Pahlawan Gagal yang Berkuasa

Pahlawan Gagal yang Berkuasa

last updateLast Updated : 2026-08-27
By:  Tokek GantungOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
10Chapters
17views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Frank Aster, seorang siswa SMA yang menjabat sebagai ketua OSIS dan mendapatkan Peringkat teratas dalam pembelajaran, dipanggil sebagai pahlawan ke dunia sihir bersama teman-teman sekelasnya. Saat teman-temannya menjadi penyihir jenius dengan Bakat S dan SSS, ia yang di kira mendapatkan peringkat SSS atau lebih tinggi malah dianggap gagal dan hidup sebagai orang buangan karena tak memiliki bakat. Hingga suatu hari, ia menemukan warisan yang mengubah takdirnya dan mematahkan seluruh ramalan yang pernah tercatat dalam sejarah dunia sihir

View More

Chapter 1

Bab 1 Pahlawan

"Selanjutnya... Frank." Suara seorang pria tua bergema memenuhi aula kerajaan.

Frank menarik napas panjang sebelum melangkah maju.

Lantai marmer putih membentang hingga ke singgasana emas yang menjulang tinggi, di atasnya duduk seorang raja dengan mahkota bertatahkan permata, ditemani para menteri, panglima, dan penyihir istana.

Di sisi kanan aula berdiri dua puluh sembilan siswa berseragam sekolah, teman-teman sekelas Frank. Namun kini, tak seorang pun terlihat seperti siswa biasa lagi karena status mereka telah berubah beberapa saat lalu.

"Rank S..."

"Rank SS..."

Sorak sorai masih terdengar dari para bangsawan, hanya dalam satu jam, dua puluh sembilan siswa telah membangkitkan bakat luar biasa.

Ada yang menjadi Dragon Knight.

Ada yang menjadi Saint.

Ada pula yang memperoleh gelar Archmage.

Bahkan ketua kelas mereka dianugerahi profesi Pahlawan Cahaya, profesi yang hanya muncul sekali dalam ribuan tahun.

Semua orang percaya bahwa ramalan Sang Tabib akhirnya menjadi kenyataan. "Tiga puluh pahlawan akan turun dari langit dan menyelamatkan dunia."

Kini, hanya Frank yang tersisa yang belum menguji bakat miliknya.

"Ayo, Frank!"

"Semangat!"

Beberapa teman sekelasnya memberi dukungan dengan penuh semangat, karena mereka percaya bahwa Frank memiliki bakat yang mungkin melampaui mereka. bagaimanapun sebelum mereka di panggil beberapa jam lalu, Frank di Sekolah merupakan ketua OSIS dan pelajar yang meraih peringkat teratas.

Mereka percaya bahwa Frank akan lebih baik dari mereka semua.

Frank yang hanya tersisa beberapa langkah dari kristal takdir berhenti dan menoleh, lalu mengangguk kecil dengan senyuman di wajahnya.

Meski tersenyum, jantungnya berdetak semakin cepat. Ia masih belum percaya dengan apa yang terjadi beberapa jam lalu.

Saat Jam kosong sedang berlangsung, lingkaran sihir raksasa muncul di bawah seluruh kelas membuat mereka tercengang, dan dalam sekejap mereka telah berada di dunia yang sama sekali berbeda, yakni dunia sihir.

Dan kini mereka disebut sebagai pahlawan.

"Pahlawan terakhir, silakan sentuhkan tanganmu pada Kristal Takdir." Seorang penyihir tua menunjuk sebuah kristal bening setinggi dada orang dewasa.

Frank menelan ludah menatap kristal itu, entah kenapa perasaan nya tiba-tiba tidak enak.

Perlahan, ia meletakkan telapak tangannya di atas permukaan kristal. seketika cahaya putih memenuhi aula membuat semua orang menahan napas.

Detik pertama, kristal tetap bersinar, namun di detik kedua cahayanya mulai melemah dan di detik ketiga hal tak terduga terjadi.

Crack!

Sebuah garis kecil muncul di permukaannya dari telapak tangan Frank.

Crack!

Dalam sekejap, seluruh kristal dipenuhi retakan, membuat semua orang terbelalak.

Blarr!!

Tak lama kemudian, kristal Takdir hancur berkeping-keping seperti batu yang habis di panaskan di suhu ekstrem dan tiba-tiba di siram oleh air es.

Keheningan menyelimuti aula melihat kejadian yang tiba-tiba itu. Teman-teman sekelas Frank Mundur Selangkah dengan tatapan tak percaya, sementara para penyihir di aula itu hanya terdiam dengan ekspresi keterkejutan yang jelas di wajah mereka.

"Apa...?"

"Kristal Takdir... hancur?"

"Itu tidak pernah terjadi!"

Penyihir tua yang sebelumnya menunjuk kristal takdir, melangkah maju dan segera memeriksa pecahan kristal dengan wajah pucat.

"Tidak mungkin... kekuatan sihirnya... lenyap."

Seorang menteri di samping raja berdiri dari duduknya dan bertanya dengan nada cemas. "Lalu bagaimana hasil pengujiannya?"

Penyihir tua terdiam cukup lama, tangannya gemetar memegang salah satu pecahan Kristal. Akhirnya ia mengangkat kepala.n"...Tidak ada."

"Tidak ada?" Ulang Menteri itu dengan nada tak percaya.

"Anak ini... tidak memiliki bakat." Lanjut Penyihir Tua itu, suaranya terdengar serak karena wajahnya yang masih di liputi ketidak percayaan.

Suasana yang semula meriah berubah menjadi sunyi, beberapa bangsawan menggeleng pelan, sedangkan yang lain memandang Frank dengan tatapan kecewa.

"Bukankah dia juga pahlawan?"

"Pahlawan tanpa bakat?"

"Mustahil."

Teman-teman sekelas Frank memprotes, seolah-olah tidak terima dengan hasil yang tidak jelas itu. di sisi lain, Frank hanya diam dengan kepala menunduk menatap pecahan kristal takdir itu dengan tatapan kosong.

hal yang sangat tidak ia sangka adalah ia tidak memiliki bakat seperti teman-temannya. padahal ia berharap untuk mendapatkan bakat yang lebih baik di atas rank SS, namun ternyata ia malah mendapatkan hasil yang mustahil.

raja penyihir yang duduk di atas singgasana miliknya menghela napas panjang sambil menggelengkan kepalanya.

"Yang Mulia... ritual pemanggilan menghasilkan dua puluh sembilan pahlawan dan dia hanyalah kegagalan." Ucap Penyihir tua sebelumnya, kemudian berdiri dengan tegak kembali.

Ucapan itu bagaikan palu godam yang menghantam dada Frank, membuat ia mengepalkan kedua tangannya.

Teman-teman sekelasnya yang sempat protes tiba-tiba terdiam begitu melihat Raja yang mengangkat tangannya untuk menghentikan keributan.

Raja perlahan berdiri dari singgasananya begitu melihat tidak ada satupun yang kembali bersuara. Tatapannya dingin begitu menyapu seluruh penyihir dan orang-orang yang ada di Aula.

"Kerajaan Astra tidak memiliki kewajiban membesarkan seseorang yang bahkan tidak memiliki bakat. Mulai hari ini, pahlawan terakhir bukan bagian dari para pahlawan dan tidak di perbolehkan untuk menginjakkan kakinya di atas tanah Kerajaan! Usir dia dari istana." Perintahnya tegas.

Kali ini, tidak ada protes dari teman-teman sekelas Frank, mereka hanya bisa diam. bagaimanapun tidak ada yang berani membantah ataupun memprotes keputusan sang Raja.

Segera, dua ksatria segera melangkah maju menuju Frank. dan segera membawa pemuda itu keluar dari Aula Istana.

Frank sendiri hanya menundukkan kepala. Ia tidak melawan.

Ia hanya berjalan keluar dari aula, diiringi tatapan kasihan, ejekan, dan rasa kecewa dari semua orang.

ketika ketiganya meninggalkan Aula istana, sang Raja kembali membuka suara. "Dengan ini, maka aku, Raja Astra menyambut dua puluh sembilan pahlawan kita!"

"Menyambut para Pahlawan!" Semua orang bersorak gembira.

di sisi lain.

Dua ksatria berjalan tanpa sepatah kata. Di tengah mereka, Frank melangkah dengan kepala tertunduk.

Suara langkah kaki mereka bergema di lorong-lorong istana yang megah. Setiap pelayan, penyihir, maupun prajurit yang berpapasan menghentikan langkah mereka sejenak.

Tatapan mereka dipenuhi rasa ingin tahu.

"Dia itu?"

"Pahlawan yang gagal."

"Sayang sekali."

"Padahal teman-temannya luar biasa."

Bisikan demi bisikan terdengar jelas, mencibir Frank satu persatu dengan nada menghina.

Frank tentu dapat mendengarnya, namun telinganya seolah mati rasa akibat pikirannya masih terpaku pada satu kalimat.

Tidak memiliki bakat.

Bagaimana mungkin? Bukankah semua orang yang dipanggil dari dunia lain seharusnya menjadi pahlawan? Lalu mengapa hanya dirinya yang berbeda?

pertanyaan-pertanyaan itu terus menerus berputar-putar di kepala Frank, membuat pemuda itu sangat kebingungan dan putus asa.

Tak lama kemudian, gerbang utama istana terbuka perlahan, cahaya matahari langsung menyinari wajah Frank namun pemuda itu sama sekali tidak merasa silau. Wajahnya tetap menunjukkan keterkejutan dan ketidak percayaan yang mendalam.

"Keluar." Suara salah seorang ksatria terdengar datar, lalu keduanya melempar Frank keluar dari gerbang istana layaknya sampah yang barusan saja selesai di gunakan dan sudah tidak berguna.

Tubuh Frank terhuyung, hingga ia tersungkur di jalan bebatuan yang terbentang di depan gerbang istana. jalanan itu sangat kasar membuat kaki dan tangan Frank terluka.

Frank mengangkat kepalanya.

Di hadapannya terbentang ibu kota Kerajaan Astra.

Bangunan-bangunan batu berdiri megah, kereta kuda berlalu-lalang, para penyihir melayang di udara dengan sapu terbang dan pedagang memenuhi sisi jalan.

Pemandangan yang beberapa jam lalu membuatnya takjub kini terasa begitu asing.

"Mulai sekarang, kau bukan urusan kerajaan." Dua ksatria berbalik tanpa menunggu jawaban.

Brak!

Gerbang istana tertutup perlahan.

Frank berdiri seorang diri. Ia menoleh ke kanan lalu ke kiri. untuk pertama kalinya sejak dipanggil ke dunia ini ia benar-benar sendirian.

Tidak ada guru, tidak ada teman sekelas, tidak ada orang yang dikenalnya dan hanya dirinya seorang. Frank menghembuskan napas panjang. "Apa yang harus kulakukan sekarang...?"

Perutnya tiba-tiba berbunyi pelan.

Baru saat itu ia sadar, sejak dipanggil ke dunia ini, ia belum makan apa pun. Ia merogoh saku celananya dan tidak menemukan apapun. Dompetnya masih tertinggal di ruang kelas dan ponselnya pun entah ke mana.

Yang tersisa hanyalah seragam sekolah yang kini terasa begitu tidak berguna.

Frank tersenyum pahit. "Benar-benar... menyedihkan."

Ia mulai berjalan tanpa tujuan.

Orang-orang di jalan beberapa kali melirik pakaian yang dikenakannya, bahkan sebagian berbisik dan sebagian lagi tertawa kecil.

"Aneh sekali pakaiannya."

"Pendatang?"

"Mungkin salah satu pahlawan."

"Tidak mungkin. Pahlawan sedang berada di istana."

Frank mempercepat langkahnya. Ia tidak ingin mendengar lebih banyak lagi, namun baru beberapa menit berjalan langkahnya kembali terhenti.

Di sebuah alun-alun, layar kristal raksasa memperlihatkan bayangan aula kerajaan, membuat sorak-sorai terdengar memenuhi udara.

"Selamat kepada dua puluh sembilan Pahlawan!"

"Semoga mereka melindungi Kerajaan Astra!"

Warga bertepuk tangan meriah.

Wajah teman-teman sekelas Frank muncul satu per satu, bahkan mereka tersenyum sambil menerima jubah kebesaran kerajaan.

Frank hanya memandang dari kejauhan. Tak ada namanya di sana, seolah ia tidak pernah ada. Ia menundukkan kepala dan kembali berjalan.

Langkahnya semakin berat.

Di belakangnya, suara sorak-sorai masih terus menggema. Namun kali ini ia tidak lagi menoleh.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
10 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status