Share

10. Ritual Ngarat Mayit

Author: RiverMoon
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-17 12:20:39

Angin dingin yang menyapu lereng utara Gunung Merbabu menerpa mobil BPG dan menyusup ke cela-cela kecil hingga membuat orang-orang yang ada di dalam mobil mulai mengeratkan jaketnya. Mabil mulai melaju pelan.

Kendaraan berhenti tepat di batas jalan berbatu, tempat vegetasi hutan pinus yang mulai tersapu oleh kabut tebal. Udara malam di ketinggian ini menusuk hingga ke tulang, membawa aroma belerang tipis berbaur dengan wangi dupa busuk yang samar.

"Hanya sampai di sini mobil bisa bergerak," uc
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Kebangkitan Penguasa 1000 Kutukan   51. Kebangkitan Raksasa Neraka

    Walaupun Woro tidak terlalu berharap, tapi dalam hati kecilnya, ia masih menginginkan Sakakala kembali lagi ke desanya. Entah sebenarnya apa yang sedang dipikirkan Woro? Woro melangkah mondar-mandir di dalam kamarnya beberapa kali, lalu berhenti tepat di depan jendela yang masih terbuka lebar. Tatapan Woro menatap jauh ke puncak gunung. 'Dia sedang apa? Apa dia baik-baik saja? Tuhan, lindungi Sakakala dari mata bahaya apapun dan tuntun hatinya agar kembali ke desa ini lagi,' ujar Woro di dalam hatinya, mengangkat kedua tangannya dan meletakkan di dada. ••• Cengkeraman tangan Sakakala pada leher sang dalang sedikit melonggar. Bukan karena keraguan, melainkan karena tanah yang ia pijak di area Candi Setyaki tiba-tiba bergetar hebat. Brakkk... duarrr! Tanah di sekitar pijakan Sakakala retak, menyemburkan asap hitam tebal yang membumbung tinggi dan langsung menambah gelap langit malam. Retakan-retakan besar merayap cepat membelah pelataran candi, memancarkan cahaya merah dari dalam

  • Kebangkitan Penguasa 1000 Kutukan   50. Gerbang Gaib Neraka

    "Saka...." Panggilan itu membuat Sakakala menghentikan langkahnya. Ia menoleh dan menatap Woro dengan tatapan dingin. "Bisakah kau kembali dengan selamat tanpa luka sedikit pun ke desa ini?" lanjut Woro penuh harap. Sakakala tidak menjawab, ia hanya menarik ujung bibirnya tipis lalu membalikkan badannya dan melangkah. Ki Demang mencegah Woro yang hendak mengejar Sakakala. "Nduk, biarkan dia pergi. Kau jangan menambah beban padanya." Woro menarik napas panjang saat menatap punggung Sakakala yang semakin mengecil dan hilang. Lalu ia menatap Ayahnya dengan mata yang sudah berair. "Ayah... tapi dia—" "Berhentilah mengharapkan hal yang tidak pasti, Nduk," potong Ki Demang pelan. Woro tertegun saat sang ayah mengatakan hal itu. Dalam hati Woro berkata, Apakah sang ayah mengetahuinya? "Bukan begitu maksudku, Yah. Dia kan sedang dalam keadaan terluka," sambung Woro. Ki Demang menarik napas. "Terluka atau tidak. Sakakala adalah manusia pilihan yang bisa menjaga dirinya sendiri. Kau

  • Kebangkitan Penguasa 1000 Kutukan   49. Undangan Untuk Sakakala

    Permukaan air di kolam mata air utama desa mendadak bergolak hebat, mengeluarkan buih-buih hitam beracun yang menguap menjadi asap tipis berbau belerang. Di tengah kolam tersebut, Sakakala duduk bersila di atas batu besar dengan postur tubuh yang tidak bergerak sedikit pun.Jalur meridian di seluruh lengan kanannya membara bagai besi yang memijar. Racun kutukan buatan sekte yang mencemari air desa berbalik menyerang, merusak urat saraf dan membakar kulitnya dari dalam hingga peluh bercampur darah segar menetes membasahi air kolam. Sakakala menggertakkan giginya dengan kuat, menahan rasa sakit yang terasa luar biasa yang hampir meremukkan kesadarannya. Ia tidak boleh berhenti sekarang. Jika ia membuka mata sebelum seluruh racun di dalam mata air itu tersaring bersih, nyawa Ki Demang dan ratusan warga desa akan melayang dalam hitungan menit.Namun, di saat pertahanan Sakakala berada di titik paling kritis, suasana damai di sekitar mata air mendadak dipecah oleh suara gemerisik ranting

  • Kebangkitan Penguasa 1000 Kutukan   48. Racun Tirta Janturan

    Matahari pagi akhirnya menerobos lapisan kabut tebal yang menyelimuti lereng Pegunungan Dieng, menghangatkan pelataran desa dan membawa secercah ketenangan setelah malam mencekam yang baru saja berlalu. Warga desa yang tadinya meringkuk ketakutan di dalam rumah kini mulai memberanikan diri untuk keluar. Warga saling berbisik-bisik. Meluapkan rasa kelegaan yang terdengar di setiap sudut desa. Mereka memuji kehebatan seorang Sakakala yang seorang diri telah melenyapkan teror Keranda Terbang hingga tidak tersisa.Di beranda rumah, Ki Demang dan Woro menghidangkan secangkir teh panas untuk Sakakala. Woro menatap sang pemuda dengan binar mata yang penuh kekaguman dan rasa terima kasih yang teramat dalam. Sementara ayahnya menghela napas panjang penuh rasa syukur."Kau telah menyelamatkan desa kami untuk kedua kalinya, Nak Saka," ucap Ki Demang dengan rasa tulus. "Jika bukan karena keberanianmu, entah apa jadinya desa kami ini dan nasib para warga desa."Sakakala hanya menerima cangkir te

  • Kebangkitan Penguasa 1000 Kutukan   47. Keranda Berdarah

    Bau anyir darah yang sangat menyesakkan dan mampu membuat orang ingin mengeluarkan isi perut mereka. Keranda Mayat itu mengapung tanpa penopang, dikelilingi oleh pusaran angin hitam yang memutar debu dan dedaunan kering. Tetesan cairan merah kental dari keranda terus menetes di atas tanah liat hingga mengeluarkan suara mendesis pelan, seolah cairan itu bersifat asam yang mampu melubangi apa saja yang disentuhnya. Di dalam rumah, Woro dan Ki Demang duduk merapat di sudut ruangan. Woro mendekap kedua lututnya, sambil menahan isak tangis. Sementara Ki Demang menggenggam sebilah keris pusaka leluhur dengan tangan yang bergetar. Di luar, suara kambing dan sapi di kandang belakang desa mengamuk liar, melenguh keras sebelum akhirnya mati mendadak dan hal itu sangat aneh. "Ayah, apa kita akan selamat?" bisik Woro lirih, matanya menatap ke arah bayangan hitam yang mulai merayap masuk lewat celah-celah dinding kayu. "Tenanglah, Nduk. Sakakala ada di luar," jawab Ki Demang meski suaranya

  • Kebangkitan Penguasa 1000 Kutukan   46. Teror Pagebluk Janturan

    Sakakala keluar dengan tenang melewati warga desa yang menunduk dan mundur beberapa langkah ke belakang saat kaki Sakakala melangkah melewati mereka. Saka menghentikan langkahnya, lalu menyapukan pandangannya pada mereka. Saka mengangkap ada keganjilan. Sakakala menarik napas, lalu kembali melangkah. "Nak Saka... tunggu sebentar!" Sebuah panggilan menghentikan kembali langkahnya. Sakakala menoleh dan mendapati Ki Demang berlari kecil menyusulnya dengan napas sedikit tersengal-sengal. Sementara Woro tampak mengekor beberapa langkah di belakang ayahnya dengan wajah cemas. Sakakala membalikkan badan, menunggu sang kepala desa mendekat. "Ada apa, Ki?" Ki Demang berhenti tepat di hadapan Sakakala, merapatkan jaket tebalnya untuk menahan angin gunung yang dinginnya menusuk tulang. Ia menatap pemuda tampan itu dengan sorot mata penuh permohonan. "Jangan buru-buru untuk turun gunung, Nak," ujar Ki Demang lirih. "Kami tahu kau punya urusan besar di kota. Tapi, tinggallah dulu untuk semen

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status