Mag-log inTuan Hale sama sekali tidak berani melepaskan Allison. Baginya, Allison adalah satu-satunya tameng yang masih bisa melindunginya dari serangan Lucas. Tangannya tetap mencengkeram Allison dengan kuat, meski wajahnya mulai menunjukkan kegelisahan. Dia tahu satu langkah yang salah bisa membuat semuanya berakhir.Sementara itu, Regina masih terlihat panik. Situasi yang terjadi jauh berbeda dari apa yang dia bayangkan. Awalnya dia yakin Lucas akan datang dalam keadaan putus asa, memohon agar Allison dilepaskan. Dia tidak pernah menyangka pria itu justru datang dengan ketenangan yang membuat mereka terdesak."Ini tidak mungkin..." gumam Regina pelan.Dia menatap anak buah Lucas yang sudah menguasai hampir seluruh sudut gudang. Rencana mereka yang sebelumnya terlihat sempurna kini hancur dalam hitungan menit.Tuan Hale melirik Regina sekilas."Jangan hanya berdiri di sana!" bentak Tuan Hale. "Cari jalan keluar!"Regina tersentak, tetapi tidak langsung bergerak. Dia mulai menyadari bahwa mere
Lucas berjalan pelan penuh percaya diri ke arah gudang tempat Allison ditawan. Setiap langkahnya terlihat tenang, penuh percaya diri, seolah tidak ada satu pun hal yang mampu menggoyahkan dirinya. Namun di balik ketenangan itu, pikirannya hanya tertuju pada satu hal: menyelamatkan Allison dan bayi dalam kandungannya.Dia tahu Tuan Hale dan Regina pasti mengawasi setiap gerakannya. Karena itu, Lucas sengaja membuat dirinya terlihat mencolok, menarik perhatian mereka ke arah pintu depan agar timnya bisa masuk melalui pintu belakang tanpa diketahui."Tuan, kenapa McCarthy terlihat begitu santai?" tanya Regina dengan nada penasaran. Matanya terus mengikuti Lucas yang berjalan mendekat tanpa sedikit pun menunjukkan rasa takut.Tuan Hale menyipitkan mata. Ketenangan Lucas justru membuatnya merasa tidak nyaman."Bukankah sudah aku bilang? Lucas pasti akan menemukanku," jawab Allison sambil tersenyum lebar. Meski dalam keadaan terjebak, sorot matanya tetap penuh keyakinan. Dia bahkan sengaja
Regina dan Tuan Hale menyadari ada yang tidak beres dengan apa yang terjadi. Beberapa kali mereka memeriksa kamera pengawas yang mereka tempatkan di tempat-tempat persembunyian mereka dulu namun sama sekali tidak ada pergerakan."Periksa lagi sektor tujuh," perintah Regina."Sudah diperiksa tiga kali, Nona," jawab salah satu operator. "Tidak ada aktivitas.""Bagaimana dengan gudang di distrik timur?""Masih kosong."Regina mengatupkan rahangnya.Di sampingnya, Tuan Hale juga mulai kehilangan kesabaran. "Ini tidak masuk akal."Regina tidak menjawab.Tatapannya tetap terpaku pada deretan monitor yang menampilkan lokasi-lokasi yang selama ini pernah digunakan jaringan mereka."Apa mereka tidak tertipu dengan perangkap yang sudah kita siapkan?" tanya Regina terlihat sedikit khawatir."Kita sudah meninggalkan cukup banyak jejak," gumam Hale."Itu yang menggangguku," jawab Regina."Lucas terlalu pintar untuk hal-hal kecil seperti ini," sahut Allison dengan senyuman lebar mencoba untuk membu
Lucas tersenyum puas di dalam mobil saat menerima laporan dari orang-orang Tuan Voss. Pergerakan itu hanyalah pengalihan agar konsentrasi Regina dan Tuan Hale terbagi. Dia bukanlah orang yang baru hidup di dunia bawah. "Apa ada berita tentang keberadaan Nona Allison?" tanya Elton penasaran."Tidak," jawab Lucas tanpa mengalihkan pandangannya dari beberapa dokumen di depannya.Elton mengerutkan dahi. "Kalau begitu kenapa Anda terlihat begitu tenang?"Lucas menutup salah satu map dan meletakkannya di samping."Karena ketenangan mereka lebih berguna daripada kepanikan mereka.""Maksud anda?""Mereka sedang mempelajari pergerakanku dan Tuan Voss adalah bantuan paling besar saat ini."Elton terdiam sejenak sebelum mengangguk pelan."Dan mereka tidak menemukannya.""Tepat."Mobil terus melaju menembus jalanan malam yang lengang. Suasana di dalam mobil semakin hening dan tegang tanpa banyak percakapan. Elton menyetir mobil dengan konsentrasi penuh ke arah yang ditunjukkan Lucas sebelumnya.
"Kalian berdua terlihat begitu percaya diri setelah Lucas mengalahkan kalian berkali-kali," kata Allison mencoba untuk memancing emosi Regina dan Tuan Hale.Salah satu hal yang dipelajari Allison dari Lucas adalah jika seseorang kehilangan kendali diri maka mereka akan lebih mudah untuk terpengaruh. Dalam dunia mafia kendali diri adalah ilmu dasar yang harus dimiliki seorang pemimpin.Mereka akan lebih mudah melakukan kesalahan jika emosi mulai tak terkendali. Kesalahan sekecil apa pun bisa menjadi celah untuk melarikan diri.Senyum di wajah Regina perlahan memudar. Tatapannya yang semula santai berubah tajam menatap Allison."Berhati-hatilah dengan ucapanmu," kata Regina dingin."Kenapa? Aku hanya mengatakan kebenaran." Allison mengangkat dagunya. "Bukankah Lucas selalu berhasil menggagalkan rencana kalian? Jika tidak, aku tidak akan berada di sini sekarang."Tuan Hale mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras menahan amarah yang mulai muncul.Regina mengangkat satu tangan, memberi i
Tuan Voss duduk di depan Lucas dan Kakek Andrew dengan raut wajah penuh kemenangan. Sudah bertahun-tahun dia menunggu kesempatan seperti ini. Kesempatan melihat keluarga McCarthy datang kepadanya bukan sebagai lawan, melainkan sebagai pihak yang membutuhkan bantuan."Aku tidak pernah menyangka akan datang waktunya keluarga McCarthy meminta bantuanku," seru Tuan Voss sambil tertawa lebar.Tawa Tuan Voss memenuhi ruangan, namun baik Lucas maupun Kakek Andrew tidak menunjukkan reaksi apa pun. Dalam keadaan normal, sindiran seperti itu mungkin sudah cukup untuk memicu pertengkaran. Tetapi saat ini keadaan Allison jauh lebih penting daripada harga diri mereka."Aku akan melakukan apapun asalkan kamu membantuku menemukan cucu menantuku," balas Kakek Andrew tenang tanpa terpancing perkataan Tuan Voss."Kita akan memberikan projek apapun yang anda inginkan Tuan Voss," tambah Lucas tak kalah serius dari Kakek Andrew.Tidak ada keraguan dalam suara keduanya. Mereka tidak memberikan ruang negosi







