Mag-log inAku ditolak calon mertua karena dianggap cuma jualan ikan di pasar dan bau amis, nggak setara dengan anaknya, Aris, yang sudah PNS. Bu Ratna lebih memilih Santi, gadis CPNS di kecamatan untuk jadi menantu idamannya. Dia nggak tahu, pendapatanku sehari bisa melebihi gaji mereka berdua sebulan! Pelan tapi pasti, ku tunjukkan identitasku sebenarnya sebagai Magdalena Harum Puspita, putri tunggal Pak Himawan, eksportir yang kaya raya dengan aset di mana-mana. Kira-kira, mereka bakalan pingsan nggak, ya?!
view more"Jadi arisan keluarga di rumah kamu malam ini, Mas? Ibu mau dibawakan ikan apa? Mumpung aku masih di gudang ini," tanyaku ceria lewat sambungan telepon. Tanganku yang terbungkus sarung tangan karet sibuk memilah udang vaname kualitas ekspor.
Aris tidak langsung menjawab. Hening sejenak di seberang sana. "Mas, kamu denger aku, kan? Halo!" "Iya, denger, Len." Suara Aris terdengar berat, seolah ada beban yang menyumbat tenggorokannya. "Oh, syukur. Aku bawain tongkol, kakap merah, sama kembung, ya? Ikan segar semua ini, baru bongkar." "Ehm, Len... kamu nggak perlu repot-repot," jawab Mas Aris ragu-ragu. Ada nada sungkan yang tidak biasa dalam suaranya. "Nggak usah sungkan, Mas. Aku otw sekarang. Aku bawain udang kesukaan adikmu juga, ya. Sudah ya, Mas, aku tutup dulu!" Aku tersenyum, memasukkan ponsel ke saku celemek, dan dengan sigap mengangkat box styrofoam berukuran sedang. "Mau ke mana toh, Mbak? Cerah sekali wajahnya?" tanya Mas Toto, karyawan kepercayaanku di gudang. "Ke mana lagi kalau bukan ke rumah calon mertua ya, Mbak?" ledek Anna, staf keuanganku, sambil mengerling nakal. "Udah, udah. Balik kerja lagi sana. Nitip gudang ya, jangan sampai ikan-ikannya digondol kucing!" selorohku sambil berlalu. Aku membawa box ikan itu ke sepeda motor yang terparkir di depan. "Mbak, kayaknya mendung, mau hujan. Nggak bawa mobil aja?" tawar Anna sambil mengulurkan kunci Grandmax putih operasional gudang. "Nggak usah. Ribet bawa mobil. Kayak mau kirim ke restoran gede aja. Cuma satu wadah begini, lebih cepet pakai motor," tolakku santai. Saat aku hendak menyalakan mesin, tangan Anna menahan lenganku. Wajahnya berubah serius. "Mbak, jangan terlalu baik jadi orang." "Hmm? Maksudnya?" "Keluarganya Mas Aris itu kayaknya nggak suka sama Mbak. Ibunya itu lho, tampangnya jutek kayak bebek." Aku tertawa renyah. "Yang mau nikah sama aku itu Mas Aris, bukan ibunya. Biarin aja, Ann. Nanti setelah nikah, kita pisah rumah. Nggak apa-apa lah lihat tampang Suneo versi emak-emak sesekali." "Aku serius, Mbak! Bu Ratna itu makin sombong sejak anaknya jadi PNS. Dengar-dengar, dia mau jodohin Mas Aris sama Mbak Santi, pegawai honorer kecamatan yang kemarin lolos CPNS juga." "Dijodohin? Hahaha!" Aku tak bisa menahan tawa. "Kalau Mas Aris mau, ya silakan, Ann. Kayak cuma dia aja laki-laki di dunia ini." "Tapi, Mbak—" "Udah, aku jalan ya. Takut kesorean!" Empat puluh menit menembus kemacetan sore dan debu jalanan, akhirnya aku sampai di depan rumah Mas Aris. Tubuhku rasanya lengket. Jilbab marun yang kukenakan sudah terasa lembap karena keringat di balik helm, belum lagi cipratan air es dari box ikan yang tadi sempat mengenai lengan bajuku. Aku merapikan jilbab marunku sebentar, mencoba tampil seadanya yang penting sopan. Namun, baru saja kakiku memijak tanah, suara cempreng Bu Ratna sudah menyambar. "Lena, ngapain kamu ke sini?!" "Ah, Bu. Ini aku bawain—" "Kamu ini dateng mau buat onar?" Bu Ratna menutup hidungnya dengan tangan, wajahnya berkerut jijik. "Ini rumah udah bersih, wangi, bukan pelelangan yang bisa kamu datangi sembarangan. Mana bau amis lagi!" Mas Aris keluar dari pintu depan, tapi dia hanya diam di samping seorang gadis cantik rambut panjang dengan nametag besar di dada bertuliskan SANTI. 'Ah, ini yang Anna bilang tadi, ya?' batinku. Gadis itu memakai seragam cokelat—khas pegawai pemerintah—yang licin tanpa cela. Langit bumi dengan penampilanku yang seadanya. "Mas Aris, ini ikannya. Siapa tahu mau dimasak buat arisan nanti malam." Aku menyodorkan box styrofoam itu, tapi Mas Aris justru mundur selangkah, seolah takut baju batiknya ternodai. "Taruh di belakang saja, Len," gumam Mas Aris tanpa berani menatap mataku. "Nah, dengar itu!" timpal Bu Ratna ketus. "Taruh di dapur belakang, lewat pintu samping saja biar bau amisnya nggak masuk ke ruang tamu. Malu, di dalam ada keluarganya Santi. Dia udah lolos CPNS, loh. Harum, bersih, berkelas. Nggak kayak kamu yang tiap hari pelukan sama ikan!" Santi tersenyum simpul, tapi tatapannya menelisik penampilanku dari ujung kepala sampai kaki dengan pandangan meremehkan. "Jadi, ini pacarnya Mas Aris ya, Bu?" "Dulu. Ibu udah minta dia putus, tapi Lena yang nempel terus ke Aris. Maklumlah, anak Ibu kan emang ganteng, udah jadi PNS pula. Siapa yang nggak mau numpang hidup enak, kan?" "Numpang hidup enak?" beoku dengan napas tercekat. "Sabar ya, Mbak Lena. Ibunya Mas Aris nggak bermaksud ngomong begitu, kok. Tapi memang, siapa pun kan kepengen hidup enak. Daripada jualan ikan di pasar yang hasilnya nggak seberapa, pasti berat rasanya, ya. Kami maklum kenapa Mbak ngejar-ngejar Mas Aris terus." "Ngejar-ngejar?!" Aku melepas box styrofoam di tanganku, membuatnya mendarat di lantai dengan bunyi 'Buk!' yang cukup keras. "Kayaknya ada yang salah di sini. Kamu jangan sok tahu. Saya nggak pernah ngejar-ngejar Mas Aris. Kita pacaran karena memang saling suka dan nyaman satu sama lain. Benar kan, Mas?" "Len... maaf, kayaknya hubungan kita cukup sampai di sini aja." "Apa?!" "Kita nggak setara. Keluarga besarku lebih setuju aku sama Santi. Nanti malam, aku mau melamarnya." Aku mundur selangkah sambil menghela napas. Nggak setara katanya? Padahal bapakku yang biayai kuliahnya sampai lulus jadi sarjana. Bahkan, buat tes CPNS, aku juga yang wira-wiri ke sana kemari karena dia sibuk kerja. "Mbak Lena, jangan diambil hati. Kalau Mbak mau, nanti saya bantu tanyakan ke bagian kebersihan di kantor, siapa tahu ada posisi kosong. Seenggaknya bisa dapat kerja yang lebih bagus, nanti bisa pake seragam, nggak bau ikan begini." Ingin sekali aku tertawa mendengar tawaran Santi. Jadi staf kebersihan katanya? Apa aku serendah itu di mata mereka karena sehari-hari jualan ikan? Astaga. Seandainya mereka tahu kalau hasil penjualan sehari di gudang bisa melebihi gaji mereka berdua sebulan. "Gimana, Mbak? Mau?" "Nggak usah. Makasih tawarannya. Aku lebih suka bau ikan begini," jawabku sambil mengangkat box yang tadi kubawa. "Eh, itu ikannya mau dibawa ke mana?" Suara cempreng Bu Ratna menyela saat aku berbalik badan. "Bawa pulang. Kan saya sama Mas Aris sudah putus." "Enak aja! Siniin!" Tanpa aba-aba, wanita dengan gincu merah itu merebut box ikan dari tanganku. "Udah pergi sana. Kamu tunggu undangan nikah mereka, ya, Lena!" imbuhnya sambil berlalu masuk ke rumah, diikuti Mas Aris yang digandeng oleh Santi. Aku tak bisa berkata-kata melihat kelakuan mereka. Astaga! Lihat saja. Akan kubuat wanita itu menyesal karena sudah membuangku cuma karena aku bukan PNS seperti calon menantu pilihannya!Semburat jingga di ufuk barat mulai menyapa, namun suasana di meja pojok belakang kedai Magdalena Seafood and Resto terasa begitu dingin. Mas Toto duduk dengan punggung tegak, sementara Aris baru saja meletakkan helmnya dengan tangan sedikit gemetar."Mas Aris, terima kasih sudah datang," buka Mas Toto tanpa basa-basi."Sama-sama, Mas Toto. Kebetulan saya juga ingin bertanya soal tuntutan hukum pada Sinta. Apa itu perintah Lena?"Mas Toto menggeleng pelan, sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya yang mulai keriput. "Bukan. Mbak Lena itu hatinya terlalu lembut untuk memenjarakan orang, meskipun dia sangat marah. Yang melaporkan Sinta ke polisi itu... Pak Himawan sendiri."Aris tertegun. "Om Himawan?""Benar. Bapak tidak terima putri semata wayangnya dipermalukan seperti itu. Beliau ingin memberi pelajaran bahwa setiap perbuatan ada konsekuensinya. Jadi, kalau Mas Aris mau minta Lena cabut laporan, itu salah alamat. Keputusan ada di tangan Bapak."Aris terdiam, lidahnya kelu. Ternya
Aris memarkir motornya dengan tergesa di halaman kantor kelurahan. Napasnya masih sedikit memburu sisa perjalanan dari rumah sakit. Namun, langkahnya mendadak terkunci saat melihat dua sosok yang sangat familiar duduk di kursi tunggu panjang depan lobi.Orang tua Sinta.Wajah mereka nampak sangat kuyu, mata mereka sembab, dan sang ibu terus meremas sapu tangan yang sudah basah. Begitu melihat sosok Aris, ayah Sinta langsung berdiri dengan tumpuan yang goyah."Nak Aris!" seru pria paruh baya itu dengan suara serak.Aris menghampiri mereka dengan dahi berkerut. "Lho, Bapak, Ibu? Ada apa pagi-pagi sudah di sini?" Ibu Sinta tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru histeris, langsung meraih tangan Aris dan menggenggamnya erat, seolah pria itu adalah satu-satunya pelampung di tengah badai."Nak Aris, tolong... tolong Sinta, Nak. Ibu mohon, bantu Sinta keluar dari sana. Dia tidak kuat, Nak. Dia ketakutan," tangis Ibu Sinta pecah, mengundang perhatian beberapa staf kelurahan yang mulai be
"Ternyata Mbak Lena di sini. Kirain ke mana, dicariin sampai ke kantin nggak ada."Lena tidak menoleh. Ia tetap bergeming di tepian pagar pembatas atap rumah sakit, membiarkan angin pagi yang cukup kencang memainkan ujung jilbab hitamnya. Matanya tertuju lurus ke bawah, ke arah area parkir di mana sebuah motor baru saja melaju meninggalkan gerbang rumah sakit. Ia tahu itu Aris."Mbak? Malah bengong," Anna menyandarkan punggungnya di pagar yang sama, ikut memandang ke arah yang sama dengan Lena."Nggak apa-apa, Ann. Cuma mau cari oksigen yang nggak bau karbol," sahut Lena datar. Tatapannya masih kosong.Anna terdiam sejenak, memperhatikan profil samping wajah bosnya yang rahangnya tampak kaku. "Bapak ngomong apa tadi, Mbak? Sampai Mas Aris keluar mukanya kayak orang habis menang lotre. Seneng tapi bingung cara nyairinnya."Lena akhirnya menoleh, menatap Anna dengan sisa-sisa mata sembapnya."Eh, kok mata Mbak merah? Habis nangis? Atau jangan-jangan ... Bapak minta Mbak balikan sama ma
"Bukan, Om. Justru saya yang harus minta maaf. Saya yang bodoh. Selama bertahun-tahun saya sudah sangat merepotkan Lena, menerima semua kebaikannya, tapi akhirnya... saya justru mengkhianati ketulusannya hanya karena silau dengan hal lain."Suasana mendadak hening. Hanya terdengar bunyi detak jantung dari monitor di samping ranjang. Lena menunduk, menyembunyikan genangan air di matanya yang mulai merembes jatuh ke atas sprei."Sudah, yang lalu biar berlalu," ujar Pak Himawan sambil meraih tangan Lena dan Aris, mencoba menyatukannya di atas pangkuan. Namun, Lena menarik tangannya lebih dulu—setelah bersentuhan dengan tangan Aris sebentar—untuk menyeka air mata. "Nasi sudah jadi bubur, seperti yang ada di depan kalian ini. Tapi bubur pun kalau bumbunya pas, tetap terasa nikmat, kan?" Pak Himawan menatap Aris dengan tatapan menguji, tapi tetap bersahabat. Aris menatap Lena dalam diam, tapi tak menjawab."Kamu masih sayang sama anak Om yang keras kepala ini?""Pak!" protes Lena segera,
"Kamu lihat kapal itu," Pak Himawan menunjuk sebuah kapal kargo yang sedang bongkar muat. "Dia pernah dihantam badai, lambungnya lecet, mesinnya mungkin pernah mati. Bukan cuma sekali atau dua kali, bisa jadi puluhan kali. Tapi bukti nyatanya, dia ndak pernah tenggelam. Dia tetap berlayar setelah
Lena melajukan motor matiknya membelah angin malam, membiarkan dingin menyusup di sela-sela jaketnya. Ia berhenti tepat di ujung dermaga, tempat kapal-kapal besi raksasa bersandar. Bangkai besi itu tampak megah dengan panjang puluhan meter. Pemandangan yang biasa bagi Lena sejak kecil, membawa mome
"Pesanan nomor tiga belas," ucapnya lirih, sedikit serak, sambil menunjukkan layar ponselnya ke arahku. Benda pipih itu menjadi salah satu tanda cintaku untuknya."Len. Ehm, Mbak Lena." "Ah, oh, iya." Aku tersentak, mendapati tangan Mas Aris bergerak-gerak di depan wajahku, men
POV Aris "Yah, telat kita, Ris! Harusnya tadi kita ambil saf paling belakang. Jadi begitu selesai salam, bisa langsung nyerbu nasi kotak gratis," gerutu Mas Bondan sambil menepuk-nepuk perutnya yang keroncongan. "Belum rezeki kita, Mas." Aku terkekeh sambil menyampirkan sajadah di bahu. "Tapi l












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.