Share

BAB 5

Author: Nenghally
last update Last Updated: 2024-07-09 16:20:18

Bryan adalah asisten kepercayaan Tuan Anggara, ayah Alyn. Sebagai asisten yang setia, Bryan selalu ada di sisi Tuan Anggara, membantu mengurus berbagai urusan bisnis dan pribadi. Dalam perjalanannya, ia sering bertemu dengan Alyn, anak tunggal majikannya.

Mereka sering berbincang ringan, dan dari pertemuan-pertemuan itu, Bryan mulai menaruh hati pada Alyn. Ia terpesona oleh kelembutan dan keanggunan Alyn, tetapi ia sadar bahwa dirinya hanyalah seorang asisten. Tak mungkin ia menyukai anak majikannya.

Namun, seiring berjalannya waktu, perasaan Bryan semakin dalam. Suatu hari, dia merasa sudah tidak bisa lagi menahan perasaannya. Bryan berniat untuk menyatakan cintanya kepada Alyn, berharap ia bisa memahami dan merasakan hal yang sama.

Sore itu, Bryan melihat Alyn duduk di taman belakang, menangis terisak-isak. Ia merasa hatinya hancur melihat wanita yang dicintainya begitu terluka. Dengan langkah hati-hati, Bryan mendekati Alyn.

"Alyn, ada apa? Kenapa kamu menangis?" tanyanya lembut.

Alyn mendongak, matanya sembab karena menangis. "Bryan, aku hamil. Dan aku harus menikah dengan Felix. Ayah masih belum setuju, tapi ini semua salahku. Aku begitu bodoh."

Bryan tertegun mendengar pengakuan Alyn. Rasa kecewa yang mendalam menyelimuti hatinya. Ia merasa cintanya bertepuk sebelah tangan, dan lebih buruk lagi, Felix—pria yang ia tahu tidak pantas untuk Alyn—telah menghamili wanita yang ia cintai.

"Felix? Kenapa dia bisa melakukan ini padamu?" Bryan merasa marah dan kecewa.

Alyn menunduk, air matanya kembali mengalir. "Aku juga tidak tahu, Bryan. Aku pikir dia pria yang baik, tapi ternyata dia hanya merusak hidupku."

Bryan mengepalkan tangannya, menahan amarah yang mendidih di dalam dirinya. "Alyn, kau pantas mendapatkan yang lebih baik. Kau tidak layak diperlakukan seperti ini."

Alyn terisak, merasa sedikit tenang dengan kehadiran Bryan. "Tapi apa yang bisa kulakukan, Bryan? Aku sudah terlanjur hamil. Aku harus menikah dengannya."

Bryan merasa hatinya hancur. Ia ingin sekali melindungi Alyn, tetapi ia tahu posisinya sebagai asisten Tuan Anggara tidak memberinya banyak kuasa. "Aku di sini untukmu, Alyn. Jika ada yang bisa kulakukan untuk membantumu, aku akan melakukannya."

Alyn mengangguk, merasa bersyukur ada Bryan di sisinya. "Terima kasih, Bryan. Kehadiranmu sangat berarti bagiku."

Bryan menatap Alyn dengan penuh kasih sayang yang terpendam. Meski hatinya hancur, ia bertekad untuk selalu ada untuk Alyn, apa pun yang terjadi. Ia tahu bahwa cinta sejati harus siap berkorban, bahkan jika itu berarti menyembunyikan perasaannya demi kebahagiaan orang yang ia cintai.

"Bryan?" panggil Alyn memecah lamunan Bryan yang masih penuh dengan kenangan dan perasaan yang terpendam.

Alyn, dengan gaun cantik namun sederhana, duduk di ujung sofa, tampak gelisah. Dia berusaha untuk tidak memperlihatkan betapa beratnya beban yang dia rasakan, tetapi ekspresinya yang penuh kesedihan tidak bisa di sembunyikan.

Bryan berdiri di sudut ruangan, menjaga jarak namun tetap dalam jangkauan Alyn. Dia memperhatikan gerakan Alyn dengan penuh perhatian, berusaha memberikan rasa aman di tengah situasi yang sulit ini.

"Oh, iya, ada apa, Nyonya?" jawab Bryan dengan sedikit gugup, masih belum bisa menghapus rasa kecewa yang menggelayut di hatinya.

"Jangan panggil aku nyonya, aku bukan seorang istri dari siapa-siapa lagi. Aku menganggap bahwa aku tak pernah menikah," ucap Alyn dengan nada nanar, tatapannya kosong menatap jendela.

Bryan merasakan sakit di hatinya, melihat wanita yang dicintainya begitu terluka. "Baik, Nona," ujarnya dengan lembut, mencoba menghormati perasaan Alyn.

Setelah hening beberapa saat, Alyn mengangkat wajahnya dan menatap Bryan. "Bryan, bisa kah kau bantu aku untuk datang ke pesta pernikahan seseorang denganku?"

Bryan sedikit terbelalak, tidak menyangka permintaan itu akan keluar dari mulut Alyn. "Denganku? Apa tidak apa-apa, Nona?"

Alyn tersenyum simpul, ada kilatan tekad di matanya. "Jangan khawatir, ayah tidak akan berkomentar apa-apa. Aku punya rencana."

Bryan merasa hatinya berdebar. Di satu sisi, ia senang bisa menemani Alyn, tetapi di sisi lain, ia merasa cemas akan reaksi orang lain.

"Baiklah, Nona. Aku akan menemanimu. Kapan pesta itu diadakan?" tanya Bryan, terlihat antusias.

"Dua minggu lagi," jawab Alyn dengan tenang. 

Bryan mengangguk, merasa bangga dengan keberanian Alyn. "Aku akan mendukungmu.”

Di ruang makan, meja makan panjang telah dihias dengan sangat teliti. Tuan Anggara telah memastikan semua detail kecil diperhatikan. Lilin-lilin kecil diletakkan di sepanjang meja, siap untuk dinyalakan agar menciptakan suasana yang hangat dan intim saat makan malam.

Piring-piring porselen berwarna putih yang dihiasi dengan pola emas dan perak disusun rapi, bersama dengan gelas-gelas kristal dan peralatan makan berlapis emas. Semua peralatan disusun dengan presisi, memastikan bahwa putrinya merasa diperhatikan dan dihargai.

Pelayan mendekati Alyn dan Bryan yang masih berada di ruang tamu. "Nyonya Alyn, Tuan Bryan, makan malam sudah siap. Silakan bergabung dengan Tuan Anggara di meja makan."

Alyn dan Bryan mengikuti pelayan menuju ruang makan, di mana meja yang elegan telah disiapkan dengan hidangan yang menggugah selera. Saat mereka duduk di meja makan, Tuan Anggara sudah menunggu, suasana terasa hangat dan akrab.

Setelah mereka mulai menikmati hidangan, Alyn merasa ini adalah waktu yang tepat untuk berbicara. Dengan penuh tekad, ia memutuskan untuk mengungkapkan pikirannya.

“Ayah, Bryan, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan,” ujar Alyn dengan hati-hati.

Tuan Anggara menatapnya dengan penuh perhatian, sementara Bryan mendengarkan dengan cermat. "Apa yang ingin kamu katakan, Alyn?" tanya Tuan Anggara.

“Aku ingin meminta izin untuk menjalani hidupku sebagai Alyn yang hidup biasa. Aku ingin kesempatan untuk menentukan jalanku sendiri, ini belum saatnya Felix dan keluarganya tahu tentang identitasku.”

Tuan Anggara menatap Alyn dengan serius, merenungkan kata-katanya. Suasana di meja makan menjadi tegang saat ia memikirkan permintaan putrinya. Akhirnya, Tuan Anggara berkata dengan lembut, “Alyn, jika itu keputusan yang kamu ambil, aku akan mendukungmu. Tapi kau harus tetap berhati-hati.”

Beberapa hari kemudian, Alyn memutuskan untuk meninggalkan kediaman ayahnya dan pindah ke sebuah kontrakan kecil. Kontrakan itu sederhana namun nyaman, menawarkan privasi yang sangat dibutuhkannya saat ini.

Keesokan paginya, Alyn duduk di meja kecil di sudut ruang tamu, menyalakan laptopnya. Dengan tekad bulat, ia mulai menyusun CV-nya. Jari-jarinya mengetik dengan cepat, menuliskan riwayat pekerjaan dan keterampilan yang dimilikinya.

Setelah menyelesaikan CV, Alyn mulai menulis surat lamaran yang ditujukan untuk berbagai perusahaan. Ia berusaha menciptakan surat yang menarik perhatian perekrut, menonjolkan keahliannya sebagai sekretaris dan pengalaman kerja yang relevan.

"Aku akan melakukan yang terbaik kali ini," gumamnya kepada diri sendiri, sambil menghirup udara pagi yang tenang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Vya Kim
uhuyyy lanjut...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Kebangkitan Istri Rahasia Sang CEO   BAB 112

    Senja perlahan menyelimuti langit dengan semburat jingga keemasan, menciptakan suasana yang tenang dan hangat di tepi pantai. Angin sepoi-sepoi berhembus lembut, membelai rambut Alyn yang tergerai. Mereka berjalan berdampingan di sepanjang pasir putih yang halus, sementara ombak bergulung pelan di kejauhan, seolah menyanyikan lagu lembut yang hanya mereka berdua bisa dengar.Rio menghentikan langkahnya. Alyn yang menyadari bahwa Rio tak lagi berjalan di sampingnya berbalik.“Ada apa, Rio?” tanyanya, suaranya lembut namun penuh tanya.Rio menatap Alyn dalam-dalam, seolah ingin memastikan setiap detik yang mereka habiskan bersama di tempat itu akan abadi dalam ingatannya. Wajahnya tegang, namun di matanya ada kehangatan yang tak biasa.“Alyn,” katanya perlahan, suaranya terdengar lebih rendah dan dalam dari biasanya. “Ada sesuatu yang sudah lama ingin aku sampaikan.”Alyn merasakan jantungnya berdegup lebih cepat. Entah mengapa, tatapan Rio kali ini berbeda. Ada se

  • Kebangkitan Istri Rahasia Sang CEO   BAB 111

    Suara gesekan pintu sel yang berat bergema di ruangan yang suram. Seorang penjaga melangkah maju, membuka pintu sel perlahan."Ericka Hartono, Anda dibebaskan," katanya dengan nada datar, seolah pembebasan ini hanyalah rutinitas lain baginya.Ericka, yang duduk termenung di sudut ruangan, mendongak dengan ekspresi terkejut. Matanya yang sebelumnya kosong kini menyala dengan campuran perasaan kebingungan, kelegaan, dan sedikit ketakutan. Setelah segala yang terjadi, dia tidak pernah membayangkan bahwa hari ini akan datang begitu cepat.Dia berdiri, merapikan pakaiannya yang kusut, lalu melangkah keluar dari sel dengan ragu-ragu. Udara dingin dari luar menyambutnya, membawa serta kenyataan baru yang sulit ia terima. Saat dia berjalan keluar dari penjara, pikirannya dipenuhi dengan banyak pertanyaan. Siapa yang membebaskannya?Di luar, sinar matahari menyilaukan matanya, kontras dengan gelapnya sel yang selama ini menjadi tempatnya. Ericka melangkah ke dunia luar dengan langkah berat, ti

  • Kebangkitan Istri Rahasia Sang CEO   BAB 110

    Hakim menatap kedua terdakwa, Bu Ratna dan Bryan, dengan tatapan dingin. Setelah mendengar semua kesaksian dan bukti yang diajukan selama persidangan, suasana di ruang sidang terasa tegang, seolah menunggu vonis yang tak terelakkan. "Setelah mempertimbangkan semua fakta yang disampaikan di persidangan ini," kata hakim dengan suara tegas, "pengadilan memutuskan bahwa terdakwa, Ratna Anggara, terbukti bersalah atas tuduhan percobaan pembunuhan terhadap Ny. Anggara beberapa tahun yang lalu, serta upaya menghilangkan nyawa Alyn baru-baru ini." Suara berbisik terdengar dari para pengunjung sidang, tetapi hakim tidak terpengaruh dan melanjutkan, "Selain itu, terdakwa juga terbukti bersalah karena merencanakan serangkaian manipulasi dan tindakan kriminal lainnya untuk mempertahankan posisinya dan kekuasaan di Anggara Group." Hakim beralih pada Bryan yang kini tampak pucat. "Bryan Wijaya, Anda juga terbukti bersalah atas berbagai kejahatan, termasuk fitnah terhadap Rio Putra Wijaya, mela

  • Kebangkitan Istri Rahasia Sang CEO   BAB 109

    Saat Jinu dipanggil ke depan sebagai saksi, suasana ruang sidang semakin tegang. Jinu, dengan sikap tenang namun tegas, berdiri di depan para hakim. Dia mengangkat sumpah dengan penuh kesadaran bahwa apa yang akan dia katakan akan menjadi kunci dalam kasus ini."Nama saya Jinu," ia memulai, "dan selama ini, saya adalah tangan kanan Bryan. Saya diutus untuk memata-matai keluarga Ericka, serta menjaga agar semuanya tetap berjalan sesuai rencana Bryan dan Bu Ratna."Desas-desus di antara hadirin mulai terdengar. Mata Felix tampak terbelalak, seakan tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Keluarga Wijaya saling bertukar pandang, menyadari bahwa mereka juga telah menjadi bagian dari permainan yang lebih besar.Pengacara yang mewakili Alyn berdiri dan mulai bertanya. "Bisa Anda jelaskan lebih lanjut, apa yang Anda maksud dengan memata-matai keluarga Ericka?"Jinu menghela napas sebelum melanjutkan. "Bryan dan Bu Ratna merencanakan segalanya. Mereka memanipulasi hubungan

  • Kebangkitan Istri Rahasia Sang CEO   BAB 108

    Keesokan harinya, sidang dilanjutkan dengan suasana yang jauh lebih tegang. Ruang sidang dipenuhi oleh orang-orang yang telah mengikuti perkembangan kasus ini, termasuk anggota keluarga Wijaya yang hadir dengan wajah serius. Felix duduk di barisan depan bersama keluarganya, matanya tajam menatap ke depan, mencoba mencerna segala sesuatu yang terjadi. Hakim mengetukkan palunya dengan tegas, meminta ketenangan di ruang sidang yang mulai riuh setelah bukti baru disampaikan. “Pengacara, apakah Anda memiliki saksi yang bisa mendukung bukti yang baru saja diajukan?” tanyanya dengan nada serius. Pengacara Alyn berdiri dengan tenang. "Yang Mulia, kami memang memiliki saksi yang relevan untuk memperkuat tuduhan terhadap terdakwa. Kami ingin memanggil Dokter MJ ke hadapan persidangan." Ruang sidang hening sesaat ketika pintu terbuka dan Dokter MJ masuk. Dia berjalan menuju mimbar saksi, menundukkan kepala sebentar sebelum duduk di kursi yang disediakan. Semua mat

  • Kebangkitan Istri Rahasia Sang CEO   BAB 107

    Ruangan sidang dipenuhi keheningan yang tegang. Para hadirin duduk di barisan bangku kayu, menahan napas menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Di depan, hakim duduk dengan sikap tenang, meski ketegangan terasa mengental di udara.Di sisi lain ruang, Alyn berdiri dengan tegas di meja penggugat, diapit oleh Rio dan Jinu. Di seberang, Bryan tampak duduk dengan wajah penuh ketegangan, ditemani oleh Bu Ratna yang berusaha menjaga wibawanya meski suasana terasa semakin tak terkendali.Sidang ini bukan sekadar pertempuran hukum biasa. Ini adalah puncak dari segala tipu daya, pengkhianatan, dan rahasia yang selama bertahun-tahun tersembunyi. Alyn tahu bahwa semua yang terjadi selama ini bermuara pada hari ini. Hari di mana kebenaran akan membebaskannya, atau menghancurkannya.Pengacara Alyn maju ke depan, membawa sebuah amplop putih yang disegel dengan rapi. "Yang Mulia," katanya dengan suara lantang. "Kami telah melakukan tes DNA dan hasilnya jelas. Bryan bukan anak kandu

  • Kebangkitan Istri Rahasia Sang CEO   BAB 106

    Rio mengerutkan kening, mencoba memahami situasi yang semakin rumit. Alyn yang sejak tadi begitu bersemangat terdiam, dia mulai berpikir keras. Ada sesuatu yang mengganjal di benaknya. Lalu tiba-tiba, sebuah pemikiran muncul, membuatnya terhenyak."Jangan-jangan..." Alyn berhenti, menatap Rio dan Jinu dengan mata melebar. “Bryan bukan anak kandung Bu Ratna?”Suasana seketika hening. Rio menatap Alyn, terkejut dengan dugaan itu. “Maksudmu?”“Pikirkan, Rio. Jika Bryan memang anak kandung Bu Ratna dan Tuan Anggara, seharusnya dia tahu siapa aku dari awal. Tapi kalau dia bukan anak kandung, mungkin ada alasan lain kenapa dia begitu terobsesi padaku.” Alyn mulai berbicara cepat, seakan mencoba mengejar pemikirannya sendiri. Jinu menatap Alyn dengan serius, wajahnya menunjukkan pemahaman yang baru. “Itu masuk akal,” katanya akhirnya. "Mungkin saja sejak awal, Bryan memang hanya anak pura-pura dan tahu permainan Bu Ratna. Tapi... dia malah terjebak dalam perasaannya sendiri pada Alyn.”Rio

  • Kebangkitan Istri Rahasia Sang CEO   BAB 105

    “Aku tahu ini tidak gratis, kan?” tanya Alyn, suaranya terdengar rendah namun tegas. Dia tahu bahwa Jinu bukan tipe orang yang melakukan sesuatu tanpa alasan.Jinu tersenyum tipis, seolah sudah menunggu pertanyaan itu. "Kau tahu betul, Alyn. Aku ingin Ericka dibebaskan sebagai imbalannya."Mendengar permintaan itu, Rio langsung tersentak. "Tidak! Dia sudah mencelakai Alyn dan ibunya. Ericka tidak pantas dibiarkan begitu saja!" Rio membentak, kemarahan dan kebencian terhadap Ericka terpancar dari matanya.Namun, Jinu tetap tenang, seakan dia sudah memperkirakan reaksi Rio. "Kau salah, Rio..." ucap Jinu pelan tapi pasti. "Itu bukan Ericka... tapi ibu Bryan."Kata-kata Jinu membuat udara di antara mereka terasa berat. Rio menatap Jinu dengan tatapan bingung, mencoba memahami apa yang baru saja didengarnya.“Apa maksudmu? Ibu Bryan?”Jinu menghela napas panjang sebelum melanjutkan, "Ibu Bryan adalah dalang dari semua ini. Dialah yang selama ini menarik tali di balik layar, termasuk menjeb

  • Kebangkitan Istri Rahasia Sang CEO   BAB 104

    Alyn terdiam, mencoba mencerna situasi yang baru saja terjadi. Rasanya seperti semakin banyak rahasia yang terungkap, namun semuanya masih kabur dan tidak jelas. Ia tahu, ada sesuatu yang lebih besar sedang terjadi, sesuatu yang jauh di luar kendalinya."Rio, kita harus menemukan cara untuk menghentikan ini semua sebelum segalanya semakin hancur. Aku tidak bisa membiarkan semua orang yang aku cintai terjebak dalam permainan ini," ucap Alyn, nadanya dipenuhi kegelisahan.Rio menggenggam tangan Alyn erat, matanya bersinar penuh ketegasan. "Kita akan hadapi ini bersama. Aku tahu Bryan sedang merencanakan sesuatu, dan sepertinya ini lebih dari sekadar menghancurkan Felix. Dia ingin lebih dari itu."Alyn memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan dirinya. Bryan, yang dulunya sahabat setia keluarga, kini berubah menjadi musuh dalam selimut. Perasaannya bercampur antara ketakutan dan kekecewaan. Bagaimana bisa orang yang begitu dekat dengannya berubah menjadi ancaman terbesar dalam hidupny

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status