Share

Episode 5 Penyusup (1)

Adrian dan Rosaline menunggu Pangeran Yuasa siuman. Namun, sudah setengah jam hal itu tidak terjadi juga.

"Adrian, kamu yakin dia tidak apa-apa?" tanya Rosaline mulai cemas.

"Tidak ada luka, seharusnya tidak masalah," balas Adrian yang tidak meyakinkan.

"Aku panggilkan tabib saja, tunggu di sini!" lanjut Adrian yang terlihat mulai cemas dan memilih mencari tabib dan meninggalkan Rosaline serta Pangeran Yuasa yang masih pingsan.

Tak lama tabib serta Adrian datang. Sang tabib memeriksa keadaan Pangeran Yuasa.

"Bagaimana?" tanya Rosaline cemas.

"Dia kelelahan, akan memerlukan waktu lama untuknya siuman. Tubuhnya sedang memulihkan diri," jawab sang tabib.

"Syukurlah," balas keduanya serempak.

"Lebih baik pindahkan ke tempat yang lebih hangat, sebentar lagi malam," saran dari sang tabib.

Setelah selesai memeriksa dan memastikan tidak ada yang salah pada diri Pangeran Yuasa, sang tabib undur diri dan meninggalkan ketiganya.

"Rosaline, sebaiknya kau dan pangeran menginap saja di sini, akan kusiapkan kamar untuk kalian," usul Adrian dan Rosaline mengangguk.

"Satu kamar dengan dua tempat tidur," balas Rosaline.

"Tunggu! Apa maksudnya satu kamar?" tanya Adrian tidak suka dengan keinginan Rosaline. Bagaimanapun juga laki-laki dan perempuan tanpa ikatan pernikahan berada dalam satu kamar yang sama bukanlah hal yang baik. Hal itu akan menimbulkan banyak perbincangan tak enak nantinya.

"Aku akan bersama Pangeran dalam kamar yang sama," jawab Rosaline dengan ringannya.

"Rosaline!"

"Kalian belum menikah, tidak boleh!" tolak Adrian mentah-mentah.

"Terserah, aku tetap tidak mau berbeda kamar dengannya," balas Rosaline sama keras kepalanya dengan Adrian.

"Kau akan menjadi bahan gosip nantinya," ucap Adrian.

"Untuk apa mendengarkan mereka, bagiku keselamatan pangeran lebih penting," balas Rosaline bersikukuh dengan keputusannya.

"Begini saja, kalian di kamarku saja, setidaknya ada orang ketiga sebagai saksi kalian bersih," usul Adrian yang tidak rela Rosaline berduaan dengan laki-laki lain.

"Baiklah, tak masalah," balas Rosaline.

Adrian mengangkat tubuh Pangeran Yuasa dan membawanya ke kamarnya. Ruang kamar Adrian cukup luas karena dia adalah seorang pelatih. Dia memiliki fasilitas yang lebih baik dari para peserta yang berlatih di Arena Redlion. 

"Lumayan," ucap Rosaline setelah memperhatikan seluruh ruang kamar Adrian.

"Ya, lumayan. Tak akan sama dengan para pengawal berkelas sepertimu," timpal Adrian dengan perkataan Rosaline.

Rosaline memeriksa seluruh bagian kamar Adrian yang membuat si pemilik kamar sedikit merasa canggung dan waspada. 

"Bersih, baguslah," komentar yang akhirnya keluar dari mulut Rosaline.

"Aku ambil kasur tambahan dulu," ucap Adrian yang kemudian keluar dari kamarnya.

Adrian keluar dan tanpa sengaja berpapasan dengan rekannya.

"Mau ke mana?" tanyanya.

"Mengambil kasur tambahan, ada yang menginap di kamarku," jawab Adrian apa adanya.

"Butuh berapa? Kenapa tidak ambil kamar kosong saja? Ada banyak yang tidak terpakai," tanya rekan Adrian.

"Dia tidak mau," jawab Adrian.

"Aku juga sedang tidak ada kerjaan, yuk kubantu," ucap rekan Adrian menawarkan diri.

Mereka berdua Masing-masing membawa satu kasur gulung. Lalu masuk ke kamar Adrian.

Rekan Adrian melongo melihat Rosaline. Gadis itu memang cantik, wajar saja jika dilirik.

"Jaga matamu!" Sebuah pukulan mendarat di kepalanya.

"Hei, cantik banget dia, kenalin dong," bisik rekan Adrian mendekati pemilik kamar.

Adrian menatapnya tajam dan rekannya pun mencibir. 

"Dasar pelit, kenalan juga tak boleh. Mau berduaan saja ya. Ku laporkan lho," cicitnya.

"Lakukan kalau berani," balas Adrian ringan.

Rekan Adrian mendekatinya dan menyikut bahunya, "Pacarmu ya?" bisiknya cukup jelas di telinga Adrian. Namun, tak terdengar oleh Rosaline.

"Aku juga berharap seperti itu," jawab Adrian yang memang berharap bisa menjadi kekasih Rosaline.

"Oh, belum jadian. Bagus! Masih ada kesempatan," ujarnya mengepalkan tangan seakan mendengar kabar baik yang menggembirakan.

"Berani dekati dia, jangan harap masih bisa melihat matahari esok hari," ancam Adrian.

"Iya, iya tidak akan!" gerutu rekan Adrian.

Dia kembali melirik Rosaline, gadis itu begitu cantik di matanya tapi keberadaan Adrian membuatnya takut. Dia meletakkan kasur yang dibawanya lalu melihat ada seseorang yang tidur di atas tempat tidur.

"Hei, siapa lagi itu?" bisiknya bertanya kepada Adrian.

"Bukan urusanmu!" jawab Adrian kesal. "Sudah sana keluar dan terima kasih sudah membantu," lanjut Adrian mendorong rekannya keluar dari kamarnya.

Dia masih melirik ke arah tempat tidur sebelum akhirnya benar-benar keluar dari kamar Adrian.

"Awas ya ku laporkan!" gertaknya.

Sesaat kemudian tidak lagi terdengar suara dari luar. Adrian mempersiapkan tempat tidur untuknya dan Rosaline.

"Siapa tadi?" tanya Rosaline.

"Hanya rekan di sini, abaikan saja," jawab Adrian.

"Tidak bisa, dia melihat Pangeran Yuasa, aku …," Rosaline menggantung ucapannya dia ragu untuk mengatakan kecurigaannya.

"Mau makan malam? Mungkin Pangeran akan siuman esok hari, di sini aman tenanglah," ucap Adrian yang melihat kekhawatiran di wajah Rosaline.

"Kau tidak mengerti," balas Rosaline menggantung. 

Adrian tidak mengerti kenapa Rosaline terlihat begitu cemas.

"Biar ku ambilkan makan malam, tunggu saja di sini," ucap Adrian menawarkan diri.

Dia keluar dan terus memikirkan Rosaline yang terlihat khawatir. "Apa yang membuatnya terlihat begitu cemas," gumam Adrian.

Adrian merasakan kehadiran orang yang tak biasa. Gerakan mereka cepat, bukan tipe kristal merah. Dia mengendap-endap dan melihat sekelebat bayangan hitam yang melompat-lompat di atas atap.

"Penyusup!" teriak Adrian dia membunyikan alarm untuk memberikan peringatan. 

Dengan cepat Adrian kembali ke kamarnya, khawatir dengan keadaan Rosaline dan Pangeran Yuasa.

"Rosaline!" teriak Adrian membuka pintu kamarnya dan melihat tiga orang berbaju hitam dan mengenakan penutup wajah menyerang Rosaline, lalu dua orang lainnya membawa Pangeran Yuasa. 

"Adrian, tolong!" teriak Rosaline dan kelima orang berpakaian hitam itu menoleh.

Adrian membantu Rosaline dan kedua orang yang membawa Pangeran Yuasa sudah bersiap kabur lewat jendela.

"Mereka bagianmu!" teriak Rosaline mendorong kedua orang yang menyerangnya ke arah Adrian lalu dia mengejar dua orang yang membawa Pangeran Yuasa.

"Jangan kabur!" teriak Rosaline.

Alarm yang dibunyikan Adrian membuat semua orang di Arena Redlion siaga.

Dua orang berbaju hitam tak bisa berkutik saat ada yang menghadang sementara di belakangnya Rosaline sudah bersiap menyerang. Merasa tak lagi bisa kabur, mereka menggunakan Pangeran Yuasa untuk mengancam.

"Jika mendekat, nyawanya akan melayang," ancamnya.

Bagaimana Rosaline menyelamatkan Pangeran Yuasa? 

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status