tampak pesta masih meriah. Sesekali Kama bermain dengan kedua putra putrinya yang duduk di atas kereta dorong. Namun, kedua netranya tak dapat menyembunyikan perasaannya. Hampir satu jam pria itu tak lagi mendapati Sutra di tengah riuh gema para tamu undangan. “Siska, kau bawa Nala dan Nathan masuk dalam kamar. Mereka tampaknya ingin tidur,” perintah Kama pada Siska. Satu baby sitter tampak berada di samping Siska, memakai pakaian yang sama persis dengan wanita tersebut. Itu adalah pengganti Yura. “Baik, Tuan,” jawab Siska dengan sedijit merundukkn badannya ke arah Kama. Setelah Nathan dan Nala di bawa oleh Siska, pria itu t

  • Kama Sutra   Bab 167

    Lampu-lampu kristal yang menggantung anggun di tengah ruangan, memantulkan cahaya ke gaun-gaun mewah dan tuxedo mahal yang dikenakan para tamu. Sutra—dalam balutan gaun hitamnya—tampak memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna. Ia menyesap champagne-nya, berusaha menyembunyikan kegugupan yang mencengkeram isi hati. Di tengah riuh pesta ulang tahun itu, Kama tampak berdiri di tengah-tengah para tamu undangan. Tak disangka, pemikiran Sutra perihal para tamu undangan yang akan mencibir keberadaannya yang tak jelas status hubungannya dengan Kama, ternyata tidak ada. Semua orang yang hadir bahkan hanya bisa berdecak kagum, saling melempar sanjungan untuk dirinya yang terlihat begitu memukau. Saat Kama tengah berinteraksi dengan beberapa koleganya, Sutra tampak sedikit menjauh. Dadanya betul-betul berdegup kencang, wanita itu sebelumnya tidak pernah merasakan berada di tengah-tengah pesta semewah ini. “Kulihat kau begitu gugup. Ada apa, Nyonya Deodola?” Sutra sedikit tersentak dengan sua

  • Kama Sutra   Bab 166

    Kama melangkah ke arah kamar. Ia kemudian membuka pintu, didapatinya Sutra tengah duduk termenung di tepi kasur dengan memakai piayama. Matanya kemudian melihat gaun hitam yang sempat ia berikan pada Sutra beberapa jam lalu, masih tergeletak di atas kasur. Sejurus kemudian pria itu melangkah mendekati Sutra. “Kenapa kau belum bersiap-siap?” katanya sambil mengelus puncak kepala sang wanita. Sutra terperanjat, detik kemudian ia beranjak berdiri dan menatap kedua netra abu milik Kama. “Bersiap-siap? Untuk apa? Ingin mempermalukanku di depan kolegamu?” sungut Sutra. Kama mengerutkan dahinya. “Kenapa kau bilang begitu? Siapa yang ingin mempermalukanmu, Sutra?”Tatapan Sutra sedikit menghunus. “Kau tidak berpikir, aku tidak memiliki hubungan apa-apa denganmu, Kama. Lalu aku kau ajak menemui mereka? Lantas aku akan menjawab apa jika mereka bertanya tentang statusku yang sebenarnya? Terlebih aku memiliki anak darimu!”“Tidak memiliki hubungan bagaimana? Kau adalah ibu dari anak-anakku.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status