Share

Bab 3

Author: Echo
Keesokan malamnya, Vincent pulang lagi. Kali ini, di tangannya ada sebuah kotak kecil berwarna biru elegan, ciri khas dari toko berlian yang terkenal itu.

"Elena, aku membelikanmu sesuatu," katanya sambil mendekat dengan hati-hati. Suaranya terdengar manis, kemanisan palsu yang kini sudah kukenal. "Kamu pasti bakal suka."

Aku duduk di dekat jendela, bahkan tidak repot-repot menoleh ke arahnya.

Vincent membuka kotak itu. Di dalamnya terbaring sebuah kalung berlian yang berkilau, setiap batu tampak sempurna, memantulkan cahaya dengan indah.

"Ini dari koleksi terbaru. Edisi terbatas," ucapnya lembut. "Mau coba pakai?"

Akhirnya aku menoleh, menatap wajahnya. Kelembutan yang sudah terlatih dengan sempurna. Tiba-tiba, lima tahun terakhir berkelebat di benakku.

Hadiah-hadiah permintaan maaf setiap kali kami bertengkar, perhatian mendadak setelah berhari-hari bersikap dingin, bisikan manis setiap kali aku mulai curiga dia berselingkuh, semuanya hanya sandiwara.

Dia mengirimkan mawar di hari ulang tahunku, memesan restoran termahal untuk ulang tahun pernikahan kami, pergi ke gereja bersamaku saat Natal ....

Semua kenangan indah itu kini hanya terasa seperti lelucon pahit. Karena aku tahu, setelah malam-malam "romantis" itu, dia akan berbalik dan langsung pergi ke tempat tidur Sarah.

"Elena?" Vincent meraih tanganku, hendak memasangkan kalung itu. "Kenapa kamu menangis?"

Aku bahkan tidak menyadari air mataku kembali jatuh. Namun kali ini bukan karena sedih. Ini amarah. Amarah pada kebodohanku sendiri.

"Jauhkan itu dariku," kataku sambil menepis tangannya. "Bawa kalungmu itu dan bawa pergi juga kepedulian palsumu."

"Elena, aku tahu kamu marah, tapi ini nggak seburuk yang kamu pikirkan," Vincent mencoba menjelaskan. "Aku memberimu pil-pil itu karena aku nggak ingin kamu terluka."

"Nggak ingin aku terluka?" Aku hampir tak percaya dengan apa yang kudengar. "Jadi menurutmu berbohong padaku itu lebih baik?"

"Kamu nggak mengerti. Suksesi di Keluarga Romano itu rumit. Aku perlu memastikan ...." Dia terdiam sejenak. "Tapi ini nggak berarti apa-apa, Elena. Bahkan jika Sarah punya bayi, posisimu nggak akan berubah. Kita tetap bisa menjalani hidup yang baik bersama."

Hidup yang baik bersama?

Aku berdiri, merasakan darah yang mendidih di dalam diriku.

"Kamu pikir aku ini apa, Vincent? Burung kecil peliharaanmu? Sesuatu yang kamu kurung di dalam sangkar, kamu lempari remah-remah, lalu kamu harapkan bernyanyi sesuai perintahmu?"

"Elena, jangan begitu ...."

"Begitu gimana?" Suaraku meninggi. "Aku harus bersikap gimana lagi? Terus berpura-pura bodoh? Terus menelan racunmu? Menyaksikan selingkuhanmu mengandung anakmu, lalu bersyukur atas sisa-sisa yang kamu lemparkan padaku?"

"Aku nggak pernah memintamu bersyukur."

"Kalau gitu, apa yang kamu inginkan dariku?" Aku melangkah mendekat. "Terus menjadi istri kecilmu yang sempurna? Berpura-pura bahagia di depan dunia, supaya kamu bisa meniduri Sarah sesuka hati?"

Vincent terdiam.

"Nggak ada lagi 'kita', Vincent," kataku, suaraku tiba-tiba tenang. "Aku membencimu. Aku benci kebohonganmu, aku benci kemunafikanmu, dan aku benci fakta bahwa aku pernah mencintaimu."

Aku berbalik dan masuk ke kamar tidur, mengunci pintu di belakangku.

Aku mendengar sesuatu menghantam pintu dengan keras, disusul suara pintu depan yang dibanting.

Aku terjatuh di atas ranjang, merasa kosong sepenuhnya, seperti dilubangi dari dalam.

Saat itu juga, laptopku berbunyi, tanda ada email baru masuk.

Aku berjalan mendekat. Layar menampilkan sebuah pesan dari Marcus Baraka.

[ Elena, gimana kabarmu? Aku ingat kamu dulu sering melewatkan waktu makan. Perutmu masih sering bermasalah? Beberapa hari lalu aku mengambil foto paus orca. Luar biasa, 'kan? Andai saja kita bisa melihatnya bersama. Aku tahu kamu sudah menikah sekarang, dan ini mungkin nggak pantas. Maafkan aku. Tapi aku merindukanmu. Aku harap kamu bahagia. Dari Marcus. ]

Aku menatap email itu, jantungku mulai berdegup kencang.

Ini adalah jalan keluar. Sebuah jendela menuju kehidupan yang baru.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kata-kata Manis Berisi Kebohongan   Bab 11

    Orang tuaku bergerak jauh lebih cepat dari yang kubayangkan.Keesokan paginya, mereka langsung mendatangi rumah besar Keluarga Romano. Seperti yang kemudian diceritakan ibuku, saat dia melemparkan laporan medis milikku ke atas meja di hadapan Kepala Keluarga Romano, pria yang selama puluhan tahun menguasai dunia bawah tanah Igali, mengembuskan napas panjang dan letih.Untuk mencegah kehancuran total aliansi antara dua keluarga, dia menawarkan untuk membereskan semuanya."David, apa yang kamu inginkan?""Sederhana," kata ayahku dingin. "Tanda tangani surat cerai sekarang juga. Vincent melepaskan semua klaim atas harta bersama, dan dia membayar Elena 750 miliar sebagai ganti rugi pribadi. Kalau nggak, aku akan memublikasikan cerita tentang bagaimana dia meracuni putriku.""Itu akan menghancurkan Keluarga Romano!""Biarkan saja hancur," jawab ayahku tanpa goyah. "Putramu telah menghancurkan impian putriku untuk menjadi seorang ibu. Kenapa aku harus peduli pada nama besar Keluarga Romano?"

  • Kata-kata Manis Berisi Kebohongan   Bab 10

    Pengakuan Sarah meledak seperti bom atom.Tagar "VincentRomanoAdalahMonster", "KeadilanUntukElena", dan "SarahAdalahKorbanJuga" menduduki tiga besar topik viral. Harga saham perusahaan-perusahaan milik Keluarga Romano anjlok 15%.Vincent segera dipanggil kembali ke Newa untuk mengendalikan kerusakan.Pukul dua siang, bel apartemenku berbunyi. Mengira itu Marcus, aku membukanya dan mendapati kedua orang tuaku berdiri di sana, wajah mereka penuh kecemasan."Elena!" Ibuku langsung menerobos masuk dan memelukku. "Kemasi barang-barangmu. Kita pulang ke Igali. Sekarang.""Aku nggak mau pulang," kataku sambil melangkah mundur. "Aku baik-baik saja di sini.""Baik-baik saja?" Suara ibuku meninggi tajam. "Elena, sekalipun kamu nggak menikah dengan Keluarga Romano, kamu tetap harus punya suami yang setara! Bukan ahli biologi kelautan! Apa kata orang nanti?"Aku hanya bisa tertawa pahit. Bahkan dengan semua penghargaan dan pengakuan Marcus di bidangnya, di mata orang tuaku, dia tidak akan pernah c

  • Kata-kata Manis Berisi Kebohongan   Bab 9

    "Elena, aku mencintaimu!"Suara Vincent yang putus asa dan nyaris gila menggema di halaman kompleks."Aku mencintaimu sejak pertama kali melihatmu!" teriaknya sambil berlutut di tanah, menatapku dengan air mata yang mengalir deras di wajahnya. "Semua yang terjadi dengan Sarah ... itu cuma rasa bersalah! Aku meninggalkannya demi kamu, dan aku pikir aku berutang sesuatu padanya!""Tapi sekarang aku tahu, satu-satunya orang yang benar-benar pernah kucintai hanyalah kamu! Elena, aku rela menyerahkan segalanya demi kamu!"Aku hanya mendengarkan, perasaan aneh menyapu diriku.Aku memotong ucapannya. "Vincent, aku mohon, lepaskan aku. Kita sudah selesai. Benar-benar selesai. Semakin kamu melakukan ini, semakin aku membencimu.""Aku nggak bisa melepaskanmu!" teriaknya. "Elena, kamu nggak mengerti, aku benar-benar nggak bisa hidup tanpamu! Aku bisa membuktikannya, aku bisa ...."Ponselnya berdering, memotong luapan emosinya.Dia melirik layar dan wajahnya langsung menegang."Ini Sarah," katanya

  • Kata-kata Manis Berisi Kebohongan   Bab 8

    Di rumah sakit, hasil rontgen menunjukkan satu tulang rusukku retak. Aku harus beristirahat selama beberapa minggu.Marcus duduk di samping ranjangku, jemarinya mengusap rambutku dengan lembut."Maafkan aku, Elena. Aku seharusnya melindungimu.""Ini bukan salahmu," bisikku. "Vincent sudah kehilangan akal."Saat perawat masuk, dia memberi tahu kami bahwa lobi dipenuhi wartawan. Seorang pria bernama Vincent Romano juga ada di sana, memaksa ingin menemuiku, tetapi keamanan rumah sakit menolaknya."Apakah dia mengatakan sesuatu?" tanyaku."Hanya bilang kalau dia suamimu," jawab perawat sambil melirik Marcus. "Tapi kami sudah memeriksa berkas Ibu. Kontak darurat Ibu terdaftar atas nama Marcus Baraka, bukan Vincent Romano. Teman Ibu sudah mengurus semuanya."Aku menatap Marcus dengan penuh rasa terima kasih. Dia memang selalu seperti itu, diam-diam membereskan segalanya untukku.Keesokan harinya, aku bersikeras ingin pulang. Saat Marcus membantuku keluar lewat pintu utama, kami berdua mendad

  • Kata-kata Manis Berisi Kebohongan   Bab 7

    Setelah memblokir kontak keluargaku, aku sempat berpikir akhirnya bisa mendapat sedikit ketenangan. Ternyata aku salah.Beberapa hari kemudian, Marcus datang menemuiku sambil membawa laptopnya. "Elena, kamu harus lihat ini."Pencarian Vincent memenuhi media sosial. Tagar "VincentRomano" dan "Istri15miliar" sedang viral di media sosial. Kolom gosip berpesta pora.[ Apakah Elena Romano meninggalkan suami penyayangnya demi kabur dengan pria lain? Beginikah arti kesetiaan? ][ Kasihan Keluarga Romano. Vincent itu tangkapan besar dan dia begitu saja membuangnya.Aku dengar dia kabur dengan pria dari kampusnya. Perempuan murahan. ]Bahkan akun perusahaan Keluarga Romano ikut merilis pernyataan.[ Elena, kami menunggumu pulang. Vincent mencintaimu lebih dari apa pun. ]Media sosial berubah jadi lautan dukungan sepihak. Teman-teman Keluarga Romano mengunggah foto-foto lamaku bersama Vincent, semuanya dengan caption yang memuji pengabdiannya dan mengecam "pengkhianatanku"."Mereka menganggapku

  • Kata-kata Manis Berisi Kebohongan   Bab 6

    Aku melihat Marcus begitu melangkah keluar dari gerbang kedatangan.Lima tahun berlalu dan dia masih setinggi dan setampan yang kuingat. Ada beberapa garis baru di sekitar mata birunya yang dalam, mata yang kini membelalak, dipenuhi campuran keterkejutan dan kebahagiaan murni."Elena ...." Dia menggumamkan namaku, seolah-olah takut aku hanyalah mimpi yang bisa menghilang kapan saja.Aku tak mengatakan apa-apa. Aku langsung melemparkan diri ke dalam pelukannya.Rasa aman yang telah lama hilang itu menyapu diriku. Aroma kayu cedar dan kopi dari jaketnya begitu familier dan akhirnya aku membiarkan air mataku jatuh."Aku di sini, Marcus. Aku benar-benar di sini."Dia memelukku erat, tubuhnya sedikit bergetar. "Selamat datang di rumah, Elena."Dalam perjalanan menuju apartemennya, aku menyalakan kembali ponselku.Notifikasiku langsung membludak.Dari Vincent, 47 panggilan tak terjawab, 73 pesan. Dari Sarah, 12 pesan. Dari ibuku, Isabella, 8 panggilan tak terjawab, dan puluhan pesan dari ber

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status