LOGINKamila tidak bisa tidur. Entah kenapa hatinya terus gelisah. Dia melihat Fiona yang sudah tidur di kamarnya. Gara-gara kamar anak itu diobrak-abrik oleh Rebecca, Fiona jadi ketakutan dan sering bermimpi buruk jika tidur di kamarnya sendiri. "Mungkin aku harus sholat taubat," gumamnya. Dia teringat dengan ucapan Arin mengenai perasaannya terhadap Harsa. Kalau memang benar itu termasuk selingkuh, maka Kamila harus bertaubat. Dia tidak mau mengkhianati pernikahan seperti yang dilakukan oleh Putra. Dinginnya malam yang tak seperti biasanya, membuat tubuh Kamila menggigil. Dia mengenakan mukena di atas sajadah setelah berwudhu di kamar mandi, lalu menghadap ke arah kiblat dan melafalkan niat sholat taubat. Kamila benar-benar fokus pada sholatnya dan rasa penyesalan yang mendalam, sampai-sampai dia tidak sadar bahwa dua orang sedang tertegun melihatnya sholat dan melantunkan doa memohon ampun pada Allah. Kamila lupa bahwa pintu kamarnya belum menutup sempurna, karena merasa bahwa di ru
Setiap perbuatan akan mendapatkan balasannya. Jika tidak di dunia, maka balasannya akan diterima di akhirat nanti. Dan jika kamu menyakiti manusia, maka kamu tidak akan bisa masuk surga sebelum mendapatkan maaf dari orang yang kamu sakiti. Sudah seminggu setelah Bu Maria berkunjung dengan sumpah serapahnya, Rebecca akhirnya jatuh sakit. Doa buruk dari ibunya membuat Rebecca tidak nafsu makan. Rebecca tidak mau keluar dari sel, meskipun petugas lapas membentak-bentaknya. Dia menulikan telinga dan hidup dalam dunianya sendiri. Kemarahan ibunya sudah berada di puncak, dan hati Rebecca menyadari sesuatu. Ibunya sudah tidak mau lagi membuka pintu maaf untuknya. Bagaimana dengan ayahnya? "Maafkan aku, Pa," gumamnya sambil meringkuk di atas ranjang. Tubuhnya terasa seperti terbakar karena demam tinggi. Wajahnya pucat dan matanya memerah. "Maafkan aku karena mengejar kebahagiaanku sendiri." Ayahnya selalu mendukungnya. Bahkan ketika ibunya memaksanya untuk menikah dengan Josep, ayahnya
Di sudut ruangan yang gelap dan dingin, seorang wanita meringkuk sambil menahan rasa sakit yang bersarang di sekujur tubuhnya. Rebecca. Dengan tubuh yang semakin kurus kering dan kulit yang kusam tak terawat, dia merintih menahan perih di bagian dalam bibirnya yang sobek. CLANG! "Bisa diam nggak kamu? Aku mau tidur!" Rebecca terlonjak. Dia buru-buru menutup mulutnya untuk meredam rintih kesakitan dan isakan yang lolos karena takut. Baru 3 bulan mendekam di penjara, Rebecca sudah merasakan penderitaan yang bertubi-tubi. Seharusnya dia tidak mendapatkan bullian dari narapidana lainnya, karena kasusnya hanya penggelapan dana perusahaan. Tapi entah siapa yang membocorkan, mereka semua tahu bahwa dia adalah seorang pelakor pada hari kedua. Tidak ada wanita yang menyukai pelakor, kecuali wanita itu sama-sama pelakor. Apalagi ada beberapa narapidana yang dipenjara karena menganiaya selingkuhan suaminya, atau lebih parah membunuh suaminya sendiri. "Sekali lagi kamu berisik, habis kamu
Ada yang bilang, setiap manusia memiliki kesempatan kedua. Seandainya kesalahan Putra tidak sefatal itu, mungkin Kamila masih bisa memberikan kesempatan itu. "Pernah memiliki anak ya." Kamila tertawa kecil. Dia melirik ke arah baskom yang berisi air dan handuk kecil. Diraihnya baskom itu dan mulai memeras handuk agar airnya keluar. "Ternyata cuma aku yang mencintai kamu dengan menggebu-gebu sejak dulu. Seharusnya, aku mendengarkan semua nasehat dari setiap orang yang berbicara buruk tentang kamu. Tapi aku terlalu dibutakan oleh cinta." Kamila mulai membasuh wajah Putra yang terlihat begitu pucat. Wajah yang dulu bersih dan tampan, kini hanya tinggal kulit yang kering dan keriput. Seperti tidak ada lagi daging yang tersisa di sana. "Waktu kamu di Surabaya, aku sering merenungi apa kesalahanku. Kamu kelihatan sekali nggak bahagia saat bersamaku. Berkali-kali mengecek hp dan buru-buru berangkat kembali ke Surabaya waktu subuh, dengan alasan takut terlambat ke kantor. Dan aku memperc
Di antara banyaknya kemungkinan yang terjadi, bukan ini yang diharapkan oleh Kamila. Dia membayangkan Putra sudah sehat dan duduk di atas ranjang rumah sakit, menunggu untuk dibawa pulang. Bukan malah mendapati seorang wanita asing yang sayangnya begitu cantik. "Kamu siapa? Kenapa ada di kamar ini? Kamu...mengenal suamiku?" tanya Kamila dengan tenang, meskipun jantungnya berdegup kencang. Dia mungkin sudah mati rasa pada suaminya. Tapi, dia tetap merasa sakit hati jika mendapati berita yang tak menyenangkan lagi dan lagi-lagi berhubungan dengan suaminya. "Kamu pasti Kamila ya?" Bukannya menjawab, wanita itu malah mengamati Kamila dari atas sampai bawah, lalu mengangguk. "Kamu terlalu cantik dan lembut untuknya. Tapi tetap nggak bisa menggantikan sosokku di hatinya." Kening Kamila berkerut. "Maksudmu apa? Kamu mantan pacarnya?" Kamila pernah mendengar tentang mantan kekasih Putra yang membuat pria itu masuk penjara. Ibu mertuanya sangat membenci wanita itu karena membuat Putra men
"Sebenarnya kenapa sih, Mil, kamu nggak jadi menggugat cerai Putra? Eh, tapi aku nggak memaksa lho ya. Bagaimanapun juga, itu privasi kamu," ujar Arin tak enak.Sepertinya, Kamila memang harus bercerita. Dia menatap Arin dalam-dalam. Takut jika Arin seperti Dewi. "Tapi, kamu nggak akan membocorkan ini ke siapapun, kan?" Arin refleks mengangkat dua jari ke atas. "Aku pernah di posisi kamu, Mil. Aku tahu pasti gimana rasanya rahasiaku disebarkan oleh orang yang kukira sahabat. Sakit banget. Aku nggak akan melakukan hal yang sama, karena hukum tabur tuai itu ada. Seperti halnya Dewi, temanku yang mengkhianati aku kena karmanya juga. Dan karmanya ngeri lah. Aku takut mengalami hal yang sama kalau ikut-ikutan. Lagian ada anakku yang akan menanggung karmanya juga."Kamila mengangguk. Sepertinya mereka memang memiliki nasib yang sama, sehingga bisa saling mengerti."Aku mengurungkan niatku untuk menggugat cerai Mas Putra, karena ibuku, Rin."Dan Kamila pun menceritakan pengalaman tak enakny
[Transaksi gagal. Saldo tidak mencukupi]Putra mengumpat dengan kasar sambil memukul mesin ATM. Amarahnya menggebu-gebu karena berkali-kali gagal menarik uang tunai."Kamila sialan! Istri nggak tahu diri! Istri durhaka!"Jarinya menyentuh menu cek saldo di layar mesin dan muncullah angka 50.120. Da
"Imunnya drop dan dia stress. Apakah selama ini, anak anda bermasalah dengan ayahnya? Karena selama pemeriksaan, dia terus mengigau tentang ayahnya yang jahat."Kamila merasa syok bukan main. Efek perselingkuhan suaminya benar-benar berdampak sangat besar dan membuat anaknya tertekan. Air matanya m
"Le, mbok ya dibuat istirahat. Jangan main hp terus biar cepat sembuh." Bu Aminah membawa segelas teh panas dan meletakkannya di atas nakas.Harsa buru-buru mematikan layar ponsel dan meletakkannya di sebelah bantal. Dia bangkit dan menyesap sedikit teh itu, sebelum kembali berbaring.Bu Aminah men
Saat seseorang sudah berani melanggar larangan agama secara sadar, maka dia juga harus bersiap untuk menerima konsekuensinya. Entah itu karena Tuhan hendak membersihkan dosa-dosanya, ingin menegur perbuatannya, atau jawaban dari doa orang yang terzalimi.Pagi itu, Putra masuk ke kantor dengan seman







