LOGINPelajaran dilanjutkan dan Salma jelas belum percaya. Ketika guru kembali fokus mengajar, dia menatap Kenzo dengan hati-hati.
“Ken, apa ada sesuatu yang kamu pikirkan?” tanya Salma, menatapnya dengan penuh perhatian.
Kenzo sempat ingin menceritakan sosok di balik jendela, dan pria asing yang datang ke rumah pagi tadi. Namun, rasa takut bahwa semua itu akan membuat Salma menjauh membuatnya memilih diam.
“Aku baik-baik saja,” jawab Kenzo lirih, mengalihkan pandangan agar tidak perlu berhadapan dengan mata Salma.
Ketika waktu pulang tiba, gedung sekolah mulai sepi. Kenzo melewati koridor menuju tangga ketika lampu di atas kepalanya berkedip beberapa kali. Cahaya sore yang masuk melalui jendela tidak cukup menerangi ujung lorong.
Dari belakang terdengar suara geraman rendah.
“Grrrhhhh...”
Kenzo berhenti mengamati sekitar dan menarik napas panjang sebelum perlahan berbalik.
“Keluar,” bisik Kenzo, mencoba mengumpulkan keberanian meskipun kedua tangannya mulai menegang.
Saat menoleh kembali ke depan, sosok yang selama ini hanya muncul dalam mimpinya telah berdiri di ujung lorong. Tingginya lebih dari dua meter dengan tubuh kurus memanjang, kedua lengan menjuntai hampir mencapai lutut, sementara sepasang mata merah menyala dari wajah gelap yang dihiasi mulut robek hingga mendekati telinga.
“Kenzo,” panggil makhluk itu dengan suara berat.
“Siapa kamu?” tanya Kenzo, berusaha tetap berdiri meskipun tubuhnya mulai kehilangan tenaga.
“Aku adalah sesuatu yang kau lupa....” Langkahnya terdengar perlahan di lantai koridor. “…kau tidak seharusnya hidup di dunia ini,” bisiknya, membuat Kenzo kembali teringat pada kalimat yang pernah didengarnya dalam mimpi.
Makhluk itu semakin dekat. Namun, sebelum mencapai Kenzo, seseorang tiba-tiba berdiri di antara mereka. Pria berjas hitam yang datang ke rumahnya pagi tadi.
“Aku sudah bilang, kalau kau masih hidup, kita akan bertemu lagi,” ujar pria tersebut dengan nada santai, seolah kemunculan makhluk itu bukan sesuatu yang perlu ditakuti.
“Pengganggu,” geram makhluk itu, memusatkan perhatian kepadanya.
“Kau terlalu cepat menunjukkan diri. Atasanmu pasti marah,” Pria itu tersenyum tipis dengan tenang saat menghadapi sosok di depannya.
Makhluk tersebut menunjukkan giginya yang tajam. “Dia sudah bangkit. Itu sudah cukup,” jawabnya sebelum tubuhnya perlahan berubah menjadi bayangan hitam yang menipis seperti asap dan menghilang di udara.
Kenzo jatuh terduduk. Napasnya tidak beraturan, sementara pikirannya dipenuhi terlalu banyak pertanyaan untuk dipahami sekaligus.
Pria itu kemudian menatapnya. “Kau sudah melihatnya kan? Tidak ada jalan buat kembali,” ujarnya sambil mengulurkan tangan.
“Maksud kamu apa? Tadi itu apa? Siapa kalian sebenarnya?” tanya Kenzo, berusaha berdiri sendiri dengan bertumpu pada lantai.
“Namaku Ardan. Tugasku sederhana…,” ujar pria tersebut, menarik kembali tangannya setelah Kenzo berhasil berdiri sendiri. Ardan berhenti sejenak sebelum melanjutkan, “…menjaga agar monster seperti itu tidak membunuhmu sebelum waktunya.”
“Kenapa mereka mengejarku?” tanya Kenzo, menuntut jawaban yang sejak pagi terus mengganggu pikirannya.
Ardan mendekat dan menatapnya dengan serius. “Karena di dalam dirimu tidur sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada mereka,” jawab Ardan.
“Apa maksudmu?” tanya Kenzo, menatap Ardan dengan ketakutan yang mulai sulit disembunyikan.
“Kau bukan manusia biasa, Kenzo…,” ujar Ardan, menatapnya tanpa berkedip.
Senyumnya menghilang, meninggalkan ekspresi serius yang membuat suasana koridor terasa semakin berat.
“Kau adalah kunci perang yang akan datang,” kata Ardan, dan untuk pertama kalinya Kenzo sadar bahwa makhluk yang mengejarnya mungkin bukanlah ancaman terbesar yang sedang menunggunya.
“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti” Tanya Kenzo yang masih kebingungan.
“Kita tidak bisa bicara di sini. Ayo ikut saya” ujar Ardan.
“Kenapa aku harus ikut denganmu?” tanya Kenzo, suaranya masih dipenuhi kecurigaan karena belum mempunyai alasan untuk mempercayai pria di hadapannya. “…apa jangan-jangan kau juga salah satu dari mereka?”
“Kalau aku bagian dari mereka, kau tidak akan bisa masih berdiri di sini…,” jawab Ardan sambil mengeluarkan sebuah kartu tipis dari saku jaketnya. “…sekarang ikut aku kalau kau ingin tahu kenapa makhluk itu mencarimu.”
Kenzo masih ragu, tapi rasa ingin tahu akhirnya membuatnya mengikuti Ardan. Mereka berdua masuk ke ruangan yang kosong di sekolahan.
“Makhluk yang menyerangmu tadi bernama Gloomshade,” kata Ardan.
“Gloomshade?” tanya Kenzo, masih berusaha memahami perkataan Ardan karena nama itu sama sekali tidak pernah dia dengar sebelumnya.
Ardan mengangguk pelan. Tatapannya beralih kepada Kenzo sebelum akhirnya kembali
“Mereka berasal dari dunia lain,” jelasnya, sementara tangannya membuka sebuah berkas lama yang tersimpan di dalam jasnya.
Kenzo mengernyitkan dahi. Penjelasan itu terdengar terlalu tidak masuk akal untuk diterima begitu saja.
“Dunia lain?” ulang Kenzo, mencoba memastikan bahwa dirinya tidak salah mendengar.
“Tempat yang berbeda dari dunia manusia seperti kita. Selama bertahun-tahun, batas antara kedua dunia masih cukup kuat untuk mencegah mereka masuk, sampai sesuatu terjadi.” Jawab Ardan.
Kenzo menatap Ardan dengan perasaan tidak nyaman yang semakin besar, pikirannya berkecambuk di dalam kepalanya.
“Apa hubungannya semua itu denganku?” tanyanya, kali ini suaranya terdengar lebih serius.
Ardan mengambil sebuah foto lama dari dalam berkas, kemudian menyerahkannya kepada Kenzo dengan gerakan yang jauh lebih hati-hati dibanding sebelumnya.
“Hubungannya dimulai sejak kau lahir,” jawab Ardan, memperhatikan perubahan wajah Kenzo ketika foto tersebut berada di tangannya.
Kenzo melihat foto itu dan langsung mengenali sosok yang berdiri di antara beberapa orang di dalam sebuah laboratorium. Ayahnya berada di sana, mengenakan pakaian penelitian dan berdiri di belakang sebuah tabung kaca besar yang di dalamnya terdapat seorang bayi.
Tatapan Kenzo berhenti pada tulisan yang tercetak di bagian bawah foto.
Subjek 07 — Kenzo.
“Apa ini?” tanya Kenzo, suaranya berubah ketika menyadari bahwa bayi dalam foto tersebut adalah dirinya sendiri.
Ardan berdiri beberapa langkah di depannya sambil membiarkan Kenzo mencerna apa yang baru saja dilihatnya.
“Ayahmu bekerja bersama organisasi yang selama ini mengawasi retakan,” jelas Ardan. “Dia adalah seorang peneliti dan ketika kau lahir, alat pendeteksi energi di fasilitas mereka menangkap gelombang yang tidak pernah mereka temukan sebelumnya.”
Kenzo berusaha bertahan. Napasnya mulai tersengal dan kedua lengannya terasa seperti akan terlepas dari bahunya. Dia bisa merasakan sesuatu di dalam tubuhnya ikut berteriak, seolah energi yang selama ini dia tahan sedang berusaha keluar melalui perisai tersebut.“Aku... belum selesai,” gumam Kenzo sambil memaksa tubuhnya tetap berdiri. Dia menekan kedua tangannya lebih kuat ke depan.Terdengar suara retakan dari perisainya di tengah gemuruh energi yang menghantam dan dalam hitungan detik, retakan itu menyebar hingga ke seluruh permukaan.Kemudian perisai tersebut pecah.BRAKK!!Ledakan energi langsung menghantam tubuh Kenzo tanpa perlindungan. Tubuhnya terlempar keras dan menghantam sebuah kendaraan yang terparkir di pinggir jalan. Benturan itu membuat kendaraan itu terbelah menjadi dua dan akhirnya tubuh Kenzo mendarat di dinding bangunan dibelakangnya.“Kenzo!” Raga berteriak panik.Makhluk itu menatap Kenzo. Kemudian terdengar tawa rendah dari dalam bayangan yang menyelimuti wajahn
Kenzo masih berdiri berdiri tapi kedua kakinya bergeser sedikit ke belakang akibat tekanan serangan barusan.“Menarik, jadi sekarang kau sudah mulai membuka dirimu.” Sosok bermata merah itu berdiri tepat di depannya tanpa mengalami luka sedikit pun.“Aku tidak membuka apa pun. Kekuatan ini muncul karena aku terpaksa melindungi diriku sendiri.” Kenzo menjawab sambil berusaha mengatur energi hitam di tangannya yang justru bergerak semakin liar, seolah menolak untuk dikendalikan.Suara di dalam kepalanya kembali terdengar.“Kau masih menyangkalnya. Lihat keadaanmu sekarang. Bahkan kau sendiri sudah tidak bisa membedakan mana kekuatanmu dan mana kekuatanku.” Bisikan itu terasa semakin dekat di dalam pikirannya.Kenzo memejamkan mata sesaat karena kepalanya mulai terasa sakit akibat suara tersebut.“Berhenti mengatakan seolah-olah kau adalah bagian dari diriku. Aku tidak akan membiarkanmu mengambil alih tubuhku.” Kenzo mengatakannya sambil membuka mata kembali. Kemarahan membuat energi hit
Kenzo, Ardan, dan Raga tiba di lokasi kekacauan ketika matahari pagi baru mulai naik di balik gedung-gedung kota.Namun suasana pagi itu sama sekali tidak terasa seperti biasanya. Jalan yang seharusnya mulai dipenuhi kendaraan justru berubah menjadi tempat kepanikan. Orang-orang berlari menjauh dari bangunan yang sebagian telah runtuh, beberapa kendaraan berhenti di tengah jalan, sementara suara sirene terdengar bersahutan dari kejauhan.Kenzo turun dari kendaraan dan langsung memperhatikan retakan yang berada tidak jauh dari bangunan yang rusak, baru beberapa detik mengamatinya dadanya berdenyut tiba-tiba.“Ada sesuatu di dalam sana. Rasanya seperti sedang menungguku datang.” Kenzo mengatakan itu sambil menekan dadanya dengan satu tangan.Ardan yang berdiri di sampingnya langsung memperhatikan perubahan tersebut.“Kau merasakan sesuatu yang berbeda dari retakan sebelumnya?” Ardan bertanya dengan suara rendah sambil mengamati wajah Kenzo. Dia tidak ingin membuat kesimpulan terlalu cep
Pagi datang dengan cahaya matahari yang masuk melalui celah tirai kamar.Kenzo membuka mata perlahan. Tubuhnya masih terasa berat ketika dia bangkit dari tempat tidur dan mencoba duduk di tepi. Pandangannya tertuju pada tangan kanannya.Cahaya hitam yang semalam muncul sudah menghilang, menyisakan kulit yang terlihat normal. Kenzo menggerakkan jari-jarinya beberapa kali, memastikan tidak ada sesuatu yang aneh.“Setidaknya pagi ini engga muncul lagi,” gumamnya sambil menghela napas lega.Seperti hari-hari sebelumnya, tidak ada siapa pun di ruang tengah maupun dapur. Orang tua angkatnya belum kembali sejak terakhir kali pergi dan Kenzo suda terbiasa dengan keadaan tersebut. Dia mengambil air minum lalu duduk sebentar di meja makan.”Sesuatu yang besar sebentar lagi akan terjadi” Ucap entitas yang ada di dalam diri Kenzo.“Aku engga punya waktu buat omong kosongmu.” Kenzo mengerutkan kening, lalu meletakkan gelasnya.Kenzo bangkit dari kursinya dan berjalan menuju kamar untuk mengambil j
Salma sempat menatapnya beberapa detik. Namun melihat Kenzo yang tampak begitu lelah, dia akhirnya menunjuk kursi kayu yang berada di teras rumah.“Kalau begitu duduk dulu. Jangan berdiri terus begitu. Wajahmu sudah pucat banget, Kenzo,” kata Salma sambil menarik salah satu kursi agar lebih dekat dengan meja kecil di teras.Kenzo duduk perlahan sambil menyandarkan punggungnya di kursi. Setelah tubuhnya bersandar, dia menyadari betapa berat rasa lelah yang ditahannya sejak tadi. Kedua tangannya bertumpu di lutut, sementara pandangannya kosong mengarah ke jalan di depan rumah Salma yang mulai sepi.Salma kemudian duduk di kursi sebelahnya. Dia tidak langsung bertanya lagi. Beberapa detik dibiarkannya berlalu agar Kenzo bisa menenangkan pikirannya.“Sekarang cerita sama aku. Sebenarnya kamu habis dari mana? Kenapa sampai pulang malam begini?” tanyanya sambil menatap Kenzo. “Aku nggak akan memaksa kalau kamu belum siap cerita semuanya, tapi setidaknya kasih tahu aku apa yang terjadi.”Per
“Kenzo, kamu kenapa?” tanya Raga sambil memperhatikan Kenzo yang masih terpaku pada benda itu.Kenzo menelan ludah sebelum akhirnya menjawab. “Suara itu... tadi memanggilku. Sama seperti yang aku dengar waktu di lokasi retakan.”“Semua tetap di tempat. Jangan ada yang menyentuh benda itu sebelum kita tahu apakah masih ada energi yang tersisa di dalamnya,” ujar Ardan sambil mengamati permukaannya dari kejauhan.Deno kembali memeriksa konsol yang sebagian layarnya masih menyala. Beberapa kabel terlepas dari tempatnya, sementara salah satu monitor mengeluarkan suara peringatan secara berkala.“Energinya turun cukup banyak setelah ledakan. Aku juga masih melihat pola yang sama seperti sebelum benda itu aktif,” kata Deno sambil memperbesar data yang tersisa di layar. Dia mengerutkan kening ketika melihat beberapa angka yang terus berubah, seperti benda tersebut belum benar-benar tenang.“Kalau benda itu masih menyimpan energi sebesar ini setelah ledakan, menurutku kita jangan menyimpannya







