Share

Bab 4

Author: Echo
Aku membuka riwayat email-ku dengan Marcus.

Selama lima tahun, dia mengirim setidaknya satu email setiap bulan. Kadang berupa foto matahari terbenam yang indah, kadang rekomendasi buku, kadang hanya kata sederhana "sedang memikirkanmu".

Ada satu email dari setahun lalu.

[ Elena, hari ini aku melewati sebuah galeri kecil dan melihat lukisan yang gayanya sangat mirip dengan karyamu. Kamu masih melukis? ]

Dua tahun lalu.

[ Katanya sedang turun salju di Newa. Jaga dirimu tetap hangat. Musim dingin di sana memang lembap, tapi ada romantismenya sendiri. ]

Tiga tahun lalu.

[ Selamat ulang tahun, Elena. Semoga semuanya baik-baik saja. ]

Aku sudah pernah membaca setiap email itu, tetapi tak pernah membalasnya. Bukan karena aku tidak mau, melainkan karena aku tidak berani.

Sekarang, saat membacanya kembali, aku bisa merasakan ketulusan yang mendalam dari setiap katanya. Marcus tak pernah melewati batas, tak pernah menanyakan pernikahanku. Namun, dia juga tak pernah berhenti peduli.

Aku sudah menepati bagianku dalam kesepakatan ini. Namun, bagaimana dengan Vincent?

Ponselku bergetar. Sebuah notifikasi transfer bank muncul. Vincent mengirimiku uang sebesar 75 miliar dengan catatan "untuk permintaan maaf".

Tujuh puluh lima miliar.

Aku tertawa. Tawa pahit yang kosong. Dia pikir uang bisa membeli segalanya, pengampunanku, kebisuanku.

Padahal uang itu justru menguatkan tekadku. Itu bukti bahwa di matanya, aku memang tak lebih dari sebuah "masalah" yang bisa diselesaikan dengan uang.

Aku kembali duduk di depan komputer dan mulai mengetik.

[ Marcus, terima kasih atas pesan-pesanmu. Dan terima kasih karena nggak melupakanku selama lima tahun ini. Kasih aku satu bulan. Setelah itu, aku akan pergi bersamamu. Dari Elena. ]

Aku menekan tombol kirim.

Menarik napas dalam-dalam, aku berjalan ke arah lemari pakaian. Aku harus mulai berkemas, tanpa Vincent menyadarinya.

Selama beberapa hari berikutnya, aku diam-diam mulai mengatur semuanya. Aku mengirim dokumen-dokumen penting, perhiasanku, dan beberapa barang penuh kenangan ke sebuah alamat di Newa. Marcus akan ada di sana untuk menerimanya.

Di permukaan, Vincent dan aku berada dalam perang dingin. Dia beberapa kali mencoba meminta maaf, tetapi semuanya kupatahkan dengan keacuhanku. Aku tidak meladeninya.

Kemudian, pada Kamis malam, dia mengetuk pintu kamar tidur.

"Elena, kita perlu bicara."

Aku membukanya. Dia berdiri di sana, tampak kelelahan.

"Pesta ulang tahun bos mafia akan diadakan Sabtu ini," katanya sambil menatap lurus ke mataku. "Seluruh Keluarga Romano akan hadir. Semua rekan bisnis juga."

"Terus?"

"Jadi aku butuh kamu ada di sana bersamaku." Dia berhenti sejenak. "Sebagai istriku."

Aku terkekeh dingin. "Sekarang kamu ingat aku ini istrimu?"

"Elena, aku tahu kamu marah. Aku tahu aku sudah mengacaukannya." Suara Vincent rendah. "Tapi bisakah kita ... menghentikan ini untuk satu malam saja? Setidaknya di depan ayahku, bisakah kita ...."

"Kita apa?"

"Gencatan senjata?" Dia tampak benar-benar lelah. "Kamu tahu betapa mereka menghargai pernikahan kita, betapa mereka senang melihat kita bersama. Aku nggak ingin dia khawatir. Setelah pesta, kita bisa kembali memikirkan semua ini."

Aku menatapnya, sementara keputusanku sudah bulat. Ini akan menjadi penampilan terakhirku sebagai Elena Romano. Perpisahan terakhirku dengan keluarga ini dan pernikahan palsu ini.

"Baiklah," ucapku. "Tapi ini yang terakhir."

Kelegaan langsung terpancar di wajah Vincent. "Terima kasih, Elena."

Sabtu malam, aku mengenakan gaun sutra merah tua, favorit Vincent. Bukan untuknya, melainkan untuk penutup sempurna dari sandiwara ini.

"Kamu terlihat cantik," kata Vincent, menungguku di dekat pintu. Dia mengenakan tuksedo hitam rapi, tampak persis seperti pria yang dulu kukira kucintai.

Seandainya saja aku tidak tahu kebenarannya.

Aku menyematkan lenganku ke lengannya. Aroma parfumnya yang familier menyelimutiku, tetapi aku menjaga jarak sejauh mungkin. Ini akan menjadi kali terakhir kami bersentuhan.

Pesta itu diadakan di klub pribadi Keluarga Romano. Aula megahnya dipenuhi tokoh-tokoh besar dunia bawah Newa dan kalangan elite.

Di pintu masuk aula, Vincent tiba-tiba berhenti dan menarikku mendekat, lengannya melingkari pinggangku.

"Aku mencintaimu," bisiknya di telingaku. Kemudian, di hadapan semua orang, dia mencondongkan tubuh untuk menciumku. Aku memalingkan wajah sedikit, cukup agar bibirnya mendarat di pipiku, bukan di bibirku.

Tubuh Vincent menegang.

Kerumunan tidak melihat pergulatan sunyi kami. Mereka hanya tersenyum dan bertepuk tangan, berbisik-bisik tentang betapa sempurnanya kami sebagai pasangan.

Aku mempertahankan senyuman tanpa cela di wajahku, tetapi di dalam hatiku, aku tak merasakan apa-apa.

Namun, saat kami melangkah masuk ke aula besar itu, aku melihat sesuatu yang membuat darahku membeku.

Sarah duduk di meja utama. Dia mengenakan gaun hamil berwarna biru pucat, perutnya yang membuncit kini jelas terlihat dan dia duduk di kursi yang seharusnya menjadi milikku, kursi untuk istri Vincent.

Dia tersenyum ke arah kami, tampak sepenuhnya seperti nyonya rumah.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kata-kata Manis Berisi Kebohongan   Bab 11

    Orang tuaku bergerak jauh lebih cepat dari yang kubayangkan.Keesokan paginya, mereka langsung mendatangi rumah besar Keluarga Romano. Seperti yang kemudian diceritakan ibuku, saat dia melemparkan laporan medis milikku ke atas meja di hadapan Kepala Keluarga Romano, pria yang selama puluhan tahun menguasai dunia bawah tanah Igali, mengembuskan napas panjang dan letih.Untuk mencegah kehancuran total aliansi antara dua keluarga, dia menawarkan untuk membereskan semuanya."David, apa yang kamu inginkan?""Sederhana," kata ayahku dingin. "Tanda tangani surat cerai sekarang juga. Vincent melepaskan semua klaim atas harta bersama, dan dia membayar Elena 750 miliar sebagai ganti rugi pribadi. Kalau nggak, aku akan memublikasikan cerita tentang bagaimana dia meracuni putriku.""Itu akan menghancurkan Keluarga Romano!""Biarkan saja hancur," jawab ayahku tanpa goyah. "Putramu telah menghancurkan impian putriku untuk menjadi seorang ibu. Kenapa aku harus peduli pada nama besar Keluarga Romano?"

  • Kata-kata Manis Berisi Kebohongan   Bab 10

    Pengakuan Sarah meledak seperti bom atom.Tagar "VincentRomanoAdalahMonster", "KeadilanUntukElena", dan "SarahAdalahKorbanJuga" menduduki tiga besar topik viral. Harga saham perusahaan-perusahaan milik Keluarga Romano anjlok 15%.Vincent segera dipanggil kembali ke Newa untuk mengendalikan kerusakan.Pukul dua siang, bel apartemenku berbunyi. Mengira itu Marcus, aku membukanya dan mendapati kedua orang tuaku berdiri di sana, wajah mereka penuh kecemasan."Elena!" Ibuku langsung menerobos masuk dan memelukku. "Kemasi barang-barangmu. Kita pulang ke Igali. Sekarang.""Aku nggak mau pulang," kataku sambil melangkah mundur. "Aku baik-baik saja di sini.""Baik-baik saja?" Suara ibuku meninggi tajam. "Elena, sekalipun kamu nggak menikah dengan Keluarga Romano, kamu tetap harus punya suami yang setara! Bukan ahli biologi kelautan! Apa kata orang nanti?"Aku hanya bisa tertawa pahit. Bahkan dengan semua penghargaan dan pengakuan Marcus di bidangnya, di mata orang tuaku, dia tidak akan pernah c

  • Kata-kata Manis Berisi Kebohongan   Bab 9

    "Elena, aku mencintaimu!"Suara Vincent yang putus asa dan nyaris gila menggema di halaman kompleks."Aku mencintaimu sejak pertama kali melihatmu!" teriaknya sambil berlutut di tanah, menatapku dengan air mata yang mengalir deras di wajahnya. "Semua yang terjadi dengan Sarah ... itu cuma rasa bersalah! Aku meninggalkannya demi kamu, dan aku pikir aku berutang sesuatu padanya!""Tapi sekarang aku tahu, satu-satunya orang yang benar-benar pernah kucintai hanyalah kamu! Elena, aku rela menyerahkan segalanya demi kamu!"Aku hanya mendengarkan, perasaan aneh menyapu diriku.Aku memotong ucapannya. "Vincent, aku mohon, lepaskan aku. Kita sudah selesai. Benar-benar selesai. Semakin kamu melakukan ini, semakin aku membencimu.""Aku nggak bisa melepaskanmu!" teriaknya. "Elena, kamu nggak mengerti, aku benar-benar nggak bisa hidup tanpamu! Aku bisa membuktikannya, aku bisa ...."Ponselnya berdering, memotong luapan emosinya.Dia melirik layar dan wajahnya langsung menegang."Ini Sarah," katanya

  • Kata-kata Manis Berisi Kebohongan   Bab 8

    Di rumah sakit, hasil rontgen menunjukkan satu tulang rusukku retak. Aku harus beristirahat selama beberapa minggu.Marcus duduk di samping ranjangku, jemarinya mengusap rambutku dengan lembut."Maafkan aku, Elena. Aku seharusnya melindungimu.""Ini bukan salahmu," bisikku. "Vincent sudah kehilangan akal."Saat perawat masuk, dia memberi tahu kami bahwa lobi dipenuhi wartawan. Seorang pria bernama Vincent Romano juga ada di sana, memaksa ingin menemuiku, tetapi keamanan rumah sakit menolaknya."Apakah dia mengatakan sesuatu?" tanyaku."Hanya bilang kalau dia suamimu," jawab perawat sambil melirik Marcus. "Tapi kami sudah memeriksa berkas Ibu. Kontak darurat Ibu terdaftar atas nama Marcus Baraka, bukan Vincent Romano. Teman Ibu sudah mengurus semuanya."Aku menatap Marcus dengan penuh rasa terima kasih. Dia memang selalu seperti itu, diam-diam membereskan segalanya untukku.Keesokan harinya, aku bersikeras ingin pulang. Saat Marcus membantuku keluar lewat pintu utama, kami berdua mendad

  • Kata-kata Manis Berisi Kebohongan   Bab 7

    Setelah memblokir kontak keluargaku, aku sempat berpikir akhirnya bisa mendapat sedikit ketenangan. Ternyata aku salah.Beberapa hari kemudian, Marcus datang menemuiku sambil membawa laptopnya. "Elena, kamu harus lihat ini."Pencarian Vincent memenuhi media sosial. Tagar "VincentRomano" dan "Istri15miliar" sedang viral di media sosial. Kolom gosip berpesta pora.[ Apakah Elena Romano meninggalkan suami penyayangnya demi kabur dengan pria lain? Beginikah arti kesetiaan? ][ Kasihan Keluarga Romano. Vincent itu tangkapan besar dan dia begitu saja membuangnya.Aku dengar dia kabur dengan pria dari kampusnya. Perempuan murahan. ]Bahkan akun perusahaan Keluarga Romano ikut merilis pernyataan.[ Elena, kami menunggumu pulang. Vincent mencintaimu lebih dari apa pun. ]Media sosial berubah jadi lautan dukungan sepihak. Teman-teman Keluarga Romano mengunggah foto-foto lamaku bersama Vincent, semuanya dengan caption yang memuji pengabdiannya dan mengecam "pengkhianatanku"."Mereka menganggapku

  • Kata-kata Manis Berisi Kebohongan   Bab 6

    Aku melihat Marcus begitu melangkah keluar dari gerbang kedatangan.Lima tahun berlalu dan dia masih setinggi dan setampan yang kuingat. Ada beberapa garis baru di sekitar mata birunya yang dalam, mata yang kini membelalak, dipenuhi campuran keterkejutan dan kebahagiaan murni."Elena ...." Dia menggumamkan namaku, seolah-olah takut aku hanyalah mimpi yang bisa menghilang kapan saja.Aku tak mengatakan apa-apa. Aku langsung melemparkan diri ke dalam pelukannya.Rasa aman yang telah lama hilang itu menyapu diriku. Aroma kayu cedar dan kopi dari jaketnya begitu familier dan akhirnya aku membiarkan air mataku jatuh."Aku di sini, Marcus. Aku benar-benar di sini."Dia memelukku erat, tubuhnya sedikit bergetar. "Selamat datang di rumah, Elena."Dalam perjalanan menuju apartemennya, aku menyalakan kembali ponselku.Notifikasiku langsung membludak.Dari Vincent, 47 panggilan tak terjawab, 73 pesan. Dari Sarah, 12 pesan. Dari ibuku, Isabella, 8 panggilan tak terjawab, dan puluhan pesan dari ber

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status