MasukTanpa angin maupun hujan, Arumi bak disambar petir ketika diceraikan suaminya di muka umum.. Tamu-tamu baru beranjak untuk pergi, keluarga besar kedua mempelai masih mengawasi. Tapi dengan tega, Alvin menceraikan istrinya begitu saja sebelum resepsi berakhir. Seketika harga diri Arumi jatuh berkeping-keping, hatinya terkoyak! Air mata mengalir deras dalam diamnya.. Hari ini dia diceraikan suaminya tanpa tahu kesalahan apa yang sudah ia lakukan.
Lihat lebih banyak"Arumi!!!"
Panggilan itu melengking keras hingga membuat beberapa tamu yang baru datang menoleh. Arumi yang mendengar itu terkejut bukan main. Hampir saja piring ini lepas dari tangannya. Ia lalu menoleh ke arah sumber suara. Nurlela. Ibu mertuanya tengah berkacak pinggang menatapnya dengan marah. Wanita ini terpaksa menghentikan kegiatannya dan tergopoh-gopoh menghampiri wanita paruh baya itu. "Ada apa, bu?" "Ada apa kamu bilang? Kamu ini nggak becus jadi istri! Lihat suamimu itu muter-muter mencarimu. Gimana sih kamu? Acara bentar lagi mulai. Jas suamimu belum kamu siapkan!" Bentak Nurlela kesal. "Iya maaf, bu. Arumi tadi masih nyuci piring." "Lama banget nyuci piringnya. Dasar kamu aja yang lelet. Cepet sana! Alvin sudah menunggu!" Seru Nurlela lagi. Arumi mengangguk dan mengambil lap tangan. Menyeka tangannya yang masih basah dan segera pergi ke kamarnya. Ternyata benar, Alvin sedang kesulitan memakai kainnya. "Kamu ini darimana??" Tanya Alvin dengan mata melotot. "Belakang, mas. Bantu nyuci piring bekas sarapan." "Udah tahu mau ada hajatan. Bukannya kamu mengurus suami, malah sibuk mengurus dapur." Gerutu Alvin. Arumi diam tak menanggapi. Wajahnya yang kelelahan sudah cukup menjelaskan betapa penatnya dia hari ini. Bagaimana tidak penat? Setiap ada hajatan maka Arumi lah yang pontang panting mengurus keperluan dapur. Wanita biasa. Hanya tamatan SMA. Tidak bekerja. Berbeda dengan menantu lainnya dari keluarga ini yang bekerja. Ada yang menjadi pegawai negeri, guru bahkan pedagang. Hanya Arumi yang tidak memiliki status tersebut. Oleh sebab itulah, Arumi dibedakan oleh menantu lainnya. Dia dianggap budak oleh Nurlela. Setiap ada hajatan, maka Arumi yang sibuk di dapur. Mengerjakan pekerjaan rumah tanpa perduli jika Arumi juga sebenarnya ingin bergabung dengan keluarga lainnya. Seperti sekarang.. Mereka tengah menghadiri hajatan dari sepupu Alvin yang ada di desa Muara. Datang dari kota bersama Nurlela dan juga saudara serta iparnya. Sejak datang sampai sekarang telinga Arumi hampir berdenging karena namanya selalu dipanggil. Ada saja pekerjaan yang harus melibatkan Arumi. Sedangkan iparnya yang lain hanya duduk manis dan sibuk mengurus anak mereka. Arumi sendiri baru saja menikah dengan Alvin 6 bulan ini. Alvin sendiri anak keempat dari empat bersaudara. Oleh karena saudara yang lain sudah memiliki rumah, maka Alvin memboyong istrinya untuk tinggal bersama Nurlela. Dan setiap hari juga Arumi harus memperbanyak lembar stok kesabarannya. "Pakai ini, mas." Arumi memakaikan sebuah rompi kepada suaminya. Barulah jas berwarna kuning emas itu dipakaikan. "Kamu belum siap?" Dahi Alvin ingin menyatu ketika menyadari istrinya masih memakai daster rumahan. "Belum. Bentar lagi aku bersiap." Alvin berdecak. "Jangan terlalu lama. Tamu udah mulai datang." Arumi ikut melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Sesuai jadwal, akad nikah akan dilaksanakan setengah jam lagi. Setelah membantu suaminya, Arumi mengganti pakaiannya dengan kebaya. Kebaya yang ia beli sendiri karena tak mendapatkan seragam dari Nurlela. Selesai memakai kebaya yang dipadupadankan dengan kain batik terusan, Arumi memoles sedikit wajahnya. Lagi-lagi Arumi tak mendapatkan jatah rias dari Nurlela. Padahal menantunya lain memakai jasa MUA. Entahlah, Arumi juga tak mengerti. Mungkin karena Arumi bukam menantu yang diharapkan makanya dia diperlakukan semena-mena seperti ini. Brak!! Bahu Arumi sampai terlonjak karena pintu main dibuka begitu saja. "Astaga! Belum siap juga kamu!" Mata Nurlela melotot kepada wanita ini. "Be-belum, bu. Masih pake riasan." "Cepet sedikit! Tamu udah berdatangan!" Brak! Pintu ditutup dengan cara dibanting hingga membuat Arumi menggelengkan kepalanya. Ia lalu mempercepat riasan sederhananya dan memakai hijab. Arumi yang tak biasa tampil modis hanya bisa memanjangkan hijabnya sampai menutup dada. Setelah itu dia keluar dari kamar. "Arumi! Itu bekas cangkir kopi kenapa belum dibereskan?" Kini bukan Nurlela yang berucap sengit. Tapi Santi, adik dari Nurlela yang menatapnya tajam. "Cangkir dimana tante?" Tanya Arumi tak tahu. "Yang ada di meja depan. Bereskan cepat! Kamu ini bukannya beres-beres malah sibuk sendiri." Arumi lalu pergi ke teras depan. Benar saja. Beberapa cangkir bekas kopi serta asbak masih tergeletak disana. Astaga.. padahal rasanya Arumi sudah menyisir semua sudut rumah, tapi kenapa masih tertinggal. Ketika mengambil bekas cangkir tersebut, mata Arumi bertabrakan dengan iparnya. Wanita itu hanya menyunggingkan senyum. Seolah meremehkan Arumi dan menguatkan posisinya. Arumi hanya bisa menahan perasaannya. Dia lalu menyadari bahwa dirinya lah yang sejak tadi sibuk sendiri, yang lain sudah duduk manis menunggu kedatangan tamu undangan. Tanpa banyak bicara, Arumi membersihkan cangkir tersebut dan membawanya ke dapur. Selesai dari sana, Arumi pergi lagi ke depan. Baru saja ingin mendaratkan pinggulnya, Nurlela sudah melotot lagi. Lama-lama mata itu keluar juga dari sarangnya. "Ngapain kamu disini?" Hardik Nurlela kesal. "Ke dapur sana. Jagain lauk untuk tamu makan. Nanti dimakan kucing baru tahu rasa." Arumi bisa melihat ipar-iparnya yang mengulum senyum. Walau hanya perintah, Arumi bisa merasakan tamparannya. Rasanya malu sekali. Ya, Tuhan.. Arumi hanya bisa menekuk wajahnya. Dengan langkah berat, Arumi pergi ke bagian belakang. Duduk di kursi yang ada di dapur dan menjaga lauk makanan yang tertutup. Oleh karena adat istiadat, acara di desa memang tak pernah memakai jasa catering. Mereka selalu mengutamakan gotong royong ketika ada hajatan. "Mbak Arumi kok disini? Ke depan aja. Itu calon pengantin pria nya udah datang." Ujar salah satu ibu-ibu juru masak. Sudah ada 3 orang yang menjaga lauk disini. Tapi tetap saja Nurlela menyuruhnya kemari. "Nggak apa-apa, bu. Saya disini aja." Jawab Arumi menahan perasaannya. Terdengar suara tabuhan, rupanya keluarga mempelai pria sudah datang. Arumi hanya bisa mendengar dari belakang. Hingga akhirnya hening, ternyata akan dilaksanakan acara ijab qabul setelah ini. "Mana Arumi?" Bisik Alvin pada saudaranya, Ramli. "Nggak tahu. Dari tadi istrimu itu nggak kelihatan." Alvin berdecak kesal. Dia bangkit dari duduknya hingga membuat Nurlela menahan tangan pria tersebut. "Mau kemana?" "Nyari Arumi." "Biar aja. Dia lagi di belakang." "Aku mau nyuruh dia ambil ponselku." Nurlela baru melepaskan tangan anaknya. Setelah itu, Alvin pergi sendiri ke kamar tamu dan mengambil ponselnya. Oleh karena ruangan yang mulai sesak, Alvin tak sengaja menginjak kaki dari tamu wanita yang sedang duduk di tengah ruangan. "Eh, maaf.." Alvin terkesiap. Begitu juga wanita yang meringis kesakitan itu. "Mas Alvin?" "Ya ampun, Raisa.. apa kabar?" Alvin terkesima melihat wanita cantik yang memakai gaun kebaya berwarna merah muda itu. "Baik, mas. Kamu apa kabar?" "Baik juga. Aku ke depan dulu. Acara mau dimulai." Terdengar suara penghulu di depan membuat Alvin menghentikan dulu remeh temehnya dengan Raisa. Nanti saja kalau selesai hajatan ini, Alvin akan menghampirinya lagi. Luar biasa. Sudah 5 tahun tidak bertemu, mantan pacarnya itu bertambah cantik saja. Kenapa terbit rasa penyesalan pada diri Alvin karena melepas gadis secantik itu? Alvin sampai menepuk jidatnya sendiri. Ingat-ingat Arumi, Alvin! Suasana menjad khidmat seketika, penghulu mengangkat mic dan menyodorkannya pada wali pernikahan. "Sah!" Semua orang bersuka cita ketika pengantin pria melafaskan qabul dalam satu tarikan nafas. Do'a pengantin mengalun memberkahi seluruh ruangan. Sedang khusyuk berdo'a, Nurlela selalu bisa mencari cara untuk marah. "Arumi!! Bawa lauk makanan ke meja makan!" Bisik Nurlela keras pada menantunya yang sedang menunggu di bilik pintu dapur. Arumi mengangguk. Bersama para ibu-ibu yang lain dia membawa nampan berisi lauk pauk itu ke meja yang ada di samping. "Pelan-pelan, mbak. Nanti tumpah." Seloroh salah satu ibu-ibu ketika Arumi membawa baskom besar yang berisi sop. "Saya bisa kok." Arumi mengangkat baskom stenlis yang berat tersebut dengan berhati-hati. Namun sial tak mengenal waktu, kaki Arumi tersandung ketika melewati pintu yang menghubungkan dapur dengan teras samping. Baskom tersebut terlempar dan teratuh menimbulkan suara gaduh. Sontak saja, kejadian ini menjadi perhatian semua orang. Termasuk Alvin dan Nurlela yang langsung naik pitam."Ini.. namanya test pack, kan?" Tanya Paris setelah kesadarannya kembali. Arumi mengangguk. "Garis dua itu.. artinya hamil?" Kali ini, Arumi mengedikkan bahu. Dia pura-pura tak tahu saja untuk melihat ekspresi suaminya. Dahi Paris mengkerut. Ia memang orang awam tapi pernah mendengar makna garis dua yang tertulis di atas benda pipih ini. Dan untuk memastikannya, Paris harus melakukan sesuatu. "Ganti bajumu!" Paris beranjak dari duduknya. Ia menarik tangan Arumi dan mengajaknya berjalan ke lemari. "Mau kemana, mas?" Tanya Arumi keheranan. "Periksa ke tante Winda. Aku ingin memastikannya." Yang membuat sebal adalah tanggapan Paris saat ini. Suaminya Arumi ini tak berjingkrak senang atau memeluk istrinya. Membuat Arumi jadi curiga kalau sebenarnya Paris terbebani dengan kehamilan ini.
Tidak ada yang kekal. Semua akan kembali ke Sang Pencipta di saat yang telah ditentukan. Inilah akhir kisah Nurlela. Tak lama kepergian dari Arumi, wanita itu menghembuskan nafasnya yang terakhir. Wanita yang dulu sombong namun segera memikul penyakit untuk menebus dosa-dosanya di masa lalu. Di akhir hayatnya, diri ini terkunci karena kesalahan yang belum sempat diutarakannya. Hingga keikhlasan keluar dari mulut wanita yang disakitinya, Nurlela akhirnya bisa melepas beban yang menjeratnya selama ini. Berita duka ini sampai kepada pengantin baru. Padahal keduanya baru sampai ke rumah, Arumi baru saja bermain dengan Hannan. Tapi kabar kesedihan ini didapatkannya dari Alvin. Oleh karena sudah melihat tadi di rumah sakit, Paris dan Arumi akan pergi ke rumah duka saja. Kebetulan almarhumah juga akan dimakamkan besok pagi. Tak hanya pasangan suami istri ini, Lesti
Malam pertama dan kedua selesai. Waktunya Paris kembali ke rumah bersama istrinya. Kali ini dia tinggal di rumah warisan neneknya, ibu dari Lesti. "Kalian nggak mau bulan madu?" Tanya Lesti saat mengantar Paris pindahan. "Mau sih. Tapi aku cuma cuti seminggu." "Pergi saja bulan madu kemana kek. Kasihan istrimu masak dikurung terus dirumah." Arumi jadi tersenyum. "Nggak apa-apa kok, ma. Kasihan mas Paris capek juga." "Apa karena Hannan?" Lesti menebak. "Nggak usah risau. Ada papa dan mama yang menjaganya." Paris menatap ibunya lekat, terutama ayahnya. "Beneran nggak apa-apa kami titipkan Hannan?" "Nggak masalah. Ya kan, pa?" Wirawan mengangguk. "Bersenang-senanglah. Jangan kerja terus yang kamu pikirkan!" Senyuman Paris mengembang. Sekarang tinggal membujuk Arumi untuk berbulan madu saja. Ya, dia
Tujuh hari kemudian.. Sebuah acara pernikahan akan dilaksanakan di sebuah hotel berbintang lima dengan pengawalan yang ketat. Maklum saja. Yang akan menikah adalah anak dari seorang jenderal, Wirawan. Apalagi Paris merupakan seorang manajer perusahaan asing yang terkenal karena prestasinya. Masih muda namun bisa duduk di jabatan eksekutif. Ayat dari kitab suci mulai disenandungkan, sebagai tanda bahwa mulainya acara ijab qabul sebentar lagi akan dilaksanakan. Hingga akhirnya qabul terdengar dan dinyatakan SAH! Arumi keluar dari tempat persembunyiannya. Menemui sang pangeran yang kini sudah resmi menjadi suaminya. Paris tersenyum penuh haru ketika istrinya muncul ditemani dayang-dayangnya. Arumi menerima uluran tangan Paris dan menciuminya dengan takzim. Begitu juga dengan Paris yang langsung memberikan do'a di pucuk kepala istrinya. Paris dan Arumi saling melempar senyuman. Merek
"Ke rumahmu?" Seketika jantung Arumi ingin copot. "Kenapa, mas? Ibu sakit?" "Nggak. Cuma mau ngenalin kamu aja sama papaku." "Bukannya kami sudah saling mengenal?" "Itu berbeda." Paris berharap Arumi jangan banyak pertanyaan. Ia belum bi
"Aku melanggar janjiku untuk membayar biaya rumah sakit anak kita. Maafkan, aku.. kondisiku saat ini sedang sulit. Pengobatan ibu dan juga kemoterapi Raisa tidaklah murah. Ini saja aku harus menjual mobilku." Alvin lalu mengambil nafas panjang. "Ketiga kakakku tidak mau tahu menahu soal penyakit
Keesokan harinya, jagoan Arumi sudah diperbolehkan pulang. Bayi kecil ini sudah ditutup dengan topi lucu dan selimut berwarna biru. Melihat itu, Lesti menjadi gemas. "Apa boleh ibu menggendongnya?" Tanya Lesti ragu. "Boleh, bu." Arumi menyerahkan bayinya ke dalam pel
"Aduh! Tolong!" Teriak Raisa begitu kuat.Dua orang pria masuk begitu saja ketika mendengar teriakan wanita dari kamar rawat VIP ini."Raisa!" Alvin terkejut ketika melihat istrinya tergeletak di lantai dengan memegang perut.Sementara pria satunya berjalan santai ke ar


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan