Share

Bab 7 Belanja Banyak

Sudah dua Minggu berlalu sejak Mas Arif dipecat dari kerjaannya membantu Kak Ria. Ibu masih mendiamkan Mas Arif gara-gara uang gaji Mas Arif yang menjadi sopir untuk Ibu.

Ibu juga mendiamkanku dan Amira. Aku sedih, namun cepat-cepat menghibur diri.

Selama dua Minggu pula, Ibu tak makan dan minum di rumah. Ibu juga tak belanja lagi kebutuhan dapur selama dua Minggu ini. Tak apa, aku banyak uang dan tak berkecil hati dengan sikap Ibu.

Beberapa kali aku mendapati Ibu makan nasi bungkus di dalam kamar, sepulang dari kota. Aku melihatnya lewat cela pintu yang terbuka sedikit. Bukan mengintip, aku sedang menyapu ruang tamu jadi tak sengaja melihat ke dalam kamar Ibu.

Ibu tak tahu kalau aku memergokinya, aku berpura-pura tidak tahu. Aku juga tak bercerita pada Mas Arif, takutnya Mas Arif sedih.

 Kalau Bapak, belum pulang juga dari mengobat orang. Sempat menelepon, kalau Bapak sudah di kampung yang lain, karena orang menjemputnya dan akan pulang dalam waktu yang lama.

Hari ini, Ibu tidak ke kota menjual ikan, karena stok ikan dari Kak Ria tidak banyak.

Namun, pagi-pagi sekali Ibu sudah menghilang.

Aku berniat memanggilnya dan mengajaknya sarapan, walaupun masih pagi karena Ibu terbiasa sarapan pagi sekali.

Tak ada jawaban, aku mencoba mencari Ibu di kamarnya dan di kamar mandi. Tak ada. Aku kepikiran, kalau Ibu di rumah Kak Ria.

Aku hendak memasak, namun melihat kulkas yang kosong, aku jadi ingat kalau belum belanja dari kemarin.

Aku berbenah diri sebentar, lalu mengambil dan kunci motor. Melihat Amira yang masih terlelap bersama Mas Arif, aku jadi semangat untuk belanja.

Cukup lama aku di pasar. Aku membeli berbagai macam sayur dan lauk karena untuk makanan pendamping ASI Amira.

Aku lewat di depan jajanan pasar, dan tergiur dengan kue basah tradisional yang terjejer rapi.

Aku membeli cukup banyak, berniat ku bagikan dengan Kak Vivi, walaupun dia masih mendiamkanku sampai saat ini.

Saat aku sampai di rumah, ku lihat Kak Ria duduk di kursi teras.

Aku menenteng keranjang belanja yang besar dan keresek putih yang penuh dengan belanjaan.

“Assalamualaikum... Eh, Kak dari tadi?” sahutku menyapa Kak Ria yang membuang muka saat melihatku memasuki halaman rumah.

“Tumben, belanja banyak. Dapat uang dari mana?” Kak Ria tak menjawab salam ku tapi bertanya sinis dengan ekspresi ujung kanan bibir terangkat. Matanya melotot tajam, melihat ke arah keranjang belanjaan yang bertengger di tanganku.

“Iya, Kak. Alhamdulillah lagi ada rezeki,” balasku seraya menyunggingkan senyum terbaik yang aku miliki.

“Rezeki, rezeki. Memang kerja apa kamu suamimu makanya ada rezeki?” cecar Kak Ria dengan sorot mata tak suka.

“Loh, Kak. Memang dapat rezeki itu harus kerja, ya?”

“Ya iyalah!” sewot Kak Ria. “Atau jangan-jangan, kau suruh Arif mengemis, ya!” gertaknya lagi dengan mencekal tanganku.

“Apaan sih, Kak!” Aku menghempaskan tanganku hingga terlepas dari cekalan Kak Ria.

Aku masuk dan menyimpan belanjaan ku di meja dapur. Kak Ria masuk dan mengikuti sampai dapur.

“Ibu, Ibu!” panggil Kak Ria dengan suara cemprengnya.

Ibu tergopoh-gopoh dari dalam kamar, menghampiri kami yang sedang berdiri di dapur.

“Lihat, Bu. Fira dapat uang dari mana buat belanja? Ibu kasih uang, ya!” Kak Ria menatap Ibu tajam.

“Enggak, Ibu enggak kasih uang ke Fira. Tahu dapat uang dari mana!” balas Ibu seperti ketakutan saat di tuduh Kak Ria.

“Memangnya, Ibu dan Kakak tak suka ya kalau aku belanja banyak,” umpanku menatap mereka bergantian. “Bu, Kak, rezeki orang itu tak ada yang tahu.”

Kak Ria tampak geram mendengar omonganku barusan. Kak Ria memang tak suka, jika ada orang terdekatnya yang menandingi kehidupannya yang sedikit mewah dari yang lain.

Baru saja melihatku belanja banyak, ekspresi Kak Ria langsung berubah. Apa jadinya kalau Kak Ria tahu aku sebenarnya?

“Fira, dari mana kamu dapat uang untuk belanja?” Ibu menatapku tak berkedip.

“Ya dari uangku sendiri, Bu.”

“Bohong, pasti kamu mencuri ‘kan?” Ibu makin lancang mengataiku.

“Siapa yang mencuri, Bu?” Mas Arif muncul dari balik pintu kamar.

“Istrimu!” Ibu menunjukku seraya pandangannya melekat ke Mas Arif.

“Astaghfirullah, Bu. Fira tidak seperti itu. Fira belanja, itu pakai uang dari Arif dan uang Fira sendiri.” Dengan lembut, Mas Arif menjelaskan pada Ibu.

Ibu memandangku tak suka, pun Kak Ria yang terus menatapku belanja.

“Alaa, Rif. Kau jangan sembunyikan kebusukan istrimu ini.” Kak Ria mengataiku lagi. Aku sudah tak tahan.

“Terus saja, Kak. Terus menuduhku mencuri. Sebentar lagi aku akan melaporkan kalian ke polisi, ini buktinya!” Aku menyodorkan handphone yang sedang memutar pembicaraan Ibu dan Kak Ria sedari tadi yang menuduhku.

Kak Ria gelagapan dan Ibu mundur selangkah saat mengetahui aku merekam pembicaraan kami dari tadi.

“Jangan kurang ajar kau Fira!” Kak Ria berusaha merebut ponsel dari tanganku.  Aku dengan cepat mengelak dan menepis tangan Kak Ria.

“Kenapa? Kak Ria takut? Ha ha ha, jaman sekarang sangat mudah menjebloskan orang ke penjara.” Aku memanasi Ibu dan Kak Ria yang terlihat gugup.

Ha ha ha, baru saja aku menggertak seperti ini, mereka sudah ketakutan. Padahal aku cuma mengada-ada dan iseng saja merekam pembicaraan kami tadi.

Mas Arif sepertinya tahu rencanaku, makanya memilih diam.

“Rif, bilang pada Fira jangan macam-macam denganku, main lapor saja!”

“Ya, terserah Fira, Kak. Aku enggak ikut campur. Lagian Kakak sama Ibu main tuduh saja.”

“Anak kurang aj*r, durhaka kau, Arif!” Ibu emosi dan memarahi Mas Arif.

“Loh, kenapa Ibu menyalahkan Arif, Bu?” wajah Mas Arif pias, mendengar Ibu mengomelinya.

“Kenapa? Kau memang anak durhaka, membiarkan Ibumu di jebloskan ke penjara oleh istrimu ini!” Ibu beberapa kali menunjuk tepat di wajahku.

“Arif tidak bermaksud seperti itu, Bu,” sahut Mas Arif yang terlihat lemah, karena keadaan cepat berubah.

Tadi Ibu dengan garang menuduhku, sekarang terlihat menyedihkan seolah sangat tersakiti.

“Akan kau dapatkan karmanya, anak durhaka!” Ibu menunjuk wajah Mas Arif.

Ya Allah, aku tak sanggup melihat suamiku diperlakukan seperti itu, walaupun oleh Ibu kandungnya sendiri, di depanku.

Tanpa sadar, air mataku meleleh, meratapi nasib Mas Arif.

Ibu dan Kak Ria sudah berlalu meninggalkan kami. Mas Arif menangis sesenggukan di pojokkan dapur.

Dadaku nyeri melihatnya, melihat suamiku yang rapuh dan tak berdaya di depan Ibu dan saudaranya.

Dengan mata yang basah, Mas Arif menatapku dalam.

“Dek, ayo pergi dari sini.”

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status