MasukKapten Medi mendengar penjelasan Dien Moretz tentang penyerangan yang mereka bertiga alami di bundaran simpang lima gajah putih. Kapten sesekali mengetuk rokok di asbak, membuang abu rokoknya yang sudah berlebihan. Pria itu mengangguk dan merenung mendengar penjelasan Dien yang sangat rinci.“Kekuatan apa yang orang itu gunakan?” Tanya kapten menghisap rokok, lalu menyemburkan asapnya beberapa detik kemudian. Dien tampak berpikir dan mengingat-ingat pertarungan. “Dia bisa menggunakan sihir regenerasi, dan dapat mengubah hewan menjadi monster brutal. Aku melihatnya mengubah beberapa kelabang menjadi monster brutal tingkat 2-4.” Balas Dien apa adanya setelah mengingat-ingat. Kapten mengangguk, dan membuang abu rokok ke asbak. “Apakah dia memiliki rekan atau orang yang membantunya?” Tanya kapten memperbaiki duduknya. “Tidak! Dia tidak memiliki rekan. Orang yang bernama Demma itu menyerang kami seorang diri.” Balas Dien yakin. Kapten Medi menunjukkan lukisan yang dia kerjakan saat m
Taksi melaju dengan sangat kencang, melewati beberapa mobil yang terjebak kemacetan, dan hampir bertabrakan dengan kendaraan yang berada di lawan arah. Aamon, Freya, dan Dien tampak santai di dalam mobil, mereka seakan-akan sudah terbiasa dengan cara pengemudi taksi melaju di jalan raya. Sopir taksi berbelok ke gang sempit, lalu keluar gang di sisi lainnya, menerobos lampu merah, dan berhenti di bundaran simpang lima tugu gajah putih. Terdengar suara klakson bersahutan, karena taksi menghalangi jalan. Sopir taksi yang berambut keriting itu tersenyum kecil, dan meledakkan mobil dengan energi spiritualnya yang sangat kuat. Mobil taksi itu meledak dan menghancurkan kendaraan yang ada disekitarnya, membuat suasana jatuh dalam kepanikan dan ketakutan. Dien dan kedua rekannya berhasil menyelamatkan diri dengan melapisi tubuh mereka dengan energi spiritual. “Selamat datang di acara pertarungan antar praktisi spiritual, para praktisi spiritual resmi sekalian. Acara ini aku buat khusus untu
Nicholas membawa Dien berkeliling markas tersembunyi pasukan malam, untuk mengenal lebih dekat beberapa hal yang ada di pasukan malam. Dia membawa Dien berkeliling di divisi Alkimia, ruang komunikasi dan informasi, ruang perawatan, ruang makan, hingga akhirnya sampai di ruang gudang senjata sihir pasukan malam cabang kota Selabatu.Di dalam ruangan gudang senjata sihir terlihat ratusan pedang, tombak, busur, tameng, palu, senjata api, hingga sepatu sihir tersusun rapi di tempatnya. Nicholas menyentuh sebuah pistol dan berkata dengan senyuman. “Ini adalah gudang senjata sihir biasa.” Nicholas mengambil pistol, lalu terlihat sebuah tombol merah di dinding tempat pistol ditempatkan sebelumnya. Dia menekan tombol, membuat dinding yang dipenuhi senjata api itu terbuka dan memperlihatkan ruangan tersembunyi lainnya.Ruangan itu terlihat suram dan hanya berisi belasan senjata sihir. Empat lilin terlihat di empat penjuru ruangan, menjadi satu-satunya penerangan di dalam ruangan. “Ini adala
Setelah melaporkan keberhasilan misi mereka di desa Sukahati, Dien, Freya, dan Aamon pulang ke rumah masing-masing. Tiga orang itu pulang tanpa saling bertegur sapa, tanpa mencoba mengakrabkan diri, atau hanya sekedar berbasa-basi. Mereka bertiga tampak seperti orang yang tidak saling kenal. Dien kembali jalan-jalan di pasar tradisional untuk menemui nenek Rose, demi mendapatkan beberapa pencerahan tentang ilmu ramalan. Setelah berjalan dan menelusuri pasar selama satu jam, Dien akhirnya melihat nenek Rose yang membuka lapak di pinggir gang sempit. “Yoo, kita bertemu lagi anak muda. Tampaknya kamu mendapatkan senjata sihir yang sangat unik dan berbahaya.” Ucap nenek Rose menyapa Dien yang mendekat. Dien tidak terkejut nenek Rose mengenalinya yang sudah memiliki wajah sempurna tanpa cacat. Dien tersenyum dan memasukkan beberapa lembar uang ke mangkuk yang menampung uang di depan nenek Rose. “Guru, siapa yang menjaga rahasia ilahi?” Tanya Dien penasaran. Nenek Rose tersenyum, menat
Steven bertepuk tangan, membuat dinding tanah muncul di kedua sisi Dien dan menggepreknya. Dien menahan dua dinding tanah yang menekannya dari kedua sisi, disaat yang sama Steven melancarkan serangan petir berbentuk naga menerkam.Dien terkena serangan petir dengan sangat telak. Serangan petir itu membuatnya terluka cukup parah, dan tidak mampu menahan dua dinding tanah yang mengapitnya. Dua dinding tanah langsung menghimpit Dien, seperti tangan menepuk nyamuk. Dien merasakan tulang-tulangnya remuk, tangannya patah, dan darahnya dipaksa keluar dari setiap lubang yang ada di tubuhnya. Steven dengan acuh membersihkan debu yang menempel di bajunya, lalu melangkah melewati Dien yang terhimpit dua dinding tanah. “Seharusnya kamu tidak mencoba menghentikanku.” Ucap Steven melirik sekilas Dien yang pingsan. Tebasan energi! Tiba-tiba sebuah tebasan energi hampir memotong tubuh atas Steven. Beruntungnya pria itu berhasil menghindar dengan membungkukkan badan. Sambaran petir! Steven melep
Setelah mendapatkan ganti rugi dari Freya, Aamon mengejar Steven dengan panduan pak tua di dalam tubuhnya. Aamon bergerak lincah mengikuti petunjuk pak tua, dia benar-benar percaya dengan orang tua yang berada di alam bawah sadarnya tersebut. “Kakek Zu, apa kamu tahu kemampuan yang dimiliki wanita itu?” Tanya Aamon melompati dahan pohon, lalu mendarat di atap sebuah rumah. Rumah itu adalah rumah dimana Dien melakukan ritual mengintip rahasia ilahi, dan berlatih mengolah energi spiritual. Aamon dapat melihat pertarungan Dien melawan Steven yang tidak seimbang, karena Steven mampu menggunakan sihir yang merupakan keunggulan praktisi lima elemen. “Wanita itu sepertinya mewarisi kekuatan dewa.” Ucap kakek Zu setelah diam sesaat. “Kekuatan dewa?” Tanya Aamon mengerutkan keningnya. “Kakek tidak berusaha menipuku, kan?” Tanya Aamon memastikan. “Anggap saja seperti itu." Balas kakek Zu santai dan tidak peduli. Aamon terdiam, melihat pertarungan sengit Dien dan Steven. Rumah warga, tid







