Share

Bab 8 Pulsa Listrik

“Dek, ayo pergi dari sini.”

Aku menatap Mas Arif, yang tak berkedip menatapku. Tatapannya seperti memohon.

Memohon padaku agar terlepas dari beban yang menghimpit dadanya.

Label anak bungsu membuatnya tak berdaya.

‘Ya Allah, apa yang akan aku lakukan sekarang.’

“Mas, jangan mengambil keputusan saat emosi. Tunggu Bapak, ya. Aku yang akan bicara.”

Aku mengelus pipi Mas Arif, mengusap bulir bening yang menggantung di pelupuk mata.

Lalu mengecup keningnya lembut, satu-satunya yang ku lakukan agar Mas Arif cepat tenang.

Ku gandeng tangan Mas Arif, lalu duduk di Meja makan. Aku menghidangkan kopi hitam manis di depannya, yang langsung di seruputnya pelan.

“Terima kasih, Sayang.”

Ah, aku tersipu malu mendengar ucapan Mas Arif.

Ku lihat wajahnya yang perlahan cerah. Ku tarik kursi agar mendekat ke Mas Arif, lalu menemainya menyeruput kopi pagi.

Aku dan Mas Arif kembali diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing.

***

“Fira! Fira!”

Aku yang sedang memasak, langsung berlari meninggalkan dapur m
Bab Terkunci
Membaca bab selanjutnya di APP

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status