로그인“SIALAN!”Suara bentakan Lucas menggema keras di ruang kerja hingga membuat seluruh orang di dalamnya menegang. Tangannya menghantam meja begitu keras sampai gelas kaca di atasnya jatuh pecah ke lantai.Rekaman CCTV masih menyala di layar besar di depan ruangan. Terlihat jelas bagaimana Alice keluar melalui pintu belakang rumah dengan tudung menutupi kepalanya, sementara dua penjaga sengaja mengalihkan perhatian kamera patroli agar wanita itu bisa pergi tanpa dicurigai. Rahang Lucas mengeras melihat adegan itu berulang kali.“Apa kalian semua sudah kehilangan akal?” suaranya terdengar rendah namun jauh lebih menakutkan dibanding bentakan sebelumnya.Kelima penjaga itu langsung menundukkan kepala semakin dalam tanpa berani sedikit pun menatap Lucas. Dalam hati mereka benar-benar menyesali apa yang sudah mereka lakukan. Jika waktu dapat diulang lagi mereka tidak akan menerima uang dari Alice.Lucas memalingkan wajah sambil mengusap kasar rahangnya. Dadanya naik turun menahan emosi yan
"Apa maksudmu Alice tidak berada di kamarnya?" seru Lucas terlihat panik saat Tuan Watson menghubunginya pagi-pagi."Apa maksudmu Alice tidak berada di kamarnya?" seru Lucas terlihat panik saat Tuan Watson menghubunginya pagi-pagi."Maafkan saya, Tuan Muda," balas Tuan Watson dengan kepala tertunduk merasa bersalah, "Beberapa hari ini Nona Payne mengurung diri dalam kamarnya, namun saat pelayan mengantarkan sarapan pagi tadi dia sudah tidak ada di sana,"Untuk sesaat pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk. “Penjaga di luar?”“Mereka tidak melihat Nona Payne keluar, Tuan.” jawab Tuan Watson cepat.Hal itu justru membuat wajah Lucas semakin buruk. Jika Alice benar-benar pergi diam-diam tanpa diketahui siapa pun, berarti wanita itu memang sudah merencanakannya sejak awal.“Atau...” perkataan Lucas menggantung.Pikiran Lucas dipenuhi dengan ide-ide paling buruk karena Alice juga pernah melarikan diri sebelumnya. Namun yang membuatnya heran adalah kenapa penjaga-penjaga rumahnya ta
Lucas tidak mengatakan apa pun setelah apa yang dikatakan Elton. Ingatan-ingatan bersama dengan Allison beberapa waktu ini silih berganti dalam pikirannya. Awalnya dia sama sekali tidak menganggap Allison berarti, namun entah mengapa perlahan dia merasakan sesuatu yang berbeda. Rasa kesal itu perlahan berubah menjadi perhatian kecil yang bahkan tidak disadari Lucas sendiri. Dia mulai memikirkan keadaan Allison, mulai terbiasa dengan keberadaan wanita itu. Dan tanpa sadar mulai merasa nyaman dengan keributan yang selalu Allison ciptakan di sekitarnya. Lucas bahkan menyadari satu hal yang aneh. Semakin Allison memberontak dan melawannya, semakin dia merasa tertantang untuk menghadapi tingkah wanita itu. Seolah untuk pertama kalinya ada seseorang yang mampu membuatnya bertindak di luar kendali dan kebiasaannya sendiri. Allison membuatnya berubah sedikit demi sedikit tanpa dia sadari. Hal itu terasa begitu asing bagi Lucas. “Aku tidak ingin dia terluka,” ucap Lucas lirih. Nada suarany
“Apa kamu memikirkan Alice? Apa kamu ingin bertemu dengannya?” tanya Allison tiba-tiba saat melihat Noah tampak jauh lebih lesu beberapa hari terakhir. Noah yang sedang diam menatap keluar jendela langsung menoleh ke arah Allison dengan raut bingung, seolah tidak menyangka Allison akan menanyakan hal itu. “Apa?” tanya Noah pelan ingin kembali memastikan apa yang baru dia dengar. Allison menatap Noah beberapa detik sebelum menghela napas kecil. “Kamu terlihat murung sejak beberapa hari lalu. Aku pikir mungkin kamu mengkhawatirkan Alice.” Noah terdiam untuk sesaat wajahnya terlihat kaku sebelum akhirnya dia memalingkan pandangan lagi. Sikap itu justru membuat Allison semakin yakin dugaannya tidak sepenuhnya salah."Aku tahu kamu merindukannya, tapi sekarang dia sudah bersama dengan Lucas," kata Allison mencoba untuk berbicara santai dengan Noah, "Dan aku pikir kamu harus merelakan mereka berdua bahagia,"“Kamu sendiri, apa kamu bisa melihat Lucas dan Alice bersama?” balas Noah sambi
Dahi Allison dan James langsung berkerut bersamaan setelah mendengar perkataan Noah. Keduanya saling melirik bingung karena ucapan Noah tadi terdenga sangat tidak biasa, terlebih lagi Noah mengatakannya dengan wajah seperti itu.James langsung mendecakkan lidah kecil. “Berarti biasanya kamu belum cukup menyebalkan?”Noah tersenyum samar kecil mendengar itu, senyuman tipis yang terlihat lelah. Namun cukup membuat suasana sedikit lebih ringan, Allison ikut tersenyum kecil meski begitu perasaan tidak nyaman di hatinya tetap belum menghilang.Suasana canggung di antara mereka perlahan berakhir saat beberapa pengunjung mulai berdatangan ke kafe. Suara pintu terbuka, dentingan kecil lonceng di atasnya, serta percakapan para pelanggan perlahan memenuhi ruangan.James langsung kembali sibuk membantu di meja kasir. Sementara Allison mencoba memusatkan pikirannya pada pekerjaan seperti biasa. Namun meski suasana kafe kembali ramai, tatapan Allison masih sesekali mengarah pada Noah.Pria itu dud
“Apa itu perintah Lucas? Ada apa dengan dia?” Alice mulai menghela napas kesal. “Dia bahkan tidak menjawab teleponku sejak tadi pagi.”Tatapan Tuan Watson sedikit berubah rumit sesaat sebelum kembali normal karena sebenarnya dia tahu alasan Lucas tidak menghubungi Alice. Dan alasan itu bernama Allison. Namun tentu saja Tuan Watson tidak mungkin mengatakan hal tersebut.“Keadaan sedang tidak aman di luar,” jawab Tuan Watson hati-hati. “Untuk sementara lebih baik anda tetap berada di mansion.”Alice menyilangkan tangan di depan dada. “Tidak aman?” ulang Alice tajam. “Apa ini ada hubungannya dengan organisasi Lucas?”Tuan Watson tidak menjawab dan diamnya justru membuat Alice semakin curiga. Wanita itu memperhatikan suasana mansion beberapa detik. Baru sekarang dia menyadari jumlah pengawal di sekitar mansion jauh lebih banyak dibanding biasanya.Beberapa pria bersenjata bahkan berjaga di lorong luar dengan wajah serius. Suasana rumah itu terasa tegang.“Ada apa sebenarnya?” tanya Alice







