Terjerat Hasrat Liar Mantan Selingkuhan

Terjerat Hasrat Liar Mantan Selingkuhan

last updateTerakhir Diperbarui : 2025-08-29
Oleh:  Dualismdiary Baru saja diperbarui
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
5 Peringkat. 5 Ulasan-ulasan
96Bab
28Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

(Cerita bisa mengandung 21+) Meira selalu dikenal sebagai gadis jenius—IQ superior, cantik, dan berprestasi. Namun hidupnya tak berjalan sesuai jalur emas yang diimpikan banyak orang. Di masa SMA, ia pernah menerima cinta seorang adik kelas, Hastan, hanya untuk membalas sakit hati dari pacar lamanya, Octavian. Hubungan itu singkat, terhenti di antara liburan dan aturan keluarga yang ketat. Meira bahkan memutuskan Hastan lewat pesan singkat… dan menghilang. Bertahun-tahun kemudian, Meira bukan lagi gadis piala olimpiade itu. Ia adalah istri yang kehilangan mimpi, ibu dari seorang anak, dan perempuan yang bertahan di pernikahan retak. Saat kembali bekerja sebagai Project Manager di perusahaan instalasi elektronik medis, sebuah proyek membawanya ke rumah sakit militer—dan ke pelukan masa lalu. Hastan kini seorang Letnan Kolonel muda Divisi Siber. Tatapannya tetap sama, namun kali ini lebih berbahaya. Di balik senyum tenangnya, ia memegang rahasia: ponsel Meira sudah ia retas, setiap pesan, panggilan, bahkan momen paling pribadi dalam rumah tangganya ada di genggamannya. Ia tahu kelemahan Meira. Ia tahu apa yang membuatnya menyerah. Dan ia tahu… Meira belum benar-benar lepas darinya. Di antara ikatan pernikahan yang belum resmi berakhir, obsesi yang semakin dalam, dan masa lalu yang tak pernah ditutup, Meira terjebak dalam permainan berbahaya antara cinta, dendam, dan hasrat yang tak pernah padam.

Lihat lebih banyak

Bab 1

1 – Menuntaskan yang Tertunda

Kartu kunci berkilat di antara jari Meira. Dentingan elektronik pintu terdengar, lalu aroma wangi kayu manis bercampur karpet baru langsung menyergapnya. Lampu hangat dari sudut ruangan membuat bayangan lembut di dinding, memantulkan cahaya di seprai putih yang tertata rapi di atas ranjang king size.

Ia melangkah masuk, meletakkan koper di tepi ranjang, lalu menoleh untuk berterima kasih pada Hastan.

Dari jauh, sosoknya saja sudah cukup membuat orang otomatis meluruskan punggung. Letnan Kolonel Hastan Maheswara—usia masih di awal tiga puluhan—memiliki postur yang nyaris sempurna bagi seorang perwira militer: tinggi menjulang, bahu lebar yang mengisi penuh potongan seragam hijau militer, dan garis punggung yang tak pernah terlihat merunduk. Langkahnya tenang, presisi, seolah setiap derap sepatu botnya sudah diatur oleh komando tak kasat mata.

Wajahnya bersih, namun tegas—rahang kokoh, hidung lurus tegas, dan alis tebal yang menaungi sepasang mata hitam dingin. Ada sesuatu pada sorotnya yang tak bisa diabaikan: tatapan tajam yang seolah bisa membaca lebih dari yang seseorang ucapkan. Rambutnya dipotong pendek rapi dengan fade tipis di sisi, gaya khas militer, namun sedikit ikal di bagian atas membuatnya tak sepenuhnya kaku.

Suara baritonnya rendah, tidak perlu meninggikan nada untuk memerintah, namun cukup untuk membuat siapapun menoleh dan mematuhi. Aroma aftershave segar bercampur samar dengan wangi kulit dari sarung senjata yang menggantung di pinggangnya. Tangannya besar, kuat, dengan urat yang menonjol di punggungnya—tangan yang jelas terbiasa memegang senjata sekaligus mengetik cepat di depan layar komputer divisi sibernya.

Dan di balik segala ketegasan itu, ada satu hal yang membuatnya berbahaya bagi hati siapa pun: tatapan sekilas yang hanya bertahan kurang dari satu detik, namun mampu meninggalkan sisa panas di kulit.

Hastan berdiri di ambang pintu. Seragam dinasnya sudah terganti dengan kemeja hitam, lengannya digulung hingga siku, ototnya tertarik setiap kali jemarinya meremas gagang pintu. Ada tegang halus di rahangnya, dan tatapannya… seolah sedang menimbang apakah ia akan melangkah atau tidak.

“Terima kasih sudah merekomendasikan hotel ini,” ucap Meira, berusaha terdengar santai. Ia menunduk, sibuk mengeluarkan pakaian. Jemarinya mengatur lipatan baju, mencoba mengabaikan rasa bahwa sepasang mata itu tak berhenti mengikutinya.

Begitu koper kosong, ia menutupnya. Dan di sanalah Hastan—masih di tempat yang sama, tapi kini bahunya lebih tegap, dadanya naik-turun pelan, napasnya berat namun terkendali.

“Kenapa kamu masih di sini?” tanyanya, kening berkerut.

Tidak ada jawaban. Hanya langkah yang semakin mendekat—perlahan, nyaris tanpa suara—sampai Meira bisa melihat kilat gelap di matanya.

“Hastan, jangan—”

Terlambat. Lengan kokoh itu melingkari pinggangnya, menariknya ke dalam dada yang keras. Tubuh Meira terlonjak, tangannya refleks mendorong, namun genggaman itu bagaikan borgol yang hidup.

“Apa yang kamu lakukan?!”

Suaranya pecah di udara. Dan kemudian, suara itu—dalam, berat, dingin—mendarat di telinganya.

“Menuntaskan perbuatanmu padaku… waktu kita sekolah dulu.”

Napas Meira memburu. “A-apa? Itu sudah lama… cuma cinta monyet.” Tangannya berusaha memisahkan diri dari lingkaran besi di pinggangnya. “Bukankah aku sudah minta maaf?”

Senyum menyeringai muncul di bibir Hastan, tapi matanya… penuh bara yang tak padam. “Tidak semudah itu, kakak kelasku.”

Jemarinya terangkat, membelai pipinya. Kulit Meira bergetar di bawah sentuhan itu, napasnya tersengal tanpa ia inginkan. Sentuhan itu turun perlahan ke lehernya, memancing reaksi yang ingin ia bunuh sebelum terlihat.

“Meski bibirmu menolak,” suaranya nyaris berdesah, “aku tahu persis di mana titik lemahnya.”

“Hastan… jangan,” suaranya melemah—setengah peringatan, setengah permohonan yang bahkan ia sendiri benci mendengarnya. Dalam benaknya, wajah Octavian berkelebat, membuat dadanya semakin sesak.

Tapi sebelum ia bisa berpikir lebih jauh, bibir Hastan menutup bibirnya—keras, memaksa—dan seolah mengenang sesuatu yang pernah hilang. Jemari di pinggangnya mencengkeram lebih erat, seakan takut ia menghilang jika dilepaskan.

Meira membeku. Otaknya memerintah untuk melawan, tapi tubuhnya… tubuhnya justru mengkhianatinya.

Dan di sela desah napas itu, ia tahu satu hal:

Hastan tidak akan pergi sebelum ia mendapatkan yang ia mau.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Komen

default avatar
Den
Ceritanya bikin degdeg ser
2025-08-29 21:33:56
0
user avatar
Genfash
bagusss banget bikin penasaran
2025-08-29 16:30:10
0
user avatar
Genfash
keren banget
2025-08-10 23:38:55
0
user avatar
Genfash
ayo doong update lagiii penasaran akuu
2025-08-10 20:06:53
0
user avatar
Genfash
keren bgt bukunya
2025-08-10 20:06:28
0
96 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status