Masuk"Apa yang sebenarnya sudah terjadi?" tanya Valerie.
Ia bangkit dari duduk secara perlahan. Kedua lututnya masih terasa lemas, hingga ia harus berpegangan pada meja panjang yang ada di depan. Setelah merasa cukup seimbang, ia menoleh ke kiri. Di sana terlihat rak-rak tinggi yang dipenuhi benda-benda dengan kemasan berwarna-warni yang tersusun sangat rapi. Setelah itu, Valerie menoleh ke kanan. Di sana, ada lemari kaca berisi botol dan kaleng dingin yang berdiri berjajar. Sementara itu, cahaya putih dari lampu-lampu di langit-langit membuat seluruh ruangan tampak sangat terang. Tatapannya kemudian berhenti pada sebuah cermin besar yang menempel di dekat rak. Valerie melangkahkan kaki secara perlahan. Dan berhenti tepat di depan cermin. Tubuhnya seketika langsung membeku. "Itu," gumam Valerie pelan, sambil menjulurkan tangan kanan ke depan. "Itu bukan aku!" Seketika, ia mundur beberapa langkah dan menurunkan tangan, saking kagetnya. Perempuan di dalam cermin itu, bukan Valerie Onderson. Itu, bukanlah wajah Permaisuri Omeland yang selama bertahun-tahun ditakuti para bangsawan. Dalam pantulan cermin itu hanya ada wajah perempuan muda berumur dua puluh tahunan. Wajahnya sangat cantik, warna kulit kuning langsat, dan rambut cokelat yang diikat tinggi. Perempuan itu juga mengenakan kemeja lengan pendek berwarna putih, celana panjang hitam, dan celemek kerja sederhana yang sama sekali asing bagi Valerie. Lalu, ia menoleh ke belakang untuk memastikan tidak ada siapapun dan kembali melihat cermin. Perlahan, Valerie mengangkat tangan kanan dengan sedikit kaku. Lalu, pantulan itu melakukan hal yang sama. "Tidak! Ini benar-benar aneh!" ucapnya pelan Valerie menyentuh pipi, dan pantulan itu ikut menyentuh pipi. Ia juga memegang kedua mata, hidung, bibir, rambut, dan kedua bahunya sendiri. Pantulan cermin itu pun ikut melakukan hal yang sama. "Ini bukan wajah dan tubuhku!" ucapnya, sambil menggelengkan kepala perlahan. Jantung Valerie berdetak semakin cepat. "Aku sudah mati. Lalu, kenapa sekarang bisa hidup lagi?" Belum sempat ia menemukan jawaban, suara bel pintu berbunyi. Seketika, Valerie langsung menoleh ke arah sumber suara. Pintu minimarket terbuka. Seorang perempuan cantik berambut pendek yang bernama Bianca, masuk dengan langkah tergesa-gesa. Di belakang Bianca, ada dua orang laki-laki yang ikut masuk sambil mengamati keadaan sekitar. Begitu melihat Valerie berdiri di depan cermin, langkah Bianca langsung melambat. "Serena!" panggil Bianca. Valerie sedikit mengernyit. Ia merasa kebingungan karena nama itu terasa asing. Sedangkan di sana, hanya ada mereka berempat. Bianca berhenti beberapa langkah di depannya. "Kamu," ucap Bianca lagi. Nafasnya terdengar lega. Lalu, ia tersenyum kecil. "Kamu masih hidup?!" "Tadi, aku bener-bener ngira kamu udah mati, Ser," lanjut Bianca. Valerie tidak menjawab dan tetap memandang Bianca dengan tatapan waspada. "Serena," gumamnya pelan, sambil mengerutkan kening. "Siapa Serena?" tanya Valerie. Bianca langsung terdiam sejenak dan tampak kebingungan mendengarnya. Suasana pun mendadak menjadi sunyi. "Kamulah! Siapa lagi!" jawab Bianca, akhirnya. Alis Valerie saling bertaut dan menunjuk dirinya sendiri. "Aku?!" Bianca menganggukkan kepalanya perlahan, seolah menjawab pertanyaan Valerie. "Kamu sebenarnya kenapa sih, Ser?" tanya Bianca, sambil berjalan mendekat. Valerie tidak menjawab, ia malah berjalan mundur perlahan. "Tadi, waktu aku dateng, kamu bener-bener nggak bernafas," ucap Bianca, pelan. "Apa kamu demam?" tanya Bianca lagi. Tanpa pikir panjang, ia mengangkat tangan dan hendak menyentuh dahi Valerie. Namun, dengan cepat Valerie langsung menepis tangan Bianca. Tatapannya berubah menjadi tajam. "Kurang ajar!" Seketika, Bianca langsung membeku. Valerie menunjuk ke arah Bianca. "Berani sekali kamu menyentuh seorang Permaisuri tanpa izin!" Ruangan kembali sunyi. Bianca menatap Valerie beberapa saat sambil mengerutkan kening. "Permaisuri?" "Iya!" jawab Valerie. Ia menegakkan tubuhnya. "Jadi, sadarlah dengan batasanmu!" "Kamu ini bicara apa sih, Ser? Jangan bercanda deh!" tanya Bianca. "Aku tidak sedang bercanda! Kamu itu sedang berbicara dengan Permaisuri Kekaisaran Omeland!" ucap Valerie. Bianca semakin kebingungan dan mengernyit. "Permaisuri apaan? Kamu ngomong apa, sih?" Valerie hendak menjawab. Namun, tiba-tiba saja kepalanya terasa sakit dan berdenyut hebat. "Ah!" Valerie memegang pelipis, lalu pandangan di depan matanya mulai berputar. Potongan-potongan ingatan yang sama sekali bukan miliknya bermunculan satu persatu dan membanjiri isi kepala Valerie. Seorang anak perempuan yang berlari di gang sempit, kematian orang tuanya, seragam sekolah, dan beranjak dewasa. Setelah itu, ada seragam minimarket, beberapa pekerjaan yang dilakukan, tumpukan tagihan, kuliah yang susah payah dijalani meski sudah mendapatkan asuransi dari mendiang orang tuanya, lembur yang terus menerus harus ia lakukan, tangisan diam-diam di kamar mandi, dan sebuah nama yang dipanggil berulang. Serena. Serena Ardelia. "Ngh..." Tubuh Valerie kehilangan keseimbangan. Dengan cepat, Bianca menangkap tubuh Valerie yang limbung sebelum kepalanya membentur lantai. "Serena!" Kedua laki-laki dibelakang Bianca ikut membantu. Lalu, mereka membawa Valerie dan mendudukkannya di bangku panjang yang berada di pojok ruangan, tidak jauh dari meja kasir. "Pelan-pelan," ucap Bianca. Setelah Valerie terduduk sempurna, Bianca ikut duduk di samping dan menepuk pelan pipinya. "Sadar, Ser! Kamu denger aku 'kan?" Valerie sama sekali tidak menanggapi. Matanya masih terpejam. Bianca kembali panik. Sedangkan Toni dan Jodi yang merupakan teman Bianca, masih ada di sana, menunggu instruksi berikutnya. "Ah, iya!" Bianca bangkit dari duduknya, berjalan menuju meja kasir dan bergegas membuka pintu kecil di bawah meja yang menjadi loker karyawan. Ia membuka tas hitam dengan cepat dan mengaduk isi tas tersebut, hingga akhirnya menemukan botol kecil berisi minyak angin. "Nah, ini dia!" ucap Bianca. Ia kembali berdiri dan berjalan menghampiri Valerie. "Ayo, sadar Ser!" ucap Bianca, setelah kembali duduk dan mendekatkan minyak angin ke hidung Valerie. Beberapa saat berlalu. Hingga akhirnya alis Valerie bergerak dan matanya terbuka perlahan. Pandangan pertamanya jatuh pada langit-langit minimarket yang dipenuhi lampu putih terang. Ia mengedipkan mata beberapa kali. Bianca langsung menghembuskan nafas lega. "Akhirnya, kamu sadar juga. Hari ini kamu udah bikin aku takut sampe dua kali, Ser!" Valerie tidak menjawab. Ia masih memegang pelipisnya. Potongan-potongan ingatan itu masih terasa memenuhi kepala Valerie. Serena Ardelia. Nama itu kini terasa begitu jelas. Valerie kini mengetahui alamat rumah, tempat kerja, jalan-jalan yang harus dilewati untuk pulang, dan banyak hal lain. Sudah dapat dipastikan kalau semua ingatan itu milik Serena. Perempuan yang saat ini ia tempati raganya. "Sepertinya, udah nggak ada keadaan darurat. Dia udah sadar," ucap Jodi, membuka suara. Mendengar hal itu, Bianca langsung menoleh ke arah Jodi. Toni ikut bicara, "Iya. Mungkin cuma perlu diperiksa ke rumah sakit." "Iya. Sepertinya begitu," jawab Bianca. "Kalo begitu, kami pergi dulu," ucap Jodi. Bianca langsung membungkukkan badan sedikit. "Baik, terima kasih. Maaf sudah merepotkan kalian." "Nggak masalah," jawab Jodi dan Toni hampir bersamaan. Setelah kepergian Jodi dan Toni, Bianca kembali menoleh ke arah Valerie dan memperhatikan wajahnya. "Aku ambilin air bening di pantry, ya?" Tanpa menunggu jawaban Valerie, ia berjalan menuju ruangan kecil di belakang minimarket. Melihat kepergian Bianca, Valerie menghembuskan nafas pelan. "Aku harus sadar diri sekarang. Di sini, aku bukanlah permaisuri. Jadi sebaiknya, aku mencoba menyesuaikan diri." Bianca mengisi gelas dengan air putih hangat, lalu kembali ke depan. Dan memberikan gelas berisi air bening tersebut kepada Valerie. "Nih!" Valerie menatap gelas bening di tangannya beberapa saat. Benda itu pun terasa asing. Namun, berkat ingatan Serena yang mulai bercampur, ia jadi tahu bagaimana cara menggunakan gelas itu. Valerie menjulurkan tangan, menerima gelas tersebut, dan minum secara perlahan. Sejak tadi, ia memang sudah memutuskan untuk bersikap lebih baik kepada Bianca karena ia baru tahu kalau Bianca adalah sahabat baik dan merupakan orang yang paling Serena percaya. "Terima kasih." Bianca tersenyum tipis. "Sama-sama." Entah mengapa tubuh Valerie terasa sedikit lebih ringan setelah air hangat itu melewati tenggorokan. Ketika air di dalam gelas habis, ia menaruh gelas kosong di atas meja yang berada tepat di sampingnya. Bianca duduk di samping Valerie. "Kamu beneran nggak apa-apa?" "Kalo kepala kamu masih sakit, besok kita ke klinik aja. Gimana? " tanya Bianca lagi. Dengan cepat, Valerie menjawab, "Tidak usah. " Bianca mengangguk pelan, lalu melihat jam di pojok ruangan dan tersenyum kecil. "Jam kerja kamu udah selesai. Mending sekarang kamu absen dan langsung pulang aja!" Setelah itu, ia bangkit dari duduknya dan mengambil tas Valerie yang ada di dalam loker. Sedangkan netra Valerie hanya memperhatikan Bianca dari jauh. "Nih, tas kamu! Soal kerjaan, biar aku aja yang urus!" ucap Bianca, saat sudah berada di hadapan Valerie. "Tapi...""Tidur!" ucap Valerie.Ia langsung menatap Ethan dengan wajah tidak percaya."Besok kan kita harus berangkat pagi," lanjut Valerie. Ethan terkekeh pelan. "Iya, tapi tetap aja kan harus mandi dulu.""Iya sih," kata Valerie sambil menghela napas pelan. "Kalau gitu, sekalian kita lakuin aja di kamar mandi," ucap Ethan yang semula masih berbaring langsung bangkit dari tidurnya."Serius?"Belum sempat Valerie melanjutkan kalimatnya, Ethan sudah mengangkat tubuh Valerie."Eh! Ngapain sih pakai digendong segala?""Aku tahu kamu pasti sakit. Jadi setidaknya aku meringankan sedikit."Valerie berdecak pelan sambil melingkarkan tangannya di leher Ethan."Kalau ngerasa bersalah, harusnya kita nggak lakuin lagi dulu nanti."Ethan tersenyum licik. "Oh, kalau itu nggak bisa.""Kenapa?" tanya Valerie sambil mengerutkan kening. "Beda urusan soalnya."Valerie menggeleng pelan. "Dasar."Ethan hanya tertawa kecil sebelum membawa Valerie menuju kamar mandi.Malam itu mereka kembali menghabiskan waktu
"Tentu saja aku bahagia," jawab Valerie sambil tersenyum kecil. Tatapan Ethan melembut. Tangannya terangkat dan menyentuh pipi Valerie. Ia mengusapnya perlahan seolah ingin memastikan bahwa perempuan yang berdiri di hadapan dia sudah benar-benar telah menjadi istrinya."Aku juga," bisiknya.Ethan kemudian mendekat dan mencium bibir Valerie dengan lembut. Valerie sempat terdiam sesaat sebelum akhirnya membalas ciuman itu. Tangan Ethan turun dan menyentuh dua gunung kembar Valerie yang selalu menggoda. Ia meremasnya perlahan tanpa melepas ciuman mereka berdua. "Uhm..." rintih Valerie. Ethan dengan tidak sabar menurunkan resleting gaun hitam Valerie. Hingga hanya meninggalkan kain penutup gunung dan bagian intinya saja. Valerie melepas ciuman Ethan perlahan. "Kamu nggak sabaran banget sih. Aku mandi dulu."Bibir Ethan kini bermain dipundak Valerie. Ia menciuminya hingga meninggalkan bekas disana. "Mandinya nanti aja. Aku penasaran," kata Ethan. Valerie tersenyum kecil. Dengan cepa
"Iya."Rola menyalakan mesin mobil, lalu mulai mengemudikan kendaraan meninggalkan area parkir.Valerie bersandar dengan nyaman di kursinya. Setelah acara wisuda yang cukup panjang, ia sudah mulai merasa lelah. Sayang, masih ada satu agenda lagi yang harus mereka jalani sebelum benar-benar bisa beristirahat.Perjalanan menuju lokasi syuting berlangsung tanpa banyak hambatan. Sesekali Rola memeriksa waktu dari layar di dashboard untuk memastikan mereka tidak terlambat.Tidak lama kemudian, mobil memasuki area lokasi syuting."Kita sudah sampai," ucap Rola.Valerie menganggukkan kepala. "Oke."Begitu mobil berhenti, Ethan dan Valerie langsung turun. Sedangkan Bianca dan Odin mengambil barang di bagasi terlebih dahulu. Mereka mengambil beberapa barang yang sudah disiapkan untuk Valerie dan Ethan selama berada di lokasi.Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, mereka berjalan bersama menuju area utama lokasi syuting.Beberapa kru yang sudah ada di sana langsung menyambut kedatangan
"Nggak kerasa, ya..." ucap Valerie pelan.Ethan yang berdiri di samping menoleh ke arah Valerie."Iya. Nggak kerasa minggu depan kita akan menikah."Valerie tersenyum kecil. Pandangannya beralih pada pakaian yang sedang mereka kenakan untuk fitting terakhir.Hari itu mereka memang sengaja meluangkan waktu untuk melakukan fitting akhir sebelum hari pernikahan. Beberapa detail kecil masih diperiksa oleh desainer, memastikan semua benar-benar sesuai dengan ukuran dan konsep yang sudah mereka sepakati.Valerie melihat gaun yang akan ia kenalan nanti sekilas. "Kayaknya semua sudah sesuai."Ethan ikut memperhatikan dan menganggukkan kepala. "Iya. Menurut aku juga udah oke.""Kalau begitu, aku masuk dulu," ucap Valerie. "Iya. Aku juga."Mereka berdua berjalan menuju ruang ganti masing-masing.Beberapa menit kemudian, Valerie keluar terlebih dahulu.Valerie sudah mengenakan gaun pengantin yang akan dipakainya pada hari pernikahan nanti. Gaun tersebut berwarna blush pink dengan potongan yang
"Uhm...," gumam Ethan. Tanpa menunggu jawaban, ia mengangkat tubuh Valerie dan membawanya menuju kamar.Valerie yang terkejut spontan melingkarkan kedua tangannya di leher laki-laki itu. Ia tidak sempat lagi bicara karena bibirnya langsung ditangkap oleh bibir Ethan. Membuat Valerie kembali terhanyut. Begitu sampai di depan kamar, Ethan membuka pintu dan menutupnya kembali. Lalu, ia berjalan menuju tempat tidur dan merebahkan tubuh Valerie ke atasnya dengan hati-hati. Ia kemudian menatap Valerie yang masih memandangnya. Beberapa detik berlalu tanpa percakapan. Kemudian Ethan kembali mendekat dan mengecup bibir Valerie.Ciuman itu awalnya lembut. Tidak terburu-buru, tetapi perlahan berubah menjadi semakin sulit untuk dihentikan. Valerie membalasnya sambil mencengkeram ringan bagian depan pakaian Ethan."Ethan..." panggilnya pelan ketika mereka akhirnya mengambil jeda untuk bernapas."Hm?"Valerie menatap mata Ethan. Tidak ada jawaban yang keluar dari bibirnya. Ia sendiri tidak tahu
"Sepertinya nggak perlu. Aku nggak mau nanti...""Tolong terima aja."Doran memotong ucapan Valerie dengan suara pelan, tetapi cukup tegas.Valerie terdiam. Pandangannya kembali jatuh pada kotak cincin yang berada di atas meja. Ia tahu cincin itu bukan sekadar benda bagi Doran. Namun, setelah mendengar penjelasannya, Valerie juga tidak ingin membuat perpisahan mereka malam itu menjadi lebih berat.Beberapa detik ia mempertimbangkan permintaan tersebut."Baiklah kalau begitu," ucap Valerie akhirnya. "Aku akan terima."Doran mengangguk kecil. Ada kelegaan tipis yang terlihat dari wajahnya.Ia kemudian bangkit dari kursinya dan mengambil kotak cincin tersebut."Biar aku yang pakaikan."Valerie menatap Doran sebentar sebelum mengulurkan tangan kanannya.Doran membuka kotak itu. Dengan hati-hati, ia mengambil cincin tersebut lalu memasangkannya pada jari tengah tangan kanan Valerie.Setelah memastikan cincin itu terpasang dengan baik, Doran melepaskan tangannya."Aku harap hubungan kita ak







