เข้าสู่ระบบDi sebuah gedung perkantoran mewah di kawasan bisnis Jambire, Rendra Kusnadi, seorang pengusaha sekaligus politisi oposisi, duduk di kursi kulit mahalnya sambil memutar-mutar segelas cognac. Pria paruh baya dengan rambut rapi gombrong dan jas Italia itu tersenyum tipis sambil menatap layar laptop di mejanya.Di layar, ada foto-foto Ryan yang keluar dari rumah sakit, makan di warung pinggir jalan, berjalan sendirian di malam hari."Jadi ini dia..." gumam Rendra sambil memperbesar salah satu foto. "Pemuda misterius yang menyelamatkan Darma Sudirga."Seorang pria bertubuh besar dengan setelan hitam, Bagas, tangan kanannya, berdiri di samping meja."Kami sudah mengikutinya selama tiga hari, Pak. Namanya Ryan Putra Nagara, 24 tahun, perawat di Rumah Sakit Bhakti Husada. Tinggal di kontrakan murah di Gang Mawar 7. Kehidupannya, sangat sederhana.""Sederhana tapi punya kemampuan luar biasa," kata Rendra sambil menyeruput cognac-nya. "Menyelamatkan Darma dari serangan jantung yang seharusnya
Malam Minggu di Jalan Sudirman, pusat kuliner kota Jambire, selalu ramai. Ryan duduk sendirian di warung nasi goreng pinggir jalan, menikmati nasi goreng spesial seharga dua puluh ribu rupiah sambil menatap gedung-gedung tinggi di seberang yang berkilauan lampu neon."Mas, tambah es teh?" tanya Mas Joko, pemilik warung."Enggak, Mas. Udah cukup. Ini aja udah kenyang banget," jawab Ryan sambil mengelap mulutnya dengan serbet.Di seberang jalan, kontras dengan warung sederhana tempat Ryan duduk, berdiri “Le Château”, restoran mewah bergaya Prancis dengan lampu kristal, pelayan berjas hitam, dan tamu-tamu berdandan elegan. Harga satu piring makanan di sana mungkin setara gaji Ryan sebulan.Ryan sering menatap restoran itu sambil makan,bukan karena iri, tapi lebih karena penasaran bagaimana rasanya makan di tempat semewah itu."Suatu hari nanti," gumamnya sambil tersenyum miris, "mungkin aku bisa bawa seseorang yang spesial makan di sana."Tapi malam ini, ada yang berbeda. Ryan merasakan
Ryan merasa seperti tikus yang terjebak dalam perangkap tikus raksasa, dengan musuh-musuh tak terlihat mengintai dari segala penjuru. Seminggu setelah acara tunangan yang penuh gejolak itu, ia mulai menjalani rutinitas baru sebagai perawat pribadi Pak Darma di rumah yang megah.Pagi-pagi buta, udara kota masih dingin menusuk tulang, kabut tipis menyelimuti jalanan basah oleh embun malam. Ryan naik sepeda motor tua miliknya menuju rumah sakit untuk shift terakhirnya sebelum sepenuhnya pindah tugas. Lampu jalan kuning redup menerangi wajahnya yang lelah, bayangan pohon-pohon di pinggir jalan seolah-olah mengawasi gerakannya.Tiba-tiba, dari belakang, suara deru motor lain mendekat dengan cepat. Dua motor hitam tanpa plat nomor menyusulnya, pengendaranya mengenakan jaket kulit gelap dan helm full-face yang menyembunyikan wajah."Hei, berhenti!" teriak salah satu dari mereka, suara kasar seperti geraman serigala. Ryan memacu gas motornya, jantungnya berdegup kencang. Jalanan licin karena
Ryan merasa hatinya seperti terperangkap dalam labirin gelap yang tak berujung. Sudah dua hari ini ia mondar-mandir di koridor rumah sakit yang dingin dan steril, mencari keberadaan Dr. Wardana. Udara disana terasa lembab, bercampur bau obat dan desinfektan yang menusuk hidung. Lampu neon yang berkedip-kedip di langit-langit membuat bayangannya memanjang, seolah-olah mengejek kegelisahannya."Dokter Wardana? Beliau sedang melakukan penelitian sosial di luar negeri," kata perawat senior dengan suara datar, sambil menatap layar komputer di meja resepsionis. "Tidak ada detail lebih lanjut, maaf. Kami tidak bisa hubungi beliau sekarang."Ryan menghela napas panjang, tangannya memegang erat ponsel yang sudah kehabisan baterai. Penelitian sosial atau rahasia? Di negara mana? Tidak ada petunjuk sama sekali. Ia tahu, tanpa Dr. Wardana, pelindung utamanya hilang.Sementara itu, dinas kesehatan seperti serigala lapar yang mengintai. Pagi tadi, ia melihat mobil dinas berwarna putih parkir di dep
Tiga hari setelah pertemuan dengan keluarga Sudirga, Ryan duduk di kantin rumah sakit sambil mengaduk kopi dinginnya tanpa diminum. Pikirannya melayang, bukan ke lima puluh juta rupiah yang sudah disimpan dengan aman di bawah kasur, tapi ke masalah baru yang muncul. "Yan, kamu dengar belum?" Pak Broto duduk di seberangnya dengan nasi goreng dan teh manis. "Pagi ini ada orang dari Dinas Kesehatan dateng." Ryan mengangkat wajah. "Dinas Kesehatan? Ngapain?" "Katanya mau investigasi. Ada laporan tentang 'praktik medis ilegal' di rumah sakit ini." Pak Broto menurunkan suaranya. "Dan yang bikin aku khawatir, mereka nyebut-nyebut nama kamu." Jantung Ryan langsung berdegup cepat. "Namaku? Kenapa?" "Entahlah. Tapi tadi pagi mereka ketemu sama Dokter Hendra di ruangannya. Lumayan lama, hampir satu jam. Keluar-keluar, mereka bawa map tebal dan Dokter Hendra keliatan stres banget." "Sial." Ryan mengusap wajahnya. Ini yang dia takutkan. Penyelamatan Pak Darma memang ajaib, terlalu ajaib
Ryan baru saja selesai memandikan pasien stroke di ruang 304 ketika Suster Dewi berlari menghampirinya dengan wajah panik."Yan! Yan! Ada yang nyariin kamu di lobby!"Ryan mengelap tangannya dengan handuk. "Siapa? Keluarga pasien?""Bukan! Perempuan muda, cantik, pakai blazer mahal, bawa bodyguard segala!" Suster Dewi berbisik dengan mata berbinar. "Kayaknya orang kaya banget deh. Mobilnya Mercy hitam, plat nomornya cantik lagi!"Jantung Ryan langsung dag-dig-dug. "Jangan-jangan...""Iya! Dia nyebut nama kamu. Ryan Putra Nagara. Bilang mau ketemu langsung, penting banget katanya.""Sial." Ryan mengusap wajahnya. Akhirnya mereka menemukan dia juga."Kenapa sih? Emang ada masalah?" Suster Dewi penasaran."Nggak ada apa-apa. Bilang saja aku saja lagi sibuk, nanti aku ke sana.""Udah aku bilang gitu tadi. Eh, dia malah bilang dia mau nunggu sampai kamu selesai. Sekarang lagi duduk di kursi tunggu sambil main HP, tapi keliatan nggak sabar banget."“Hahhh…” Ryan menghela napas panjang. Tida







