LOGIN"Tapi apa Ser?" tanya Bianca.
Ia sengaja memotong ucapan Serena. "Kamu butuh istirahat. Jadi, jangan membantah!" Valerie akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah." Mungkin ia memang membutuhkan waktu untuk memahami semua yang baru saja terjadi. Valerie mengambil tas yang sebenarnya milik Serena. Tas sederhana yang jelas terlihat sudah beberapa kali diperbaiki. Beberapa saat kemudian, Valerie ke luar dari minimarket. Pintu otomatis menutup di belakangnya. Begitu menginjakkan kaki di luar, ia kembali terpaku. Langit mulai berubah menjadi jingga. Jalan raya dipenuhi kendaraan yang melaju tanpa henti. Mobil-mobil dan sepeda motor dengan bentuk yang belum pernah Valerie lihat sebelumnya. Suara klakson terdengar bersahutan. Valerie mengamati semua dengan saksama. "Kereta tanpa kuda," gumamnya pelan. Mata Valerie kemudian beralih ke gedung-gedung tinggi yang menjulang. Bangunan-bangunan itu jauh lebih tinggi daripada istana Omeland. Bahkan beberapa gedung, seluruh permukaannya tertutup kaca yang memantulkan cahaya matahari sore. Valerie menarik nafas pelan. "Negara ini, sangat jauh berbeda dengan Omeland." Meski begitu, Valerie tidak terus-menerus menunjukkan keterkejutannya. Karena sejak kecil, ia dididik menjadi calon Permaisuri, dan terbiasa menghadapi situasi tak terduga tanpa kehilangan kendali. Setelah beberapa saat mengamati sekitar, ia mulai berjalan mengikuti ingatan Serena. Tak lama kemudian, sebuah bus berhenti. Pintu terbuka. Orang-orang mulai naik satu per satu. Valerie ikut mengantri. Saat memasuki bus, ia sempat memandangi bagian dalam kendaraan itu. Namun ingatan Serena kembali membimbing Valerie. Ia mengambil kartu dari dompet, dan menempelkan pada alat di dekat pintu, lalu berjalan ke bagian tengah. "Ternyata begini caranya," gumam Valerie sangat pelan. Perjalanan berlangsung hampir empat puluh menit. Sepanjang jalan, Valerie tidak berhenti memperhatikan sekitar. Sesekali mata Valerie membulat karena heran. Namun beberapa saat kemudian, ekspresinya kembali tenang. Ia menyimpan setiap pemandangan itu dalam ingatan. 'Jika memang harus hidup di dunia ini, aku harus bisa mempelajari semua dengan cepat,' batin Valerie. Bus berhenti di dekat sebuah gang sempit. Valerie turun. Ia berjalan menyusuri gang yang cukup dilalui dua sepeda motor. Berdasarkan ingatan Serena, ini adalah rumahnya. Valerie berhenti di depan sebuah rumah kecil bercat kusam. Ia menghela nafas pelan. "Ini dia!" Valerie membuka pintu dan masuk ke dalam. Rumah itu sangat sederhana. Ruang tamu kecil langsung terlihat dari pintu masuk. Perabotan yang ada sudah tua. Kipas angin berputar pelan di langit-langit. Ia berjalan menuju kamar yang ia ketahui kamar Serena untuk beristirahat. Saat ia sudah menekan kenop pintu, mendorongnya, dan hendak masuk ke dalam kamar, tiba-tiba saja terdengar teriakan dari belakang. "Serena!" Seketika, Valerie menoleh ke arah sumber suara. Seorang wanita berusia sekitar lima puluh tahun yang tidak lain adalah Mira, Tantenya Serena, berjalan menghampiri sambil membawa lap dapur. Tatapan perempuan itu langsung berubah tajam. "Ngapain kamu pulang?!" Valerie langsung mengernyit, ia sudah tau siapa perempuan di hadapannya itu. "Aku capek, mau istirahat!" ucap Valerie, dan menutup pintu. "Kurang ajar! Berani sekali kamu ngomong begitu!" bentak Mira dari balik pintu yang tertutup. Namun, Valerie tidak memperdulikannya. Ia menaruh tas di atas meja yang ada di samping tempat tidur dan merebahkan tubuh di kasur. Saat sudah merebahkan tubuh dengan sempurna, ia melihat ke langit-langit kamar. "Tuhan, seberat itukah dosa yang telah aku lakukan? Hingga engkau menghukum aku dengan hidup kembali sebagai gadis menyedihkan ini?" "Meski begitu, ini lebih baik dibanding harus mati sia-sia setelah memperjuangkan tahta untuk anak yang tidak tau berterima kasih pada Ibunya!" lanjut Valerie sambil menghembuskan napas pelan dan menutup mata perlahan. *** Keesokan harinya, suasana minimarket pagi itu masih cukup sepi. Bianca sedang mengecek stok barang di gudang belakang. Sementara Valerie, berjaga sendirian di meja kasir. Meski begitu, berkat ingatan Serena yang kini sudah mulai menyatu dengannya, ia sudah mampu mengoperasikan mesin kasir dengan cukup lancar. Beberapa pelanggan datang silih berganti, lalu minimarket kembali sepi. Lalu, tiba-tiba saja, pintu minimarket terbuka. Seorang laki-laki bertubuh tinggi dengan badan proporsional masuk dengan langkah tergesa-gesa. Ia mengenakan topi hitam, masker putih, dan jaket hoodie yang menutupi sebagian wajahnya. Tanpa berkata apa pun, laki-laki itu langsung membuka pintu kecil pembatas kasir dan berjongkok di bawah meja. Valerie langsung mengernyit. "Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanyanya dengan nada dingin. "Tolong bantu aku sebentar aja," ucap laki-laki tersebut. Sebelum Valerie sempat menjawab laki-laki itu, bel pintu tanda orang masuk kembali berbunyi. Seorang perempuan muda masuk sambil mengatur nafas. Mata perempuan itu bergerak cepat menyapu seluruh isi minimarket. "Mbak," panggilnya kepada Valerie. "Apa ada laki-laki yang baru masuk ke sini?" Valerie melirik sekilas ke bawah meja kasir. Lalu, ia kembali menatap perempuan itu dengan wajah tenang. "Tidak ada." Perempuan itu sedikit mengernyit. "Apa kamu yakin?" "Iya, sangat yakin. Pelanggan terakhir baru saja ke luar," jawab Valerie. Perempuan itu masih melihat ke beberapa sudut minimarket. Namun, karena memang tidak menemukan siapa pun, akhirnya ia mengangguk pelan. "Baiklah kalo begitu. Semisal nanti ternyata ada yang masuk, tolong bilangin kalo pacar dia, Laura, nyariin ya." "Baik," jawab Valerie. Perempuan itu pun berbalik dan ke luar dari minimarket. Suasana kembali hening. Valerie menunggu beberapa saat. Setelah merasa cukup, ia berkata pelan, "Sudah aman." Laki-laki itu perlahan ke luar dari bawah meja kasir. "Terima kasih," ucapnya sambil menurunkan masker agar suara terdengar jelas dan menaikkan kembali setelah bicara. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang dan meletakkan di atas meja kasir. "Ini," ucap laki-laki itu lagi. Valerie langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak usah." "Anggap aja ucapan terima kasih," ucap laki-laki itu. Ia memberi sedikit anggukan sebelum berbalik dan bergegas meninggalkan minimarket. Pintu otomatis kembali menutup. Valerie kembali menggelengkan kepala dan hendak merapikan uang yang tertinggal di atas meja ketika suara televisi yang tergantung di sudut ruangan menarik perhatiannya. "Idol yang sedang berada di puncak popularitas, Ethan Miller, kembali mencetak rekor melalui lagu terbaru dan serial drama yang sedang dibintanginya." Valerie mengangkat kepalanya. Di layar televisi, muncul wajah seorang laki-laki yang tersenyum ke arah kamera. Valerie membelalakkan mata. Wajah laki-laki itu sama persis dengan laki-laki yang baru saja ia sembunyikan di bawah meja kasir. "Itu kan, laki-laki tadi!""Tidur!" ucap Valerie.Ia langsung menatap Ethan dengan wajah tidak percaya."Besok kan kita harus berangkat pagi," lanjut Valerie. Ethan terkekeh pelan. "Iya, tapi tetap aja kan harus mandi dulu.""Iya sih," kata Valerie sambil menghela napas pelan. "Kalau gitu, sekalian kita lakuin aja di kamar mandi," ucap Ethan yang semula masih berbaring langsung bangkit dari tidurnya."Serius?"Belum sempat Valerie melanjutkan kalimatnya, Ethan sudah mengangkat tubuh Valerie."Eh! Ngapain sih pakai digendong segala?""Aku tahu kamu pasti sakit. Jadi setidaknya aku meringankan sedikit."Valerie berdecak pelan sambil melingkarkan tangannya di leher Ethan."Kalau ngerasa bersalah, harusnya kita nggak lakuin lagi dulu nanti."Ethan tersenyum licik. "Oh, kalau itu nggak bisa.""Kenapa?" tanya Valerie sambil mengerutkan kening. "Beda urusan soalnya."Valerie menggeleng pelan. "Dasar."Ethan hanya tertawa kecil sebelum membawa Valerie menuju kamar mandi.Malam itu mereka kembali menghabiskan waktu
"Tentu saja aku bahagia," jawab Valerie sambil tersenyum kecil. Tatapan Ethan melembut. Tangannya terangkat dan menyentuh pipi Valerie. Ia mengusapnya perlahan seolah ingin memastikan bahwa perempuan yang berdiri di hadapan dia sudah benar-benar telah menjadi istrinya."Aku juga," bisiknya.Ethan kemudian mendekat dan mencium bibir Valerie dengan lembut. Valerie sempat terdiam sesaat sebelum akhirnya membalas ciuman itu. Tangan Ethan turun dan menyentuh dua gunung kembar Valerie yang selalu menggoda. Ia meremasnya perlahan tanpa melepas ciuman mereka berdua. "Uhm..." rintih Valerie. Ethan dengan tidak sabar menurunkan resleting gaun hitam Valerie. Hingga hanya meninggalkan kain penutup gunung dan bagian intinya saja. Valerie melepas ciuman Ethan perlahan. "Kamu nggak sabaran banget sih. Aku mandi dulu."Bibir Ethan kini bermain dipundak Valerie. Ia menciuminya hingga meninggalkan bekas disana. "Mandinya nanti aja. Aku penasaran," kata Ethan. Valerie tersenyum kecil. Dengan cepa
"Iya."Rola menyalakan mesin mobil, lalu mulai mengemudikan kendaraan meninggalkan area parkir.Valerie bersandar dengan nyaman di kursinya. Setelah acara wisuda yang cukup panjang, ia sudah mulai merasa lelah. Sayang, masih ada satu agenda lagi yang harus mereka jalani sebelum benar-benar bisa beristirahat.Perjalanan menuju lokasi syuting berlangsung tanpa banyak hambatan. Sesekali Rola memeriksa waktu dari layar di dashboard untuk memastikan mereka tidak terlambat.Tidak lama kemudian, mobil memasuki area lokasi syuting."Kita sudah sampai," ucap Rola.Valerie menganggukkan kepala. "Oke."Begitu mobil berhenti, Ethan dan Valerie langsung turun. Sedangkan Bianca dan Odin mengambil barang di bagasi terlebih dahulu. Mereka mengambil beberapa barang yang sudah disiapkan untuk Valerie dan Ethan selama berada di lokasi.Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, mereka berjalan bersama menuju area utama lokasi syuting.Beberapa kru yang sudah ada di sana langsung menyambut kedatangan
"Nggak kerasa, ya..." ucap Valerie pelan.Ethan yang berdiri di samping menoleh ke arah Valerie."Iya. Nggak kerasa minggu depan kita akan menikah."Valerie tersenyum kecil. Pandangannya beralih pada pakaian yang sedang mereka kenakan untuk fitting terakhir.Hari itu mereka memang sengaja meluangkan waktu untuk melakukan fitting akhir sebelum hari pernikahan. Beberapa detail kecil masih diperiksa oleh desainer, memastikan semua benar-benar sesuai dengan ukuran dan konsep yang sudah mereka sepakati.Valerie melihat gaun yang akan ia kenalan nanti sekilas. "Kayaknya semua sudah sesuai."Ethan ikut memperhatikan dan menganggukkan kepala. "Iya. Menurut aku juga udah oke.""Kalau begitu, aku masuk dulu," ucap Valerie. "Iya. Aku juga."Mereka berdua berjalan menuju ruang ganti masing-masing.Beberapa menit kemudian, Valerie keluar terlebih dahulu.Valerie sudah mengenakan gaun pengantin yang akan dipakainya pada hari pernikahan nanti. Gaun tersebut berwarna blush pink dengan potongan yang
"Uhm...," gumam Ethan. Tanpa menunggu jawaban, ia mengangkat tubuh Valerie dan membawanya menuju kamar.Valerie yang terkejut spontan melingkarkan kedua tangannya di leher laki-laki itu. Ia tidak sempat lagi bicara karena bibirnya langsung ditangkap oleh bibir Ethan. Membuat Valerie kembali terhanyut. Begitu sampai di depan kamar, Ethan membuka pintu dan menutupnya kembali. Lalu, ia berjalan menuju tempat tidur dan merebahkan tubuh Valerie ke atasnya dengan hati-hati. Ia kemudian menatap Valerie yang masih memandangnya. Beberapa detik berlalu tanpa percakapan. Kemudian Ethan kembali mendekat dan mengecup bibir Valerie.Ciuman itu awalnya lembut. Tidak terburu-buru, tetapi perlahan berubah menjadi semakin sulit untuk dihentikan. Valerie membalasnya sambil mencengkeram ringan bagian depan pakaian Ethan."Ethan..." panggilnya pelan ketika mereka akhirnya mengambil jeda untuk bernapas."Hm?"Valerie menatap mata Ethan. Tidak ada jawaban yang keluar dari bibirnya. Ia sendiri tidak tahu
"Sepertinya nggak perlu. Aku nggak mau nanti...""Tolong terima aja."Doran memotong ucapan Valerie dengan suara pelan, tetapi cukup tegas.Valerie terdiam. Pandangannya kembali jatuh pada kotak cincin yang berada di atas meja. Ia tahu cincin itu bukan sekadar benda bagi Doran. Namun, setelah mendengar penjelasannya, Valerie juga tidak ingin membuat perpisahan mereka malam itu menjadi lebih berat.Beberapa detik ia mempertimbangkan permintaan tersebut."Baiklah kalau begitu," ucap Valerie akhirnya. "Aku akan terima."Doran mengangguk kecil. Ada kelegaan tipis yang terlihat dari wajahnya.Ia kemudian bangkit dari kursinya dan mengambil kotak cincin tersebut."Biar aku yang pakaikan."Valerie menatap Doran sebentar sebelum mengulurkan tangan kanannya.Doran membuka kotak itu. Dengan hati-hati, ia mengambil cincin tersebut lalu memasangkannya pada jari tengah tangan kanan Valerie.Setelah memastikan cincin itu terpasang dengan baik, Doran melepaskan tangannya."Aku harap hubungan kita ak







