Masuk
Kota Selabatu, Kerajaan Keleztial.
Dien Moretz menatap lelah foto keluarga yang tergantung di dinding ruang tamu. Terlihat lima orang di dalam foto tersenyum penuh kebahagiaan, terutama pria sumbing yang mengenakan toga wisudawan yang menjadi tokoh utama di foto tersebut. Foto itu menjadi saksi abadi kesuksesan seorang mahasiswa, yang berhasil menyelesaikan pendidikannya di universitas dan resmi menjadi seorang sarjana muda. “Sudah satu tahun berlalu, namun aku masih belum mendapatkan pekerjaan. Aku masih menjadi beban ayah dan ibu. Gelarku sebagai sarjana Administrasi Publik seakan-akan sebuah gelar yang tidak berguna. Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan agar mendapatkan pekerjaan. Sekarang aku benar-benar sangat putus asa. Ingin rasanya aku bunuh diri dan pergi saja dari dunia terkutuk ini.” Gumam Dien, lalu meletakkan map amplop kuning di atas meja. Dien terlihat sangat lelah, karena untuk kesekian kalinya dia gagal dalam wawancara kerja. “Kenapa aku tidak mati saja? Toh, hidup pun tiada gunanya.” Gumam Dien meneteskan air mata, dan mempertanyakan alasan kenapa dia masih hidup. Dien dengan lelah berbaring di sofa, lalu perlahan-lahan menutup mata dan mencoba untuk tidur di kursi sofa ruang tamu. “Dien, jemput adikmu di sekolah! Ibu tidak bisa menjemput adikmu, karena ibu sedang memasak.” Pekik ibu yang sibuk memasak di dapur. Dien mengernyitkan dahi mendengar suara teriakan samar seseorang, sebuah suara yang akrab di telinganya. “Dien! Jemput adikmu di sekolah!” Pekik ibu sedikit lebih keras. Dien yang baru saja tertidur segera membuka matanya dengan lelah, lalu melihat jam handphone yang menunjukkan pukul 13.11 menit. Saat itulah Dien menyadari bahwa dia sudah tertidur selama dua jam. “Tidur pun rasanya begitu singkat. Benar-benar menyedihkan.” Gumam Dien duduk merenung untuk sesaat. “Dien! Kau mendengar ibu?” Pekik ibu nyaring dan diiringi langkah kaki. Dien menghela nafas berat, dan dengan malas segera berdiri. Terlihat ibu tiba-tiba muncul di depan pintu dengan membawa spatula yang dilumuri kuah santan. Tatapannya tajam menembus jiwa, seakan-akan ingin memukul orang. “Dien! Apakah kamu mendengar ibu? Jemput adikmu!” Perintah ibu dengan raut wajah marah dan kesal. “Iya!” Pekik Dien malas dan beranjak pergi ke kamar mandi. Ibu melihat Dien yang pergi ke kamar mandi dengan kesal. Dien mengusap wajahnya dengan air dingin dan membasahi rambutnya, lalu segera pergi ke halaman rumah dimana motornya terparkir. Pemuda itu dengan malas menendang engkol motornya beberapa kali, namun motor butut tersebut belum juga hidup. BROONG! Setelah usaha yang cukup keras, motor berhasil hidup dan meraung ganas di halaman rumah. Dien dengan cepat menarik gas untuk menuju sekolah adiknya yang berada cukup jauh dari rumah. Baru saja keluar halaman rumah, dia dikejutkan dengan kedatangan seorang anak laki-laki berusia kurang-lebih 13 tahun. Anak itu adalah Leon Moretz, adiknya sekaligus orang yang akan dijemput. “Leon, kamu sudah pulang?” Tanya Dien dengan senyuman canggung. Leon menatap Dien dengan malas, lalu masuk ke dalam rumah tanpa menjawab. Terlihat jelas Leon sangat tidak menghargai Dien sebagai kakaknya. “Adik, maafkan kakak karena lambat menjemputmu.” Ucap Dien meminta maaf dengan tulus. Leon tidak menjawab, lalu menutup pintu rumah dengan bantingan keras. “Sabar Dien, orang tidak berguna sepertimu memang pantas tidak dihargai, bahkan oleh adik sendiri.” Batin Dien berkecil hati, lalu mematikan mesin motornya. Tiba-tiba di kejauhan terdengar suara deru mesin mobil sport mendekat. Dien dengan penasaran menoleh untuk melihat mobil sport berwarna hitam tersebut. Mobil itu bergerak mendekati rumah, lalu berhenti tepat di samping Dien yang sudah menebak siapa yang datang. Seorang pemuda dengan langkah berwibawa dan sok keren keluar dari mobil, lalu tersenyum ramah kepada Dien sembari menjulurkan tangan meminta salaman. “Siang kak!” Sapa sang pemuda. Melihat wajah pemuda itu, Dien langsung mengenalinya. Namanya Leonard James, tuan muda kedua keluarga James, sebuah keluarga kaya raya dan cukup berpengaruh di kota Selabatu. Leonard James sendiri memiliki perawakan tinggi besar, berkulit sawo matang, tidak terlalu berotot, wajah yang terbilang cukup tampan, dan sedikit narsis. Rumornya Leonard James memiliki sifat playboy, suka bermain wanita, dan seorang penjudi dan pemabuk. “Sore!” Balas Dien singkat saja dengan wajah masam dan tidak menyambut uluran tangan Leonard. Leonard tersenyum canggung dan menarik kembali tangannya yang melayang cukup lama. Pemuda narsis dan sedikit menyilaukan itu dengan ragu bertanya. “Helena ada kak?” “Tidak ada!” Balas Dien ketus. Tepat pada saat itu, Helena Moretz yang mengenakan celana jean dan baju hitam tanpa lengan (menyerupai tanktop) keluar dari rumah dengan langkah anggun sembari melemparkan senyuman menawan kepada Leonard dan Dien. Helena terlihat menggunakan make up yang sederhana, tidak terlalu mencolok dan tebal. Sebuah kalung dengan bentuk “H&L” miring, menggantung indah di leher wanita cantik tersebut. Melihat sang adik yang terlihat sangat cantik dan anggun, Dien hanya bisa menghela nafas berat. “Kak, aku akan pergi ke kampus bersama Leonard.” Ucap Helena mengulurkan tangan halusnya. Dien menatap Helena, lalu menyambut uluran tangannya. Helena dengan senyuman menawan meletakkan tangan Dien di keningnya sesaat, lalu pergi masuk ke dalam mobil Leonard yang pintunya dibuka oleh Leonard sendiri. Dien menatap tajam Leonard yang berlari ke arahnya dan meminta salam pamit. “Helena, kakak antar kamu ke kampus ya?” Tawar Dien kepada Helena. “Tidak perlu, kak. Aku akan pergi bersama Leonard saja.” Balas Helena menolak dengan senyuman ramah. “Tapi…” Dien hendak protes, namun Helena menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan. “Baiklah. Jaga dirimu, jika terjadi sesuatu hubungi kakak.” Dien hanya bisa menghela nafas berat dan membiarkan Helena pergi bersama Leonard. “Terimakasih, kak.” Ucap Helena tersenyum. “Kakak, kami pergi…” Ucap Leonard berinisiatif mengambil tangan Dien dan mencoba meletakkannya di keningnya. Dien dengan cepat dan kasar menarik tangannya, lalu menatap tajam Leonard yang sedikit kaget dan marah. Dien tampaknya tidak peduli dengan ramah-tamah Leonard si playboy. Pemuda itu lebih memilih naik motor bututnya, dan menendang engkol hingga mesin motor hidup dan meraung memekakkan telinga. Dien pergi dan benar-benar mengabaikan keberadaan Leonard yang tersenyum canggung. “Sumbing sialan! Udah sumbing, jelek, tidak berguna, pengangguran, beban keluarga, sombong lagi. Jika bukan karena Helena yang cantik, aku tidak sudi dekat-dekat denganmu.” Maki Leonard dalam hati, namun diluar masih tersenyum ramah. “Kakakku memang seperti itu, jangan diambil hati ya sayang.” Ucap Helena tersenyum canggung. Leonard yang dongkol cepat-cepat mengubah suasana hatinya dan tersenyum ramah kepada Helena. “Tidak masalah sayang. Aku mengerti kekhawatiran kak Dien, karena aku juga memiliki seorang adik perempuan. Wajar saja seorang kakak mengkhawatirkan adik perempuannya.” Balas Leonard dengan senyuman ramah. Helena menyunggingkan senyum menawan melihat respon Leonard. “Sebenarnya kak Dien mau kemana, kenapa begitu terburu-buru?” Tanya Leonard basa-basi saja. “Entahlah! Ayo kita ke kampus, takutnya kita telat.” Balas Helena sembari melihat jam handphone. Leonard melihat jam tangan yang melingkar indah di tangan kanannya, lalu mengangguk dan segera masuk ke dalam mobil mewahnya yang hitam mencolok. Leonard menghidupkan mobil, lalu melajukan mobil mewahnya untuk membelah jalanan kota menuju kampus mereka. Danau Liverl, Kota Selabatu. Dien Moretz mengunjungi danau Liverl yang sudah banyak pengunjung, lalu duduk di salah satu kursi yang disediakan oleh pengelola danau yang sangat indah tersebut. Dien melihat matahari senja yang perlahan-lahan tenggelam, seakan-akan matahari tersebut masuk ke dalam danau yang cukup luas tersebut. Dien menatap layar handphone dan terus mencari lowongan pekerjaan di aplikasi yang katanya menyediakan berbagai lowongan kerja. Dua jam berlalu dalam kesunyian, Dien sudah melempar belasan lamaran di situs pekerjaan dan hanya menunggu respon dari pihak HRD perusahaan. “Bahkan di dunia iklan lowongan pekerjaan ada penipuan.” Batin Dien menyesap kopi pahit yang sebelumnya dipesan. “Apa yang mereka dapatkan dengan menipu para pengangguran yang sedang mencari kerja? Apakah begitu menyenangkan mempermainkan para pencari kerja? Terkutuk! Sialan!” Umpat Dien emosi melihat beberapa lowongan kerja scam atau penipuan. Dien terus men-scroll layar HP yang menampilkan situs pencari kerja. Hingga pada akhirnya Dien tertarik dengan sebuah iklan yang menampilkan lowongan kerja sebagai Penjaga Malam. “Penjaga Malam? Satpam malam?” Batin Dien menduga Penjaga Malam adalah satpam malam. Dien dengan penasaran membuka iklan lowongan kerja tersebut. “Apa-apaan ini? Mereka memiliki niat tidak sih mencari pekerja?” Ucap Dien melihat isi iklan tersebut. Dimana iklan tersebut hanya memiliki dua syarat bagi para pendaftar, yaitu bersedia menjadi praktisi spiritual dan melawan roh jahat atau monster. Hanya dua syarat itu yang terpampang di situs. Alamat kantor dan jenis perusahaan tidak ada informasinya sama sekali. Sekali lihat saja, orang tahu bahwa lowongan kerja tersebut adalah sebuah penipuan. “Jika berminat klik link dibawah.” Gumam Dien membaca petunjuk dan melihat ke bawah, benar saja ada link situs atau semacamnya. Dien bengong sesaat melihat link tersebut dan mencengkram tangannya hingga hampir meremukkan handphone. “Hanya orang bodoh yang percaya iklan ini.” Teriak Dien marah, dan membuat semua orang menatapnya. Dien hanya bisa tersenyum canggung dan meminta maaf berulang kali. “MONSTER!!!” Pekik seseorang dengan sangat kencang. Semua orang kaget mendengar suara teriakan yang tiba-tiba, dan dengan naluri mereka menoleh ke arah sumber suara teriakan nyaring tersebut. Bersambung.Kapten Medi mendengar penjelasan Dien Moretz tentang penyerangan yang mereka bertiga alami di bundaran simpang lima gajah putih. Kapten sesekali mengetuk rokok di asbak, membuang abu rokoknya yang sudah berlebihan. Pria itu mengangguk dan merenung mendengar penjelasan Dien yang sangat rinci.“Kekuatan apa yang orang itu gunakan?” Tanya kapten menghisap rokok, lalu menyemburkan asapnya beberapa detik kemudian. Dien tampak berpikir dan mengingat-ingat pertarungan. “Dia bisa menggunakan sihir regenerasi, dan dapat mengubah hewan menjadi monster brutal. Aku melihatnya mengubah beberapa kelabang menjadi monster brutal tingkat 2-4.” Balas Dien apa adanya setelah mengingat-ingat. Kapten mengangguk, dan membuang abu rokok ke asbak. “Apakah dia memiliki rekan atau orang yang membantunya?” Tanya kapten memperbaiki duduknya. “Tidak! Dia tidak memiliki rekan. Orang yang bernama Demma itu menyerang kami seorang diri.” Balas Dien yakin. Kapten Medi menunjukkan lukisan yang dia kerjakan saat m
Taksi melaju dengan sangat kencang, melewati beberapa mobil yang terjebak kemacetan, dan hampir bertabrakan dengan kendaraan yang berada di lawan arah. Aamon, Freya, dan Dien tampak santai di dalam mobil, mereka seakan-akan sudah terbiasa dengan cara pengemudi taksi melaju di jalan raya. Sopir taksi berbelok ke gang sempit, lalu keluar gang di sisi lainnya, menerobos lampu merah, dan berhenti di bundaran simpang lima tugu gajah putih. Terdengar suara klakson bersahutan, karena taksi menghalangi jalan. Sopir taksi yang berambut keriting itu tersenyum kecil, dan meledakkan mobil dengan energi spiritualnya yang sangat kuat. Mobil taksi itu meledak dan menghancurkan kendaraan yang ada disekitarnya, membuat suasana jatuh dalam kepanikan dan ketakutan. Dien dan kedua rekannya berhasil menyelamatkan diri dengan melapisi tubuh mereka dengan energi spiritual. “Selamat datang di acara pertarungan antar praktisi spiritual, para praktisi spiritual resmi sekalian. Acara ini aku buat khusus untu
Nicholas membawa Dien berkeliling markas tersembunyi pasukan malam, untuk mengenal lebih dekat beberapa hal yang ada di pasukan malam. Dia membawa Dien berkeliling di divisi Alkimia, ruang komunikasi dan informasi, ruang perawatan, ruang makan, hingga akhirnya sampai di ruang gudang senjata sihir pasukan malam cabang kota Selabatu.Di dalam ruangan gudang senjata sihir terlihat ratusan pedang, tombak, busur, tameng, palu, senjata api, hingga sepatu sihir tersusun rapi di tempatnya. Nicholas menyentuh sebuah pistol dan berkata dengan senyuman. “Ini adalah gudang senjata sihir biasa.” Nicholas mengambil pistol, lalu terlihat sebuah tombol merah di dinding tempat pistol ditempatkan sebelumnya. Dia menekan tombol, membuat dinding yang dipenuhi senjata api itu terbuka dan memperlihatkan ruangan tersembunyi lainnya.Ruangan itu terlihat suram dan hanya berisi belasan senjata sihir. Empat lilin terlihat di empat penjuru ruangan, menjadi satu-satunya penerangan di dalam ruangan. “Ini adala
Setelah melaporkan keberhasilan misi mereka di desa Sukahati, Dien, Freya, dan Aamon pulang ke rumah masing-masing. Tiga orang itu pulang tanpa saling bertegur sapa, tanpa mencoba mengakrabkan diri, atau hanya sekedar berbasa-basi. Mereka bertiga tampak seperti orang yang tidak saling kenal. Dien kembali jalan-jalan di pasar tradisional untuk menemui nenek Rose, demi mendapatkan beberapa pencerahan tentang ilmu ramalan. Setelah berjalan dan menelusuri pasar selama satu jam, Dien akhirnya melihat nenek Rose yang membuka lapak di pinggir gang sempit. “Yoo, kita bertemu lagi anak muda. Tampaknya kamu mendapatkan senjata sihir yang sangat unik dan berbahaya.” Ucap nenek Rose menyapa Dien yang mendekat. Dien tidak terkejut nenek Rose mengenalinya yang sudah memiliki wajah sempurna tanpa cacat. Dien tersenyum dan memasukkan beberapa lembar uang ke mangkuk yang menampung uang di depan nenek Rose. “Guru, siapa yang menjaga rahasia ilahi?” Tanya Dien penasaran. Nenek Rose tersenyum, menat
Steven bertepuk tangan, membuat dinding tanah muncul di kedua sisi Dien dan menggepreknya. Dien menahan dua dinding tanah yang menekannya dari kedua sisi, disaat yang sama Steven melancarkan serangan petir berbentuk naga menerkam.Dien terkena serangan petir dengan sangat telak. Serangan petir itu membuatnya terluka cukup parah, dan tidak mampu menahan dua dinding tanah yang mengapitnya. Dua dinding tanah langsung menghimpit Dien, seperti tangan menepuk nyamuk. Dien merasakan tulang-tulangnya remuk, tangannya patah, dan darahnya dipaksa keluar dari setiap lubang yang ada di tubuhnya. Steven dengan acuh membersihkan debu yang menempel di bajunya, lalu melangkah melewati Dien yang terhimpit dua dinding tanah. “Seharusnya kamu tidak mencoba menghentikanku.” Ucap Steven melirik sekilas Dien yang pingsan. Tebasan energi! Tiba-tiba sebuah tebasan energi hampir memotong tubuh atas Steven. Beruntungnya pria itu berhasil menghindar dengan membungkukkan badan. Sambaran petir! Steven melep
Setelah mendapatkan ganti rugi dari Freya, Aamon mengejar Steven dengan panduan pak tua di dalam tubuhnya. Aamon bergerak lincah mengikuti petunjuk pak tua, dia benar-benar percaya dengan orang tua yang berada di alam bawah sadarnya tersebut. “Kakek Zu, apa kamu tahu kemampuan yang dimiliki wanita itu?” Tanya Aamon melompati dahan pohon, lalu mendarat di atap sebuah rumah. Rumah itu adalah rumah dimana Dien melakukan ritual mengintip rahasia ilahi, dan berlatih mengolah energi spiritual. Aamon dapat melihat pertarungan Dien melawan Steven yang tidak seimbang, karena Steven mampu menggunakan sihir yang merupakan keunggulan praktisi lima elemen. “Wanita itu sepertinya mewarisi kekuatan dewa.” Ucap kakek Zu setelah diam sesaat. “Kekuatan dewa?” Tanya Aamon mengerutkan keningnya. “Kakek tidak berusaha menipuku, kan?” Tanya Aamon memastikan. “Anggap saja seperti itu." Balas kakek Zu santai dan tidak peduli. Aamon terdiam, melihat pertarungan sengit Dien dan Steven. Rumah warga, tid







