MasukDien Moretz adalah sarjana pengangguran yang terus mencari kerja. Pada suatu hari Dien terjebak ke sebuah tragedi spiritual mengerikan, Dien terlibat dengan seekor monster kelabang raksasa yang memangsa manusia. Saat nyawanya diujung tanduk, tiba-tiba seseorang dengan kekuatan spiritual datang membantu dan membunuh monster tersebut. Mulai saat itu Dien menyadari ada dunia yang misterius, penuh monster, sangat berbahaya, dan diselimuti kegelapan yang tidak disadari banyak orang, dan Dien perlahan-lahan menjadi bagian dari dunia tersebut.
Lihat lebih banyakKota Selabatu, Kerajaan Keleztial.
Dien Moretz menatap lelah foto keluarga yang tergantung di dinding ruang tamu. Terlihat lima orang di dalam foto tersenyum penuh kebahagiaan, terutama pria sumbing yang mengenakan toga wisudawan yang menjadi tokoh utama di foto tersebut. Foto itu menjadi saksi abadi kesuksesan seorang mahasiswa, yang berhasil menyelesaikan pendidikannya di universitas dan resmi menjadi seorang sarjana muda. “Sudah satu tahun berlalu, namun aku masih belum mendapatkan pekerjaan. Aku masih menjadi beban ayah dan ibu. Gelarku sebagai sarjana Administrasi Publik seakan-akan sebuah gelar yang tidak berguna. Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan agar mendapatkan pekerjaan. Sekarang aku benar-benar sangat putus asa. Ingin rasanya aku bunuh diri dan pergi saja dari dunia terkutuk ini.” Gumam Dien, lalu meletakkan map amplop kuning di atas meja. Dien terlihat sangat lelah, karena untuk kesekian kalinya dia gagal dalam wawancara kerja. “Kenapa aku tidak mati saja? Toh, hidup pun tiada gunanya.” Gumam Dien meneteskan air mata, dan mempertanyakan alasan kenapa dia masih hidup. Dien dengan lelah berbaring di sofa, lalu perlahan-lahan menutup mata dan mencoba untuk tidur di kursi sofa ruang tamu. “Dien, jemput adikmu di sekolah! Ibu tidak bisa menjemput adikmu, karena ibu sedang memasak.” Pekik ibu yang sibuk memasak di dapur. Dien mengernyitkan dahi mendengar suara teriakan samar seseorang, sebuah suara yang akrab di telinganya. “Dien! Jemput adikmu di sekolah!” Pekik ibu sedikit lebih keras. Dien yang baru saja tertidur segera membuka matanya dengan lelah, lalu melihat jam handphone yang menunjukkan pukul 13.11 menit. Saat itulah Dien menyadari bahwa dia sudah tertidur selama dua jam. “Tidur pun rasanya begitu singkat. Benar-benar menyedihkan.” Gumam Dien duduk merenung untuk sesaat. “Dien! Kau mendengar ibu?” Pekik ibu nyaring dan diiringi langkah kaki. Dien menghela nafas berat, dan dengan malas segera berdiri. Terlihat ibu tiba-tiba muncul di depan pintu dengan membawa spatula yang dilumuri kuah santan. Tatapannya tajam menembus jiwa, seakan-akan ingin memukul orang. “Dien! Apakah kamu mendengar ibu? Jemput adikmu!” Perintah ibu dengan raut wajah marah dan kesal. “Iya!” Pekik Dien malas dan beranjak pergi ke kamar mandi. Ibu melihat Dien yang pergi ke kamar mandi dengan kesal. Dien mengusap wajahnya dengan air dingin dan membasahi rambutnya, lalu segera pergi ke halaman rumah dimana motornya terparkir. Pemuda itu dengan malas menendang engkol motornya beberapa kali, namun motor butut tersebut belum juga hidup. BROONG! Setelah usaha yang cukup keras, motor berhasil hidup dan meraung ganas di halaman rumah. Dien dengan cepat menarik gas untuk menuju sekolah adiknya yang berada cukup jauh dari rumah. Baru saja keluar halaman rumah, dia dikejutkan dengan kedatangan seorang anak laki-laki berusia kurang-lebih 13 tahun. Anak itu adalah Leon Moretz, adiknya sekaligus orang yang akan dijemput. “Leon, kamu sudah pulang?” Tanya Dien dengan senyuman canggung. Leon menatap Dien dengan malas, lalu masuk ke dalam rumah tanpa menjawab. Terlihat jelas Leon sangat tidak menghargai Dien sebagai kakaknya. “Adik, maafkan kakak karena lambat menjemputmu.” Ucap Dien meminta maaf dengan tulus. Leon tidak menjawab, lalu menutup pintu rumah dengan bantingan keras. “Sabar Dien, orang tidak berguna sepertimu memang pantas tidak dihargai, bahkan oleh adik sendiri.” Batin Dien berkecil hati, lalu mematikan mesin motornya. Tiba-tiba di kejauhan terdengar suara deru mesin mobil sport mendekat. Dien dengan penasaran menoleh untuk melihat mobil sport berwarna hitam tersebut. Mobil itu bergerak mendekati rumah, lalu berhenti tepat di samping Dien yang sudah menebak siapa yang datang. Seorang pemuda dengan langkah berwibawa dan sok keren keluar dari mobil, lalu tersenyum ramah kepada Dien sembari menjulurkan tangan meminta salaman. “Siang kak!” Sapa sang pemuda. Melihat wajah pemuda itu, Dien langsung mengenalinya. Namanya Leonard James, tuan muda kedua keluarga James, sebuah keluarga kaya raya dan cukup berpengaruh di kota Selabatu. Leonard James sendiri memiliki perawakan tinggi besar, berkulit sawo matang, tidak terlalu berotot, wajah yang terbilang cukup tampan, dan sedikit narsis. Rumornya Leonard James memiliki sifat playboy, suka bermain wanita, dan seorang penjudi dan pemabuk. “Sore!” Balas Dien singkat saja dengan wajah masam dan tidak menyambut uluran tangan Leonard. Leonard tersenyum canggung dan menarik kembali tangannya yang melayang cukup lama. Pemuda narsis dan sedikit menyilaukan itu dengan ragu bertanya. “Helena ada kak?” “Tidak ada!” Balas Dien ketus. Tepat pada saat itu, Helena Moretz yang mengenakan celana jean dan baju hitam tanpa lengan (menyerupai tanktop) keluar dari rumah dengan langkah anggun sembari melemparkan senyuman menawan kepada Leonard dan Dien. Helena terlihat menggunakan make up yang sederhana, tidak terlalu mencolok dan tebal. Sebuah kalung dengan bentuk “H&L” miring, menggantung indah di leher wanita cantik tersebut. Melihat sang adik yang terlihat sangat cantik dan anggun, Dien hanya bisa menghela nafas berat. “Kak, aku akan pergi ke kampus bersama Leonard.” Ucap Helena mengulurkan tangan halusnya. Dien menatap Helena, lalu menyambut uluran tangannya. Helena dengan senyuman menawan meletakkan tangan Dien di keningnya sesaat, lalu pergi masuk ke dalam mobil Leonard yang pintunya dibuka oleh Leonard sendiri. Dien menatap tajam Leonard yang berlari ke arahnya dan meminta salam pamit. “Helena, kakak antar kamu ke kampus ya?” Tawar Dien kepada Helena. “Tidak perlu, kak. Aku akan pergi bersama Leonard saja.” Balas Helena menolak dengan senyuman ramah. “Tapi…” Dien hendak protes, namun Helena menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan. “Baiklah. Jaga dirimu, jika terjadi sesuatu hubungi kakak.” Dien hanya bisa menghela nafas berat dan membiarkan Helena pergi bersama Leonard. “Terimakasih, kak.” Ucap Helena tersenyum. “Kakak, kami pergi…” Ucap Leonard berinisiatif mengambil tangan Dien dan mencoba meletakkannya di keningnya. Dien dengan cepat dan kasar menarik tangannya, lalu menatap tajam Leonard yang sedikit kaget dan marah. Dien tampaknya tidak peduli dengan ramah-tamah Leonard si playboy. Pemuda itu lebih memilih naik motor bututnya, dan menendang engkol hingga mesin motor hidup dan meraung memekakkan telinga. Dien pergi dan benar-benar mengabaikan keberadaan Leonard yang tersenyum canggung. “Sumbing sialan! Udah sumbing, jelek, tidak berguna, pengangguran, beban keluarga, sombong lagi. Jika bukan karena Helena yang cantik, aku tidak sudi dekat-dekat denganmu.” Maki Leonard dalam hati, namun diluar masih tersenyum ramah. “Kakakku memang seperti itu, jangan diambil hati ya sayang.” Ucap Helena tersenyum canggung. Leonard yang dongkol cepat-cepat mengubah suasana hatinya dan tersenyum ramah kepada Helena. “Tidak masalah sayang. Aku mengerti kekhawatiran kak Dien, karena aku juga memiliki seorang adik perempuan. Wajar saja seorang kakak mengkhawatirkan adik perempuannya.” Balas Leonard dengan senyuman ramah. Helena menyunggingkan senyum menawan melihat respon Leonard. “Sebenarnya kak Dien mau kemana, kenapa begitu terburu-buru?” Tanya Leonard basa-basi saja. “Entahlah! Ayo kita ke kampus, takutnya kita telat.” Balas Helena sembari melihat jam handphone. Leonard melihat jam tangan yang melingkar indah di tangan kanannya, lalu mengangguk dan segera masuk ke dalam mobil mewahnya yang hitam mencolok. Leonard menghidupkan mobil, lalu melajukan mobil mewahnya untuk membelah jalanan kota menuju kampus mereka. Danau Liverl, Kota Selabatu. Dien Moretz mengunjungi danau Liverl yang sudah banyak pengunjung, lalu duduk di salah satu kursi yang disediakan oleh pengelola danau yang sangat indah tersebut. Dien melihat matahari senja yang perlahan-lahan tenggelam, seakan-akan matahari tersebut masuk ke dalam danau yang cukup luas tersebut. Dien menatap layar handphone dan terus mencari lowongan pekerjaan di aplikasi yang katanya menyediakan berbagai lowongan kerja. Dua jam berlalu dalam kesunyian, Dien sudah melempar belasan lamaran di situs pekerjaan dan hanya menunggu respon dari pihak HRD perusahaan. “Bahkan di dunia iklan lowongan pekerjaan ada penipuan.” Batin Dien menyesap kopi pahit yang sebelumnya dipesan. “Apa yang mereka dapatkan dengan menipu para pengangguran yang sedang mencari kerja? Apakah begitu menyenangkan mempermainkan para pencari kerja? Terkutuk! Sialan!” Umpat Dien emosi melihat beberapa lowongan kerja scam atau penipuan. Dien terus men-scroll layar HP yang menampilkan situs pencari kerja. Hingga pada akhirnya Dien tertarik dengan sebuah iklan yang menampilkan lowongan kerja sebagai Penjaga Malam. “Penjaga Malam? Satpam malam?” Batin Dien menduga Penjaga Malam adalah satpam malam. Dien dengan penasaran membuka iklan lowongan kerja tersebut. “Apa-apaan ini? Mereka memiliki niat tidak sih mencari pekerja?” Ucap Dien melihat isi iklan tersebut. Dimana iklan tersebut hanya memiliki dua syarat bagi para pendaftar, yaitu bersedia menjadi praktisi spiritual dan melawan roh jahat atau monster. Hanya dua syarat itu yang terpampang di situs. Alamat kantor dan jenis perusahaan tidak ada informasinya sama sekali. Sekali lihat saja, orang tahu bahwa lowongan kerja tersebut adalah sebuah penipuan. “Jika berminat klik link dibawah.” Gumam Dien membaca petunjuk dan melihat ke bawah, benar saja ada link situs atau semacamnya. Dien bengong sesaat melihat link tersebut dan mencengkram tangannya hingga hampir meremukkan handphone. “Hanya orang bodoh yang percaya iklan ini.” Teriak Dien marah, dan membuat semua orang menatapnya. Dien hanya bisa tersenyum canggung dan meminta maaf berulang kali. “MONSTER!!!” Pekik seseorang dengan sangat kencang. Semua orang kaget mendengar suara teriakan yang tiba-tiba, dan dengan naluri mereka menoleh ke arah sumber suara teriakan nyaring tersebut. Bersambung.Pak tua Davin tersenyum mengejek menangkis panah darah Dien dengan tangan berselimut energi spiritual. Panah darah Dien terpecah menjadi beberapa panah yang lebih kecil dan berusaha masuk ke dalam tubuh pak tua, namun tidak berhasil karena kulit berselimut aura pak tua Davin terlalu kuat. “Panah darah yang sangat lemah. Bahkan anjing pun tidak akan mati terkena panah darah selemah itu.” Ucap pak tua Davin mengejek, lalu mengangkat jarinya sedikit keatas. “Kamu ingin tahu perbedaan kita? Kamu ingin tahu perbedaan teknik bawaan darah dan teknik sihir darah? Akan aku tunjukkan perbedaannya kepadamu, bocah!” Ucap Davin penuh kesombongan, lalu mengangkat jari telunjuknya. Dien tiba-tiba merasakan kesakitan di sekujur tubuhnya, seakan-akan sel darahnya terganggu. “Uwek!” Dien muntah darah, lalu memejamkan mata melihat apa yang terjadi di dalam tubuhnya. Dien melihat darahnya berubah menjadi duri tajam yang menusuk organ dalamnya sendiri.“Apa yang terjadi?” Tanya Dien melihat sekujur t
Jalan Perbatasan, Tengah Hutan.Di perbatasan kota Selabatu dan kota Heywan terlihat beberapa orang memukul dua orang di tengah jalan, lalu menyeret mereka masuk ke dalam hutan untuk kembali dipukul. Dua orang malang itu adalah Leonard dan Helena yang diculik sekelompok orang atas perintah Hazib Situzoran, seorang tuan muda kaya raya yang beberapa waktu lalu ditabrak oleh Helena dan Leonard. Mereka dipukul, ditendang, dijambak, hingga disundut bara api rokok dalam pencahayaan yang berasal dari lampu mobil-mobil sekelompok penculik tersebut. “Tolong… berhenti! Sakit sekali!” Mohon Leonard melindungi kepalanya dengan dua tangannya. “Ampun… tolong ampuni aku!” Pinta Leonard memohon ampun, namun beberapa orang itu terus menendangnya hingga terhempas membentur pohon besar. “Tolong… Tolong aku!” Mohon Helena yang babak belur dihajar. “Tolong aku! Kamu juga seorang wanita!” Mohon Helena sembari merangkak menuju kaki seorang wanita yang menyaksikan dalam diam. Wanita itu membuang muka d
Dien menunggu munculnya iblis di sebuah warung yang tidak jauh dari gang sempit di jalan pedagang nomor 2 tersebut. Waktu terus berlalu dan tidak ada keanehan apapun di gang sempit tersebut. Tanpa terasa hari sudah malam, Dien terus menunggu dan tidak melihat iblis tersebut. Dien dari waktu ke waktu hanya melihat beberapa orang yang mabuk lewat dan kencing sembarangan di dinding gang sempit tersebut. Beberapa orang yang dikejar gelandangan yang marah karena kencing sembarangan. Dien bahkan melihat beberapa pasangan mesum keluar-masuk gang sempit yang dihuni para gelandangan. “Sepertinya iblis itu tidak berburu manusia malam ini.” Gumam Dien melihat jam handphone yang menunjukkan pukul 12 malam. Pemilik warung dari waktu ke waktu mencuri senyum kepada Dien. Pria tua itu jelas berada di dalam pengaruh topeng wajah tanpa wajah yang tidak Dien tekan. Dien sendiri risih karena terus dilihat oleh pria tua tersebut. Terlebih pria tua itu melihat Dien dengan penuh kekaguman. Selain pria tu
Di suatu ruangan yang remang-remang terlihat seorang pria (George) menyantap sepotong daging mentah. Pria berambut cepak dan berwarna merah itu tampak begitu menikmati daging mentah tersebut. Habis sepotong daging, pria itu langsung mengambil daging mentah yang ada di sampingnya lalu memakannya dengan penuh kenikmatan. “Enak! Enak! Enak!”“Ini sangat enak!” Ucap George sangat menikmati daging mentah tersebut. BRAK! Tiba-tiba pintu ruangan luas namun remang-remang itu ditendang terbuka oleh seorang pria berjubah hitam (Ludza). Pria berjubah hitam itu menatap George yang sangat menikmati daging mentah, lalu menghindari lampu ruangan yang jatuh menimpanya. “George malam ini sebaiknya kamu jangan berburu manusia lagi. Orang-orang itu mulai mengendus keberadaan kita. Untuk sementara waktu kita sembunyi dulu, agar rencana besar yang mulia berjalan dengan sempurna tanpa kendala.” Ucap Ludza melambaikan tangan ringan, membuat lampu yang hancur perlahan-lahan menyusun sendiri dan menjadi l
Dien pulang larut malam. Dia bertemu ibu yang menunggunya di ambang pintu, wanita tua itu tersenyum hangat melihat kedatangan Dien. Wajah keriputnya yang pucat pasi menjadi cerah ketika melihat Dien pulang. Melihat ibunya, Dien tersenyum, lalu menyerahkan buah-buahan yang dibelinya kepada ibu yang
Kantor kepolisian, kota Selabatu.Dien Moretz keluar dari markas pasukan malam yang berada di bawah tanah kantor kepolisian kota Selabatu. Dia bertemu beberapa polisi yang berlalu-lalang, melihat beberapa polisi yang bermain judi, melihat beberapa polisi tidur di jam kerja, melihat beberapa polisi
Setelah ledakan berakhir, kapten Waden menarik sihir ratusan tombak tanah raksasa miliknya, membuat matahari yang tertutup tombak tanah raksasa kembali menyinari area pertarungan, dan terlihatlah area tersebut sudah menjadi kawah besar yang sangat dalam. Dien terlihat terluka bakar parah akibat le
Luke bertahan dengan perisai kura-kura, sebuah senjata sihir tipe pertahanan yang dia miliki. Luke dengan cepat mengambil gulungan segel yang tergeletak di lantai, karena terlalu terburu-buru mengeluarkan perisai kura-kura, lalu memasukkannya ke dalam kantong celana depan.BANG! Dien sudah di depa






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan