Share

Bab 4. Di Ujung Nyawa

last update Last Updated: 2025-11-29 23:10:17

Jam menunjukkan pukul sebelas malam lewat ketika listrik di ICU berkedip-kedip seperti lampu diskotik yang sedang sekarat. Ryan baru saja selesai membantu memindahkan pasien stroke dari ruang observasi ketika seluruh koridor rumah sakit mendadak gelap. Dia memang diminta untuk membantu pekerjaan di rumah sakit sejak kejadian wakil gubernur saat itu, sebab beberapa dokter ahli justru ingin meneliti dirinya atau setidaknya mengamati.

Beberapa dokter berpikir bahwa apa yang terjadi pada wakil gubernur saat itu adalah hal kebetulan semata, tapi ada juga sebagian yang percaya jika Ryan memiliki kekuatan lain yang tidak sama seperti manusia pada umumnya. Dan Ryan, karena merasa hidupnya tidak lagi punya tujuan setelah ini putus dari Yulia, mengiyakan saja permintaan dokter ahli dari pihak rumah sakit ini.

"Sialan! Gensetnya kenapa lagi?" teriak Suster Dewi sambil berlari ke nurse station, tangannya meraba-raba dinding.

Dalam kegelapan yang hanya diterangi cahaya HP, Ryan merasakan giok di dadanya menghangat. Bukan panas biasa, tapi seperti ada getaran halus yang menjalar ke seluruh tubuhnya.

Lima detik kemudian, lampu emergency menyala redup. Genset akhirnya hidup dengan suara gemuruh yang menggema dari basement.

"Telat mulu! Kalau ada pasien kritis gimana?" gerutu Pak Broto, perawat senior yang baru keluar dari ruang ICU 3.

"Pak Broto, ada apa?" Ryan menghampiri.

"Ada pasien baru masuk tadi jam sepuluh. Pengusaha sekaligus pejabat tinggi katanya, Pak Darma Sudirga, Sekretaris Walikota Litapura. Serangan jantung akut, edema paru parah." Pak Broto menggeleng. "Kondisinya parah banget, Yan. Dokter Hendra udah bilang kemungkinan bertahannya kecil."

Ryan mengikuti Pak Broto ke jendela kaca ICU 3. Di dalam, seorang pria berusia sekitar lima puluhan terbaring dengan ventilator terpasang. Monitor detak jantung menunjukkan grafik yang tidak stabil. Tiga perawat dan Dokter Hendra berkumpul di sekitar ranjang, wajah mereka tegang.

"Saturasi oksigennya terus turun!" Suster Ratna melaporkan dengan suara panik. "82... 80..."

Dokter Hendra memeriksa infus dan setting ventilator. "Naikkan FiO2-nya ke 100%. Bersiap dengan adrenalin jika terjadi cardiac arrest."

Ryan tidak bisa mengalihkan pandangan. Bukan karena drama medis di depannya, tapi karena sesuatu yang aneh, sangat aneh—yang dia lihat.

Di sekitar tubuh Pak Darma, ada... garis-garis cahaya tipis. Merah, biru, hijau, berpilin-pilin seperti benang kusut yang tak beraturan. Sebagian menyala terang, sebagian redup nyaris padam.

"Kamu lihat itu?" Ryan berbisik tanpa sadar.

"Lihat apa?" Pak Broto menoleh bingung.

"Nggak... nggak apa-apa." Ryan menggeleng cepat.

Tapi dia terus menatap, garis-garis yang terlihat makin jelas di dada Pak Darma. Ada simpul besar berwarna merah gelap yang seperti tersumbat. Energi mengalir lambat, tersendat-sendat, seperti air di pipa yang mampet.

Giok di dadanya bergetar makin kuat. Tanpa disadari, tangan kanannya terangkat, jari-jarinya bergerak mengikuti pola yang... dia tidak tahu dari mana asalnya.

"Yan? Kamu kenapa?" Pak Broto menepuk bahunya.

"Pak Broto..." Ryan menelan ludah. "Aku... aku rasa aku bisa bantu."

"Hah? Maksudmu?"

"Aku nggak tahu gimana jelasinnya, tapi..."

"CARDIAC ARREST!" teriak Suster Ratna dari dalam ICU. Monitor menjerit panjang, flatline.

Dokter Hendra langsung memulai RJP. "Siapkan defibrilator! Charge 200 joule!"

"Clear!"

Tubuh Pak Darma terhentak saat listrik mengalir. Grafik tetap datar.

"Lagi! 300 joule!"

"Clear!

Masih datar dan Ryan tidak berpikir panjang. Dia mendorong pintu ICU dan masuk.

"Ryan?! Kamu nggak boleh masuk!" Suster Dewi mencoba menahannya.

"Lima menit. Kasih aku lima menit," Ryan berkata dengan nada yang bahkan terdengar asing di telinganya sendiri, terdengar tenang, yakin, dan berwibawa.

Dokter Hendra menatapnya tajam, wajah penuh keringat. "Kamu gila? Ini bukan waktunya..."

"Dokter, dia sudah flatline tiga menit. Kalau cara biasa tidak berhasil, apa salahnya dicoba cara lain?" Ryan menatap balik tanpa berkedip.

Sementara dokter Wardana yang baru saja datang, diam mengamati. Dia seperti melihat sosok lain, bukan Ryan yang biasanya.

Lalu, entah karena keputusasaan atau kelelahan, Dokter Hendra melangkah mundur. "Lima menit. Lebih dari itu, aku usir kamu."

Ryan mendekat ke ranjang. Tangannya gemetar, bukan karena takut, tapi karena energi yang mengalir dari giok semakin intens, bahkan hampir membuatnya pusing.

Dia meletakkan tangan kanan di dada Pak Darma, tepat di simpul merah yang dia lihat tadi. Tangan kiri di perut bawah, di titik yang dalam pikirannya disebut "laut energi".

"Apa yang dia lakukan?" bisik Suster Ratna.

"Entahlah... akupresur?" jawab Pak Broto yang juga ikut masuk, berdiri di ambang pintu.

Ryan memejamkan mata. Dalam kegelapan, dia melihat jalur energi itu lebih jelas. Seperti peta tubuh manusia yang terbuat dari cahaya. Ada blokade di jantung, di paru-paru, dan di beberapa titik lain.

Tanpa sadar, dia mulai menekan titik-titik tertentu dengan irama yang aneh. Telunjuk di pergelangan tangan kiri Pak Darma, ditekan lalu dilepas. Jempol di tengah telapak kanan, ditekan lalu diputar. Tiga jari di bawah lutut kiri, sama juga. Ditekan dan ditahan.

"Apa-apaan ini?" gumam Dokter Hendra. "Ini bukan prosedur medis yang aku kenal."

Ryan membuka mata sebentar. "Dokter, tolong pegang kedua telapak kakinya. Remas pelan bagian tengahnya."

"Apa?!" Dokter Hendra bertanya dengan nada tinggi.

"Please. Percaya saja," jawab Ryan singkat dengan sedikit nada permohonan.

Mungkin karena tidak ada yang bisa dilakukan lagi, Dokter Hendra akhirnya mengikuti instruksi. Apalagi dia melihat dokter Wardana juga cuma diam dan tidak melarang Ryan. Dia memegang kaki Pak Darma dan meremas bagian tengah telapak kaki dengan ragu.

Ryan kembali memejamkan mata. Dia mulai bernapas dengan pola yang aneh, tiga tarikan pendek, satu hembusan panjang. Begitu terus-menerus. Tangan kanannya bergerak dari dada ke perut, dari perut ke tenggorokan, mengikuti aliran yang dia lihat.

"Yan, kamu nggak apa-apa? Kamu pucat," Suster Dewi bertanya cemas.

Ryan tidak menjawab. Keringatnya bercucuran. Giok di dadanya sekarang terasa panas membakar, tapi dia tidak bisa, bahkan memang tidak mau supaya berhenti.

Dalam aksinya simpul merah di dada Pak Darma mulai melonggar. Energi mengalir pelan, tersendat-sendat, tapi mengalir. Dia menekan lebih kuat di beberapa titik, memandu aliran itu seperti membuka pintu air yang tersumbat.

"Dokter... monitornya..." Suster Ratna berbisik tidak percaya.

Semua mata tertuju ke layar. Grafik yang tadinya datar, kini mulai bergerak. Satu lonjakan kecil, kemudian lagi dan lagi.

Beep... beep... beep...

"Oh Tuhan..." Dokter Hendra melepas kaki Pak Darma dan melompat ke monitor. "Sinus rhythm! Dia kembali!"

"Saturasi oksigen naik! 85... 88... 90...!" Suster Ratna melaporkan dengan suara bergetar.

Sementara Ryan masih belum selesai. Dia memindahkan tangan ke dahi Pak Darma, menekan lembut di titik antara kedua alis, lalu ke pelipis, lalu ke belakang kepala. Napasnya masih mengikuti pola tadi, terasa lambat, dalam, tapi teratur.

Perlahan, warna kebiruan di wajah Pak Darma memudar. Napasnya, meski masih dibantu ventilator, tapi terlihat lebih teratur.

Setelah apa yang terasa seperti selamanya, Ryan melepas tangannya. Dia limbung, hampir terjatuh kalau Pak Broto tidak menangkapnya.

"Ryan!" teriak pak Broto.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kebangkitan Giok Karana (Karma Dari Giok Leluhur)   Bab 80. Rasa Malam yang Hangat

    Fajar belum menyingsing ketika courtyard kastil Dragon Council sudah dipenuhi aktivitas. Puluhan kultivator terbaik dari seluruh dunia berkumpul, wajah-wajah yang Ryan kenal dari turnamen, dan banyak lagi yang baru dia lihat untuk pertama kali."Formasi Dragon Unity!" Dmitri berteriak dengan suara yang menggelegar, berdiri di tengah courtyard. "Ini adalah formasi yang digunakan seribu tahun lalu untuk mengurung The Ancient One. Lima Master di pusat, dikelilingi oleh lima puluh kultivator elite dalam lima lingkaran konsentris."Dia menunjuk ke diagram besar yang digambar di tanah dengan kapur. "Setiap lingkaran mewakili satu elemen. Crimson Dragon di utara, Azure Dragon di timur, White Dragon di barat, Black Dragon di selatan, dan Green Dragon di tengah sebagai penyeimbang."Ryan berdiri di tengah diagram, merasakan berat tanggung jawab di pundaknya. Di sekelilingnya, May, Carlos, Kenzo, dan puluhan kultivator lain mengambil posisi mereka."Ayo mulai!" Zhou Liang berteriak. "Kita hanya

  • Kebangkitan Giok Karana (Karma Dari Giok Leluhur)   Bab 79 : Tidak Perlu Peduli

    Ryan dan Clarissa tiba di kastil Dragon Council menjelang tengah malam. Suasana yang biasanya tenang kini dipenuhi ketegangan yang bisa dirasakan di udara. Kultivator berjaga di setiap sudut, wajah mereka sangat serius dan waspada. "Ini buruk," kata Clarissa berbisik sambil menggenggam tangan Ryan lebih erat. "Aku belum pernah melihat kastil dalam keadaan seperti ini." Carlos berlari menghampiri mereka begitu mereka memasuki hall utama. Wajahnya yang biasanya ceria kini dipenuhi kekhawatiran. "Hermano, Clarissa, cepat!" dia mendorong keduanya menuju ruang pertemuan besar. "Semua Elder sudah berkumpul. Bahkan mereka yang biasanya tidak pernah meninggalkan teritorinya juga ikut datang." Di dalam ruang pertemuan, pemandangan yang mengejutkan menanti. Tidak hanya lima Elder yang biasa Ryan kenal, tapi ada tujuh Elder tambahan dengan wajah-wajah yang hanya dia lihat dalam potret kuno di dinding kastil. Mama Zola berdiri di kepala meja yang panjang, wajahnya lebih serius dari yang

  • Kebangkitan Giok Karana (Karma Dari Giok Leluhur)   Bab 78. Pesan Ancaman

    Dua minggu setelah insiden dengan Arjuna, Ryan kembali ke Seoul. Kastil Dragon Council terasa seperti rumah kedua sekarang, tempat di mana dia belajar, bertarung, dan akhirnya menemukan jati dirinya.Tapi malam ini, dia tidak ada di kastil. Dia berdiri di depan klinik kecil di distrik Gangnam, tempat di mana dia bertemu lagi dengan Clarissa sebagai sesama healer, sebelum semua kehebohan tentang kultivator dan naga dimulai.Klinik itu sudah tutup, tapi Ryan punya kunci. Dia masuk dengan hati-hati, menyalakan lampu yang redup. Ruang tunggu yang familiar, meja resepsionis tempat Clarissa selalu duduk dengan senyum hangatnya, ruang pemeriksaan di mana mereka bekerja berdampingan selama berbulan-bulan."Kenangan yang indah, bukan?"Ryan berbalik dan melihat Clarissa berdiri di pintu, mengenakan gaun sederhana berwarna biru muda yang membuat matanya terlihat seperti samudra. Rambutnya dibiarkan tergerai, berkilau di bawah cahaya lampu."Kamu datang?" Ryan berkata dengan lega, meski dia yang

  • Kebangkitan Giok Karana (Karma Dari Giok Leluhur)   Bab 77. Bukan Tahanan Biasa

    Tiga hari setelah pertempuran di reruntuhan Dieng, Ryan duduk di beranda rumah safehouse Council di pinggiran Yogyakarta. Matahari pagi menyinari Gunung Merapi di kejauhan, menciptakan pemandangan yang tenang, sangat kontras dengan kekacauan yang baru saja terjadi.Di sampingnya ada Arkan, atau nama sebenarnya yang baru terungkap, Arjuna, duduk dengan cangkir teh yang gemetar di tangannya. Pria itu terlihat sangat berbeda dari tiga hari lalu. Mata hijau zamrudnya yang dulunya dingin dan kosong kini terlihat normal sebagai manusia."Pasien-pasienmu sudah sembuh semua." Arjuna berkata pelan, memecah keheningan. "Begitu karma hitamku dibersihkan, kutukan yang kutanamkan pada mereka otomatis terbatalkan. Rani, gadis kecil itu sudah bangun kemarin. Dokter bilang itu seperti keajaiban."Ryan mengangguk, merasakan lega yang mendalam. "Itu kabar baik.""Tapi itu tidak mengubah apa yang sudah kulakukan," kata Arjuna melanjutkan, suaranya penuh penyesalan. "Dalam dua puluh tahun terakhir, aku m

  • Kebangkitan Giok Karana (Karma Dari Giok Leluhur)   Bab 76. Peluk Bersama atau Lepaskan

    Cahaya hijau dan hitam yang bertabrakan semakin intens, menciptakan pusaran energi yang membuat tanah bergetar dan udara bergolak. Ryan dan Arkan masih berdiri saling menggenggam tangan, tubuh keduanya gemetar hebat dari pertempuran spiritual yang terjadi."RYAN, LEPASKAN!" Clarissa berteriak dengan putus asa, mencoba menerobos pusaran energi tapi terlempar kembali oleh kekuatan yang terlalu besar.Di dalam pusaran itu, Ryan merasakan kesadarannya mulai terpecah. Karma hitam dari ratusan korban Arkan membanjiri pikirannya. Dari mulai teriakan mereka, rasa sakit mereka, bahkan kemarahan mereka yang mati sebelum waktunya.["Kenapa dia boleh hidup sementara aku mati?""Tidak adil! Aku masih punya anak kecil!""Umurku dicuri... pencuri... pembunuh..."]Ryan jatuh berlutut tapi tetap tidak melepaskan genggaman Arkan. Api crimson di tangannya mulai melemah, hampir padam sepenuhnya."Ryan, lepaskan dia!" Carlos mencoba mendekat tapi gelombang energi melemparnya beberapa meter ke belakang. "I

  • Kebangkitan Giok Karana (Karma Dari Giok Leluhur)   Bab 75. Negosiasi Panas

    Pertarungan berlangsung brutal dan tanpa ampun. Arkan bergerak dengan kecepatan yang mencengangkan, satu tangan menyembuhkan luka-lukanya sendiri dengan mengambil kehidupan dari pepohonan di sekitar, tangan lainnya melontarkan energi hitam yang mematikan.Ryan hampir tidak bisa mengikuti. Setiap kali dia melontarkan api crimson, Arkan sudah berpindah posisi. Setiap kali dia mencoba menyerang jarak dekat, energi gelap Arkan membuatnya terpental."Kau terlalu lambat!" Arkan berteriak sambil melontarkan gelombang energi hitam yang merobohkan tiga pilar batu sekaligus.Ryan melompat menghindari reruntuhan, mendarat dengan keras di tanah yang berdebu. Napasnya tersengal, liontin giok di dadanya sudah setengah hitam dari menyerap energi gelap yang bocor dari serangan Arkan."Ryan, kamu harus mengakhiri ini!" Carlos berteriak dari pinggir area. "Dia terlalu kuat kalau kamu terus bertahan!""Serang titik lemahnya!" May menambahkan. "Dia tidak bisa menggunakan kedua kekuatannya secara bersamaa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status