Beranda / Romansa / Kawin Sama Mantan / 87. Kompensasi yang aku inginkan

Share

87. Kompensasi yang aku inginkan

Penulis: Ellina Exsli
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-08 06:21:46

"Jadi Tuan, apakah Anda bersedia membantu saya keluar dari rumah ini dan bercerai dengan cucu Anda?" Sia kembali bertanya, tetapi nampaknya sulit sekali meyakinkan Tuan Valora. Lelaki tua itu kini menatapnya tajam, lalu tersenyum sinis.

"Bagaimana mungkin kau terus memaksa bercerai dengan Adrian, sedangkan kau sendiri sekarang tidak memiliki apa-apa? Lalu, dengan apa kau akan menghidupi bayi dalam kandunganmu itu?" Tuan Valora kembali bertanya dengan nada mencemooh.

Namun, Sia tidak terpancing dengan hal itu. Ia membalasnya dengan senyum tipis. "Baiklah, saya mengakui saat ini saya memang tidak memiliki apa-apa dan hanya sebatang kara. Bahkan, kakek yang mendukung saya pun entah berada di mana. Hidup saya penuh ancaman, sebab paman dan sepupu saya pun mengincar saya dan menjadikan saya buronan."

Sia menghela napas sejenak. "Tapi semua itu tidak akan membuat saya goyah pada keputusan saya." Lanjutnya, masih sambil tersenyum.

Namun, lagi-lagi Tuan Valora berdecih. "Apa kau pikir
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kawin Sama Mantan   90. Kunjungan Houston II

    Tiga jam berlalu, mobil mewah Houston dan Sulli tiba di villa ujung utara. Mereka terpukau ketika melihat bangunan yang besar dan indah di depan mereka. Bangunan dengan gaya moderen dengan sentuhan warna cat klasik, ditambah disisi bangunan terdapat pepohonan yang hijau, membuat kesan yang tenang. "Ayah yakin Sia tinggal di sini?" Sulli bertanya dengan ragu, sebab ia benar-benar tidak menyangka kalau Sia akan tinggal di tempat mewah seperti ini.Houston mengangguk. "Alamat yang tertulis memang di sini.""Tetapi villa ini besar sekali, mana mungkin ia tinggal di sini, Ayah.""Mungkin saja kalau dia adalah salah satu pelayan di sini."Sulli lalu menengok ke kanan dan ke kiri, angin kencang berembus, membuat rambutnya yang panjang tertiup angin dan beterbangan. Tak jauh dari sana, terdengar suara deburan ombak, Sulli berjalan maju. Di sana ia terpukau saat melihat pantai terhampar luas di depannya. "Ini benar-benar menakjubkan.""Hei! Kemarilah!" Houston memanggil dari jauh, cepat-cepat

  • Kawin Sama Mantan   89. Kunjungan Houston.

    Setelah berminggu-minggu berlalu, kehidupan Sia dan Adrian begitu tenteram dan bahagia. Sia menjalani hari-harinya di villa milik Adrian dengan begitu tenang, ia tidak berpikir untuk kabur lagi. Ditambah perlakuan Adrian yang semakin hari semakin lembut, memperlakukannya bak seorang ratu. Hal itu tentu saja membuat perasaan Sia pada Adrian semakin dalam. Ia juga mulai menerima kehadiran Adrian serta bayi dalam kandungannya. Awalnya yang ia pikir bayi itu adalah penghalang baginya, kini ia menjaganya dengan baik."Lusa kita pergi ke dokter untuk cek kandungan, kan?" Tanya Adrian ketika mereka sedang sarapan. Sia hanya mengangguk."Kalau begitu, apakah jenis kelamin bayinya sudah terlihat?"Seketika Sia tertawa saat mendengar pertanyaan Adrian itu. "Tentu saja belum, Adrian. Kandunganku baru berumur dua belas minggu." Sia lantas mengulum senyum."Hem, aku tidak sabar ingin melihat jenis kelamin anak kita.""Bersabarlah dulu, Adrian."Adrian pun mengangguk, lalu mengambilkan air minum un

  • Kawin Sama Mantan   88. Maafkan aku, Sia

    Adrian menangis? Itu adalah hal yang tidak mungkin. Sia tersenyum tipis acuh tak acuh. Dia kembali memusnahkan perasaan terkejut yang sempat singgah. "Jadi pelayan itu mengadu padamu?" Sia bertanya dengan nada menantang, Adrian kini menatapnya dalam. Tatapan yang tak pernah Sia mengerti. Sia lantas mengernyit, Adrian terus menatapnya tanpa mengatakan apa-apa. Hingga tiba-tiba Adrian meneteskan air matanya secara jelas. Lelaki yang terkenal kejam dan tak berperasaan itu kini menangis dihadapan Sia. Sia kian heran, ia tidak tahu mengapa Adrian tiba-tiba seperti itu. "Adrian, kau kenapa?" Perlahan Sia memegang pipi Adrian, mengusap air matanya. Suaranya yang tadi keras, kini terdengar begitu pelan. "Maafkan aku, Sia." Ucapnya begitu lirih, tetapi juga menyayat hati Sia saat itu juga. Wanita itu kini merasa bersalah. Ia lantas berpikir, apakah ia sudah keterlaluan hingga membuat lelaki tak berperasaan itu menangis karenanya? "Ka-kau, mengapa menangis, Adrian?" Sia kembali mengusa

  • Kawin Sama Mantan   87. Kompensasi yang aku inginkan

    "Jadi Tuan, apakah Anda bersedia membantu saya keluar dari rumah ini dan bercerai dengan cucu Anda?" Sia kembali bertanya, tetapi nampaknya sulit sekali meyakinkan Tuan Valora. Lelaki tua itu kini menatapnya tajam, lalu tersenyum sinis. "Bagaimana mungkin kau terus memaksa bercerai dengan Adrian, sedangkan kau sendiri sekarang tidak memiliki apa-apa? Lalu, dengan apa kau akan menghidupi bayi dalam kandunganmu itu?" Tuan Valora kembali bertanya dengan nada mencemooh. Namun, Sia tidak terpancing dengan hal itu. Ia membalasnya dengan senyum tipis. "Baiklah, saya mengakui saat ini saya memang tidak memiliki apa-apa dan hanya sebatang kara. Bahkan, kakek yang mendukung saya pun entah berada di mana. Hidup saya penuh ancaman, sebab paman dan sepupu saya pun mengincar saya dan menjadikan saya buronan." Sia menghela napas sejenak. "Tapi semua itu tidak akan membuat saya goyah pada keputusan saya." Lanjutnya, masih sambil tersenyum. Namun, lagi-lagi Tuan Valora berdecih. "Apa kau pikir

  • Kawin Sama Mantan   86. Kunjungan Tuan Tua Valora

    Sia dan Adrian tiba di Villa ujung utara. Adrian memperlakukannya dengan sangat baik sejak mengetahui kehamilan Sia beberapa menit lalu. Sedangkan Sia merasa biasa saja, tidak terlalu senang bahkan merasa cukup buruk. Semua ini tidak ada dalam rencananya. Adrian membimbingnya masuk ke kamar mereka, ia meminta Dominic untuk membelikan aneka macam buah-buahan dan susu ibu hamil terbaik. "Mulai saat ini, kau tidak boleh keluar ke mana pun, tidak boleh melakukan aktivitas apapun, kau hanya harus istirahat. Kau tidak boleh stres, jadi aku ingin agar kau mengatakan apapun keluh kesahmu padaku." Sia menatap Adrian dalam. Lalu beralih pada perutnya yang masih rata. Ada sebuah janin yang tumbuh dalam perutnya, yang akan memanggilnya Ibu. Dia tak memiliki kenangan yang baik pada orang tuanya tapi dia cukup sadar bahwa dia tak akan melakukan hal buruk terjadi pada anaknya. Adrian mengambil tangan Sia dan menggenggamnya. "Aku tahu kau memang tak pernah menginginkanku, tetapi aku mohon sekali

  • Kawin Sama Mantan   85. Sia Hamil.

    Saat Sia hendak memejamkan matanya, rasanya tak tenang. Sia lalu memanggil salah satu pelayan yang sudah ia percaya. Pelayan pria dengan usia pertengahan tiga puluh, dengan badan tidak terlalu kekar tetapi cukup mahir beladiri, pelayan yang sebelumnya sudah ia pilih sendiri. "Nona Sia memanggil saya?" Pintu diketuk dengan sapaan dari luar, Sia membuka pintu kamarnya. "Nona memanggil saya?" Ulangnya memastikan. Sia mengangguk, ia lalu mengambil dua botol yang sejak tadi ia pandangi itu. "Kau tahu ini apa?" Pelayan itu menggeleng ragu. Sia tersenyum. Dengan singkat Sia menjelaskan. "Ini adalah obat yang menyebabkan halusinasi, jika menggunakannya dengan dosis tinggi, orang yang mengonsumsinya akan gila. Aku belum melihat pastinya, tapi aku ingin tahu reaksi nyata obatnya." Pelayan itu hanya diam saja memandangi dua botol yang dipegang Sia. Ketakutan merambah di hatinya saat melihat wajah Sia yang cantik tapi memiliki hal hal yang mengerikan. "Lalu apa tugas saya, Nona?" Sia kemb

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status