MasukJam menunjukkan pukul sebelas malam lewat ketika listrik di ICU berkedip-kedip seperti lampu diskotik yang sedang sekarat. Ryan baru saja selesai membantu memindahkan pasien stroke dari ruang observasi ketika seluruh koridor rumah sakit mendadak gelap. Dia memang diminta untuk membantu pekerjaan di rumah sakit sejak kejadian wakil gubernur saat itu, sebab beberapa dokter ahli justru ingin meneliti dirinya atau setidaknya mengamati.
Beberapa dokter berpikir bahwa apa yang terjadi pada wakil gubernur saat itu adalah hal kebetulan semata, tapi ada juga sebagian yang percaya jika Ryan memiliki kekuatan lain yang tidak sama seperti manusia pada umumnya. Dan Ryan, karena merasa hidupnya tidak lagi punya tujuan setelah ini putus dari Yulia, mengiyakan saja permintaan dokter ahli dari pihak rumah sakit ini. "Sialan! Gensetnya kenapa lagi?" teriak Suster Dewi sambil berlari ke nurse station, tangannya meraba-raba dinding. Dalam kegelapan yang hanya diterangi cahaya HP, Ryan merasakan giok di dadanya menghangat. Bukan panas biasa, tapi seperti ada getaran halus yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Lima detik kemudian, lampu emergency menyala redup. Genset akhirnya hidup dengan suara gemuruh yang menggema dari basement. "Telat mulu! Kalau ada pasien kritis gimana?" gerutu Pak Broto, perawat senior yang baru keluar dari ruang ICU 3. "Pak Broto, ada apa?" Ryan menghampiri. "Ada pasien baru masuk tadi jam sepuluh. Pengusaha sekaligus pejabat tinggi katanya, Pak Darma Sudirga, Sekretaris Walikota Litapura. Serangan jantung akut, edema paru parah." Pak Broto menggeleng. "Kondisinya parah banget, Yan. Dokter Hendra udah bilang kemungkinan bertahannya kecil." Ryan mengikuti Pak Broto ke jendela kaca ICU 3. Di dalam, seorang pria berusia sekitar lima puluhan terbaring dengan ventilator terpasang. Monitor detak jantung menunjukkan grafik yang tidak stabil. Tiga perawat dan Dokter Hendra berkumpul di sekitar ranjang, wajah mereka tegang. "Saturasi oksigennya terus turun!" Suster Ratna melaporkan dengan suara panik. "82... 80..." Dokter Hendra memeriksa infus dan setting ventilator. "Naikkan FiO2-nya ke 100%. Bersiap dengan adrenalin jika terjadi cardiac arrest." Ryan tidak bisa mengalihkan pandangan. Bukan karena drama medis di depannya, tapi karena sesuatu yang aneh, sangat aneh—yang dia lihat. Di sekitar tubuh Pak Darma, ada... garis-garis cahaya tipis. Merah, biru, hijau, berpilin-pilin seperti benang kusut yang tak beraturan. Sebagian menyala terang, sebagian redup nyaris padam. "Kamu lihat itu?" Ryan berbisik tanpa sadar. "Lihat apa?" Pak Broto menoleh bingung. "Nggak... nggak apa-apa." Ryan menggeleng cepat. Tapi dia terus menatap, garis-garis yang terlihat makin jelas di dada Pak Darma. Ada simpul besar berwarna merah gelap yang seperti tersumbat. Energi mengalir lambat, tersendat-sendat, seperti air di pipa yang mampet. Giok di dadanya bergetar makin kuat. Tanpa disadari, tangan kanannya terangkat, jari-jarinya bergerak mengikuti pola yang... dia tidak tahu dari mana asalnya. "Yan? Kamu kenapa?" Pak Broto menepuk bahunya. "Pak Broto..." Ryan menelan ludah. "Aku... aku rasa aku bisa bantu." "Hah? Maksudmu?" "Aku nggak tahu gimana jelasinnya, tapi..." "CARDIAC ARREST!" teriak Suster Ratna dari dalam ICU. Monitor menjerit panjang, flatline. Dokter Hendra langsung memulai RJP. "Siapkan defibrilator! Charge 200 joule!" "Clear!" Tubuh Pak Darma terhentak saat listrik mengalir. Grafik tetap datar. "Lagi! 300 joule!" "Clear! Masih datar dan Ryan tidak berpikir panjang. Dia mendorong pintu ICU dan masuk. "Ryan?! Kamu nggak boleh masuk!" Suster Dewi mencoba menahannya. "Lima menit. Kasih aku lima menit," Ryan berkata dengan nada yang bahkan terdengar asing di telinganya sendiri, terdengar tenang, yakin, dan berwibawa. Dokter Hendra menatapnya tajam, wajah penuh keringat. "Kamu gila? Ini bukan waktunya..." "Dokter, dia sudah flatline tiga menit. Kalau cara biasa tidak berhasil, apa salahnya dicoba cara lain?" Ryan menatap balik tanpa berkedip. Sementara dokter Wardana yang baru saja datang, diam mengamati. Dia seperti melihat sosok lain, bukan Ryan yang biasanya. Lalu, entah karena keputusasaan atau kelelahan, Dokter Hendra melangkah mundur. "Lima menit. Lebih dari itu, aku usir kamu." Ryan mendekat ke ranjang. Tangannya gemetar, bukan karena takut, tapi karena energi yang mengalir dari giok semakin intens, bahkan hampir membuatnya pusing. Dia meletakkan tangan kanan di dada Pak Darma, tepat di simpul merah yang dia lihat tadi. Tangan kiri di perut bawah, di titik yang dalam pikirannya disebut "laut energi". "Apa yang dia lakukan?" bisik Suster Ratna. "Entahlah... akupresur?" jawab Pak Broto yang juga ikut masuk, berdiri di ambang pintu. Ryan memejamkan mata. Dalam kegelapan, dia melihat jalur energi itu lebih jelas. Seperti peta tubuh manusia yang terbuat dari cahaya. Ada blokade di jantung, di paru-paru, dan di beberapa titik lain. Tanpa sadar, dia mulai menekan titik-titik tertentu dengan irama yang aneh. Telunjuk di pergelangan tangan kiri Pak Darma, ditekan lalu dilepas. Jempol di tengah telapak kanan, ditekan lalu diputar. Tiga jari di bawah lutut kiri, sama juga. Ditekan dan ditahan. "Apa-apaan ini?" gumam Dokter Hendra. "Ini bukan prosedur medis yang aku kenal." Ryan membuka mata sebentar. "Dokter, tolong pegang kedua telapak kakinya. Remas pelan bagian tengahnya." "Apa?!" Dokter Hendra bertanya dengan nada tinggi. "Please. Percaya saja," jawab Ryan singkat dengan sedikit nada permohonan. Mungkin karena tidak ada yang bisa dilakukan lagi, Dokter Hendra akhirnya mengikuti instruksi. Apalagi dia melihat dokter Wardana juga cuma diam dan tidak melarang Ryan. Dia memegang kaki Pak Darma dan meremas bagian tengah telapak kaki dengan ragu. Ryan kembali memejamkan mata. Dia mulai bernapas dengan pola yang aneh, tiga tarikan pendek, satu hembusan panjang. Begitu terus-menerus. Tangan kanannya bergerak dari dada ke perut, dari perut ke tenggorokan, mengikuti aliran yang dia lihat. "Yan, kamu nggak apa-apa? Kamu pucat," Suster Dewi bertanya cemas. Ryan tidak menjawab. Keringatnya bercucuran. Giok di dadanya sekarang terasa panas membakar, tapi dia tidak bisa, bahkan memang tidak mau supaya berhenti. Dalam aksinya simpul merah di dada Pak Darma mulai melonggar. Energi mengalir pelan, tersendat-sendat, tapi mengalir. Dia menekan lebih kuat di beberapa titik, memandu aliran itu seperti membuka pintu air yang tersumbat. "Dokter... monitornya..." Suster Ratna berbisik tidak percaya. Semua mata tertuju ke layar. Grafik yang tadinya datar, kini mulai bergerak. Satu lonjakan kecil, kemudian lagi dan lagi. Beep... beep... beep... "Oh Tuhan..." Dokter Hendra melepas kaki Pak Darma dan melompat ke monitor. "Sinus rhythm! Dia kembali!" "Saturasi oksigen naik! 85... 88... 90...!" Suster Ratna melaporkan dengan suara bergetar. Sementara Ryan masih belum selesai. Dia memindahkan tangan ke dahi Pak Darma, menekan lembut di titik antara kedua alis, lalu ke pelipis, lalu ke belakang kepala. Napasnya masih mengikuti pola tadi, terasa lambat, dalam, tapi teratur. Perlahan, warna kebiruan di wajah Pak Darma memudar. Napasnya, meski masih dibantu ventilator, tapi terlihat lebih teratur. Setelah apa yang terasa seperti selamanya, Ryan melepas tangannya. Dia limbung, hampir terjatuh kalau Pak Broto tidak menangkapnya. "Ryan!" teriak pak Broto.Ryan merasa seperti tikus yang terjebak dalam perangkap tikus raksasa, dengan musuh-musuh tak terlihat mengintai dari segala penjuru. Seminggu setelah acara tunangan yang penuh gejolak itu, ia mulai menjalani rutinitas baru sebagai perawat pribadi Pak Darma di rumah yang megah.Pagi-pagi buta, udara kota masih dingin menusuk tulang, kabut tipis menyelimuti jalanan basah oleh embun malam. Ryan naik sepeda motor tua miliknya menuju rumah sakit untuk shift terakhirnya sebelum sepenuhnya pindah tugas. Lampu jalan kuning redup menerangi wajahnya yang lelah, bayangan pohon-pohon di pinggir jalan seolah-olah mengawasi gerakannya.Tiba-tiba, dari belakang, suara deru motor lain mendekat dengan cepat. Dua motor hitam tanpa plat nomor menyusulnya, pengendaranya mengenakan jaket kulit gelap dan helm full-face yang menyembunyikan wajah."Hei, berhenti!" teriak salah satu dari mereka, suara kasar seperti geraman serigala. Ryan memacu gas motornya, jantungnya berdegup kencang. Jalanan licin karena
Ryan merasa hatinya seperti terperangkap dalam labirin gelap yang tak berujung. Sudah dua hari ini ia mondar-mandir di koridor rumah sakit yang dingin dan steril, mencari keberadaan Dr. Wardana. Udara disana terasa lembab, bercampur bau obat dan desinfektan yang menusuk hidung. Lampu neon yang berkedip-kedip di langit-langit membuat bayangannya memanjang, seolah-olah mengejek kegelisahannya."Dokter Wardana? Beliau sedang melakukan penelitian sosial di luar negeri," kata perawat senior dengan suara datar, sambil menatap layar komputer di meja resepsionis. "Tidak ada detail lebih lanjut, maaf. Kami tidak bisa hubungi beliau sekarang."Ryan menghela napas panjang, tangannya memegang erat ponsel yang sudah kehabisan baterai. Penelitian sosial atau rahasia? Di negara mana? Tidak ada petunjuk sama sekali. Ia tahu, tanpa Dr. Wardana, pelindung utamanya hilang.Sementara itu, dinas kesehatan seperti serigala lapar yang mengintai. Pagi tadi, ia melihat mobil dinas berwarna putih parkir di dep
Tiga hari setelah pertemuan dengan keluarga Sudirga, Ryan duduk di kantin rumah sakit sambil mengaduk kopi dinginnya tanpa diminum. Pikirannya melayang, bukan ke lima puluh juta rupiah yang sudah disimpan dengan aman di bawah kasur, tapi ke masalah baru yang muncul. "Yan, kamu dengar belum?" Pak Broto duduk di seberangnya dengan nasi goreng dan teh manis. "Pagi ini ada orang dari Dinas Kesehatan dateng." Ryan mengangkat wajah. "Dinas Kesehatan? Ngapain?" "Katanya mau investigasi. Ada laporan tentang 'praktik medis ilegal' di rumah sakit ini." Pak Broto menurunkan suaranya. "Dan yang bikin aku khawatir, mereka nyebut-nyebut nama kamu." Jantung Ryan langsung berdegup cepat. "Namaku? Kenapa?" "Entahlah. Tapi tadi pagi mereka ketemu sama Dokter Hendra di ruangannya. Lumayan lama, hampir satu jam. Keluar-keluar, mereka bawa map tebal dan Dokter Hendra keliatan stres banget." "Sial." Ryan mengusap wajahnya. Ini yang dia takutkan. Penyelamatan Pak Darma memang ajaib, terlalu ajaib
Ryan baru saja selesai memandikan pasien stroke di ruang 304 ketika Suster Dewi berlari menghampirinya dengan wajah panik."Yan! Yan! Ada yang nyariin kamu di lobby!"Ryan mengelap tangannya dengan handuk. "Siapa? Keluarga pasien?""Bukan! Perempuan muda, cantik, pakai blazer mahal, bawa bodyguard segala!" Suster Dewi berbisik dengan mata berbinar. "Kayaknya orang kaya banget deh. Mobilnya Mercy hitam, plat nomornya cantik lagi!"Jantung Ryan langsung dag-dig-dug. "Jangan-jangan...""Iya! Dia nyebut nama kamu. Ryan Putra Nagara. Bilang mau ketemu langsung, penting banget katanya.""Sial." Ryan mengusap wajahnya. Akhirnya mereka menemukan dia juga."Kenapa sih? Emang ada masalah?" Suster Dewi penasaran."Nggak ada apa-apa. Bilang saja aku saja lagi sibuk, nanti aku ke sana.""Udah aku bilang gitu tadi. Eh, dia malah bilang dia mau nunggu sampai kamu selesai. Sekarang lagi duduk di kursi tunggu sambil main HP, tapi keliatan nggak sabar banget."“Hahhh…” Ryan menghela napas panjang. Tida
Ryan terlelap dalam tidur yang gelisah. Keringat membasahi dahinya, nafasnya tersengal-sengal seperti orang habis berlari. Tapi dia tidak bermimpi biasa, ini berbeda. Sungguh, sangat berbeda. Baik tempat dan keadaan sekelilingnya. Ryan membuka mata dan mendapati dirinya berdiri di sebuah tempat yang mustahil. Bukan di kamar kontrakannya yang sempit, bukan rumah sakit, bukan juga tempat yang pernah dia kenal. Dia berdiri di tengah hamparan kabut putih tebal yang menggelinding pelan seperti ombak. Lantai di bawah kakinya seperti kaca hitam yang memantulkan bayangan dirinya, tapi bayangannya bergerak sendiri, tidak sinkron dengan gerakan tubuhnya. "Apa ini, aku ada di mana?" Ryan menoleh ke segala arah. Tidak ada langit. Tidak ada bumi. Hanya kabut, keheningan, dan sensasi hampa yang mencekam. "Akhirnya kau datang juga, anak muda." Ryan tersentak. Suara itu terdengar berat, bergema, seperti datang dari segala arah sekaligus. Dari dalam kabut, muncul sosok tua berjenggot puti
Ryan baru pulang shift malam pukul sebelas lewat. Kakinya pegal, matanya perih, dan perutnya keroncongan karena cuma sempat makan mie instan siang tadi. Gang Mawar 7 yang biasanya sepi di jam segini ternyata rame, tapi bukan rame yang baik.Ada tiga motor gede terparkir sembarangan di depan kontrakan. Lampu depan masih nyala, mesin masih bunyi menderu. Dari arah halaman, terdengar teriakan dan suara barang pecah."Sial, ada apa lagi?" Ryan mempercepat langkah.Pemandangan yang menyambutnya bikin darahnya naik. Lima orang berjaket kulit hitam dengan logo serigala di punggung sedang mengacak-acak halaman kontrakan. Pot bunga Bu Surti dilempar, jemuran diobrak-abrik, bahkan kursi plastik ditendang sampai patah.Yang paling bikin Ryan naik darah, Bu Surti berlutut di tanah sambil menangis, menggenggam kaki salah satu preman."Maafin saya, Bang! Saya janji minggu depan pasti bisa bayar!"Preman itu, bertubuh besar dengan tato di leher, menendang tangan Bu Surti sampai perempuan paruh baya







