Share

Bab 5. Penolong Misterius

last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-30 14:59:29

"Aku... aku ok..." Ryan mengatur napas. Giok di dadanya perlahan mulai mendingin.

Dokter Hendra masih menatap monitor dengan mulut terbuka. "Ini... ini tidak masuk akal." Matanya menatap bergantian antara monitor dengan Dokter Wardana. Sementara Dokter Wardana hanya tersenyum tipis sambil mengangguk.

"Tekanan darah stabil, 120/80. Saturasi 94%. Ritme jantung normal," Suster Ratna membacakan angka-angka dengan nada tidak percaya. "Pak Darma... dia stabil."

Keheningan menyelimuti ruangan. Semua orang saling berpandangan, antara shock, bingung, dan rasa kagum yang tidak bisa dijelaskan.

Dokter Hendra akhirnya berbalik ke Ryan. "Apa... apa yang baru saja kamu lakukan?" tanyanya ingin tahu.

Ryan menggeleng lemah. "Aku... aku tidak tahu, Dok. Aku hanya... mengikuti insting saja."

"Insting?!" Dokter Hendra tertawa hambar. "Kamu baru ikut kerja dua hari di sini dan kamu bilang insting?!"

"Aku tahu ini terdengar gila..." Ryan tidak sempat meneruskan kalimatnya karena dipotong Dokter Hendra.

"Gila? Ini lebih dari gila! Tidak ada penjelasan medis untuk apa yang baru terjadi!" Dokter Hendra menunjuk monitor. "Pasien dengan cardiac arrest selama hampir lima menit, edema paru akut, dan kemudian tiba-tiba stabil karena... akupresur ajaib?!"

"Dokter, yang penting Pak Darma selamat kan?" Pak Broto mencoba menenangkan, diangguki Dokter Wardana.

Dokter Hendra menghela napas panjang, mengusap wajahnya. "Dengar, Ryan. Aku tidak tahu apa yang kamu lakukan, dan sejujurnya, aku tidak yakin aku mau tahu. Tapi..." dia menatap Pak Darma yang sekarang bernapas teratur, "...hasil tidak berbohong."

"Jadi...?"

"Jadi kita diam. Semua yang ada di ruangan ini, diam. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi malam ini. Paham?"

Semua orang mengangguk, termasuk Dokter Wardana. Dia melihat ke arah Dokter Hendra, seperti sedang memberikan penjelasan secara rahasia melalui tatapan mata. Dan Dokter Hendra pun mengangguk samar.

"Secara resmi, Pak Darma stabil karena prosedur medis standar dan keberuntungan. Titik." Dokter Hendra menatap satu per satu. "Kalau ada yang bocor, kalian semua kena masalah. Termasuk aku."

Ryan mengerti. Dunia medis tidak akan menerima penjelasan yang "tidak masuk akal". Dia mengangguk pelan, dan saat keluar dari ICU, kakinya lemas. Pak Broto menuntunnya ke pantry.

"Yan, duduk dulu. Kamu harus istirahat."

Ryan merosot di kursi. Seluruh tubuhnya terasa kosong, seperti habis lari marathon. Tapi dia juga merasa aneh dengan dirinya sendiri, ya memang tidak bisa dia pahami.

"Itu tadi apa? Sungguhan tadi apa yang kamu lakukan?" Pak Broto berbisik, penasaran juga.

Ryan menatap tangannya sendiri, masih gemetar. "Aku... aku nggak tahu, Pak. Sejujurnya, aku sendiri bingung. Kayak ada yang... nuntun aku gitu."

Pak Broto diam sejenak, lalu menepuk bahu Ryan. "Apapun itu, kamu menyelamatkan nyawa seseorang malam ini. Itu yang penting."

Pak Broto memang tidak tahu, dan mungkin para perawat dan penghuni rumah sakit juga tidak tahu bahwa Ryan sudah pernah menyelamatkan wakil gubernur Sadewa sebelum ini. Dan itu memang dirahasiakan oleh dokter Wardana, yang akhirnya merekrut dia supaya bekerja di rumah sakit ini dengan tujuan tertentu, pastinya.

Ryan tersenyum lelah. Tapi dalam hatinya, dia tahu jika Giok itu, kekuatan itu, semua yang dia alami... ada tujuan di balik semua ini. Dan malam ini, dia kembali mendapat petunjuk yang kedua kalinya.

***

Tiga hari setelah insiden penyelamatan Pak Darma, rumah sakit Bhakti Husada jadi heboh. Hal ini karena ada beberapa perawat yang melihat kejadian waktu itu. Di lobby utama, seorang wanita muda berpakaian elegan, blazer mewah dan tas branded, sedang berdebat dengan Pak Joko di bagian informasi.

"Ibu, saya sudah bilang, kami tidak bisa sembarangan memberikan data karyawan..."

"Saya tidak peduli dengan prosedur Anda!" bentak wanita itu, Clarissa Sudirga, anak sulung Pak Darma. "Ayah saya diselamatkan oleh seseorang di rumah sakit ini, dan saya berhak tahu siapa dia!"

Ryan yang kebetulan lewat sambil mendorong kursi roda kosong langsung membelokkan arah, berusaha tidak menarik perhatian. Tapi langkahnya terhenti ketika mendengar percakapan selanjutnya.

"Bu Clarissa, ayah Ibu sudah stabil. Itu yang penting, bukan?" Pak Joko mencoba diplomatis.

"Tentu saja itu penting! Tapi kami ingin berterima kasih secara langsung. Dokter Hendra bilang ada seorang pemuda yang melakukan sesuatu, hal yang tidak biasa. Kami ingin tahu siapa dia."

"Kamu dengar?" bisik Suster Dewi tiba-tiba muncul di samping Ryan. "Keluarganya lagi nyari-nyari kamu, lho."

"Jangan berisik!" Ryan menarik Suster Dewi ke koridor samping.

"Kenapa? Kamu kan pahlawan. Harusnya bangga." Suster Dewi justru memberikan saran yang tidak pernah terpikirkan oleh Ryan.

"Bangga gimana? Aku sendiri nggak ngerti apa yang aku lakukan waktu itu. Lagian, Dokter Hendra udah bilang kita semua harus tutup mulut."

"Iya sih, tapi..." Suster Dewi menunjuk ke arah lobby dengan dagunya. "Keluarga itu punya uang dan koneksi. Mereka nggak akan berhenti sampai nemuin kamu, Ryan."

Ryan mengintip dari balik tembok. Clarissa sekarang sedang bicara di telepon, gesturnya tampak tidak sabaran.

"Ya, Pak Polisi. Saya butuh akses ke rekaman CCTV rumah sakit malam itu. Ini soal nyawa ayah saya... Iya, saya tahu prosedurnya. Bapak kenal ayah saya kan? Sekretaris Walikota..."

"Gawat," gumam Ryan. "Mereka mau lihat CCTV."

"Terus? Emang kenapa kalau mereka lihat?" tanya suster Dewi.

"Gambarnya pasti buram gara-gara listrik flicker waktu itu. Tapi tetap aja, kalau mereka cukup teliti..."

Pak Broto tiba-tiba muncul dari arah tangga darurat, napasnya ngos-ngosan. "Ryan! Sembunyi dulu! Tim IT lagi nyiapin video CCTV buat keluarga Pak Darma. Mereka minta rekaman lengkap malam itu."

"Sialan." Ryan melirik jam dinding. Jam kerjanya masih dua jam lagi. "Pak, aku izin pulang duluan ya. Bilang aja aku sakit perut atau apa."

"Kamu mau kabur?" Pak Broto ikut bingung.

"Bukan kabur, cuma... menghindar sementara. Sampai situasinya agak tenang."

Pak Broto menghela napas. "Ya udah, cepet pergi. Lewat pintu belakang, jangan lewat lobby."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kebangkitan Giok Karana (Karma Dari Giok Leluhur)   Bab 13. Waktu yang Dipercepat

    Ryan merasa seperti tikus yang terjebak dalam perangkap tikus raksasa, dengan musuh-musuh tak terlihat mengintai dari segala penjuru. Seminggu setelah acara tunangan yang penuh gejolak itu, ia mulai menjalani rutinitas baru sebagai perawat pribadi Pak Darma di rumah yang megah.Pagi-pagi buta, udara kota masih dingin menusuk tulang, kabut tipis menyelimuti jalanan basah oleh embun malam. Ryan naik sepeda motor tua miliknya menuju rumah sakit untuk shift terakhirnya sebelum sepenuhnya pindah tugas. Lampu jalan kuning redup menerangi wajahnya yang lelah, bayangan pohon-pohon di pinggir jalan seolah-olah mengawasi gerakannya.Tiba-tiba, dari belakang, suara deru motor lain mendekat dengan cepat. Dua motor hitam tanpa plat nomor menyusulnya, pengendaranya mengenakan jaket kulit gelap dan helm full-face yang menyembunyikan wajah."Hei, berhenti!" teriak salah satu dari mereka, suara kasar seperti geraman serigala. Ryan memacu gas motornya, jantungnya berdegup kencang. Jalanan licin karena

  • Kebangkitan Giok Karana (Karma Dari Giok Leluhur)   Bab 12. Tekanan dari Dinas

    Ryan merasa hatinya seperti terperangkap dalam labirin gelap yang tak berujung. Sudah dua hari ini ia mondar-mandir di koridor rumah sakit yang dingin dan steril, mencari keberadaan Dr. Wardana. Udara disana terasa lembab, bercampur bau obat dan desinfektan yang menusuk hidung. Lampu neon yang berkedip-kedip di langit-langit membuat bayangannya memanjang, seolah-olah mengejek kegelisahannya."Dokter Wardana? Beliau sedang melakukan penelitian sosial di luar negeri," kata perawat senior dengan suara datar, sambil menatap layar komputer di meja resepsionis. "Tidak ada detail lebih lanjut, maaf. Kami tidak bisa hubungi beliau sekarang."Ryan menghela napas panjang, tangannya memegang erat ponsel yang sudah kehabisan baterai. Penelitian sosial atau rahasia? Di negara mana? Tidak ada petunjuk sama sekali. Ia tahu, tanpa Dr. Wardana, pelindung utamanya hilang.Sementara itu, dinas kesehatan seperti serigala lapar yang mengintai. Pagi tadi, ia melihat mobil dinas berwarna putih parkir di dep

  • Kebangkitan Giok Karana (Karma Dari Giok Leluhur)   Bab 11. Jejak yang Hilang

    Tiga hari setelah pertemuan dengan keluarga Sudirga, Ryan duduk di kantin rumah sakit sambil mengaduk kopi dinginnya tanpa diminum. Pikirannya melayang, bukan ke lima puluh juta rupiah yang sudah disimpan dengan aman di bawah kasur, tapi ke masalah baru yang muncul. "Yan, kamu dengar belum?" Pak Broto duduk di seberangnya dengan nasi goreng dan teh manis. "Pagi ini ada orang dari Dinas Kesehatan dateng." Ryan mengangkat wajah. "Dinas Kesehatan? Ngapain?" "Katanya mau investigasi. Ada laporan tentang 'praktik medis ilegal' di rumah sakit ini." Pak Broto menurunkan suaranya. "Dan yang bikin aku khawatir, mereka nyebut-nyebut nama kamu." Jantung Ryan langsung berdegup cepat. "Namaku? Kenapa?" "Entahlah. Tapi tadi pagi mereka ketemu sama Dokter Hendra di ruangannya. Lumayan lama, hampir satu jam. Keluar-keluar, mereka bawa map tebal dan Dokter Hendra keliatan stres banget." "Sial." Ryan mengusap wajahnya. Ini yang dia takutkan. Penyelamatan Pak Darma memang ajaib, terlalu ajaib

  • Kebangkitan Giok Karana (Karma Dari Giok Leluhur)   Bab 10. Tawaran Menarik

    Ryan baru saja selesai memandikan pasien stroke di ruang 304 ketika Suster Dewi berlari menghampirinya dengan wajah panik."Yan! Yan! Ada yang nyariin kamu di lobby!"Ryan mengelap tangannya dengan handuk. "Siapa? Keluarga pasien?""Bukan! Perempuan muda, cantik, pakai blazer mahal, bawa bodyguard segala!" Suster Dewi berbisik dengan mata berbinar. "Kayaknya orang kaya banget deh. Mobilnya Mercy hitam, plat nomornya cantik lagi!"Jantung Ryan langsung dag-dig-dug. "Jangan-jangan...""Iya! Dia nyebut nama kamu. Ryan Putra Nagara. Bilang mau ketemu langsung, penting banget katanya.""Sial." Ryan mengusap wajahnya. Akhirnya mereka menemukan dia juga."Kenapa sih? Emang ada masalah?" Suster Dewi penasaran."Nggak ada apa-apa. Bilang saja aku saja lagi sibuk, nanti aku ke sana.""Udah aku bilang gitu tadi. Eh, dia malah bilang dia mau nunggu sampai kamu selesai. Sekarang lagi duduk di kursi tunggu sambil main HP, tapi keliatan nggak sabar banget."“Hahhh…” Ryan menghela napas panjang. Tida

  • Kebangkitan Giok Karana (Karma Dari Giok Leluhur)   Bab 9. Kerajaan Karana

    Ryan terlelap dalam tidur yang gelisah. Keringat membasahi dahinya, nafasnya tersengal-sengal seperti orang habis berlari. Tapi dia tidak bermimpi biasa, ini berbeda. Sungguh, sangat berbeda. Baik tempat dan keadaan sekelilingnya. Ryan membuka mata dan mendapati dirinya berdiri di sebuah tempat yang mustahil. Bukan di kamar kontrakannya yang sempit, bukan rumah sakit, bukan juga tempat yang pernah dia kenal. Dia berdiri di tengah hamparan kabut putih tebal yang menggelinding pelan seperti ombak. Lantai di bawah kakinya seperti kaca hitam yang memantulkan bayangan dirinya, tapi bayangannya bergerak sendiri, tidak sinkron dengan gerakan tubuhnya. "Apa ini, aku ada di mana?" Ryan menoleh ke segala arah. Tidak ada langit. Tidak ada bumi. Hanya kabut, keheningan, dan sensasi hampa yang mencekam. "Akhirnya kau datang juga, anak muda." Ryan tersentak. Suara itu terdengar berat, bergema, seperti datang dari segala arah sekaligus. Dari dalam kabut, muncul sosok tua berjenggot puti

  • Kebangkitan Giok Karana (Karma Dari Giok Leluhur)   Bab 8. Geng Serigala Timur

    Ryan baru pulang shift malam pukul sebelas lewat. Kakinya pegal, matanya perih, dan perutnya keroncongan karena cuma sempat makan mie instan siang tadi. Gang Mawar 7 yang biasanya sepi di jam segini ternyata rame, tapi bukan rame yang baik.Ada tiga motor gede terparkir sembarangan di depan kontrakan. Lampu depan masih nyala, mesin masih bunyi menderu. Dari arah halaman, terdengar teriakan dan suara barang pecah."Sial, ada apa lagi?" Ryan mempercepat langkah.Pemandangan yang menyambutnya bikin darahnya naik. Lima orang berjaket kulit hitam dengan logo serigala di punggung sedang mengacak-acak halaman kontrakan. Pot bunga Bu Surti dilempar, jemuran diobrak-abrik, bahkan kursi plastik ditendang sampai patah.Yang paling bikin Ryan naik darah, Bu Surti berlutut di tanah sambil menangis, menggenggam kaki salah satu preman."Maafin saya, Bang! Saya janji minggu depan pasti bisa bayar!"Preman itu, bertubuh besar dengan tato di leher, menendang tangan Bu Surti sampai perempuan paruh baya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status