Mag-log inDuchess Aubrey semakin kehilangan perhatian suaminya, Duke Oliver, saat pujaan hati suaminya itu kembali. Dalam kesepiannya, Aubrey bertemu Edgar yang menyebalkan, tapi malah tak pernah mengabaikannya. Kebersamaan mereka yang awalnya tak sengaja dan karena terpaksa, semakin hari menimbulkan getaran yang tak terbendung. Sekalipun Aubrey tahu rasa baru di hatinya ini sangatlah terlarang, Aubrey tidak ingin melepaskannya. Karena hanya inilah cinta yang pernah dia rasakan. Tapi itu sebelum Aubrey menemukan jati diri Edgar yang sebenarnya. Ketika jati diri Edgar terkuak, Aubrey menyadari cinta saja tidak cukup untuk bertahan. Lalu, mampukah Aubrey bertahan? Atau melupakan cinta yang sulit itu demi hidup tenang yang datar?
view more“Zeline sudah kembali. Sebentar lagi aku akan menemaninya melihat lokasi yang dia inginkan untuk membangun sebuah butik.”
Ucapan suaminya, Oliver Osbourne sebagai seorang Duke, menghentikan segala pergerakan Aubrey. Bahkan napasnya pun terhenti sejenak.
“Zeline?” ulang Aubrey seakan tak percaya dengan apa yang didengarnya. Begitu mudah Oliver menyebut nama itu di depannya.
Zelina adalah putri dari kepala pelayan di rumah keluarga Osbourne, yang tumbuh besar bersama dan menjadi teman dekat Oliver.
Satu tahun lalu, Oliver nyaris tertimpa batang pohon besar tapi Zeline menyelamatkan Oliver dengan mendorong Oliver sehingga kaki Zeline menderita cedera parah dan membuatnya tak bisa berjalan.
Sebagai ucapan rasa terima kasih, orang tua Oliver membiayai pengobatan Zeline serta menikahkan Zeline dengan seorang pria yang baik dan mapan dan itu berarti Zeline pergi ke wilayah negara lain untuk memulai kehidupan barunya.
Semua itu terjadi satu tahun lalu, beberapa minggu sebelum orang tua Oliver mendatangi kediaman Aubrey dan melamarnya untuk menikah dengan Oliver.
Aubrey menerimanya karena dia memang sudah lama menyukai Oliver. Karena siapa yang tidak? Nama Oliver terkenal di kalangan nona bangsawan.
Ini membuat Aubrey menerima pernikahannya meskipun selama satu tahun ini, cintanya belum terbalas sedikit pun.
Namun ... apa tadi kata Oliver?
“Membangun sebuah butik?” tanya Aubrey lagi yang langsung mendapatkan tatapan tajam nan dingin.
Wow! Luar biasa!
Seorang gadis jelata yang telah bersuami, meminta suaminya yang seorang Duke, untuk bertemu dan menemaninya melihat lokasi butik?
Dan paling luar biasanya lagi, sudah dia tidak diajak, dia malah mendapat pelototan marah dari Oliver!
“Dia sudah sembuh,” ujar Oliver lagi seakan menjawab pertanyaan yang berterbangan di benak Aubrey, meski belum terucap.
Aubrey terperangah.
“Sudah bisa berjalan?” tanya Aubrey masih mencerna apa sebenarnya maksud Oliver.
Bagaimana mungkin Zeline yang satu tahun lalu terluka dan lumpuh, kini sudah sembuh?
Tatapan dingin kembali menusuknya sebelum Oliver menjawabnya lagi, kali ini dengan desisan yang penuh penekanan. “Dia berobat dan menjalani terapi. Sudah pasti sembuh. Apa kau mengharapkannya tidak pernah sembuh? Dan oh ya ... dia juga sudah bercerai.”
Aubrey seperti disengat lebah.
Zeline, yang secara halus disingkirkan orang tua Oliver agar tidak terus membuat hati Oliver terpaku padanya, kini kembali dengan tubuh yang sudah normal kembali dan status yang kembali single!
Lucunya ... tidak, ini tidak lucu tapi miris. Mirisnya, di hati Oliver kepergian Zeline satu tahun lalu membuahkan penyesalan mendalam baginya karena tak mampu memperjuangkan Zeline.
Sekarang Zeline kembali, Oliver melihatnya sebagai kesempatan baginya untuk sungguh-sungguh memperjuangkannya kali ini.
Segala tenaga Aubrey seakan menguap menyisakan tubuhnya yang terasa tak berdaya. Tapi dia masih menyahuti Oliver, “Tapi kau masih terikat pernikahan denganku!”
Sudah bisa ditebak Aubrey, Oliver marah. Dia bangkit dan memukul meja.
Brak!
“Apa maksudmu? Kau menuduhku selingkuh dengannya? Jangan berpikiran picik!”
“Aku tidak menuduh! Aku hanya mengingatkan statusmu. Dia sudah single, tapi kau tidak single, Oliver!”
Oliver semakin tersinggung. “Kau pikir aku akan serendah dirimu, hanya melihat teman lama kembali dalam keadaan single lalu langsung selingkuh? Aku tidak serendah pikiranmu!"
Dengan kedua mata melotot lebar seakan ingin keluar untuk menerkamnya, Oliver berkata lagi, "Atau ... kau sebenarnya begitu ingin aku berselingkuh sehingga terus menuduhku agar aku pada akhirnya melakukan hal yang terus-terusan kau tuduhkan ini?”
Aubrey tak habis pikir mendengar argumen Oliver.
“Bagaimana mungkin bisa seperti itu? Tidak ada seorang istri pun yang mengharapkan suaminya selingkuh!”
“Kalau tidak mengharapkan maka ...” Oliver tiba-tiba saja sudah di hadapan Aubrey lalu mencekal rahangnya.
Sakit ....!
Tapi Aubrey menahannya. Dia tak mau dirinya lagi-lagi kalah hanya karena disakiti secara fisik.
Aubrey menahan cengkeraman tangan Oliver sampai air matanya merembes di pelupuk mata.
Oliver berbisik dalam desisan mengerikan. “Kalau tidak mengharapkan maka jangan membahas itu terus menerus. Sekali lagi aku mendengarmu menuduhku seperti tadi, aku akan menganggap kau mengharapkan hal seperti itu menjadi kenyataan!”
Oilver menghentak wajah Aubrey dengan rautnya yang penuh kebencian.
Selama satu tahun menjadi istri Oliver, Aubrey sadar bagi Oliver dirinya hanyalah sebuah simbol status sepadan yang dipaksakan orang tua padanya.
Karena Zeline tak sepadan untuk Oliver.
Namun, Zeline lah yang mengisi hati Oliver.
Satu tahun Aubrey berusaha mencuri hati Oliver, tapi ini yang didapatnya.
Menahan rasa sakit di rahangnya Aubrey membalas tatapan marah Oliver.
Namun, dia hanya mendapati punggung Oliver yang kini menjauh dengan cepat dan menghilang di balik pintu .
Sesak terasa melilit di hati Aubrey.
Butik ...
Apakah Oliver yang memodali butiknya? Ini sungguh tidak adil!
Sedangkan dirinya selama satu tahun menjadi istri Oliver, jangankan diajak melihat lokasi bisnis untuknya, Aubrey bahkan tak pernah bepergian berdua saja dengan Oliver!
Setiap mendapatkan undangan pesta atau jamuan makan malam, Oliver tidak pernah mengajaknya. Dia bahkan tak merasa malu setiap orang-orang menanyakannya kenapa datang sendiri.
Oliver dengan santai akan menjawab bahwa Duchess Aubrey seorang wanita penyendiri yang sangat menikmati menghabiskan waktunya seorang diri, ketimbang berada di acara dengan banyak orang.
Setiap memikirkan ini, Aubrey merasa dadanya sesak dan begitu perih.
Air mata menggenang di pelupuk matanya karena sakit di rahangnya sudah merambat ke hati.
‘Aku juga bisa membuatmu marah, Oliver!’ gumam Aubrey yang entah mengapa tak bisa menahannya lagi kali ini.
Dia keluar dan menuju ke istal kuda. Dia melihat Velvet, kuda yang baru dibeli Oliver dengan harga sangat tinggi beberapa minggu lalu.
“Bawa keluar Velvet,” ujarnya pada penjaga istal.
“Nyonya mau menaikinya?” tanya penjaga istal dengan sedikit was-was.
“Iya.”
“Tapi Velvet kan masih dalam pelatihan. Dia belum sepenuhnya jinak, Nyonya.”
“Tidak apa. Aku bisa mengatasinya.”
Saat ini satu hal yang sangat tidak diinginkan Aubrey adalah mendengar penolakan atas permintaannya. Dia sengaja memakai Velvet karena Oliver sendiri belum menunggangi Velvet sama sekali.
Membayangkan betapa marahnya Oliver jika dia menunggangi Velvet untuk pertama kali, Aubrey merasa cukup puas.
Ketika penjaga istal mengeluarkan Velvet, Aubrey menaiki pungung kuda hitam legam itu.
Detik berikutnya, Velvet sudah melesat dan membawanya ke perbukitan hijau di belakang villa.
Terjangan Velvet melompati lahan demi lahan dengan begitu gesit. Awalnya itu semua membuat Aubrey merasakan pelampiasan.
Aubrey menikmati lonjakan Velvet yang membawa angin dingin menerpa wajahnya yang menahan perih dari hatinya.
Namun tiba-tiba … tetes hujan turun mengenai mata Velvet dan membuat kuda itu terkejut.
Velvet yang sedang meloncat tinggi tiba-tiba merontak kuat dan Aubrey terpental dari punggung kuda itu.
Tubuhnya melayang di udara lalu jatuh beberapa meter dari tempat Velvet melengking tadi. Aubrey sudah bersiap merasakan sakitnya tanah yang keras.
Tapi ternyata dia malah mendarat di sesuatu yang kokoh tapi tidak terasa menyakitkan di tubuhnya.
Mata keperakannya mencaritahu namun tatapannya malah beradu dengan sepasang mata yang tajam namun menyorot pekat dan dalam sedang memandanginya.
Aubrey yang seakan tersedot akan tatapan pekat dan dalam itu tanpa sadar menjelajah tubuh pria itu dengan seksama.
Wajahnya sangat jantan dengan mata yang bercekung dalam dan sorot yang tajam, hidung yang juga mancung, serta sedikit rambut tipis di garis rahangnya membuatnya tampak maskulin yang tak terbantahkan.
Pandangan Aubrey lalu menuruni kulit kecoklatan sarat sinar matahari yang mencetak jelas otot kokoh di baliknya.
Leher pria itu terlihat kokoh, liat, dan kencang, semakin menambah kemaskulinannya.
Lalu tatapannya semakin turun dan barulah Aubrey sadari bahwa pria itu ... bertelanjang dada!
Telapak tangannya dengan santai menempel di dada kokoh pria itu!
“Aargh! Siapa kau?” seru Aubrey sambil bangkit dari tubuh pria itu, membersihkan sisa-sisa pelukan pria tanpa pakaian itu dari gaunnya, lalu memelototi pria itu seakan-akan pria itulah yang jatuh lalu menindih tubuhnya.
“Nyonya, syukurlah Anda sudah kembali!”Aubrey baru saja mengembalikan Velvet ke kandangnya dan ia sendiri baru keluar dari sana untuk masuk ke rumah ketika Amy melihatnya dan langsung berseru memanggilnya.Pelayan pribadinya itu tampak lega tapi juga pucat di saat yang bersamaan.Mungkin karena langit sudah kemerahan dan sebentar lagi malam akan menyelimuti mereka tapi Aubrey baru pulang, maka Amy gugup.Tapi ternyata ada lebih dari itu. “Nyonya! Ayo cepat! Tuan sudah pulang!”Kini Aubrey sungguh terkejut. Jantungnya langsung berdetak kencang.“Apa dia menanyaimu ke mana aku?” tanyanya dengan nada panik meskipun sudah berusaha diredamnya. Langkahnya berubah terburu-buru hingga dia nyaris tersandung batu.Terlihat Amy menggeleng.“Tidak, Nyonya. Tuan tidak bertanya apa-apa. Tapi tetap saja, Anda lebih baik sudah berada di rumah. Apalagi Tuan meminta disajikan makan malam.”Kini Aubrey yang merasa lega sekaligus gugup menghadapi ini semua. Tapi di atas semua rasa itu, Aubrey benar-ben
Aubrey masih tak sepenuhnya paham apa yang terjadi.Ketika dia telah bernafas teratur, meski hatinya masih berusaha menetralkan kengeriannya tadi, Aubrey menangis dan mendapati jemari Edgar sudah merambat di pipinya.Edgar terlihat sangat menyesal.Aubrey jatuh iba dan ingin memberitahu Edgar bahwa dia baik-baik saja jadi tak perlu merasa bersalah.Tapi kata-kata itu tidak keluar. Yang ada malahan sekujur saraf wajahnya seperti berdesir ketika jemari Edgar mengelus pipinya, rahangnya, lalu menahan dagunya. Kehangatan jemari Edgar terasa mendebarkan. Debaran yang tak pernah didapatnya dari Oliver.Tak berapa lama ... wajah Edgar mendekat dan semakin dekat.Aubrey tahu apa yang akan dilakukan Edgar. Dan seharusnya dia memalingkan wajahnya.Namun, Aubrey malah seakan terbius pada Edgar. Dia membiarkan bibir Edgar menyentuh bibirnya, dengan kelembutan yang sangat hati-hati.Bagi Aubrey ciuman Edgar seperti sekuntum kelopak mawar yang halus, lembut, dan harum yang jatuh dan hinggap di bib
Aubrey berusaha untuk tidak memikirkan Velvet. Di rumah dia bersikap seperti biasanya. Hanya Amy dan penjaga istal yang tahu tentang Velvet yang belum kembali. Tapi Aubrey sudah meminta penjaga istal untuk tenang dan bahwa Velvet akan kembali dalam beberapa hari lagi.Jadi tidak perlu cemas dan memberitahukan hal ini pada Duke Oliver. Penjaga istal pun paham akan permintaan Aubrey.Beruntungnya, selama tiga hari ini Oliver selalu pulang larut malam. Entah apa yang dilakukannya di luaran. Apakah bersama Zeline?Aubrey tak mau memikirkannya. Sekalipun hatinya perih dan penuh tanya, tapi di situasi seperti ini perilaku Oliver yang jarang di rumah menjadi suatu keberuntungan bagi Aubrey.Sudah tiga hari ini, Aubrey pun sengaja berlambat-lambat keluar dari kamarnya. Jadi ketika dia menuju ruang makan untuk sarapan, Oliver selalu sudah selesai dan bahkan sudah masuk ke keretanya.Terlukanya Velvet memang membuat Aubrey jadi mensyukuri ketidakpedulian Oliver padanya.“Apa yang akan Nyonya la
Ditemani Edgar, Aubrey sudah berkeliling perbukitan, keluar masuk hutan, selama berjam-jam tapi tidak juga menemukan Velvet.Ia mulai lelah. Juga lapar.Rambut coklat keemasannya mulai terlepas sebagian dari tatanan rapinya tadi.Selain lelah fisik, dia juga semakin kalut.“Velvet ... di mana dia? Bagaimana aku bisa menemukannya di tempat seluas ini?” ratapnya dari atas punggung kudanya yang juga sudah tua.Kekhawatiran kentara jelas di wajahnya.Di sampingnya Edgar juga terlihat cemas. Matahari sudah tepat di tengah langit tapi mereka masih belum menemukan Edgar.“Ayo istirahat dulu. Kasihan juga kudamu. Kita kembali ke pondokku untuk istirahat,” ujar sambil memacu kudanya lagi mendahului Aubrey.Pondok Edgar tidak jauh dari tempat mereka dan tak butuh waktu lama mereka telah tiba.Setelah menyimpan kuda di kandang dan Edgar menyediakan makanan dan air minum untuk kuda-kuda itu, dia pun ikut masuk.Aubrey sudah duduk di kursi santai, menatap ke arah luar jendela, seperti kemarin.Yan












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.