LOGIN“Lucien! Apa yang kau lakukan?!” sentak Theodore kesal. Namun, Lucien malah terlihat bangga seraya berkata, “Ah! Ternyata punya calon istri seorang penyihir itu menyenangkan juga. Aku jadi bisa membuntuti ke mana kau pergi dengan gulungan perkamen teleportasi, Dik!”“Kalau sudah membuntutiku, lantas kau mau apa?!” keluh Theodore heran dengan kelakuan absurd kakak tengahnya itu. Lucien memamerkan gigi putih yang berjajar rapi di balik bibirnya, menaikkan kedua alis dan berkata, “Aku ingin tahu progres kalian. Apa yang sudah terjadi di ruangan tertutup ini?”Wajah cassey memerah, seolah ia sedang tertangkap basah melakukan sesuatu yang melanggar norma. “Kau mau tahu saja urusan pria dan wanita di dalam ruang tertutup, Luce! Pergi sana!”Namun, alih-alih pergi, Lucien justru mengambil kursi dan duduk di sana. Netranya malah mengamat-amati meja makan. “Sudah sampai sini, tega sekali kau mengusirku. Apa kau tega, Cassey?”Casssey langsung menggelengkan kepalanya. “Apa Yang mulia pangera
“Terang Regnum menyinari Yang mulia Pangeran!” Willbert menyapa penuh hormat sebelum duduk di sofa yang berseberangan dengan Theodore. Theodore mengangguk canggung, menerima salam itu. “Ehm! Viscount Lovern, maaf kemarin seharusnya aku mengecek kondisi Cassey setelah acara pesta teh itu. Tapi aku harus segera menindak perbuatan Helvia.”Dahi Willbert mengernyit. “Menindak? Yang seperti apa maksud Anda, Pangeran?”“Ah … well, yeah. Aku menolak perjodohan itu. Ratu juga membatalkan semuanya,” ujar Theodore menjelaskan niatnya. “Jadi, aku berniat mendapatkan cinta Cassey, Viscount.” Willbert membuka mulut untuk bicara, tetapi kemudian ia menutupnya lagi. Padahal ia baru saja berniat mengakui kesalahan sang istri yang sudah sembarangan membuka rahasia hatinya.“Apa kira-kira Cassey sudah menyadari perasaanku, Viscount? Kalau sudah, kurasa itu akan memudahkanku.”Netra Willbert semakin membulat mendengarnya. Ternyata kesalahan Nellysa justru menjadi bantuan di mata sang pangeran.“Ah … s
‘Apa Anda tidak mau memikirkan bagaimana perasaan Anda terhadap Pangeran Theo?’Pertanyaan Hill tadi masih mengganggu tidur Cassey malam ini. Kalau ditanya seperti itu, saat ini ia hanya menganggap komandannya itu seperti pahlawan. Selalu ada ketika ia membutuhkan pertolongan. Perhatian dan menyediakan segalanya. Terlebih kepada putranya. Cassey terdiam mempertimbangkan semua yang dilakukan Theodore padanya. Dan setelah dipikir ulang, ia baru sadar kalau Komandannya melakukan banyak hal yang umumnya tidak dilakukan atasan terhadap bawahan. Menyadari semua itu, Cassey menarik selimutnya sampai menutupi kepala. ‘Astaga! Ternyata memang bukan karena kasihan atau tanggung jawab. Tapi bagaimana ini?! Aku sudah menjanda. Apa mungkin aku bersaing dengan mereka yang masih belum menikah?’Lagi-lagi Cassey dikejutkan dengan pikirannya sendiri. ‘Astaga! Kenapa aku bersaing?! Aku tidak berani membayangkan menjadi istri Koman—oh my! Sebaiknya aku tidur! Pikiranku semakin tidak benar!’*** Keeso
“Ibu sembarangan bicara!” tukas Cassey yang justru marah karena merasa Nellysa bicara buruk soal Komandannya. “Ibu juga sudah salah paham!”“Tidak!” Nellysa tidak mau menyerah. Bukan karena ia mau Cassey menjadi istri seorang pangeran, tetapi karena Nellysa mau Cassey juga belajar menghadapi hal-hal yang mungkin terjadi. Seperti yang sudah dialami Cassey sendiri ketika berhadapan dengan Helvia.“Kau harus menghadapi kenyataan itu, Cassey! Dengan begitu, kau paham masalahnya di mana!” sentak Nellysa menjelaskan. “Kalau kau terus bersikap tidak peka, akan ada masalah serupa, seperti yang kau dapatkan dari Lady Esse.”Cassey membuka mulutnya, berniat berargumen dengan sang ibu, tetapi ia tidak tahu harus mengatakan apa. Theodore mencintainya, bukanlah hal yang ada dalam pemikirannya. Satu kali pun ia tidak pernah memikirkan dan memimpikan pria sehebat komandannya itu jatuh cinta padanya. “Ak—aku, aku ke kamar dulu, Bu!” sentak Cassey yang langsung pergi begitu saja. “Cassey!” seru Ne
“Astaga! Ini semua membuatku lelah!”Ratu Eloria langsung terduduk dengan tangan memijat-mijat pelipisnya. “Bagaimana bisa mulut Lady Esse sejahat itu?”Berbanding terbalik dengan kondisi Ratu, Theodore justru tersenyum lebar penuh kemenangan. “Setidaknya, aku sudah lepas dari perjodohan aneh itu, Bu. Jangan jodohkan aku lagi dengan wanita lain kecuali Cassey!”Ratu melirik putra bungsunya dengan pandangan mata lelah. Lelah dengan kelakuan putranya. Yang pertama sama sekali tidak berniat menikah, yang kedua terlalu banyak wanita, yang terakhir memilih janda.“Kau tidak bisa menikahi wanita yang sudah pernah menikah, Theodore! Kau seorang pangeran!”Theodore mendengus. Dengan ringan ia berkata, “Kalau begitu, aku tidak mau jadi pangeran. Komandan saja sudah cukup.”Netra Ratu Eloria membulat seketika “Jangan gila! Mana bisa seperti itu?!” Theodore mengangkat kedua bahu, tidak peduli. “Di kehidupan Cassey yang kedua ini, aku berniat menjadi laki-laki yang membahagiakannya, Bu.”Dijawab
“Jaga mulut Anda, Lady Esse!” sentak Willbert, tidak terima orang lain menghujat putrinya. Cassey yang tidak mengerti kenapa Lady Esse tiba-tiba mengamuk di depan mukanya, mengernyit bingung. Ia bisa menerima jika seseorang menyebutnya sebagai janda, karena itu kenyataan. ‘Tapi kenapa menyebutku jalang? Lalu, apa hubungan Komandan dengan hujatan ini? Kurasa dia terbawa rumor yang dibicarakan di pesta teh tadi,’ pikir Cassey mencoba menganalisa. “Lady Esse. Jangan percaya dengan rumor yang dibicarakan di pesta teh tadi. Komandan menolongku karena ini menyangkut keamanan kerajaan Regnum. Tolong dipahami—”“Ha! Aku paling benci dengan orang tidak peka sepertimu! Kau tidak pernah sadar ya, kalau pangeran—”“Cukup!” bentak Ratu Eloria keluar dari persembunyian, diikuti Theodore dengan netra tajam menatap Helvia Esse.Spontan, Lady Esse mundur dengan kepala tertunduk. Panik. Ia langsung menyesal karena sudah termakan emosi dan menunjukkan sisi buruk dirinya.Ratu Eloria menatap 3 orang d







