LOGIN🗿🗿 habis operasi, masih pincang, jatuh ketiban Eve 🗿
Sepuluh bulan kemudian …. Di dalam ruang rawat presidential suite rumah sakit, Eveline duduk di tepi ranjangnya. Eveline sebenarnya sudah merasakan kontraksi ringan sejak semalam. Tapi karena merasa masih jauh, jadi ia masih melanjutkan beraktivitas. Ia masih menghadiri kelas di kampus siang tadi sebelum akhirnya rasa sakit itu datang semakin intens, sehingga ia meminta Ryan untuk mengantarnya ke rumah sakit. Begitu tiba dan diperiksa oleh tim dokter, hasilnya, “Sudah pembukaan delapan, Nona Eveline. Kita bersiap sekarang,” ucap dokter kandungan yang menangani persalinannya. Pintu kamar terdorong dari luar. Rex tampak melangkah masuk dengan gegas, membawa koper kecil berisi pakaian ganti dan perlengkapan bayi yang sudah dipersiapkan bersama dengan Lim, kepala pelayan yang lalu menata semua barangnya ke dalam lemari, seolah wanita paruh baya itu telah hafal apa yang perlu disiapkan. “Sayang, sakit?” tanya Rex seraya mendekat, mengusap lembut puncak kepala Eveline dan menjatuhkan
Eveline tak sempat membalas, Mario melangkah maju dan melingkarkan kedua tangan mungilnya di leher Eveline, memeluknya dengan erat.Eveline membalas dekapan itu dengan penuh kasih, mengecup puncak kepala Mario berulang kali. “Terima kasih ya, Sayang. Mama juga sayang Mario, selama-lamanya .…”Rex yang melihat itu tak berhenti tersenyum. Ia menepuk rambut hitam Mario sebelum dari ruang tengah Marvin berseru memanggil.“Mario! Ayo ke sini! Uncle Darrel mengajakmu menyanyi.”“Siap, Uncle!”Mario lalu melepaskan pelukannya pada Eveline, tertawa saat berlari kecil menghampiri kerumunan yang memanggilnya.Eveline perlahan bangkit dari posisinya, menatap punggung Mario dengan senyuman yang tak kunjung surut. Pada saat yang sama, lengan kekar Rex terulur melingkari pinggangnya dari samping, merangkul tubuh Eveline dengan hangat.Rex meletakkan dagunya sejenak di pelipis sang istri, menyaksikan keriuhan keluarga besar mereka yang memenuhi ruang tengah malam itu.Kehadiran Ryan dan Niel memang
Di kehidupannya yang lalu, tepat pada hari Valentine yang juga ulang tahunnya, Eveline harus menelan kenyataan paling pahit saat melihat Noah mengembuskan napas terakhir di dalam dekapannya sendiri.Banyak hal kelam yang terjadi setelah ia kehilangan Tuan Harrison di hidup pertamanya. Seolah takdir sama sekali tak pernah memberinya kesempatan untuk sekadar mengecap rasa bahagia.Namun, di ulang tahunnya kali ini, semesta memberinya jalan cerita yang seribu kali lipat jauh berbeda.Sebuah hadiah yang teramat indah lewat kehidupan baru yang tengah tumbuh di dalam rahimnya, dan kejutan hangat yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.Air mata Eveline luruh saat matanya menangkap seorang pria tua di belakang Rex dan anak-anak.Tuan Harrison, pria pertama di keluarga Rolland yang menerimanya. Tengah berdiri tegar, berjalan perlahan di samping Zain.Bersama dengan seorang wanita yang selamanya akan dianggap Eveline sebagai Ibu: Mrs. Elise.Di dekat mereka, Leila dan Marvin berdiri berdamping
Sepulang dari kegiatan mengajarnya di kampus, Eveline menyempatkan diri mampir ke sebuah kafe yang terletak tidak jauh dari universitas. Kafe yang paling sering ia datangi bersama dengan Leila. Dan memang untuk bertemu gemannha itulah Eveline pergi ke sana hari ini. Begitu pintu kaca kafe terdorong, maniknya menangkap seorang wanita berambut sebahu yang duduk di dekat jendela di sudut ruangan. Itu Leila. Eveline melangkah dengan senyum di bibirnga, menghambur memeluk Leila erat-erat. Padahal baru sekitar … satu, dua, tiga, lima hari tak bertemu Leila tapi rasanya sudah sangat lama. Di hidup Eveline yang sekarang, ia benar-benar mengerti rasanya memiliki seorang sahabat. Tangannya terulur lembut, mengusap perut Leila yang kini tampak membuncit. Ya, Leila memang tengah mengandung tujuh bulan setelah resmi menikah dengan Marvin—sekretaris Rex—tahun lalu. Jika membicarakan tentang perjalanan cinta mereka, Eveline dan Leila selalu tersenyum geli. Dari yang malu-malu lalu
Bagi Eveline, dunia seolah berhenti berputar, dengan cara yang indah.Ini seperti keajaiban yang semesta ciptakan untuk dirinya, sekali lagi. Ketakutan, bayang-bayang kelam masa lalu, dan kecemasan mencekam tentang hari Valentine yang selama ini menghantui Eveline musnah seketika, tertelan oleh gelombang kebahagiaan yang meluap-luap di dada mereka.Valentine kali ini, takdir memberi Eveline hadiah yang membahagiakan, bukan lagi sebuah kematian.“Kamu … hamil?” ulang Rex, tak bisa menyembunyikan suaranya yang serak.Belum sempat Eveline menjawab untuk kedua kalinya, pertahanan diri pria itu luluh lantak. Rex menghambur memeluk tubuh Eveline dengan erat-erat, mengangkat gadisnya dari lantai dan membawa tubuhnya berputar di udara sembari melepaskan tawa bahagia yang memenuhi kamar.“Rex! Astaga, turunkan aku …!” pinta Eveline di sela tawanya.Rex menurutinya, lalu menurunkan Eveline dengan kedua tangannya tetap mendekap pinggang. Tawa bahagia itu masih belum reda, binar di mata birunya m
Satu hal yang disukai oleh Rex setiap kali ia membuka mata. Ia akan dengan cepat bergegas turun dari kamar utama untuk menemui si kembar yang sudah pasti telah bangun dan berkegiatan.Biasanya bersama Mario, berlarian di halaman, atau kadang-kadang dua bocah kecil itu mengganggu Mario yang bersiap untuk pergi ke sekolah.Selagi si kembar sedang dimandikan oleh baby sitter mereka, Rex sedang duduk di ruang makan, jemarinya berhenti mengukir layar pada salah satu chapter menuju ending, manhwa yang belakangan ini menyita perhatiannya dan nyaris ia baca sampai tamat.Biasanya ia tak suka. Tapi, Eveline mengatakan bahwa ini adalah buatan mahasiswa Eveline dari Universitas Luinz jadi ia mencoba membacanya.Dan menurutnya … kisahnya hampir sama seperti ia dan Eveline. Bahwa tak ada satu orang pun yang tahu bahwa mereka telah melintasi garis waktu dan bangkit setelah pernah menghadapi kematian yang mengerikan.[Berapa kali pun kita diberi kesempatan kedua untuk kembali hidup, ada garis takdir
‘Aku tahu kamu akan melakukan ini, Sarah Anna ....’ Eveline menatap senyum masam Sarah yang berdiri di samping Rex. Setelah menerima panggilan dari Rex beberapa saat yang lalu, kepala pelayan mengatakan bahwa Mario sempat berada di sekitar kamarnya bersama dengan Sarah. Itu sudah cukup baginya u
“Ini—” Rex mengangkat tangannya di hadapan Eveline.Menunjukkan surat penagihan utang atas nama Eveline yang lalu ia lempar ke wajahnya.“Berhenti menggunakan rumah ini sebagai alamat penagihan utang-utangmu yang menjijikkan ini!” katanya. “Masih kurang kamu dan keluargamu menumpang hidup dan meman
“Omong … kosong?” Rex mengernyit, dalam tertegunnya pria itu tampak keras berusaha menyembunyikan keterkejutannya. Melihat mata birunya yang tajam, Eveline tahu harga dirinya terluka. Tapi di saat seperti ini, Rex masih bersikap angkuh. “Berhenti berpura-pura, Eveline!” katanya. “Siapapun tahu kal
‘Hanya jika … aku mati?’Eveline meremas kuat jemarinya, punggungnya yang bersandar di dinding terasa dingin saat ia menyadari bahwa beberapa waktu sebelum kematiannya ia pun mendengar Rex dan Sarah membicarakan hal yang sama.Setelah mendengar ‘rengekan’ Sarah barusan, tiba-tiba sebuah dugaan berg







