LOGIN"Papa khawatir kalau dia harus menggugurkan kandungannya. Papa nggak ingin terjadi apa-apa padanya. Tapi bagaimana kelanjutan kuliahnya kalau dia mempertahankan kehamilannya," gumam Pak Fardhan pelan."Dulu saat hal yang sama terjadi pada Kimmy, Papa sama sekali tidak terlihat khawatir. Papa malah yang paling kencang menyuruh Kimmy menggugurkan kandungannya. Papa tidak peduli meski nyawa Kimmy taruhannya. Padahal yang ingin Papa buang itu adalah darah dagingku. Cucu Papa sendiri. Kenapa sekarang standarnya berubah setelah Salsa yang mengalami hal yang sama?"Pak Fardhan tersentak. Ia mengangkat wajahnya, menatap Arsel dengan sorot mata yang terluka. Namun lidahnya mendadak kelu. Ia ingin membela diri, ingin mengatakan bahwa situasinya berbeda. "Kenapa diam, Pa? Karena Kimmy anak tiri, jadi nyawanya tidak lebih berharga dari reputasi keluarga ini?""Papa sedang pusing. Jangan menambah beban Papa dengan mengungkit masalah itu. Papa melakukan itu pada Kimmy karena kamulah pelakunya. Nge
"Kalau saya setuju saja, Mas Arsel. Lagian melelahkan juga jika lebih lama begini. Saya kasihan sama Mas Arsel yang pontang-panting menempuh perjalanan jauh. Tapi bagaimana dengan Mbak Kimmy?" jawab Mbak Asih sambil menaruh secangkir teh panas di depan bosnya."Saya belum bicara dengan Kimmy.""Seharian kemarin Mbak Kimmy banyak melamunnya. Mungkin pas hari ulang tahunnya, Mas Arsel nggak nelepon, nggak ngasih kabar. Makanya Mbak Kimmy gelisah. Saya pun diam karena ingat pesan Mas Arsel yang ingin membuat kejutan."Senyum terbit di bibir Arsel. Ada rasa hangat menjalar di dadanya. Namun jujur saja, tubuhnya sangat lelah. Pikirannya juga penuh oleh segala permasalahan di Surabaya. "Apa nanti siang saya coba ngobrol sama Mbak Kimmy tentang rencana Mas Arsel mau mengajaknya kembali ke Surabaya?""Tidak perlu, Mbak. Biar nanti saya sendiri yang bicara ke Kimmy. Saya juga harus menyiapkan tempat tinggal juga. Mungkin lebih aman kalau di apartemen yang sama dengan yang saya tempati.""Iya.
KAMU YANG KUCINTAI - 54 Kado "Abang, tahu dari mana aku berulang tahun hari ini? Pasti dari KTP-ku waktu itu, kan?" tanya Kimmy sebelum membuka hadiahnya."Bukan.""Bukan? Terus dari mana?""Abang pernah mendengar mamamu mengucapkan selamat ulang tahun suatu pagi sebelum kamu berangkat kuliah."Kimmy terkejut. "Kapan itu?""Sudah dua tahun yang lalu. Dan Abang mengingat tanggalnya sampai sekarang."Mendengar pengakuan itu membuat Kimmy terpaku. Sungguh tak menyangka, Arsel sengaja mengingatnya dan ia tidak lupa dengan hari ini. "Kamu tadi menangis karena sedih, ya? Ulang tahun sendirian tanpa mama.""Ya." Kimmy mengangguk samar. Ia menunduk teringat akan sosok mamanya. "Biasanya Mama dan ... ah, Mama yang selalu mengucapkan selamat ulang tahun padaku." Kimmy hampir menyebut nama Langit. Tapi di urungkannya. Dia tidak ingin mengecewakan suami yang berusaha datang tengah malam demi hari ulang tahunnya. Walaupun pasti sangat capek setelah pulang kerja.Suasana hening. Sekali pun tak d
Ah, Kimmy semakin sedih. Hari ini ia genap berusia dua puluh dua tahun. Apa mamanya masih ingat ulang tahunnya? Apa Langit mengirimkan ucapan di email-nya. Mbak Asih tidak tahu dan Kimmy memang tak ingin memberitahunya. Itu tak penting. Dan Arsel? Jelas tidak mungkin tahu. Sedihnya hati Kimmy.Ia mengeluarkan buku kecil dari dalam laci. Lalu menulis sesuatu di sana."Selamat menyambut ulang tahunmu, Kimmy. Hari ini genap 22 tahun usiamu. Kamu akan jadi seorang ibu di usia ini. Duh Kimmy, yang kuat ya sayang. Jadilah wanita yang hebat. Happy birthday Kimmy Putri Palupi binti Heru Harimurti."Di akhir tulisannya, Kimmy melukis gambar hati. Tak terasa air matanya meleleh. Ini ulang tahun pertamanya tanpa ada ucapan dari siapapun. Biasanya sang mama yang selalu memberikan ucapan. Lalu Langit. Pria itu selalu memberinya hadiah. Tapi kini sepi."Nggak apa-apa, Kim. Bukankah kamu senang suamimu nggak di rumah. Katamu bisa tidur bebas menguasai ranjang sendirian, nggak engap karena dikekepin
"Sarapan dulu, Mas." Bu Elok menghampiri ke kamar sambil membawa nampan berisi sarapan dan minum."Nanti saja, Ma," jawabnya pelan."Ayolah sarapan sedikit. Sejak tadi malam Mas nggak makan. Nanti kalau sakit malah susah menyelesaikan masalah ini."Akhirnya Pak Fardhan meraih piring berisi nasi dengan lauk tumis sawi dan ayam bumbu rujak. Dia memaksakan diri untuk menghabiskannya. Istrinya benar. Ia tidak boleh tumbang oleh masalah."Bagaimana rencana Mas sekarang?" tanya Bu Elok hati-hati setelah suaminya selesai makan.Pak Fardhan mengembuskan napas berat. "Mana mungkin papa menikahkan Salsa dengan bajingan itu. Dia itu penipu," jawabnya dengan geram."Lalu ...."Hening. Pak Fardhan tak langsung menjawab pertanyaan istrinya. Kepala rasanya hampir meledak. Anak buah yang dikirimnya telah memberikan laporan akurat tentang siapa Ettan dan latar belakang keluarganya. Dan tak mungkin ia menikahkan putrinya dengan lelaki itu. Bukan karena dia dari keluarga biasa, tapi baginya Ettan itu be
KAMU YANG KUCINTAI- 53 Untuk Kimmy Arsel memperhatikan foto Kimmy di tengah sunyinya malam. Foto candid yang dikirim Mbak Asih tadi pagi.[Pesan saya tidak dijawab Kimmy, Mbak. Sedang di mana dia sekarang?] Ini pesan yang dikirim Arsel pada Mbak Asih.[Mbak Kimmy di teras, Mas. Lagi nungguin tukang donat lewat. Dua hari ini Mbak Kimmy lagi suka makan donat.] Balas Mbak Asih sambil mengirimkan gambar Kimmy yang diambil secara sembunyi-sembunyi.Di gambar itu Kimmy berdiri di teras rumah Pujon yang masih dibalut kabut tipis. Ia mengenakan terusan hamil berwarna soft blue sebatas betis, warna yang membuat kulit pualamnya tampak kian bersinar di bawah cahaya matahari pagi. Perutnya berbentuk bulat indah.Ada desir panas yang menjalar di dada Arsel, sebuah kerinduan yang menyesakkan paru-paru. Ia menyentuh permukaan layar. Rasanya ingin segera pulang, membenamkan wajah di ceruk leher Kimmy, dan merasakan sapaan sang anak dari dalam perut mamanya.🖤LS🖤Salsa meringkuk di atas sprei yang
"Kalau begitu, ganti bajunya. Kausmu sudah basah oleh keringat, nanti malah makin menggigil," ujar Kimmy sambil meletakkan kaus bersih di pinggir ranjang.Arsel berusaha duduk, meski kepalanya terasa sangat sakit. "Iya, terima kasih, Kim."Saat Arsel membuka kausnya, Kimmy beranjak ke jendela dan m
"Kata Mbak Asih, kamu punya teman baru di Pujon. Mbak-mbak yang sering bawa anaknya jalan-jalan kalau pagi." Arsel mengalihkan pembicaraan ke hal yang ringan. "Iya. Dia seorang dokter di Klinik," jawab Kimmy singkat sambil mengunyah kue."Klinik pinggir jalan itu?""Ya. Beliau dan suaminya juga as
Langkah Kimmy agak cepat. Ketika mencapai gerbang utama pemukiman elite itu, napasnya sudah ngos-ngosan. Semenjak hamil, dia merasa cepat sekali lelah.Kebetulan ada taksi yang lewat dan langsung di stop oleh Kimmy. "Terminal Bungurasih, Pak.""Nggih, Mbak," jawab driver setengah baya.Taksi melaju
KAMU YANG KUCINTAI- 9 Testpack "Kimmy, kamu nggak kuliah pagi ini, Sayang?" tanya Bu Elok lembut, tangannya ragu untuk menyentuh bahu Kimmy yang duduk di dekat jendela kamar sambil memandang taman di luar.Kimmy hanya menggeleng pelan. Matanya tetap terpaku pada dahan pohon mangga yang bergoyang







