LOGINSetelah puas menggilir Ani. Agus dan Pras mengancam janda itu agar tidak bicara pada warga. Jika Ani bicara, maka mereka tidak segan-segan akan membunuhnya. "Awas kalau kamu berani ngomong macam-macam! Aku bakal sobek mulutmu ini!" ancam Agus sambil menunjuk ke arah bawah tubuh Ani. "Kalian memang brengsek! Terkutuk kalian semua!" umpat Ani yang tubuhnya nampak lebam dan pucat. Agus dan Pras tertawa terbahak-bahak sambil merapikan baju mereka. "Itu akibatnya kalau kamu sudah berani merendahkan kami. Kamu pikir bisa seenaknya menghina anak lurah, begitu! Ingat, kamu itu cuma janda kampung yang tidak ada harganya. Jadi nggak usah membandingkan kami dengan si Ramli, faham!" kata Pras. Setelah mengatakan hal itu, kedua pria itu pergi begitu saja dan membiarkan Ani sendirian dalam kondisi telanjang. Ani menangis meratapi dirinya yang sudah dirusak oleh dua pemuda anak lurah itu. ***** Beberapa hari kemudian, setelah kejadian itu. Ani menjadi pendiam dan melamun. Janda muda yang b
Agus dibuat melongo mendengar jawaban Vina. "Kamu hamil? Anak dia! Tapi kalian...!" "Ah sudahlah, Gus. Mending kamu pulang dan jangan mencampuri urusan kami! Maaf ya, aku nggak ada waktu," kata Vina. Lantas ia segera mengajak suaminya masuk ke dalam rumah. "Ayo, Mas!" Ramli dan Vina beranjak masuk ke dalam rumah. Begitu juga dengan Nyonya Ratna dan Bu Mar. Tapi Agus sangat tidak terima dengan perlakuan Vina terhadapnya. "Ingat, Vin! Jujur, aku sangat tidak suka kamu mencintai Ramli. Dia itu laki-laki tidak tahu diri. Apa yang kamu lihat darinya. Dia laki-laki kampung dan miskin! Dia nggak pantas buat kamu!" teriak Agus. Vina tidak memperdulikannya, wanita itu tetap membawa Ramli masuk ke dalam rumah. Setelah mereka masuk semuanya, Vina langsung mengunci pintu. Agus semakin emosi. Pria itu nampak memukul apa pun yang ada di sekitarnya. "Brengsek, awas saja kalian!" Dengan menahan amarahnya. Agus langsung pergi dari rumah Bu Mar. Pria itu berjalan dengan mata memerah.
Tapi Agus tidak peduli. Pria itu langsung menunjuk muka Ramli dan langsung menuduhnya telah berbuat mesum. "Hei, Ramli! Aku tahu kamu ini laki-laki brengsek. Kamu sudah berani berbuat mesum di kampung ini. Kamu sudah merusak Vina. Aku tidak terima. Kamu harus pergi dari sini sekarang juga, atau tidak warga akan main hakim sendiri!" teriak Agus dengan sangat menggebu-gebu. Sampai-sampai pria itu tak sadar air ludahnya muncrat dan mengenai beberapa warga. Dengan santainya, Ramli membalas ucapan Agus. Pria itu justru keluar dari kamar mandi dengan kondisi handuk yang menutupi area dada sampai paha. Dengan gaya feminim Ramli seolah-olah tidak ingin ada orang yang mengganggunya sedang mandi. "Mas Agus. Jangan menyebar fitnah. Saya dari tadi sedang mandi sekalian berak. Belum selesai udah diteriaki. Kalau Mas Agus mau mandi sama saya, ayok sini!" kata Ramli. "Halah, tidak usah banyak alasan. Tadi aku lihat kamu dan Vina ada di dalam!" sahut Agus lagi. "Vina? Mana ada dia di dalam.
"Kurang ajar! Ramli sudah berani berbuat mesum dengan Vina. Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus melakukan sesuatu agar Ramli diusir dari kampung ini. Aku harus menyelamatkan Vina dari laki-laki bajingan itu!" Agus benar-benar sangat emosi melihat apa yang sedang dilihatnya. Pria itu bergerak untuk memergoki Ramli dengan cara menggedor pintu kamar mandi. Niat hati ingin melabrak Ramli, tanpa sengaja kakinya terpeleset dan membuat pria terjatuh. Bug! "Aduhhh!" pekik Agus sambil memegangi pinggangnya yang sakit. Suara itu langsung membuat Vina dan Ramli yang baru saja menyelesaikan aktivitas mereka. Membuat keduanya terkejut dan buru-buru memakai baju masing-masing. "Ada siapa, Mas?" bisik Vina yang terlihat khawatir. "Kamu tenang saja. Biar aku yang melihatnya. Tetap di sini dan jangan bersuara!" kata Ramli. Vina mengangguk. Lantas, Ramli bersiap untuk melihat luar. Pria itu memakai handuk yang ia lilit pada tubuhnya persis seperti seorang wanita melilitkan handuk pada tubuhnya.
Ani bergegas pergi ke rumah Pak lurah. Wanita itu berjalan cepat agar ia segera sampai di rumah Pak Waluyo. Jarak rumah Pak lurah dari rumah Bu Mar sekitar seratus meter tapi harus melewati jalanan sempit dan semak-semak. Sesampainya di rumah Pak lurah. Pria itu rupanya tidak ada di rumah. Pak Waluyo dikabarkan sedang dinas ke luar kota dan baru pulang nanti malam. Sehingga membuat Ani cukup kecewa. Namun di rumah itu ia ditemui oleh anak kedua Pak lurah yaitu Pras. "Ada apa, Mbak? Kenapa nyariin bapak?" tanyanya sambil menghisap rokok di tangannya, lalu ia meniup asap itu pada wajah Ani. Sangat tidak sopan. "Heh, bisa nggak sih kamu sedikit sopan sama orang yang lebih tua dari kamu!" umpat Ani. Pras hanya tertawa mengejeknya. "Sopan! Kamu membicarakan kesopanan di sini! Sedangkan kamu sendiri, lihat pakaianmu ini. Apa pantas datang ke rumah lurah dengan pakaian seperti orang yang sedang mandi ini! Atau jangan-jangan kamu sengaja ingin menggoda aku, gitu!" kata Pras sambil m
Tentu saja Ramli tidak akan menolaknya. Hanya Vina yang bisa membuat gairahnya bangkit dan bersemangat. "Kamu sengaja ya ingin menggodaku. Tapi aku belum mandi! Bajuku basah dan aku harus menggantinya!" kata Ramli. Tentu saja, karena di luar masih hujan rintik-rintik dan kondisi baju Ramli terkena lumpur dan kotor. "Ya udah, biar aku yang mandiin kamu, sini!" Vina segera menggandeng tangan sang suami untuk pergi ke kamar mandi yang ada di belakang rumah. Suasana di kampung Bu Mar memang masih sangat asri. Banyak tumbuhan lebat di samping kanan dan kiri rumahnya. Jarak dari satu rumah ke rumah lainnya juga cukup jauh. Hari itu Vina bersama Ramli pergi ke kamar mandi belakang. Anak-anak mereka sudah berada di dalam rumah dan sedang bersama Oma dan nenek mereka. Sekarang, giliran Vina yang mengurus suaminya sebelum mereka makan siang dan istirahat. "Ayo, Mas!" Vina menarik tangan Ramli sesampainya mereka tiba di depan pintu kamar mandi yang masih berdinding papan kayu dan berata






