MasukDanau Liverl, Kota Selabatu.
Semua orang kaget mendengar suara teriakan yang lantang dan disertai dengan ketakutan. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk menemukan darimana sumber suara teriakan berasal. Suara teriakan ketakutan itu berasal dari seorang pria yang berada di ujung danau dekat semak-semak. Pria itu tampak baru keluar dari semak-semak dan mencoba menjauh dari semak-semak yang tampak bergoyang-goyang. Semua orang hanya bisa bengong dan heran, namun melihat pria tersebut setengah telanjang, mereka langsung paham bahwa dia baru saja berbuat mesum di semak-semak tersebut. “Setelah selesai enak-enak, kamu langsung menyebut kekasihmu sebagai monster. Apakah jonimu digigit olehnya? HAHA.” Ucap seorang pria dengan bercanda dan tertawa. “HAHA" “HAHA" “HAHA” Sontak candaan itu mengundang gelak tawa para pengunjung. Saat semua orang tenggelam dalam gelak tawa, tiba-tiba seekor kelabang raksasa keluar dari balik semak-semak sambil mengunyah seorang wanita setengah telanjang. Melihat adegan mengerikan itu, untuk sesaat semua orang bingung dan tidak tahu bagaimana harus merespon. Dien ngeri melihat kelabang raksasa yang sedang mengunyah mangsanya tersebut. Dia tidak bisa membantu sama sekali, dan memilih melangkah kabur menjauh. Dien tahu bahwa berdiam lebih lama akan membuatnya menjadi mangsa selanjutnya. “Apa itu?" “Monster!!!” Seseorang pada akhirnya berbicara dengan nada ketakutan dan menunjuk monster kelabang raksasa tersebut. Seketika semua orang panik, dan beberapa lainnya sudah berlari menjauh dengan ketakutan. Kelabang raksasa itu menelan sang mangsa wanita, lalu mencaplok kepala pria yang merupakan pasangan mesum sang wanita. “MONSTER!!!” “ADA MONSTER!!!" “LARI!!!” Orang-orang mulai berteriak dan lari menjauh tanpa memperdulikan apapun, mereka tanpa ampun menabrak beberapa dagangan pedagang yang menghalangi jalan. Beberapa orang terjatuh ditabrak atau didorong dari belakang oleh orang lain, dan beberapa orang lainnya terinjak-injak akibat terjatuh. Monster kelabang bergerak cepat dan memangsa orang-orang yang bernasib sial tersebut. “Bagaimana bisa? Bagaimana bisa ada kelabang sebesar itu?” Ucap Dien berusaha berdiri, lalu ditabrak hingga terjatuh dan terinjak-injak. Orang-orang tidak peduli dengannya, bahkan beberapa orang sengaja mendorongnya yang berusaha keras berdiri kembali. Dien pada akhirnya berhasil berdiri dan lari menjauh, setelah memukul beberapa orang nakal yang berusaha mendorongnya terjatuh. Tabrakan keras! Seseorang kembali menabrak Dien dari belakang dan membuatnya jatuh tersungkur dengan kepala lebih dulu. Orang yang menabrak, ternyata seorang wanita muda dengan rambut hitam yang dikepang dua dan beberapa helai rambut berwarna pink. “Sumbing sialan! Jangan halangi jalan!” Umpat wanita tersebut sembari mendorong Dien yang berusaha berdiri. Dien mau tidak mau harus kembali jatuh dan terjatuh lagi ketika seseorang menabrak, menginjak, bahkan sengaja mendorongnya yang kesusahan. Hingga pada akhirnya monster kelabang sudah berada di hadapannya dengan mengunyah seorang pria muda. Darah merah kental dari pria yang masih hidup tersebut terciprat di mana-mana, dan membasahi wajah Dien dengan merah darah yang kental. Dien hanya bisa mendongak ketakutan melihat monster kelabang, sembari mengusap darah di wajahnya. Monster kelabang menelan mangsanya, lalu mencoba mencaplok kepala Dien yang terpaku dan ketakutan. Disaat-saat terakhir, Dien menghindar ke samping ketika monster kelabang mencoba menerkam kepalanya. Dien melepaskan tinju keras di punggung kepala, namun tampaknya monster kelabang tersebut tidak merasakan apapun. Monster kelabang raksasa berwarna biru kemerahan itu menatap Dien dengan tatapan haus darah dan kemarahan, seakan-akan tidak terima bahwa sang mangsa memukulnya. “Grhaaa!” Raung monster kelabang dan kembali mencoba memangsa Dien. Dien dengan cepat lari menjauh, lalu melompat ke samping menghindari terkaman dan bersembunyi di bawah kaki kursi. Dien yang berhasil menjauh dan lolos dari terkaman sang monster, membuat monster kelabang raksasa mengejar target lain. “Jangan…” “Tidak!!!” “Tolong aku…” Pekik para korban sebelum dimangsa monster kelabang raksasa. Dalam waktu singkat, 7 orang berhasil dimakannya. Monster kelabang dengan rakus memangsa orang-orang yang tidak sempat lari menyelamatkan diri, jatuh terinjak-injak, dan orang-orang yang diam terpaku. Pukulan! Pukulan! Tendangan! Pukulan! Sabetan! Tembakan! Tembakan! Beberapa orang mencoba melawan balik dengan memukul tubuh monster kelabang dengan kursi, pentungan, meja, batu, tendangan, hantaman tinju, sabetan senjata tajam, bahkan tembakan pistol ilegal. Sayangnya bagi monster kelabang, serangan mereka terasa gatal saja. “Monster mengerikan! Kita tidak bisa melawannya! Kita tidak bisa melawannya!!!” Pekik salah satu penyerang memilih kabur menjauh, namun ekor monster kelabang menghantamnya hingga terpental membentur dinding hingga kepalanya pecah. Setelah membunuh dan memakan semua orang yang melawan balik, monster kelabang bergerak cepat menyerang orang-orang yang berlarian menjauh. “Tolong! Tolong! Seseorang tolong aku!” Pekik wanita kepang dua yang sebelumnya menabrak Dien. Wanita itu tampaknya kesulitan berlari karena kakinya keseleo dan sangat sakit meskipun digerakkan sepelan mungkin. “Wanita sialan itu… baguslah. Mati saja kau pelacur sialan!” Umpat Dien yang masih dendam. Melihat wanita itu sangat kesusahan, Dien tidak bisa membantu dan hanya bisa tersenyum senang. Dien berharap wanita itu segera dimangsa monster kelabang raksasa tersebut. Wanita itu merangkak menjauh sembari menahan sakit di kakinya. Monster kelabang mendekat dan seperti mempermainkan sang mangsa. Monster kelabang mendekat satu langkah ketika wanita tersebut menjauh satu langkah. Wanita itu sangat ketakutan, sementara sang monster menatapnya dengan tatapan superior. “Tolong aku! Siapa saja tolong aku!” Teriak wanita tersebut meminta tolong. Beberapa orang kasihan melihatnya, namun mereka tidak bisa menolong karena takut menjadi santapan monster kelabang. Mereka tidak berniat untuk menukar nyawa demi menyelamatkan wanita tersebut, sekalipun wanita itu memiliki kecantikan yang luar biasa. Mereka malah memanfaatkan fokus kelabang kepada wanita itu untuk menjauh dari danau Liverl yang berubah menjadi tempat pembantaian. “Kelabang jangan makan aku. Daging ku tidak enak! Makan mereka saja… makan mereka saja. Dagingku amis dan bau terasi. Jangan makan aku.” Mohon wanita tersebut penuh harap sembari menunjuk-nunjuk beberapa orang yang perlahan-lahan menjauh. “Tuhan tolong selamatkan aku. Aku mungkin bukan umat yang beriman, namun aku akan bertobat jika kamu menyelamatkanku dari monster ini.” Ucap wanita itu mulai berdoa dengan tulus. Monster kelabang tiba-tiba terdiam seakan-akan memberikan kesempatan wanita tersebut kabur. Alhasil wanita tersebut kabur dengan susah payah, namun monster kelabang dengan cepat bergerak mengejar dan dalam waktu singkat sudah menyusul. “Tidak!!!” Pekik sang wanita ketakutan melihat monster kelabang yang menerkamnya. Knalpot motor meraung! Pada akhirnya Dien tidak bisa membiarkan wanita itu begitu saja. Dien dengan cepat menghidupkan motor bututnya, lalu menarik gas hingga habis dan membuat motor tua itu meraung mengerikan memecah keheningan. Apa yang dilakukannya berhasil menarik perhatian monster kelabang. Dien memasukkan gigi dan membuat motornya melompat ke depan. Dien dengan susah payah mengendalikan motor yang melaju dengan kecepatan tinggi tersebut. Dien melompat melepaskan motornya ketika jarak mereka begitu dekat. Tabrakan keras! Alhasil motor Dien meluncur kencang dan menabrak monster kelabang hingga terpental jauh. “Terimakasih Tuhan! Terimakasih Tuhan!” Wanita muda itu bersyukur. “Sumbing tolong aku!” Pekik wanita itu meminta tolong. Dien menggendong wanita tersebut dan berlari menjauh. Monster kelabang pusing sedikit dan meraung marah, lalu bergerak cepat mengejar. Tiba-tiba monster kelabang berhenti dan langsung menerkam ibu-ibu yang asyik melakukan siaran langsung sembari sembunyi di bawah bangku taman, membuat beberapa perekam lainnya kabur ketakutan. “Bodoh sekali! Beberapa orang lebih memilih merekam video, atau melakukan siaran langsung daripada mencari tempat aman. Apakah mereka mengira, mereka memiliki banyak nyawa?” Ucap Dien tidak habis pikir dengan para penggila Fyp tersebut. Danau Liverl terlihat sudah sangat sepi, hanya ada Dien dan wanita berkepang dua yang digendongnya, serta beberapa pencari fyp yang ketahuan melakukan siaran langsung. “Haha. Ini adalah awal bagi monster menunjukkan eksistensinya di hadapan dunia. Aku ingin tahu apa yang akan dilakukan para praktisi untuk membendung informasi monster yang direkam langsung oleh warga? Apakah mereka akan mengatakan ini adalah hoax? Haha, tidak akan ada yang percaya jika perekamnya terbunuh, bukan?” Ucap seorang pria yang memakai topi bulat dan baju kantoran. "Apapun itu, aku akan memberikan kompensasi yang besar kepada keluarga mereka atas perjuangan mereka yang mempertaruhkan nyawa demi melakukan siaran langsung." Ucap pria berkulit sawo matang itu melihat para pencari Fyp yang dia sewa. Pria berambut keriting itu menoleh melihat Dien yang berlari sambil menggendong wanita berkepang dua. “Menarik! Pria sumbing itu memang baik hati atau sangat bodoh? Dia masih mencoba membantu orang yang menghinanya? Benar-benar tidak bisa dimengerti. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang dipikirkan si sumbing bodoh itu. Apakah dia berharap wanita itu akan menjadi pacarnya karena diselamatkan? Haha.” Gumam pria berambut keriting tertawa mengejek. Monster kelabang berhasil menyusul Dien, sementara Dien malah tersandung jatuh dan langsung berhadapan dengan monster kelabang raksasa. “Apa yang kau lakukan sumbing sialan! Kenapa kau jatuh? Ah… sakit sekali. Aduh.” Umpat wanita tersebut marah dan meringis kesakitan. “Dari semua opsi, kenapa kau mengirim pria sumbing bodoh ini untuk menyelamatkanku? YA TUHAN!” Pekik wanita tersebut menahan sakit dan menyalahkan Tuhannya. Sementara Dien hanya bisa ketakutan melihat monster kelabang yang menatapnya tajam dan bengis. Monster kelabang menatap Dien cukup lama, seakan-akan mengejek Dien yang tidak bisa lari lagi. Bersambung.Ribuan jiwa dan ratusan senjata tersegel menyerang Dien sesaat setelah pria itu melangkah masuk ke dalam ruangan penyimpanan senjata tersegel. Ribuan jiwa dan ratusan senjata tersegel itu tidak mampu menyentuh tubuh Dien, karena dihalangi oleh formasi segel jiwa. "Kamu memiliki waktu 30 menit untuk mendapatkan pengakuan senjata tersegel."Dien mengingat pesan kepala divisi sembari melihat berbagai senjata tersegel yang menyerangnya, namun mereka tidak bisa menyentuhnya berkat formasi segel jiwa. Dien melihat berbagai tombak, busur, pedang, pistol, palu, gada, cambuk, cakram, shuriken, perisai/armor, pisau, belati, keris, buku, dan berbagai jenis senjata lainnya. Dien melangkah ke depan, membelah ribuan jiwa dan ratusan senjata yang menghalangi jalannya. Dien melangkah hingga bertemu dengan sebuah buku usang yang berada di sudut ruangan berkabut tersebut. Dien melihat buku usang tersebut dengan tajam. Hatinya berkata bahwa buku usang itu merupakan senjata tersegel yang aman dan tida
Kemampuan istimewa:Manusia memiliki kecerdasan yang luar biasa, sebuah keistimewaan yang membuat manusia dapat meniru dan menciptakan apapun. Berkat kecerdasan inilah manusia mampu menciptakan berbagai teknik bela-diri, teknik penggunaan senjata, teknik sihir, ramuan sihir, senjata sihir, senjata tersegel, formasi sihir, teknologi canggih, hingga menciptakan ramuan yang dapat mencuri kekuatan bawaan monster sihir, dan lain sebagainya. Monster memiliki kemampuan memanipulasi energi alam dengan baik, sebuah kemampuan yang membuat monster dapat berevolusi ke bentuk yang lebih kuat lagi. Seperti berevolusi menjadi monster brutal, monster sihir, monster roh, hingga berevolusi menjadi iblis. Roh memiliki kemampuan dapat bersembunyi di dalam kegelapan dan bisa keluar-masuk dunia manusia dan dunia roh sesuka hati. Iblis memiliki kemampuan regenerasi super, dapat berubah bentuk menjadi apapun, dapat menyerap kekuatan orang lain, dan dapat membuat seseorang jatuh dalam kegelapan. Dengan kem
Roh jahat yang bernama Nadira itu berubah menjadi gumpalan energi hitam dan melepaskan diri dari cengkraman Dien. Roh itu muncul dibelakang dan melepaskan tiupan tembakan angin yang mampu melubangi tembok besi. Dien reflek menghindar dan melihat tembok rumah bolong akibat tembakan angin berbentuk lingkaran kecil tersebut. Dien kembali menghindari tembakan angin, lalu menangkis tinju tangan panjang, dan menangkis tendangan kaki yang memanjang.BANG! Dien merasakan tangannya seperti dihantam kereta api akibat menahan tendangan kaki memanjang tersebut. Dien terhempas membentuk aspal jalan dan disaat yang sama menerima serangan tembakan angin di perutnya, beruntungnya perutnya hanya memerah karena diperkuat energi spiritual. "Kekuatan roh tingkat 5?" Batin Dien menyadari lawannya merupakan roh tingkat 5.Dien mundur menjaga jarak, lalu menggumamkan mantra sihir Banaspati. "Sihir itu? Manusia pengganggu kau tidak akan bisa menggunakannya dihadapanku." Ucap roh jahat sudah berada di sam
Perumahan G15. Sebuah mobil taksi berhenti tepat di depan gerbang rumah mewah dengan dua lantai. Seorang perempuan muda dengan setelan baju formal khas pekerja kantoran keluar dari mobil taksi, lalu membayar biaya jasa transportasi antar-jemput tersebut. "Terimakasih." Ucap perempuan muda tersenyum, lalu pergi masuk ke dalam rumahnya. "Sama-sama nona." Balas supir tersenyum. Sopir taksi tersenyum menerima bayarannya, lalu melaju pergi meninggalkan perumahan elit tersebut. Karena hari sudah larut malam, perumahan G15 sudah sangat sepi, tidak ada seorangpun yang beraktivitas di luar rumah. Sopir taksi mengendarai mobilnya sembari bersiul, mencoba menghilangkan suasana hatinya yang tegang dan takut karena terlalu sepi. Sopir itu kaget dan banting setir ke samping kanan ketika melihat seorang anak kecil tiba-tiba muncul di depannya dan menghalangi jalan. BRAK! Terdengar suara benturan keras dengan darah terciprat membasahi kaca mobilnya dengan mengerikan. "Babi sialan!" Umpat supi
Rumah mewah. Seorang wanita tua yang tertidur lelap tiba-tiba membuka matanya karena merasakan energi jahat yang sangat pekat. Wanita tua itu bangun, lalu menoleh ke arah barat dan bergumam dengan tenang namun menghanyutkan. "Aura iblis yang mengerikan!" Ucap wanita tua, lalu beranjak dari ranjangnya dan bersiap untuk pergi ke sumber aura energi jahat. Perumahan G15. Dien pergi keluar rumah untuk melihat monster kambing yang sudah menjadi abu. Terlihat abu monster perlahan-lahan menyusun dan membentuk monster kambing kembali, namun kini monster tersebut berdiri dengan dua kaki. Melihat itu Dien tidak percaya, lalu mundur menjaga jarak. Monster kambing itu seketika menghilang dari kegelapan. Disaat yang sama tepat di bawah kaki Dien muncul lingkaran kegelapan, membuat Dien seketika tenggelam ke dalam lingkaran gelap tersebut. Dien merasa seperti ditarik kedalam air. Monster kambing menggigit kaki Dien dan menariknya agar masuk lebih dalam ke dalam lingkaran kegelapan. Dien d
Di kamarnya yang cukup luas, terlihat Dien duduk bersila sembari memejamkan mata, dan memasuki alam bawah sadarnya. Dien berniat berlatih teknik sihir guntur saketi sebagai persiapan melawan iblis yang bersembunyi di perumahan G15, sekaligus target ujian pemburu monster yang diberikan para petinggi pasukan malam. Alam bawah sadar Dien. Dien melihat gulungan teknik sihir guntur saketi yang sudah berada di alam bawah sadarnya. Gulungan itu memancarkan energi petir kuning yang sangat menyilaukan dan terus menyambar ke segala arah. Petir kuning itu menyambar Dien, membuat Dien mundur beberapa langkah. Jika Dien terkena sambaran petir itu, maka otaknya akan terluka akibat rohnya disambar petir di alam bawah sadarnya sendiri. "Itu berbahaya sekali." Gumam Dien melihat gulungan teknik sihir yang terus memancarkan petir kuning. Dien mengalirkan energi spiritual ke tubuhnya, memperkuat tubuhnya dengan energi spiritual yang dapat menahan serangan apapun. Dien melangkah menuju gulungan tekni







