Share

Bab 79

Author: Darrel Gilvano
"Gengsi itu 'kan nggak bisa dimakan." Laura tersenyum tipis. "Manusia itu seharusnya seperti bunga, bisa tumbuh ke bawah, juga bisa mekar ke atas. Lagi pula, kalian juga datang, 'kan?"

"Itu jelas beda!" Livia berkata dengan wajah penuh kebanggaan sambil mengambil satu lembar undangan dari tangan Zisel. "Kami datang membawa undangan!"

Sambil berbicara, Livia bahkan mengayun-ayunkan undangan itu di depan Laura.

Begitu melihat undangan di tangan Livia, senyuman di wajah Laura langsung membeku.

Rafa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 442

    Setelah berbasa-basi sebentar dengan Edgar dan yang lain, Jimmy dan Zisel pun meninggalkan hotel.Edgar dan yang lain juga telah melewati satu hari penuh kegelisahan. Melihat Yasmin kembali dengan selamat, mereka akhirnya bisa bernapas lega."Kak, aku ingat tadi kamu nggak pakai baju ini, 'kan?" Di perjalanan pulang, Edward tiba-tiba bertanya pada kakaknya."Pertanyaan bodoh!" Yasmin melotot kesal. "Bajuku basah dan kotor, memangnya nggak boleh ganti?""Aku ...." Edward terdiam, dalam hati merasa kesal. Dia cuma tanya santai, kenapa malah dimarahi? Jangan-jangan lagi datang bulan?Edward berpikir macam-macam dalam hati. Tentu saja, dia tidak berani mengatakannya.Edgar tersenyum melihat mereka berdua, lalu bertanya kepada cucunya, "Kamu seharian ini sama Jimmy?""Iya." Yasmin mengangguk pelan."Kalian sempat bicara baik-baik?" Edgar kembali bertanya."Kakek!" Yasmin memijat pelipisnya dengan pusing. "Aku baru saja pulang, jangan-jangan Kakek mau bahas soal perjodohan lagi?"Kakek tua i

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 441

    "Aku ...." Urat di dahi Yasmin berdenyut.Sempat terlintas di pikirannya untuk meminta Rubah Perak bertukar pakaian dengannya, tapi setelah dipikir-pikir, dia mengurungkannya. Bagaimanapun juga sudah seperti ini, mau ganti juga tidak ada gunanya.Dengan pikiran itu, Yasmin langsung menyuruh Rubah Perak agar helikopter menurunkan tangga tali. Dia hanya ingin segera meninggalkan tempat ini. Tempat sialan ini sudah membuatnya dipermalukan!Tak lama kemudian, mereka bertiga naik ke helikopter.Namun, mereka tidak langsung pergi menemui Edgar dan Zisel, melainkan mencari tempat untuk membeli pakaian terlebih dahulu.Yasmin bukan orang bodoh. Kalau dia pulang memakai pakaian Jimmy dan terlihat oleh kakeknya serta Edward, mereka pasti akan berpikir macam-macam seperti Rubah Perak.Setelah berganti pakaian, Yasmin menyuruh Rubah Perak pergi lebih dulu. Dia dan Jimmy akan naik taksi ke hotel untuk menemui kakeknya.Sebelum berpisah, Yasmin berulang kali mengingatkan Rubah Perak bahwa soal dia m

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 440

    Menghadapi tatapan penuh gosip dari Rubah Perak, Yasmin langsung merasa malu dan kesal.Orang bodoh pun tahu, Rubah Perak pasti sudah salah paham! Dengan kondisi mereka sekarang, memang sulit untuk tidak salah paham.Namun sebelum dia sempat menjelaskan, Jimmy sudah dengan santai berkata kepada Rubah Perak, "Jangan salah paham, aku dan Jenderal Yasmin cuma sedang bosan, jadi melakukan komunikasi yang mendalam."Yasmin hampir mati karena malu. Mendengar kata-kata Jimmy, dia langsung ikut menimpali tanpa berpikir, "Benar, kami memang melakukan komunikasi yang men ...."Ucapannya terhenti di tengah jalan.Komunikasi ... mendalam?"Jimmy!!!" Yasmin berteriak histeris, matanya menyala marah menatap bajingan itu. "Jangan kira karena kamu sudah membantuku, kamu bisa bicara sembarangan! Kalau kamu berani ngomong ngawur lagi, aku akan mengebirimu di tempat!""Sifatmu ini memang buruk." Jimmy menggeleng, lalu berkata dengan serius, "Coba pikirkan, kamu kasih tahu aku alasan kenapa kamu nggak suk

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 439

    "Terserah mau makan atau nggak!" Yasmin kesal, lalu menarik kembali mi itu dan langsung menghabiskannya dalam beberapa gigitan. Baru saja selesai makan, Yasmin langsung menyadari ada yang tidak beres. Dia lalu menggeleng dan tersenyum tipis.Bajingan itu mana mungkin benar-benar jijik karena mi itu sudah digigit olehnya. Jimmy hanya melihat dirinya lapar, jadi tidak ingin berebut makanan dengannya.Kenapa tidak bicara baik-baik saja? Harus sekali membuatnya salah paham seperti ini.Namun, sikap Jimmy justru membuat Yasmin merasa lega. Dia bisa melihat, Jimmy sama sekali tidak peduli dengan penilaiannya. Setidaknya itu membuktikan bahwa Jimmy memang tidak punya niat apa pun terhadapnya.Yasmin sendiri tidak ingin menjalankan perjodohan itu, dan Jimmy juga sama. Dari sudut pandang itu, mereka bisa dibilang sekutu. Dengan pikiran itu, Yasmin kembali bertanya dengan penasaran, "Dulu kamu kerja apa?""Bukannya kamu sudah tahu?" Jimmy menjawab tanpa menoleh."Maksudku sebelum kamu hilang ing

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 438

    Hal yang paling dibenci Yasmin adalah sikap tidak tahu malu Jimmy. Namun, Jimmy malah bersikeras ingin menjadi orang yang tidak tahu malu.Yasmin sudah susah payah menenangkan diri untuk bicara baik-baik dengannya, tapi sampai di titik ini, percakapan itu tidak bisa dilanjutkan lagi. Setelah menghela napas dan menggeleng beberapa kali, Yasmin akhirnya tidak berkata apa-apa lagi.Malam ini dia memang kembali menemukan sisi baik dari Jimmy. Namun, dia tetap memandang rendah orang yang tidak punya ambisi dan hanya ingin menjadi sosok tidak tahu malu seperti itu.Jimmy punya kemampuan?Tentu saja ada.Bagaimanapun juga, kemampuan medisnya jelas terlihat.Meski Yasmin meremehkan orangnya, dia tetap tidak bisa menemukan kekurangan dalam kemampuan medis Jimmy. Namun, kemampuan adalah kemampuan, karakter adalah karakter. Kalau hanya punya kemampuan tanpa karakter, apa gunanya?Setelah menghela napas dalam hati, Yasmin perlahan tertidur.Awalnya dia hanya berpura-pura tidur, ingin melihat apaka

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 437

    Tiba-tiba, Yasmin menemukan sisi baik pada Jimmy. Setelah terdiam lama, akhirnya Yasmin membuka suara lebih dulu, "Jimmy, kita ... berdamai saja.""Berdamai?" Jimmy menoleh dan meliriknya. "Ini namanya kamu baru sadar, ya?""Bisa dibilang begitu." Yasmin jarang menunjukkan rasa bersalah, wajahnya sedikit meminta maaf. "Aku tahu temperamenku buruk. Contohnya malam ini, kalau orang lain, mungkin sudah nggak peduli sama nyawaku.""Kamu sedang beruntung." Jimmy tersenyum sambil menggeleng. "Kalau lima tahun lalu, dengan sikapmu seperti itu, entah sudah berapa kali kamu mati.""Nggak bisa kalau nggak membual, ya?" Yasmin mendecak, lalu melanjutkan, "Sebenarnya kamu membual juga nggak masalah. Asal nggak terlalu nggak tahu malu, kamu ini masih bisa diajak bergaul.""Kamu dari tadi bilang aku nggak tahu malu, memang aku nggak tahu malu di mana?" Jimmy menatapnya dengan tertarik. "Apa aku pernah melecehkanmu atau mengintip kamu mandi?"Ini benar-benar aneh. Dia sendiri tidak merasa pernah mela

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 21

    Siapa takut! Tanpa keberanian, tidak akan mendapatkan hasil!Dengan tekad seperti itu, Jimmy menyerang lebih dulu.Dia langsung menerjang salah satu preman yang memegang pipa besi. Ketika jaraknya sudah dekat, Jimmy meninju leher lawan, merebut pipa besinya, lalu menghantam anak buah lain."Ah!" peki

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 30

    Kejadian mendadak ini sontak membuat semua orang terkejut hingga tidak berani bernapas. Mereka semua terpaku menatap Broto.Kejam sekali! Bukan hanya kejam pada orang lain, tetapi juga pada dirinya! Padahal itu jarinya sendiri, malah langsung dipotong tanpa ragu sedikit pun.Rasa sakit yang luar bia

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 23

    Jimmy menarik napas, lalu memandang Ervina dan menenangkan, "Keluarga Bahrani juga nggak sehebat itu. Tenang saja, aku akan bereskan masalah ini.""Situasinya sudah begini! Kamu masih saja pura-pura?" sergah Laura dengan panik."Siapa yang pura-pura? Aku juga punya senjata pemungkas," timpal Jimmy m

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 27

    Melihat Broto berlutut seperti kehilangan akal, semua orang kembali terperangah.Berlutut? Tidak disangka, Broto berlutut. Dia langsung berlutut hanya karena melihat Jimmy? Bahkan, orang lain pun belum sempat berbicara."Apa mungkin kaki Pak Broto keram?""Dasar bodoh. Kalau kakinya keram, mulutnya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status