Paman, Bawa Aku Pergi

Paman, Bawa Aku Pergi

last updateLast Updated : 2026-02-10
By:  BungaUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
6Chapters
5views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Anya seperti terjebak dalam pernikahan yang dingin. Suaminya memperlakukan Anya layaknya sebuah barang, begitu kasar dan tidak ada cinta. Tanpa disangka, kehangatan itu justru Anya dapat dari Bagas, paman dari suami sahnya. Tetapi rasa kasih sayang yang sangat dalam dari Bagas begitu menyesakkan karena status pernikahan Anya. Sekarang, Anya berusaha mati-matian menjaga pertahanannya agar tidak runtuh.

View More

Chapter 1

1. Pesan Tak Diundang

[Puas sekali kemarin siang di hotel, Mas. Lembut banget kamu kalau lagi sama aku. Sampai ketemu di Surabaya minggu depan ya, Sayang.]

Anya kesulitan napas setelah membaca pesan itu. 

Dadanya sesak luar biasa, jantungnya berdegup liar, dan pandangannya kabur tertutup air mata yang mulai menggenang. 

Prak!

Ponsel milik Gusti, suaminya itu, terlepas dari genggaman Anya. Ponsel itu menghantam lantai dengan keras.

Anya masih terpaku di tepi ranjang, tangannya gemetar hebat. Kalimat singkat itu terasa seperti pisau yang menghujam tepat di jantungnya. Kepercayaan dalam pernikahan selama tiga tahun rasanya hilang seketika. 

“Lembut…?” Anya membaca lagi pesan di ponsel itu. Ia sungguh tidak percaya. 

Kata lembut dalam pesan itu terasa seperti ejekan yang paling kejam bagi Anya. 

Di kamar ini, kelembutan sudah sirna. Anya menoleh ke arah sofa di sudut kamar, di mana gaun satin merah ketat miliknya masih berserakan tak beraturan. 

Sebuah kostum yang wajib ia kenakan setiap kali Gusti menuntaskan keinginannya. Gaun itu begitu sempit hingga setiap tarikan napas Anya saat memakainya terasa seperti perjuangan.

Di pinggir ranjang, sepasang sepatu hak tinggi runcing dua belas sentimeter tergeletak begitu saja. Sepatu itu telah menyiksa kaki Anya selama berjam-jam, membuat betisnya tegang dan tumitnya lecet berdarah karena Gusti memaksanya berdiri mematung hanya untuk memuaskan pandangannya.

Anya teringat kebiasaan-kebiasaan Gusti yang menyiksanya.

Gusti tidak membiarkan Anya menikmati permainan apapun. Pria itu hanya menyiksanya, mulai dari caranya memandang maupun memperlakukannya.

Gusti memperlakukan Anya seolah tanpa cinta yang mengikat. Semakin Anya terlihat tersiksa, semakin Gusti terlihat puas.

Kontras itu sungguh menyiksa. Kepada wanita asing dalam pesan itu, Gusti nyatanya bisa bersikap lembut. Sementara kepada Anya, Gusti hanya ingin menunjukkan kekuasaan semata!

"Cantik sekali. Tetap seperti itu, jangan rusak pemandangan ini dengan wajah manjamu," Anya mengingat-ingat ucapan Gusti dingin saat itu, bahkan ketika ia melihat tumit Anya mulai bergetar karena kelelahan.

Setelah puas memandang, barulah Gusti melampiaskan hasratnya. Ia menarik Anya ke atas tempat tidur dengan kasar, seolah-olah istrinya hanyalah pelampiasan atas egonya. 

Tidak ada kelembutan atau kata-kata manis. Hanya ada kekuasaan yang meninggalkan rasa perih, baik di kulit maupun di batin Anya.

Suara deru mobil di halaman bawah seketika membuyarkan lamunan Anya. Detak jantungnya semakin kencang. Suami yang suka menyiksanya itu sudah pulang kerja.

Dengan gerakan panik, Anya memungut ponsel itu dan mengembalikannya ke atas nakas, mencoba menyusun posisinya agar terlihat tak tersentuh. Ia segera berdiri kembali.

Pintu kamar terbuka perlahan. Gusti melangkah masuk dengan aura penguasanya yang langsung memenuhi ruangan. Ia mulai melonggarkan dasinya, namun matanya yang tajam segera tertuju pada Anya yang berdiri kaku di samping ranjang.

"Belum istirahat?" tanya Gusti dengan suara baritonnya yang tenang namun menuntut.

"Belum, Mas. Aku menunggumu," jawab Anya sekuat mungkin, mencoba agar suaranya tidak bergetar.

Gusti berjalan mendekat, aroma maskulin yang dingin seketika mengepung Anya. Pria itu berdiri tepat di depannya, menatap ponsel di atas nakas dengan dahi sedikit berkerut, sebelum beralih menatap wajah Anya yang pucat.

"Kenapa ponselku berada di sana?" tanya Gusti, nadanya mulai menyelidik.

"Tadi, ada notifikasi yang masuk terus-menerus. Aku takut ada urusan mendesak," bohong Anya, menunduk tak berani menatap mata predator itu.

Gusti melangkah maju, menjangkau dagu Anya dan mengangkatnya perlahan dengan tekanan yang sudah sangat familiar di kulit Anya. Tekanan yang menyakitkan.

"Ingat, Anya. Aku tidak suka milikku disentuh tanpa izin," bisik Gusti lembut, namun suaranya justru terdengar mengancam bagi Anya. Anya hanya bisa mengangguk pelan.

Gusti melepaskan dagu Anya, lalu mengambil ponselnya. Sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya setelah melihat layar.

“Memangnya ada pesan apa, Mas?” tanya Anya, berpura-pura. Ia berusaha meyakinkan Gusti.

"Ini hanya urusan pekerjaan yang membosankan. Tidak perlu kamu pikirkan." Gusti melempar ponselnya ke atas kasur, lalu mulai membuka kancing kemejanya.

"Bersiaplah. Aku sedang ingin merayakan keberhasilan proyek hari ini bersamamu, gaunnya ganti dengan yang baru dan jangan lupa sepatunya!" pinta Gusti dingin.

“Tapi, Mas …,” jawab Anya. Anya melirik tubuhnya sendiri. Nyeri di kaki bekas permainan semalam pun belum kering. 

“Jangan merusak gairahku!” Gusti menatap tajam.

Dengan rasa sakit, Anya bangkit berganti pakaian dan memakai sepatu yang sangat menyiksanya.

"Tetaplah memakai gaun dan sepatu itu, Anya. Aku ingin memilikimu sepenuhnya," ucap Gusti tanpa peduli pada kaki Anya yang sudah gemetar hebat menahan nyeri.

Anya hanya bisa memejamkan mata, menahan air mata yang mendesak keluar. 

Saat Gusti mulai mendekat dan menarik pinggangnya dengan kasar, sebuah getaran kembali terdengar dari ponsel yang tergeletak di atas kasur. Sebuah pesan baru masuk, dan layar ponsel menghadap tepat ke arah Anya.

[Sayang, kamu sudah sampai rumah?Aku masih merindukan wangimu yang tertinggal di sini.]

Anya mematung. 

Di tengah rasa sakit di kakinya yang tak tertahankan dan sesak napas akibat gaun ketat, ia mencium aroma parfum asing yang sangat manis di kerah kemeja Gusti saat pria itu memaksa kepalanya bersandar di bahunya.

Itu jelas bukan parfum miliknya ataupun Gusti. 

"Kenapa diam, Anya?" bisik Gusti di telinganya, suaranya dingin.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
6 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status