LOGINAnya seperti terjebak dalam pernikahan yang dingin. Suaminya memperlakukan Anya layaknya sebuah barang, begitu kasar dan tidak ada cinta. Tanpa disangka, kehangatan itu justru Anya dapat dari Bagas, paman dari suami sahnya. Tetapi rasa kasih sayang yang sangat dalam dari Bagas begitu menyesakkan karena status pernikahan Anya. Sekarang, Anya berusaha mati-matian menjaga pertahanannya agar tidak runtuh.
View More[Puas sekali kemarin siang di hotel, Mas. Lembut banget kamu kalau lagi sama aku. Sampai ketemu di Surabaya minggu depan ya, Sayang.]
Anya kesulitan napas setelah membaca pesan itu.
Dadanya sesak luar biasa, jantungnya berdegup liar, dan pandangannya kabur tertutup air mata yang mulai menggenang.
Prak!
Ponsel milik Gusti, suaminya itu, terlepas dari genggaman Anya. Ponsel itu menghantam lantai dengan keras.
Anya masih terpaku di tepi ranjang, tangannya gemetar hebat. Kalimat singkat itu terasa seperti pisau yang menghujam tepat di jantungnya. Kepercayaan dalam pernikahan selama tiga tahun rasanya hilang seketika.
“Lembut…?” Anya membaca lagi pesan di ponsel itu. Ia sungguh tidak percaya.
Kata lembut dalam pesan itu terasa seperti ejekan yang paling kejam bagi Anya.
Di kamar ini, kelembutan sudah sirna. Anya menoleh ke arah sofa di sudut kamar, di mana gaun satin merah ketat miliknya masih berserakan tak beraturan.
Sebuah kostum yang wajib ia kenakan setiap kali Gusti menuntaskan keinginannya. Gaun itu begitu sempit hingga setiap tarikan napas Anya saat memakainya terasa seperti perjuangan.
Di pinggir ranjang, sepasang sepatu hak tinggi runcing dua belas sentimeter tergeletak begitu saja. Sepatu itu telah menyiksa kaki Anya selama berjam-jam, membuat betisnya tegang dan tumitnya lecet berdarah karena Gusti memaksanya berdiri mematung hanya untuk memuaskan pandangannya.
Anya teringat kebiasaan-kebiasaan Gusti yang menyiksanya.
Gusti tidak membiarkan Anya menikmati permainan apapun. Pria itu hanya menyiksanya, mulai dari caranya memandang maupun memperlakukannya.
Gusti memperlakukan Anya seolah tanpa cinta yang mengikat. Semakin Anya terlihat tersiksa, semakin Gusti terlihat puas.
Kontras itu sungguh menyiksa. Kepada wanita asing dalam pesan itu, Gusti nyatanya bisa bersikap lembut. Sementara kepada Anya, Gusti hanya ingin menunjukkan kekuasaan semata!
"Cantik sekali. Tetap seperti itu, jangan rusak pemandangan ini dengan wajah manjamu," Anya mengingat-ingat ucapan Gusti dingin saat itu, bahkan ketika ia melihat tumit Anya mulai bergetar karena kelelahan.
Setelah puas memandang, barulah Gusti melampiaskan hasratnya. Ia menarik Anya ke atas tempat tidur dengan kasar, seolah-olah istrinya hanyalah pelampiasan atas egonya.
Tidak ada kelembutan atau kata-kata manis. Hanya ada kekuasaan yang meninggalkan rasa perih, baik di kulit maupun di batin Anya.
Suara deru mobil di halaman bawah seketika membuyarkan lamunan Anya. Detak jantungnya semakin kencang. Suami yang suka menyiksanya itu sudah pulang kerja.
Dengan gerakan panik, Anya memungut ponsel itu dan mengembalikannya ke atas nakas, mencoba menyusun posisinya agar terlihat tak tersentuh. Ia segera berdiri kembali.
Pintu kamar terbuka perlahan. Gusti melangkah masuk dengan aura penguasanya yang langsung memenuhi ruangan. Ia mulai melonggarkan dasinya, namun matanya yang tajam segera tertuju pada Anya yang berdiri kaku di samping ranjang.
"Belum istirahat?" tanya Gusti dengan suara baritonnya yang tenang namun menuntut.
"Belum, Mas. Aku menunggumu," jawab Anya sekuat mungkin, mencoba agar suaranya tidak bergetar.
Gusti berjalan mendekat, aroma maskulin yang dingin seketika mengepung Anya. Pria itu berdiri tepat di depannya, menatap ponsel di atas nakas dengan dahi sedikit berkerut, sebelum beralih menatap wajah Anya yang pucat.
"Kenapa ponselku berada di sana?" tanya Gusti, nadanya mulai menyelidik.
"Tadi, ada notifikasi yang masuk terus-menerus. Aku takut ada urusan mendesak," bohong Anya, menunduk tak berani menatap mata predator itu.
Gusti melangkah maju, menjangkau dagu Anya dan mengangkatnya perlahan dengan tekanan yang sudah sangat familiar di kulit Anya. Tekanan yang menyakitkan.
"Ingat, Anya. Aku tidak suka milikku disentuh tanpa izin," bisik Gusti lembut, namun suaranya justru terdengar mengancam bagi Anya. Anya hanya bisa mengangguk pelan.Gusti melepaskan dagu Anya, lalu mengambil ponselnya. Sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya setelah melihat layar.
“Memangnya ada pesan apa, Mas?” tanya Anya, berpura-pura. Ia berusaha meyakinkan Gusti.
"Ini hanya urusan pekerjaan yang membosankan. Tidak perlu kamu pikirkan." Gusti melempar ponselnya ke atas kasur, lalu mulai membuka kancing kemejanya.
"Bersiaplah. Aku sedang ingin merayakan keberhasilan proyek hari ini bersamamu, gaunnya ganti dengan yang baru dan jangan lupa sepatunya!" pinta Gusti dingin.
“Tapi, Mas …,” jawab Anya. Anya melirik tubuhnya sendiri. Nyeri di kaki bekas permainan semalam pun belum kering.
“Jangan merusak gairahku!” Gusti menatap tajam.
Dengan rasa sakit, Anya bangkit berganti pakaian dan memakai sepatu yang sangat menyiksanya.
"Tetaplah memakai gaun dan sepatu itu, Anya. Aku ingin memilikimu sepenuhnya," ucap Gusti tanpa peduli pada kaki Anya yang sudah gemetar hebat menahan nyeri.
Anya hanya bisa memejamkan mata, menahan air mata yang mendesak keluar.
Saat Gusti mulai mendekat dan menarik pinggangnya dengan kasar, sebuah getaran kembali terdengar dari ponsel yang tergeletak di atas kasur. Sebuah pesan baru masuk, dan layar ponsel menghadap tepat ke arah Anya.
[Sayang, kamu sudah sampai rumah?Aku masih merindukan wangimu yang tertinggal di sini.]
Anya mematung.
Di tengah rasa sakit di kakinya yang tak tertahankan dan sesak napas akibat gaun ketat, ia mencium aroma parfum asing yang sangat manis di kerah kemeja Gusti saat pria itu memaksa kepalanya bersandar di bahunya.
Itu jelas bukan parfum miliknya ataupun Gusti.
"Kenapa diam, Anya?" bisik Gusti di telinganya, suaranya dingin.
Udara pagi yang dingin menyusup masuk melalui celah ventilasi, membawa aroma tanah basah setelah embun semalam. Anya sudah terbangun sejak fajar menyingsing. Meski tubuhnya terasa kaku dan perih akibat perlakuan kasar Gusti sebelum keberangkatannya. Dengan gerakan perlahan, Anya menyiapkan segala keperluan suaminya yang akan bertolak ke Surabaya.Di lantai bawah, suasana tampak sibuk namun sunyi. Bi Sarmi sudah rapi dengan tas jinjingnya. Matanya sembap karena mencemaskan kondisi ibunya yang kritis."Non, Bibi pamit ya. Hati-hati di rumah," bisik Bi Sarmi saat Anya membantunya membawakan tas ke teras."Bibi juga hati-hati. Kabari Anya kalau sudah sampai di rumah sakit ya, Bi," Anya mengangguk haru.Sesuai rencana, sopir pribadi keluarga mengantar Bi Sarmi ke stasiun kereta api terlebih dahulu. Tak lama kemudian, sopir itu kembali untuk menjemput Gusti dan Anya menuju Bandara Soekarno-Hatta.***Perjalanan menuju bandara terasa sangat menyesakkan. Gusti duduk di samping Anya dengan waj
Kamar yang luas itu terasa semakin mencekam. Anya melangkah dengan kaki yang gemetar menuju lemari besar di sudut ruangan. Jemarinya yang dingin menyentuh kain sutra merah menyala. Gaun yang dibenci sekaligus menakutkan. Dengan napas yang sesak, ia menanggalkan pakaian santainya dan mengenakan gaun tipis yang membalut tubuhnya dengan sangat ketat. Tidak lupa, ia memaksakan kakinya masuk ke dalam sepatu hak tinggi berwarna senada.Anya menatap pantulannya di cermin. Ia tampak seperti mawar yang dipaksa mekar di tengah badai. Merah. Warna yang seharusnya melambangkan gairah, kini baginya hanya melambangkan luka yang menganga.Ceklek.Pintu terbuka. Gusti melangkah masuk dengan santai. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah gelas kristal berisi wiski cair berwarna amber yang berkilauan tertimpa lampu kamar. Ia tidak langsung mendekat ke ranjang, melainkan berjalan menuju sofa kulit di seberang tempat tidur."Berdiri di depanku, Anya," perintahnya dingin.Anya melangkah ragu, suara hak se
"Ada apa lagi, Bi? Saya sedang pusing, besok pagi-pagi sekali saya harus berangkat ke Surabaya," sentak Gusti, suaranya rendah namun penuh penekanan yang mengancam."Anu, Tuan, Bibi baru saja mendapat kabar dari kampung. Si Mbok masuk rumah sakit di Surabaya. Kondisinya kritis, Tuan. Bibi mohon izin untuk pulang kampung malam ini juga." Bi Sarmi menunduk dalam, meremas ujung celemeknya dengan tangan yang gemetar hebat. Menunggu jawab Tuannya.Suasana di ruang tamu seketika membeku. Gusti terdiam mematung, matanya membelalak menatap asisten rumah tangga seniornya itu. Bukannya rasa empati yang muncul, wajah Gusti justru memerah padam karena amarah yang tertahan."Pulang ke Surabya?!" suara Gusti meninggi, membuat Anya yang mengintip dari balik pilar lantai dua tersentak. "Besok saya berangkat ke Surabaya untuk urusan kantor! Kalau bibi pergi sekarang, siapa yang menjaga Anya? Dia baru saja keluar dari rumah sakit, masih lemas!""Mohon maaf, Tuan, tapi ini Ibu kandung Bibi," isak Bi Sar
"Cari siapa, Bu?" tanya Bi Sarmi dengan nada ragu."Apa Gusti ada? Katakan padanya, ini Devy. Dia pasti ingat," jawab orang itu dengan nada suara tinggi yang penuh percaya diri.Anya mencengkeram pegangan tangga. Devy? Nama itu asing, namun nada bicaranya menunjukkan kedekatan yang tidak biasa. Bi Sarmi segera berjalan menuju ruang kerja Gusti. Tak lama kemudian, pintu di bawah sana berderit terbuka. Gusti muncul dengan wajah yang awalnya tegang. Mungkin mengira Maura yang nekat datang. Namun ekspresinya berubah menjadi terkejut saat melihat siapa yang berdiri di ruang tamunya."Tante Devy?" suara Gusti terdengar heran sekaligus segan. "Kapan Tante kembali ke Indonesia?"Anya menajamkan pendengarannya. Tante? Jadi wanita ini adalah bagian dari masa lalu keluarga besar Gusti, atau mungkin teman dekat orang tua Gusti."Baru beberapa hari, Gusti. Jakarta sudah banyak berubah, ya?" Devy tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat dibuat-buat. "Tante langsung terpikir untuk mencarimu.












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.