เข้าสู่ระบบRama, seorang pria yang sudah menikah dan berprofesi sebagai mandor, tanpa sengaja jatuh hati pada seorang sales mobil yang bernama Elma. Cerita ini dilatar belakangi dengan konsep pernikahan open married.
ดูเพิ่มเติมRama menjadi seorang mandor di usia yang tergolong muda, baru tiga puluh dua tahun. Di rumahnya, ada Tika, istri berusia dua puluh delapan tahun yang telah menemaninya selama empat tahun terakhir. Mereka pun telah dikaruniai seorang anak laki-laki. Sekilas, hidup Rama tampak sempurna; pekerjaan mapan, istri cantik, dan kehadiran buah hati yang tak perlu menunggu lama.
Namun, kebahagiaan itu hanya nampak di permukaan. Di baliknya, riak-riak polemik rumah tangga terus menghantam. Konflik kecil antara Tika dan orang tua Rama sering kali membuat pria itu terjepit di tengah-tengah. Ia terus dipaksa berbagi peran: menjadi anak yang berbakti sekaligus suami yang melindungi. Lama-kelamaan, Rama berubah menjadi pribadi yang tertutup. Setelah seharian lelah memimpin proyek, ia masih harus memutar otak untuk mencairkan suasana yang membeku di rumah. Pekerjaannya sebagai mandor juga menuntutnya untuk sering berada di luar kota. Meski begitu, sebulan sekali ia selalu menyempatkan pulang. Bukan hanya untuk melepas rindu pada anak, tapi juga meminta "hak batin" sebagai suami. Sayangnya, keinginan itu tak selalu berbalas. Alasan lelah, anak yang belum tidur, atau datang bulan sudah menjadi makanan sehari-hari bagi telinganya. Terkadang, Rama kembali ke kota tempatnya bekerja dengan dada yang masih sesak, tanpa sempat menyentuh istrinya sama sekali. Tanpa Tika sadari, penolakan demi penolakan itu adalah bom waktu. Bagi pria dengan postur tinggi gagah dan dompet tebal seperti Rama, mencari hiburan di luar sana bukanlah hal sulit. Namun, ia selalu menepis pikiran kotor itu dan melampiaskan kehampaannya pada tumpukan pekerjaan. Tapi lelaki tetaplah lelaki; pertahanannya bisa goyah kapan saja. Semua bermula saat Rama mengajak para pekerjanya makan di sebuah restoran. Sifatnya yang hangat membuat anak buahnya betah bekerja di bawah komandonya. Saat mereka sedang bersantai setelah makan, seorang wanita cantik berseragam sales mobil ternama menghampiri meja mereka. Wanita itu awalnya mendekati Pak Ranto, salah satu pekerja senior. "Yang itu Mbak bosnya, saya mah cuma pekerja," celetuk Pak Ranto spontan sambil menunjuk ke arah Rama. Sambil menahan tawa karena salah sasaran, wanita itu pun bergeser mendekati Rama. "Selamat malam, Mas. Sebelumnya maaf mengganggu makannya. Boleh saya duduk di sini?" tanyanya sopan. Rama mendongak, lalu mengangguk kecil. "Oh iya, tidak apa-apa, Mbak." Wanita itu tersenyum manis, mencoba mencairkan suasana. "Maaf, dengan Mas siapa ya?" "Saya Rama," jawabnya singkat namun ramah. "Jadi begini Mas Rama, saya Elma, sales dari Auto Deal. Barangkali saya bisa bantu Mas Rama untuk kebutuhan mobilnya, bisa hubungi saya di sini," ujar Elma sembari menyodorkan selembar kartu nama. Tak lama kemudian, Pak Ranto dan pekerja lainnya bangkit dari kursi, memberikan ruang bagi sang atasan. "Pak Bos, kita nunggu di mobil saja ya, sekalian mau merokok dulu di luar," pamit Pak Ranto. "Oh iya Pak, duluan saja, nanti saya nyusul," sahut Rama. Kini tinggal mereka berdua. Elma kembali membuka percakapan, "Kalau boleh tahu, Mas Rama pakai mobil apa sekarang?" Rama terkekeh tipis. "Hehe, saya masih pakai mobil yang dua baris, Mbak." "Yaudah, ganti saja Mas ke yang tiga baris. Itu loh, anak buahnya Mas kan banyak," goda Elma sambil bercanda. "Nanti saya pikir-pikir lagi deh ya, Mbak," jawab Rama menutup pembicaraan dengan halus. Namun, Elma tidak menyerah begitu saja. "Oh iya, kalau saya yang minta kartu nama Mas, boleh tidak?" "Oh, boleh-boleh. Ini, Mbak," Rama menyerahkan kartu namanya tanpa berpikir panjang. Malam itu di mes, saat mata Rama baru saja akan terpejam, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari nomor baru masuk ke layar. *“Malam Mas, ini nomor aku, Elma. Save ya Mas.”* Rama menghela napas, lalu mengetik balasan singkat, *“Oh iya Mbak, saya save ya.”* Hari-hari berikutnya berlalu tanpa komunikasi yang berarti, hingga sebuah momen kegelisahan kembali menghampiri Rama. Tika kembali berseteru dengan mertuanya. Masalahnya sepele, namun cukup untuk membuat pikiran Rama keruh. Di tengah kepenatan itu, ia mengunggah sebuah cerita di media sosial tentang kegundahan hatinya. Elma, yang awalnya hanya berniat melakukan pendekatan promosi, ternyata memberikan perhatian lebih. Ia membalas unggahan Rama dengan kata-kata yang menyejukkan. *“Yang sabar ya Mas, aku tidak tahu permasalahan Mas apa. Yang jelas, Mas Rama perlu fokus bekerja. Ada orang-orang yang berpangku tangan sama Mas, coba lihat para pekerja Mas Rama. Sekali lagi, semangat ya Mas.”* Kata-kata itu terasa seperti air di padang pasir bagi Rama. Ia jarang sekali mendapatkan dukungan emosional seperti itu dari istrinya sendiri. *“Terima kasih ya Mbak, saya rasanya capek kalau dipendam sendiri. Mau cerita ke pekerja juga tidak mungkin,”* balas Rama jujur. *“Kalau Mas Rama mau cerita-cerita, tidak apa-apa sama aku saja Mas, jangan sungkan ya. Oh iya satu lagi, panggil Elma saja ya Mas jangan pakai Mbak. Kayak tua banget aku hehehe,”* balas Elma dengan nada menggoda. Rama tersenyum tipis di depan layar ponselnya. *“Oke deh Elma. Saya lanjut kerja dulu ya. Terima kasih sudah menyempatkan waktu buat membalas story saya.”* *“Sama-sama Mas, yang semangat ya kerjanya. Biar bisa ganti mobil baru hihi,”* tutup Elma. Seiring berjalannya waktu, kedekatan mereka semakin intens. Rama mulai terasa dingin kepada Tika. Sebaliknya, Tika pun menganggap sikap diam suaminya hanyalah bagian dari kesibukan kerja. Komunikasi mereka hanya sebatas menanyakan kabar anak, tanpa ada lagi kata rindu yang terucap. Dalam lamunannya, kini hadir sosok Elma sebagai penyegar. Namun, jauh di lubuk hatinya, Rama tahu ini salah. Dengan jemari ragu, ia mengirim pesan pada wanita itu. *“El, aku mau bicara sesuatu...”* *“Iya Mas? Eh, sudah tidak saya-saya-an lagi nih? Sekarang aku-akuan?”* balas Elma cepat dengan nada bercanda. *“Ah, sama saja. Jadi begini El, sebelumnya kamu sudah tahu kalau aku sudah menikah?”* Suasana di seberang sana sempat hening sejenak sebelum Elma membalas, *“Hmm belum sih, tapi memang sudah menebak ke sana. Memangnya kenapa Mas?”* *“Tidak apa-apa. Menurutmu kita komunikasi intens ini sebagai apa?”* tanya Rama, mencoba mencari ketegasan. *“Awalnya aku anggap Mas Rama sebagai calon pelanggan, makanya aku perlakukan Mas sebaik mungkin. Tapi tidak tahu kenapa, akhir-akhir ini aku merasanya beda,”* aku Elma. *“Beda bagaimana maksudnya, El?”* *“Ya, sekarang aku tahu status Mas Rama, dan rasanya sah kalau aku sebut ini perasaan yang terlarang... aku nyaman sama kamu, Mas.”* Deg. Jantung Rama berdegup kencang. *“Jujur, aku juga nyaman komunikasi sama kamu El, kamu bisa jadi tempat aku cerita. Tapi aku rasa ini salah, El.”* *“Hmm okay, aku bakal jauhin Mas Rama. Bahagia terus ya Mas sama istrinya,”* jawab Elma, seolah ingin menarik diri. Panik mulai menyergap Rama. Ia tidak ingin kehilangan perhatian itu. *“Bukan begitu El. Begini saja, kapan kita bisa bertemu?”* Namun, kali ini tidak ada balasan. Elma hanya membaca pesan itu, meninggalkan Rama dalam ketidakpastian yang menyiksa. ***Bersambung...***Tika telah sepenuhnya bertransformasi. Berminggu-minggu menghabiskan waktu di pusat kebugaran di bawah bimbingan Bimo, tubuhnya kini menjelma menjadi magnet bagi setiap pasang mata lelaki. Ia bukan lagi wanita yang bersembunyi di balik daster kusam; kini, Tika dengan penuh percaya diri mengekspos lekuk tubuhnya, baik melalui lensa kamera maupun saat melangkah keluar dengan pakaian yang membalut ketat fisiknya. Semua itu berkat Bimo, pria yang tidak hanya melatih fisiknya, tapi juga menanamkan benih keberanian di jiwanya.Di kejauhan, Rama mulai mengendus perubahan drastis sang istri. Kabar burung tentang kedekatan Tika dengan seorang pria asing pun sampai ke telinganya. Namun, kesombongan masih bertahta di hati Rama."Ah, aku yakin pria itu tidak akan bertahan lama. Keluhan-keluhannya yang membosankan pasti akan membuat pria mana pun muak," batin Rama, mencoba menenangkan egonya yang mulai terusik.Fokus Rama kini beralih sepenuhnya kepada Elma. Ia memutuskan untuk membawa hubungan me
Dunia baru Rama terasa begitu memabukkan, sementara di sudut lain, Tika justru merasa hidupnya semakin kosong dan hampa. Selama ini, Tika tak pernah menaruh curiga. Di matanya, Rama adalah sosok pria pekerja keras yang gigih mencari nafkah, sehingga ia selalu memaklumi kesibukan suaminya sebagai tuntutan profesi. Namun, Rama sadar betul bahwa ia telah mengabaikan istrinya. Belenggu asmara Elma terlalu kuat untuk ia lepaskan, hingga perlahan-lahan rasa sayang yang dulu ada untuk Tika mulai memudar. Kini, tak ada lagi telinga yang bersedia mendengar keluh kesah Tika. Bagi Rama, setiap kata yang keluar dari mulut istrinya hanyalah pengulangan masalah yang membosankan. Karena merasa tidak lagi didengar, Tika mulai mencari pelarian di media sosial. Ia sering mengunggah kutipan-kutipan galau sebagai bentuk pembenaran atas perasaannya. Namun, bukannya simpati, hal itu justru memicu amarah Rama. Bagi sang suami, urusan rumah tangga bukanlah konsumsi publik. "Umbar saja terus. Seolah kamu y
Rama telah tiba kembali di kota tempatnya bekerja. Langkahnya terasa lebih ringan, didorong oleh rasa tak sabar untuk segera menemui dambaan hatinya. Tanpa membuang waktu, ia segera menghubungi Elma, mengabarkan bahwa kerinduan yang ia pendam selama di rumah sudah mencapai puncaknya. Malam itu, Elma datang ke mes tempat Rama tinggal. Suasana mes masih cukup ramai oleh para pekerja, termasuk Pak Ranto yang langsung mengenali wajah cantik sales mobil yang pernah ia temui di restoran itu. Elma sempat mencoba menghubungi ponsel Rama, namun tak ada jawaban. Dengan sedikit keraguan, ia memberanikan diri masuk ke area utama di mana Pak Ranto dan pekerja lainnya tengah asyik bermain kartu. "Permisi, Pak..." sapa Elma sopan. Pak Ranto mendongak, matanya memicing sejenak sebelum tersenyum lebar. "Eh, ini Mbak yang waktu itu di restoran ya? Ada perlu apa ya, Mbak?" "Mas Ramanya ada, Pak?" tanya Elma, mencoba menutupi kegugupannya di tengah tatapan para pekerja laki-laki di sana. "Kebetulan
Berhari-hari Elma menghilang. Pesan Rama hanya berakhir pada tanda dibaca, dan panggilannya selalu berakhir dengan nada sibuk yang dingin. Rasa sesak di dada membuat Rama tidak bisa lagi berdiam diri. Ia akhirnya memutuskan untuk mendatangi langsung tempat kerja wanita itu. Sebuah *showroom* mobil ternama yang selalu terbuka untuk umum, tempat di mana Elma biasanya menghabiskan waktu sebagai garda terdepan penjualan. Kedatangan Rama disambut oleh seorang pria berseragam rapi, sang manajer *showroom*. "Selamat pagi, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" sapa sang manajer dengan ramah. "Saya ingin bertemu Elma. Elmanya ada?" tanya Rama langsung tanpa basa-basi. Manajer itu tersenyum simpul, menyimpulkan bahwa pria di depannya adalah calon pembeli potensial. "Oh, pelanggan Elma ya? Kebetulan Elma sedang tidak masuk hari ini, Pak. Biar saya bantu telepon ya?" Rama mengangguk singkat. Di depannya, sang manajer segera menghubungi Elma. Tak butuh waktu lama, panggilan itu diangkat. "Elma, ka












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.