MasukParis akhirnya berada dalam pelukan Samuel, pria yang selama bertahun-tahun hanya bisa ia impikan. Namun, kedekatan yang selama ini ia dambakan ternyata jauh lebih intens daripada yang pernah dibayangkannya. Di tengah perasaan yang bercampur aduk, Paris berusaha memahami keinginannya sendiri, sementara Samuel menunjukkan sisi dirinya yang belum pernah Paris kenal sebelumnya.
Lihat lebih banyak"Ini adakah tempat terbaik," ucap Paris, wanita itu setengah mengapung di pinggir kolam renang belakang rumahnya. Rumahnya adalah tempat terbaik di muka bumi ini, Samuel. Ya, Samuel, pria itu adalah tempatnya berteduh. "Kemarilah, Sayang!" Samuel memanggil istrinya agar mendekat. Paris terkekeh. "Tidak mau, di situ dalam," ujarnya sambil kakinya berputar-putar di dalam air. "Ya Tuhan, ini hanya sampai dadaku," ujar Samuel. "Itu berarti sampai di daguku," kata Paris yang tetap menolak mendekati suaminya. "Kau tidak akan tenggelam." Samuel akhirnya mendekati Paris. "Aku memiliki ide terbaik di kepalaku, apa kau tahu?" "Oh ya? Katakan." Paris berdiri, air di pinggir kolam hanya sebatas pahanya membuat dadanya yang berisi terbungkus bikini basah tampak menonjol sempurna. Samuel melirik ke arah boks bayi yang tertutup kelambu di teras halaman belakang rumah mungil mereka. "Karena Caramella sedang tidur, sepertinya kita bisa bersenang-senang," katanya sambil merengkuh ist
"Aku sungguh tidak menyangka jika kau akan kembali menikah secepat ini, Paris." Ursula dan Paris sengaja bertemu di sebuah kedai kopi yang berada di sekitar sungai Seine. Sungai Seine adalah sungai yang membelah kota Paris, sungai ini menjadi jalur transportasi komersial lalu lintas air. Di samping kanan dan kiri sungai terdapat bangunan-bangunan bersejarah dengan desain klasik yang sangat menawan dan memanjakan mata. Paris tersenyum. "Aku tidak menyangka akan menjadi begini." Ia menatap Samuel yang bersandar di pagar pembatas sungai, pria pujaannya itu sedang berbicara dengan teman kencan Ursula meskipun tatapan matanya terus mengarah kepadanya. "Kurasa kalian benar-benar saling jatuh cinta," ujar Ursula yang mengekori ke mana arah tatapan mata Paris. "Aku baru tahu jika jatuh cinta rasanya sangat indah," gumam Paris. Andai waktu bisa di putar kembali, ia ingin bertemu Samuel lebih awal agar tidak ada yang tersakiti oleh mereka. Ah, sayangnya tidak ada seandainya di muka
"Kau yakin rumah ini yang kau pilih?" tanya Samuel saat mereka berada di halaman belakang rumah yang akan mereka beli. Paris mengangguk, setelah menikah nanti mereka telah mantap akan menetap di Swiss. Rumah itu adalah rumah ketiga yang mereka lihat, memang tidak terlalu besar, hanya ada dua kamar tidur di lantai bawah dan tiga kamar tidur di lantai atas. Tetapi, rumah itu cukup nyaman karena halamannya sangat luas dan tentunya memiliki kolam renang di halaman belakang. "Kau memilih karena ada kolam renangnya?" tanya Samuel, ia menaikkan sebelah alisnya. Paris menyeringai. "Aku bisa kok berenang," ujarnya dengan nada tidak terima. "Di Tokyo kau ketakutan," ucap Samuel menggoda Paris. Ia masih mengingat betapa Paris ketakutan saat menaiki perahu di atas air sungai. Paris kembali menyeringai. "Aku belum pernah berenang di sungai, jelas saja aku takut," katanya membela diri. "Ya, aku percaya. Kau bisa berenang tapi di kolam renang anak-anak." Samuel menatap Paris dengan t
"Wow...!" Paris terpesona dengan pemandangan di depannya. Mereka berada di Lauterbrunnen, Lauterbrunnen adalah desa yang indah di Swiss dengan jumlah populasi sangat sedikit, tetapi memiliki pemandangan yang sangat yang indah. Terletak di lembah Lauterbrunnen dan terdiri dari desa Lauterbrunnen, Wengen, Mürren, Gimmelwald, Stechelberg dan Isenfluh. Nama "Lauter Brunnen" memiliki arti banyak air mancur, yang menunjukkan keagungan lanskap ini. Ada tujuh puluh dua air terjun di sana dan yang paling terkenal adalah air terjun Staubbach dengan ketinggian air terjun hampir 300 meter dari permukaan batu yang menjorok, menjadikannya sebagai salah satu air terjun tertinggi di Eropa. "Aku yakin kau belum pernah mengunjungi tempat ini," ucap Samuel sambil memasang lensa kameranya. "Sam, ini sangat indah...." kata Paris sambil memasang topi di kepalanya. "Apa kau akan mengajakku berkeliling dunia?" Samuel terkekeh. "Apa kau ingin?" Paris mengangguk. "Ambil fotoku, di sini," ucapn
Chapter 7Paris membuka kelopak matanya, setelah tertidur beberapa jam akhirnya Paris merasakan tenaganya pulih kembali. Demi Tuhan, Paris tidak Sudi lagi bercinta dengan Shane, pria itu tidak cocok untuk dijadikan teman ranjang. Bahkan jika harus menghadapi kemarahan Arsen nanti Paris lebih baik m
Chapter 6Shane baru saja mengenakan pakaiannya ketika bel pintu kamar yang ditempati Paris berbunyi. Merasa tidak memanggil petugas hotel, Paris mendekati pintu kamar lalu menempelkan sebelah matanya di lubang pintu. Ia mundur beberapa langkah kemudian berbalik dan melangkahkan kakikinya mendekati
Chapter 5"Sayang..." Paris memanggil suaminya, ia berjalan dengan langkah kaki cepat menurun menuruni anak tangga kemudian segera menghampiri Arsen yang sedang duduk menikmati sarapannya paginya. Itu adalah dua hari setelah Paris berkenalan dengan Shane.Arsen meletakkan garpu di tangannya lalu me
Chapter 4 Pesta perjamuan berlangsung mewah dan meriah. Paris mulai lelah berdiri di atas sepatu tingginya mendampingi Arsen menyapa teman-temannya. Saat seorang pria yang ia kenal kenal sebagai salah satu pejabat penting di Perancis mendekati Arsen, Paris segera mengambil kesempatan. Setelah meny












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan