LOGINSejak insiden Delina tiba-tiba dengan lancang masuk ke toko bangunan, Harsa akhirnya pulang setiap jam 11 pagi sampai jam 1 siang. Dia akan makan siang di rumah bersama istri dan anaknya, dan itu membuat Fiona bahagia bukan main. Harsa juga meliburkan tokonya di hari Minggu untuk menikmati waktu bersama keluarganya. Entah itu dengan berjalan-jalan di tempat-tempat wisata dalam kota, atau sesekali keluar kota. Keputusan itu didukung penuh oleh Bu Aminah. Rumah tangga akan semakin harmonis dengan menghabiskan waktu bersama setiap minggu, atau meluangkan waktu selama satu atau dua jam setiap harinya untuk sekedar bercerita. "Terima kasih ya, Dek." "Hmm?" Kamila mengangkat kepalanya dari bahu sang suami untuk melihat wajah pria itu. Sinar matahari tenggelam yang menyoroti wajah Harsa, menambah indah suasana senja di pinggir pantai. Mereka memang sengaja pergi ke pantai Teluk Asmara di Malang untuk melihat sunset, mumpung Fiona liburan sekolah setelah selesai ujian semester. "Kamu me
"Jadi itu alasan kamu mau menikahi aku, Mas?" Entah Kamila harus merasa tersinggung atau tersanjung. Tapi, jujur dia merasa penasaran dengan lelaki seperti Harsa. Kenapa tidak seperti laki-laki lain? Umumnya, mereka pasti akan langsung mau disodori barang gratisan. Apalagi, si perempuan sudah menawarkan diri untuk dijamah tanpa ada ikatan yang sah. "Salah satunya itu." Harsa yang sejak tadi rebahan di pangkuan Kamila, kini menyangga tubuhnya dengan siku. "Alasan lainnya, karena aku menyukai kamu sejak pertama kali Putra membawamu ke rumah ibu setelah menikah. Mungkin aku kena karma." Pria itu kembali meletakkan kepalanya di pangkuan Kamila, lalu menghadapkan wajahnya ke perut Kamila. Mencari tempat yang nyaman. "Tapi kamu nggak pernah berusaha untuk menggoda aku seperti Sulastri dan Delina, Mas. Jelas beda." Tentu saja Kamila tidak setuju, meskipun intinya hampir sama. Sama-sama menyukai pasangan milik saudaranya sendiri. "Aku pernah ingin menjauh dari kamu. Rasanya aku hampir gi
"Sa, kita tinggal bareng yuk." Harsa yang saat itu tengah menikmati semangkok soto di kantin kampus salah satu Universitas di Surabaya, langsung mematung. "Maksud kamu?" tanya Harsa tak mengerti. "Ya kita tinggal bareng di kos. Satu kamar. Kayak pasangan lainnya. Selain menghemat biaya, kita juga bisa makin intim," jawab Anita, gadis berhijab yang sempat membuatnya tertarik dan mau mencoba untuk memulai hubungan. Harsa melihat gadis yang sebelumnya membuatnya tertarik karena perangainya yang kalem dan anggun itu, dengan pandangan yang langsung berubah. Rasa ilfeel langsung menguasai hatinya. "Kita bukan mahram. Bukan suami-istri. Kenapa kamu ingin tinggal bersama?" "Udah biasa kali, Sa. Jaman sekarang tuh nggak usah munafik. Banyak kok yang udah tinggal bareng sama pacarnya," jawab Anita dengan senyum yang dulu sempat membuat Harsa terpana, tapi kini malah membuatnya muak dan jijik. "Aku menjalin hubungan denganmu bukan untuk kumpul kebo atau membiayai hidup kamu. Aku saja haru
"Harsa Zuhair, maukah kamu menjadi pacarku?" Sorakan dari seluruh siswa yang menonton begitu riuh di jam istirahat. Mereka semua berkumpul di lapangan untuk melihat bagaimana reaksi Harsa setelah ditembak oleh Delina. Ratu paling cantik di sekolah versus Pangeran paling dingin. Harsa yang saat itu hendak ke perpustakaan, harus berhenti di tengah-tengah lapangan karena dicegat oleh gadis itu. Gadis gila yang menghancurkan keluarganya. Yang membuatnya menjadi yatim piatu. "Terima! Terima! Terima!" Semua siswa kompak meneriakkan kata itu seperti yel-yel. Tapi, Harsa menatap Delina semakin dingin. Dia sangat membenci perempuan itu sampai ke ubun-ubun. Mereka semua tidak tahu sejarah keluarganya dan keluarga Delina. Mereka hanya meromantisasi wajah tampan dan cantik saja. "Ayolah, Sa. Semua orang setuju kalau kita menjadi couple. Sangat serasi," bujuk Delina sambil tersenyum menggoda. Harsa menatap Delina dengan muak. Gadis itu tidak tahu malu. Berlutut dengan sebelah kaki sambil me
Harsa menatap istrinya yang terlihat bar-bar dan garang. Sangat berbeda jauh dengan Kamila yang selama ini dia tahu. Bahkan, kemarahan istrinya tadi pagi tidak ada apa-apanya. Ucapan Fiona kembali terngiang-ngiang di benaknya. Ya, memang benar. Istrinya memang sangat mengerikan jika disenggol di hari pertama datang bulan. Dia meringis melihat wajah Delina yang sudah memerah dan basah karena menangis dan kesakitan. "Ma, udah lepasin. Nggak perlu repot-repot mengotori tangan mama dengan kuman. Ayo buruan cuci tangan," kata Fiona dengan wajah tenang. Anehnya, Kamila langsung menurut. Wanita itu melepaskan cengkeramannya di rambut Delina yang langsung rontok parah. Delina menangis tersedu-sedu sambil melihat Harsa, namun dia buru-buru pergi. Kakinya terhenti ketika melihat banyak orang yang berdiri mematung dengan wajah syok. Suara guyuran air di kamar mandi terdengar begitu keras di tengah heningnya toko bangunan miliknya. Mereka saling pandang selama beberapa detik."Eh, ada apa ya
Satu jam sebelumnya...."Bro, ada anakmu di depan." Harsa yang sibuk menelaah laporan berkala dan laporan tahunan di laptopnya, mendongak ketika Anton datang. Pintu ruangannya memang sengaja dia buka. Jaga-jaga kalau istrinya datang."Fiona? Kenapa ke sini?" Harsa buru-buru berdiri sambil menutup laptop. "Sekolahnya lumayan jauh dari sini." "Nggak kayak biasanya dia. Habis berantem sama temennya kali. Merengut aja," ucap Anton. Harsa melangkah dengan terburu-buru menuju ke depan toko. Di halaman toko yang luas, Fiona berdiri dengan wajah datar sambil memegangi sepeda. Dia teringat dengan cerita Kamila mengenai bagaimana ekspresi wajah Fiona saat membuat gambar aneh ketika masih TK, hingga akhirnya dipanggil oleh gurunya. "Sayang? Kok ke sini? Mama belum pulang?" Harsa melihat halaman yang hanya diisi oleh motor karyawannya. Tidak ada motornya. Dia pikir, Kamila sudah pulang untuk membukakan pintu bagi Fiona. Barulah ketika Harsa mendekat, Fiona langsung melepaskan sepedanya hingg







