FAZER LOGIN⚠️⚠️ Adult Romance (21+) Novel ini mengandung banyak adegan yang tidak cocok untuk usia di bawah 21 tahun. "Ini akan sedikit kasar, aku harap kau tidak keberatan," geram Samuel sambil menyatukan tubuh mereka dengan posisi Paris duduk di pangkuan membelakanginya. Paris mengerang, ia mencengkeram lengan pergelangan tangan Samuel hingga kukunya menancap di kulit Samuel. Bagian tubuhnya terasa terisi penuh olah Samuel, sempurna. Seperti yang selama ini ia inginkan, pria yang bertahun-tahun hanya ada di dalam khayalannya kini sedang memasukinya. "Sam, lepaskan aku," erang Paris. Bibirnya meminta dilepaskan tetapi tubuhnya sama sekali tidak, ia ingi Samuel lebih dalam lagi memasukinya, ia ingin Samuel memuaskannya dengan caranya.
Ver mais
Prologue Paris meletakkan tasnya yang berharga ribuan Euro di atas kursi khusus tempat tas dengan hati-hati. Tas itu berasal dari brand Chanel, edisi terbatas tentunya. Bukan hanya tasnya yang berasal dari brand ternama, jam tangan yang menjadi aksesoris penunjang penampilannya juga bukan main-main karena berasal dari brand serupa, bahkan gaun kasual yang dikenakannya berasal dari Chanel. Hanya sepatunya yang berasal dari brand Christian Louboutin. Ah, iya... Gelang yang ia sandingkan bersama jamnya adalah gelang Chartier dan berlian yang menghias di telinga dan lehernya, itu adalah edisi terbatas dari perancang perhiasan ternama, Prilly Johanson. Paris, ia adalah wanita sosialita kelas atas di negara ia tinggal sekarang. Sore itu ia sedang menghadiri acara rutinnya bersama teman-teman sosialitanya, acara yang di lakukan setiap hari Selasa sore untuk saling memamerkan kekayaan suami mereka. “Di mana Ursula?” tanya Rachel yang baru saja datang. Penampilan Rachel tak kalah mahal dari Paris, seluruh barang yang melekat di tubuhnya juga berasal dari brand kenamaan dunia. “Dia mengatakan akan segera datang,” jawab Paris. Ia adalah peserta yang pertama datang ke tempat itu. Sebuah private room di sebuah hotel bintang lima yang di desain khusus penuh bunga-bunga hanya untuk pertemuan lima orang wanita. “Kau percaya?” tanya Rachel dengan nada geli. Ia tahu seperti apa sahabatnya yang bernama Ursula. “Tentu saja, tidak,” jawab Paris. “Aku yakin ia sedang menyisir rambutnya, yang keriting agar tampak lurus,” kata Rachel dengan nada mengejek. Keduanya tertawa bersama. Tidak lama tampak Lea dan Ruth, keduanya datang bersamaan. Mereka berjalan dengan anggun bak dua orang model yang sedang memperagakan pakaian, kacamata hitam berukuran besar bertengger di atas hidung mereka nyaris menutupi sebagian wajah. Mereka selalu terlihat kompak karena memang saudara kembar. Ruth memiliki suami yang lebih kaya tetapi Lea, ia memiliki suami yang lebih tampan. Ruth lebih tenang sedangkan Lea, ia adalah ratu panik. Tetapi, jangan salah. Ruth adalah ratu pamer. Ia bahkan membawa satu orang asisten hanya untuk memegangi tasnya, padahal bisa di pastikan tas itu tidak mungkin berat. “Maafkan kami, kami terlambat,” kata Ruth sambil menghampiri Paris untuk menyapa sahabatnya, menempelkan kedua pipinya. “It’s oke. Hanya beberapa menit,” ucap Paris dengan nada bicara anggun. “Oh, Paris... kau semakin cantik, aku sungguh iri padamu.” Lea berseru. Di antara semua mereka semua Lea adalah yang paling berisik dan mudah panik. “Kau juga semakin cantik, dadamu... semakin membesar... sepertinya,” ucap Paris sambil memeluk sahabatnya. Sementara Ruth menghampiri Rachel untuk saling menyapa. Lea meregangkan pelukannya dari Paris, ia kemudian menatap dadanya sendiri baru saja ditambah implan sehingga tampak nyaris seperti balon. Begitu juga Paris, ia menatap dengan kagum dada sahabatnya kemudian mereka berdua berucap, “Wow!” “Apa kau juga tertarik memperbesar milikmu?” tanya Lea. “Aku akan memikirkannya,” jawab Paris. Sekedar berbasa-basi karena ia sama sekali tidak tertarik dengan ukuran dada yang melebihi kapasitas seperti itu, menurutnya itu terlalu berlebihan dan sepertinya melelahkan. Tiga puluh menit telah berlalu, empat wanita itu telah saling bercakap-cakap membicarakan saja harta kekayaan mereka tetapi yang ditunggu belum datang juga. Ursula, satu teman mereka itu memiliki kebiasaan datang terlambat menghadiri acara. Benar saja Ursula datang setelah empat puluh lima menit dari waktu yang di tentukan. Ursula tampak memegangi ponselnya sambil berjalan dan merekam suasana acara perkumpulan itu bermaksud mengunggah ke dalam akun media sosialnya. Ia tampak sama sekali tidak merasa bersalah membiarkan orang lain menunggunya. Setelah menyapa keempat sahabatnya Ursula duduk tepat di samping Paris. “Kira-kira siapa pemenang arisan Minggu ini?” tanya Ursula entah kepada siapa. “Yang jelas bukan aku,” jawab Paris sambil tertawa ringan. “Kau pemenang Minggu kemarin, tentu saja kau tidak memiliki bagian lagi di bulan ini,” celetuk Lea. “Tetapi, jika kalian ingin digantikan dengan senang hati aku akan menggantikannya,” seloroh Paris tetapi nadanya terdengar sangat bersungguh-sungguh. "Kau selalu siap untuk itu," ejek Rachel yang diangguki Ruth dan Lea. Paris hanya mampu menyeringai. Satu jam kemudian, seorang pemuda yang mungkin berusia dua puluh tahun datang ke tengah-tengah mereka. Pemuda tampan itu tampak berdarah Asia. Terlihat dari rambut, kulit dan dari wajahnya. Pemuda itu adalah calon sugar baby dari salah satu kelima wanita yang beruntung minggu ini. Wanita sosialita yang hidupnya kesepian itu setiap minggunya melakukan acara arisan untuk mendapatkan satu pemuda tampan dengan bayaran tinggi untuk menghangatkan ranjang mereka. Bersambung....Dua bulan telah berlalu sejak Samuel bertemu dengan Paris di Tokyo, selam itu ia lebih sering berselancar di dunia maya, mengobrak abrik dunia maya untuk mencari Paris tetapi hasilnya nol. Ia mencari Paris di jajaran media sosial para gadis kalangan kelas atas di Swiss tetapi satupun foto wanita itu tidak muncul di layarnya, ia belum menyerah, ia masih memiliki tekad untuk mencari wanita itu dan akan merebutnya dari suaminya. Bagimanapun caranya, ia harus mendapatkan Paris.Kini Samuel berada di Paris, bukan untuk mengejar Paris karena ia tidak tahu Paris ada di Paris. Samuel kembali ke negaranya karena ia memang berasal dari Perancis, ia lahir dan besar di sana. Ibunya memanggilnya dan berbohong, wanita itu mengatakan jika ayahnya terkena serangan jantung dan sedang dirawat di rumah sakit tetapi faktanya pria itu sangat sehat, segar dan bugar bahkan Samuel bermain ski board di jalanan bersama ayah tirinya itu tadi pagi. Bahkan pria itu juga sanggup bermain badminton dan mungkin berla
Paris berdiri di balkon sambil menatap menara Eiffel. Menara Eiffel, orang-orang menyebutnya sebagai lambang keromantisan dan cinta. Meskipun menjadi simbol romantisme, menara ini juga sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kisah cinta atau roman asmara perancangnya seperti Taj Mahal di India dan Mirabell Palace di Austria. Eiffel dibangun untuk sebuah perhelatan pameran dunia bertajuk Exposition Universelle tahun 1889 sekaligus memperingati 100 tahun hancurnya penjara Bastille sebagai simbol bergulirnya Revolusi Perancis.Belum pernah dalam hidup Paris merasakan perasaan yang tidak ia mengerti, perasaan tidak menentu yang terasa begitu menyesakkan dadanya. Perasaan yang membuat suasana hatinya sangat kacau hingga tidak bersemangat melakukan apa pun. Hanya bersama Samuel selama tiga hari tetapi pria itu seolah mengambil alih seluruh hidupnya. Dua Minggu sudah ia berada di Paris tetapi untuk berkumpul bersama teman-temannya melakukan arisan seperti biasa ia sama sekali tidak memiliki
Bangun tidur dengan seorang wanita di dalam pelukannya, itu adalah pengalaman pertama kali dalam hidup Samuel. Memang ini bukan pertama kali tidur dengan wanita tetapi tidur memeluk wanita hingga pagi hari, ini adalah pertama kali dalam hidup Samuel. Ia menatap wajah Paris dengan intens, ia memuaskan panca indranya untuk menikmati kecantikan wanita yang masih tidur dengan nyaman di atas bantalnya. Alisnya yang tajam terbentuk sempurna, bulu mata yang tebal dan lenti, bibir yang ranum berwarna merah jambu. Bentuk tulang hidung yang tampak pas dan rahang yang tegas, kulitnya begitu halus seindah poselen. Ia yakin bukan hanya dirinya yang terpesona dengan kecantikan Paris tetapi ada ribuan pria yang memuja kecantikan wanita yang masih merahasiakan namanya itu. Bibir Samuel mengulas senyum tipis, ia dengan perlahan melepaskan pelukannya dari tubuh Paris kemudian menutupi tubuh Paris dengan selimut, memastikan Paris tidur dengan nyaman kemudian ia bergerak untuk meninggalkan ranjang mesk
11. Be Mine "Bagaimana? Indah, bukan?" tanya Samuel sambil mengarahkan kameranya ke arah Paris yang duduk di bagian depan perahu.Paris menganggukkan kepalanya. Tatapan matanya tampak berbinar dengan indah."Kau pasti ingin kembali ke sini untuk menikmati hanami lagi tahun depan," kata Samuel dengan nada meyakinkan."Sepertinya.""Aku akan menemanimu," kata Samuel sambil terus mengarahkan kameranya kepada Paris."Aku tidak ingin lagi bertemu denganmu," ucap Paris tetapi bibirnya tersenyum manis."Astaga," gerutu Samuel.Paris tidak menanggapi Samuel yang menggerutu, ia benar-benar menikmati sensasi menaiki perhu kecil di atas sungai yang tidak pernah ia rasakan seumur hudupnya. Ia kembali mengarahkan kameranya ke arsh Paris, ia merasa bunga Sakura sungguh serasi dengan kecantikan Paris. Untuk pertama kalinya ia merasa mendaptkan kepuasan yang luar biasa dari jepretan kameranya. "Kenapa kau sangat cantik?" tanya Samuel tiba-tiba.Mendengar pujian Samuel membuat wajah Paris tanpa ter


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.