Mag-log inNayla membelalakkan matanya, lalu segera bangkit dari kursinya, mengelilingi meja, dan meminta Boby duduk di sofa untuk menceritakannya perlahan."Dia bilang apa?""Kisahnya hampir sama dengan sebelumnya, tapi kali ini pakai bukti.""Bukti apa?""..."Boby menyerahkan sebuah kuitansi toko barang bekas ke tangan Nayla."Ini."Nayla memperhatikan tanggal pembelian di atasnya, yaitu tiga bulan yang lalu. Di sana juga tertulis nama toko barang bekas tersebut.Boby menjelaskan, "Tiga bulan lalu, Sunny mengaku membeli liontin giok ini di toko itu waktu pergi belanja dengan Ryan.""Karena di atasnya ada ukiran namanya, harganya nggak mahal. Sunny bilang dia suka, lalu Ryan membelinya.""Sudah dicek ke tokonya? Benar beli di toko ini?" Nayla masih ragu.Boby mengangguk. "Aku sudah ke toko itu sebelum datang ke sini. Pemiliknya mengaku pernah menjual liontin giok seperti ini tiga bulan lalu."Dia mencoba menanyakan kepada pemilik toko mengapa liontin itu ada di sana, dan pemiliknya mengaku bahw
Calvin mengangkat tangan satunya, menyelipkannya di sela-sela tangannya dan dada Sandra, lalu melepaskan tali tipis yang mengikat.Gerakannya sangat lembut, sentuhannya seolah-olah hanya sekilas menyentuh kulit yang lembut itu. Tubuh Sandra sedikit bergetar, malu setengah mati, dan dia menggigit bibirnya dengan keras.Sepanjang proses itu, dia tidak berani menatap Calvin sedikit pun.Waktu seakan berhenti pada saat itu. Sandra merasakan gerakan lembut di bawah dadanya, berharap semua ini segera berakhir.Setelah beberapa detik yang menyiksa, suara Calvin akhirnya terdengar."Nona Sandra, sudah lepas."Sandra menghembuskan napas lega, seolah beban berat terangkat. Lalu, kedua tangannya menopang sandaran kursi, mencoba untuk berdiri.Tiba-tiba kedua lengannya digenggam erat, aroma parfum samar bercampur aroma tembakau merasuki hidungnya."Hati-hati, jangan buru-buru."Dengan nasihat itu, tubuh Sandra ditopang dengan kekuatan lengan Calvin yang kokoh, kembali duduk dengan nyaman di kursi.
Aura dominan Calvin sangat menekan. Meski raut wajahnya tampak biasa saja dan tidak ada tanda kemarahan sedikit pun, Sandra entah mengapa merasa takut padanya.Tubuhnya tanpa sadar menjadi sangat patuh. Berjalan ke sana, mengambil gelas air itu dan meminumnya.Begitu air menyentuh lidahnya, matanya langsung berbinar.Air madu.Untuk menghilangkan mabuk."Sudah habis."Sandra masih memegang gelas air itu, tidak tampak akan meletakkannya. Matanya mencari-cari ke sekeliling, lalu melihat dapur dan hendak pergi untuk mencuci gelas."Biarkan saja di sana, nanti dicuci pelayan."Suara berat Calvin terdengar kembali, tanpa emosi yang bisa dibaca, dan Sandra pun tidak bisa membantah. Dia membungkuk sedikit untuk meletakkan gelas itu."Terima kasih, Pak Calvin. Sekarang sudah larut malam, aku pulang dulu."Sandra mendongak menatapnya, memberinya senyum tipis, dan mempertahankan sikap yang anggun dan tenang."Aku antar pulang."Mata Sandra membelalak, membeku.Melihatnya mengambil jas dari sanda
Sandra tersipu dan berbicara dengan suara samar penuh kerinduan. Setelah selesai berbicara, bibirnya berkedut getir, dan kelopak matanya kembali terkulai.Hati Julian dipenuhi rasa gelisah. Dia tidak mengerti bagaimana Mario tega menyakiti Sandra. Ada orang-orang sangat menginginkannya, tetapi hanya bisa mengharapkannya saja. Dan Mario justru memperlakukannya dengan begitu kejam."Sandra, kalau kamu mau membuka mata, kamu akan tahu bahwa ada seseorang yang sangat mencintaimu.""Benarkah? Benarkah ada?"Sandra bertanya dengan lemah, matanya menatapnya dengan memelas. Raut wajahnya itu terpantul di mata dan terukir di dalam hati Julian."Ya, Sandra, lihat aku ...."Mata Sandra yang kabur menatapnya, tampak seperti mabuk berat. Tiba-tiba, kepalanya terhempas dengan keras ke dada Julian.Julian terkejut sejenak, lalu perlahan mempererat pelukannya, menggendong Sandra di depan dada, dan berjalan menuju pintu bar.Kepala Sandra tertunduk, bersandar di pelukannya. Sementara sudut bibirnya tib
Sandra seolah tersengat listrik, menarik tangannya kembali. Raut wajahnya langsung berubah menjadi tidak senang."Nggak ada yang bisa menggantikan Mario."Di antara para pria yang mendekatinya, penampilan dan tubuh mereka tidak ada yang sebanding dengan Mario.Latar belakang keluarga pun jauh tertinggal.Keluarga Senja adalah salah satu dari empat keluarga teratas di Hanka, dengan kekuatan yang setara dengan Keluarga Tanu dan Keluarga Jatmiko.Keluarga Zoya sebelumnya telah membuat Simon dan Nayla marah. Keluarga Zoya memiliki peluang untuk mengubah nasib hanya dengan memanfaatkan kesempatan ini dan mendekati Keluarga Senja.Julian menarik tangannya dengan kesal. Meski dalam hati merasa tidak senang, dia tetap bersikap sopan."Maaf, aku mabuk, sampai asal bicara. Jangan diambil hati."Sandra sudah mengenal Julian selama bertahun-tahun, dan selama ini memiliki kesan yang baik terhadap Julian, sehingga dia pun tidak marah."Nggak apa-apa."Sandra mengangkat gelasnya dan minum dua teguk.
Ibunya sudah meninggal pada kecelakaan itu.Boby pulang ke rumah dengan hati yang berat, lalu duduk lemas bersandar di sofa.Matanya melirik kotak kayu di atas meja, tatapannya redup. Kata-kata Nayla tadi terus bergema di benaknya."Kak Boby, kita pasti bisa menemukan Allison. Ayahmu memutuskan untuk memberitahumu sekarang, karena dia nggak ingin mengganggu kehidupan normalmu. Kamu harus tetap kuat.""Aku akan menemanimu, kita cari Allison bersama-sama.""..."Suara Nayla yang lembut namun tegas itu seketika menenangkan hatinya yang gelisah.Dia merasa Nayla benar. Ayahnya memiliki niat baik, memilih untuk memberitahukan kebenarannya setelah bertahun-tahun berlalu, agar dia tidak terpuruk dalam kesedihan masa lalu.Dengan pemikiran itu, bayangan kelam di matanya sirna.Tiba-tiba, dia duduk tegak kembali, membuka kotak kayu itu dan mengeluarkan foto-foto di dalamnya. Kali ini, dia melihat seluruh isi dari dua album foto itu dengan saksama.Foto-foto adiknya sangat sedikit. Kebanyakan ad







