LOGINTanpa berpikir panjang, Leonard melompat ke dalam danau. Seorang penjaga vila ikut menyusul beberapa detik kemudian. Tak butuh waktu lama sebelum kedua anak itu berhasil diangkat ke daratan.
Tubuh Tara menggigil hebat. Wajahnya pucat kebiruan, napasnya memburu, sementara ia terus batuk mengeluarkan air yang memenuhi paru-parunya.
"Kara..." Suara itu nyaris tak terdengar. "Kara... mana Kara...?"
Tak seorang pun menjawabnya. Seluruh perhatian sudah tertuju pada Kara yang ma
Keesokan paginya, langit masih diselimuti awan kelabu ketika sebuah sedan hitam berhenti di depan pusat tahanan sementara yang berada di bawah pengawasan pengadilan.Kara turun lebih dulu. Ia mengenakan setelan berwarna gading dengan mantel panjang yang menutupi tubuhnya dari udara dingin. Di belakangnya, Helena berjalan berdampingan dengan dua orang pengacara dari firma hukum yang sejak beberapa hari terakhir menangani kasus Adrian.Tak ada seorang pun yang berbicara selama mereka melewati pemeriksaan keamanan. Bunyi pintu besi yang menutup satu demi satu di belakang mereka membuat suasana semakin menyesakkan. Beberapa menit kemudian, mereka dipersilakan memasuki ruang konsultasi yang dipisahkan dinding kaca tebal. Tak lama berselang, Adrian dibawa masuk oleh dua petugas.Dalam hitungan hari, wajah pria itu tampak jauh lebih tirus. Janggut tipis mulai memenuhi rahangnya, sementara lingkar hitam di bawah matanya menunjukkan bahwa ia hampir tidak pernah tidur nye
Pintu kamar hotel tertutup pelan di belakang Kara.Sudut bibirnya yang sejak tadi tertahan akhirnya terangkat membentuk senyum lega. Ia meletakkan tas tangan bermerek yang kini mulai kehilangan kilaunya di atas meja kecil dekat pintu, lalu melepas sepatu hak tingginya sambil mengembuskan napas panjang.Untuk pertama kalinya sejak Adrian ditahan, beban yang selama beberapa hari terakhir menyesakkan dadanya terasa sedikit berkurang.Kamar hotel itu jauh dari kata mewah. Hanya sebuah kamar sederhana yang mereka sewa secara mingguan sejak seluruh hidup mereka berubah. Dua koper besar masih tergeletak di sudut ruangan. Beberapa kotak kardus yang berisi barang-barang mereka juga masih tampak berserak. Sebagian pakaian belum sempat dikeluarkan karena baik Kara maupun Helena sama-sama sadar, tempat itu hanyalah persinggahan sementara.Di dekat jendela, Helena duduk membungkuk di depan meja kecil. Lembar demi lembar uang tunai, beberapa kartu bank, serta buku cata
Victor hanya mendengarkan. Jemarinya yang semula bertumpu di sandaran kursi perlahan saling bertaut, sementara tatapannya tetap tertuju pada Vivian."Dia mengatakan seluruh dunia sedang salah paham."Vivian berhenti sejenak, seolah masih mengingat dengan jelas setiap kata yang diucapkan wanita itu di lobi hotel."Lalu dia berkata," napasnya terembus pelan, "dia adalah wanita yang sebenarnya menikah dengan Adrian. Bukan Tara."Keheningan segera memenuhi ruang keluarga. Yang terdengar hanya detak halus jam dinding dan suara angin malam yang berembus melewati jendela besar di sisi ruangan.Gilbert tanpa sadar mengalihkan pandangannya kepada Victor. Ia sudah mengenal pria itu selama bertahun-tahun. Bagi orang lain, wajah Victor mungkin terlihat sama seperti biasanya, tetapi Gilbert tahu sorot mata yang perlahan mengeras itu adalah tanda bahwa pikirannya sedang bekerja.Vivian memperhatikan perubahan kecil tersebut. Sudut bibirnya terangkat tipis
“Saya cukup penasaran, siapa tamu yang datang malam ini?” Gilbert berkata sembari melirik ke arah spion tengah.Sejak meninggalkan mansion yang Tara tempati, Victor memilih diam. Seolah menikmati perjalanan tapi dari sorot matanya terlihat jelas jika pria itu tampak berpikir, siapa tamu yang menunggunya di rumah.“Andai aku tahu, Gilbert,” kata Victor pelan. “Aku tak perlu menduga-duga.”Perjalanan menuju tempat Victor tinggal tak terasa hingga akhirnya, mobil pun memasuki area kompleks perumahan mewah. Tak butuh waktu lama, mobil pun berhenti tepat di pintu utama.Victor baru saja melangkah memasuki foyer ketika kepala pelayan menghampirinya."Selamat malam, Tuan."Victor menyerahkan jas yang sejak tadi disampirkan di lengannya. "Apa tamunya masih menungguku?”"Ya, Tuan. Beliau sudah menunggu hampir satu jam."Victor mengernyit tipis. "Siapa dia?”Kepala pelayan belum semp
Liora berlari sekencang yang ia bisa, rambutnya yang diikat dua bergoyang ke sana kemari mengikuti setiap langkah mungilnya. Senyum lebar menghiasi wajah polos itu, seolah seluruh dunia menjadi jauh lebih baik hanya karena melihat Tara akhirnya pulang.Refleks, Tara segera berjongkok.Tubuh kecil itu langsung menabraknya tanpa ragu. Memeluk lehernya erat hingga nyaris membuat keseimbangannya goyah.Tara membalas pelukan itu dengan kedua lengannya, memejamkan mata sejenak. Aroma sampo strawberry kesukaan Liora begitu akrab memenuhi indra penciumannya, sementara pipi Liora yang hangat menempel di bahunya.Entah mengapa ... semua beban yang sejak pagi memenuhi dadanya perlahan terasa sedikit lebih ringan."Aku merindukanmu," gumam Liora lirih.Tara tersenyum, lalu mengecup puncak kepala anak itu berkali-kali. "Aku juga.”Liora mundur sedikit, lalu menatap wajah Tara lekat-lekat. Alis kecilnya perlahan bertaut. “Kau terlihat l
Suara mesin mobil memenuhi keheningan yang sejak tadi menyelimuti perjalanan mereka meninggalkan kompleks pengadilan. Tak seorang pun berniat memulai percakapan. Gilbert yang duduk di kursi depan sesekali memeriksa layar tabletnya, memastikan tak ada perkembangan baru dari tim hukum, sementara Victor duduk di samping Tara.Sesekali Gilbert melaporkan beberapa hal terkait pekerjaan yang mereka tinggalkan selama proses sidang hari ini.Berbeda dengan Tara yang langsung menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Kelopak matanya perlahan terpejam, bukan karena ingin tidur, melainkan karena tubuhnya benar-benar kehabisan tenaga. Sejak pagi ia nyaris tak menyentuh makanan. Sidang yang berlangsung berjam-jam, sorotan media, pertanyaan tanpa henti, hingga konfrontasi dengan Adrian dan keluarganya telah menguras seluruh energi yang ia miliki.Ia menarik napas panjang, berusaha mengendurkan ketegangan yang sejak tadi memenuhi bahu dan tengkuknya.Victor melirik se







