ログインTanpa pikir panjang, Nayla langsung menelepon Amanda."Amanda, kamu di mana?"Begitu telepon diangkat, Nayla langsung bertanya.Amanda baru saja menandatangani kontrak. Sambil tersenyum, dia bercerita kepada Nayla, "Aku sedang di kantor, barusan tanda tangan beberapa kontrak. Ada apa, Sayang?"Tanpa menunggu Nayla menjawab, Amanda melanjutkan, "Aku baru juga mau telepon, mau mengajakmu makan besar dengan Winda juga. Aku yang traktir.""Kamu sekarang di kantor?"Kegugupan Nayla yang hampir tidak tersembunyikan langsung membuat Amanda bingung."Iya, aku di kantor. Ada apa?"Nayla tidak akan bersikap seperti ini dalam keadaan biasa."Sendirian?"Nayla bertanya lagi, tanpa menjawab satu pun pertanyaan Amanda.Amanda semakin yakin bahwa ada sesuatu yang telah terjadi."Iya, aku sendiri. Mario mengantarku ke sini. Sekarang mungkin sedang makan dengan Simon dan Austin.""Sayang, beri tahu aku, ada sesuatu?"Sebuah rasa khawatir muncul di hati Amanda, tetapi dia samar-samar merasa bahwa hal in
Amanda terhenti sejenak saat hendak turun dari mobil, raut wajahnya sedikit membeku, lalu menatapnya sambil bertanya."Kamu nggak keberatan soal rumor hubunganku dengan pria lain?"Mario menoleh setengah badan untuk menghadapnya, dengan tatapan serius di matanya."Sebagai seorang pria, aku cukup percaya diri untuk meyakini perasaanmu padaku.""Aku nggak peduli masa lalumu, dan nggak tertarik juga. Sedangkan masa kini dan masa depanmu, aku sangat yakin kamu nggak akan mengkhianatiku, dan aku bahkan yakin kamu akan setia sepenuhnya padaku.""Amanda, aku percaya padamu, dan juga percaya pada diriku sendiri."Mendengar itu, jantung Amanda berpacu kencang, seolah-olah tersambar sesuatu, dan dia sangat terharu sampai kehabisan kata-kata.Ini adalah pertama kalinya Mario mengatakan sesuatu seperti itu, dengan begitu terus terang.Amanda bukanlah orang yang pemalu, tetapi karena kata-kata itu, pipinya memerah."Omonganmu bisa saja. Belajar dari siapa? Sepertinya karena terpengaruh Austin."Ama
Pada hari ketiga setelah kasus dibatalkan, Mario membawa selembar cek dan meletakkannya di hadapan Amanda.Amanda langsung menyadari bahwa itu adalah kompensasi dari Keluarga Wistara."Benar sekali." Mario berkata sambil bercanda, "Nona Amanda, total asetmu sekarang lebih banyak daripada milikku. Mulai sekarang, kamu saja yang menafkahiku?"Amanda tertawa terbahak-bahak mendengarnya. "Uang segini pasti bukan apa-apa di matamu, ya 'kan, Dokter Mario?""Asal kamu mau, aku nggak masalah dihidupi istriku."Senyum tipis terukir di bibir Mario, sambil menatap Amanda dengan tatapan penuh arti.Senyum di wajah Amanda semakin cerah. "Oh, jadi Dokter Mario ingin meninggalkan dunia kedokteran dan terjun ke dunia bisnis? Atau mungkin, kariermu di rumah sakit belakangan ini kurang lancar, sampai perlu dihidupi uangku?"Mario masih tersenyum dan mencubit dagunya. "Jadi, Nona Amanda, apa kamu bersedia?"Amanda menoyornya. "Kalau kamu memang serius, bisa dibicarakan. Kalau kamu cuma meledekku, aku ngg
Mendengar penuturannya, Sandra semakin gelisah. "Sudah, jangan bicara lagi. Lakukan saja yang sudah kukatakan sebelumnya. Ingat, jangan sampai ketahuan.""Ya, aku mengerti."Michael menghela napas, lalu teringat sesuatu dan bertanya dengan perhatian, "Kak, kamu sekarang di mana? Beneran nggak mau pulang? Kalau kamu nggak berangkat lagi ke rumah sakit dalam waktu dekat, mungkin semua orang akan mengira kamu nggak berani muncul."Wajah Sandra tampak serius, dan kilatan kejam melintas di matanya. "Aku punya rencana sendiri, jadi jangan tanya dulu. Oh ya, sampaikan ke Ayah Ibu aku baik-baik saja.""Ya sudah." Michael menutup telepon.Sandra baru saja meletakkan ponselnya ketika seorang pelayan mengetuk pintu dan masuk, lalu berkata dengan sopan dan hormat, "Nona Sandra, Tuan Calvin sudah pulang dan ingin bertemu denganmu di bawah."Sandra pun melirik jam, ternyata sudah pukul tujuh lebih, sudah malam.Sandra bangkit dan turun ke lantai bawah.Calvin duduk santai di sofa dengan satu kaki di
Ternyata Sandra!Nayla tanpa sadar berseru, "Kamu nggak bohong?"Farrel tertawa, menertawakan diri sendiri. "Aku juga awalnya nggak percaya. Sampai aku suruh orang menyelidiki, dan memastikan pengirimnya memang Sandra.""Buktinya apa? Kamu punya buktinya?" Amanda bertanya lagi.Farrel mengangkat dagunya. "Tentu saja aku punya bukti, ada di ponselku. Kalau kalian mau buktinya, bisa saja kuberikan. Dengan syarat, batalkan kasus ini."Secara relatif, permintaan Farrel ini tidak terlalu berlebihan.Keluarga Wistara sudah diam-diam menghubungi Mario untuk menangani masalah ini, dan menawarkan kompensasi kepada Amanda.Baik itu uang sebesar 200 miliar maupun beberapa tawaran iklan dan acara peragaan busana yang dijanjikan Keluarga Wistara, semuanya membuat Amanda tertarik.Amanda ragu sejenak. "Oke, tapi awas saja kalau aku tahu kamu bohong."Mereka pun dapat dikatakan telah mencapai kesepakatan.Kemudian, Nayla dan Amanda berdiri bersamaan untuk pergi.Farrel tampaknya tidak menyangka merek
Nayla sudah lama memikirkan kemungkinan ini, bahkan sudah meminta Charlie untuk menyelidiki.Hasil penyelidikan telah dia terima tepat sepuluh menit sebelum Amanda datang."Tebakanmu benar. Setelah memeriksa ponsel Farrel, memang ada seseorang yang mengirim rekaman suara kepadanya.""Dan rekaman itu berisi percakapan antara Kartika dan Melanie. Aku jadi berpikir, apa mungkin Melanie yang mengirim rekaman itu ke Farrel?"Amanda mengerutkan kening. "Apa tujuan Melanie melakukan itu? Walaupun dia sangat nggak suka aku berhubungan dengan Mario, ini sama sekali nggak menguntungkan baginya.""Jangan lupa apa yang dialami Melanie waktu dia diberi pelajaran sebelumnya." Nayla mengingatkan dengan nada datar.Amanda mengangguk. Memang ada benarnya. "Sayang, kita menebak-nebak pun nggak ada gunanya dibanding menanyakan langsung kepada yang bersangkutan. Ya nggak?"Kilatan licik muncul di mata Amanda.Melihat ini, Nayla segera menyadari apa yang ingin dia lakukan. "Kamu mau bicara dengan Farrel?"







